
Jangan ragu jika kau sudah memantapkan hati untuk maju. Tak ada sesuatu hal pun yang harus menyurutkan tekadmu. Kau memilihnya, artinya kau akan menghadapi segala resiko yang akan diterima.
-Deviro Arga Satya
“Ehm baik nona, setelah ini kita tunggu hasilnya paling lama tiga hari. Saya ingatkan kembali, jangan telalu memaksakan diri dan jangan terlalu stres. Di masa-masa ini anda harus banyak-banyak beristirahat dan menenangkan fikiran anda,” tutur Dr. Frans setelah mereka selesai melakukan serangkaian pemeriksaan ke Kinan.
“Baik dok,” jawab Kinan patuh.
“Ini saya berikan beberapa obat dan vitamin yang perlu anda konsumsi. Jika ada gejala-gejala lain harap hubungi saya secepatnya. Anda mengerti nona?”
“Ya.”
“Dan untuk anda tuan, tetap awasi kondisi nona Kinan. Jika ada perubahan apapun itu, segera panggil saya!” titah Dr. Frans beralih Hendra.
“Iya dok, apakah sudah selesai?” sahut Hendra memastikan.
“Untuk sementara saya kira cukup. Sejauh ini tidak ada tanda-tanda yang membahayakan nona Kinan. Begitupun dengan alat vitalnya yang saya rasa masih normal," sambung Dr. Frans.
“Kalau begitu kita permisi,” ucap Hendra kemudian bergegas mengajak Kinan untuk pulang.
Bagai kerbau dicucuk hidungnya, Kinan pun hanya menurut dan mengikuti ayahnya. Akhirnya mereka pulang saat waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB malam.
Di tempat lain
“Arga!!! Hiks.. hiks.. kamu dimana Ar??”
Kiran masih memanggil-manggil nama Arga sambil terus terisak. Namun nihil, keadaan tetap sunyi.
Tidak ada tanda-tanda Arga akan menghampirinya. Hingga akhirnya Kiran benar-benar sudah lelah dan menyerah.
Seperti sudah direncanakan sebelumnya, bahkan ponselnya pun ikut lowbatt dalam keadaan genting seperti ini.
Kali ini gadis itu memilih diam sambil sesenggukan dengan posisi duduk dan kedua kaki di tekuk, sedangkan tangannya menutup wajahnya yang terus menghadap ke bawah.
Saat dirasa sudah tidak ada lagi harapan, tiba-tiba saja terdengar ledakan suara kembang api yang begitu memekakkah gendang telinga.
Kiran terperanjat dan otomastis mengangkat kepalanya menengadah ke atas.
Sangat indah. Satu kalimat yang mampu mendeskripsikan langit malam di atasnya saat ini.
Sejenak Kiran mampu dibuat lupa akan ketakutannya. Dia dibuat terbuai akan keindahan pertunjukan kembang api yang entah dari mana datangnya.
Hingga pada kembang api terakhir, Kiran dibuat terkejut akan tulisan yang membentuk di sana.
WILL YOU MARRY ME?
Begitulah bacaan dari gabungan beberapa huruf yang terpampang nyata di atas langit dari hasil ledakan kembang api terakhir.
__ADS_1
Tak berapa lama suara lembut dari arah belakang juga mampu mengalihkan pandangan Kiran.
“Bagaimana nona Kiran?”
“Arga???”
Kiran terkesiap dengan kehadiran Arga yang begitu tiba-tiba. Pria itu mengulas senyuman sambil menyembunyikan kedua tangannya ke belakang.
Kiran membalikkan badannya hingga menghadap sempurna ke arah Arga, sedangkan Arga sudah ikut berjongkok di depannya.
“Arga kamu masih di sini? Hiks.. hiks,” ucap Kiran yang kini kembali terisak.
“Menurutmu? Jadi bagaimana nona?” sahut Arga kemudian mengeluarkan kedua tangannya ke depan.
“Apa ini Ar???”
Kedua bola mata Kiran membulat sempurna saat ia melihat sepasang tangan itu ternyata membawa sebuah cincin di dalam kotak bludru berwarna merah sebelah kanannya, serta sebuah bucket mawar biru di tangan kirinya.
“Tolong dengarkan dan jangan menyela ucapanku! Aku tidak akan mengulanginya,” titah Arga penuh keseriusan.
“Kiran Dewi Sartika binti Hendra Adji Suratma, hari ini untuk pertama dan terakhir... saya Deviro Arga Satya ingin melamarmu di bawah temaram langit malam saat ini serta deburan ombak yang menjadi saksi. Bersediakah kau menjadi pendamping hidupku serta ibu dari anak-anakku? Beri jawabanmu sekarang! Jika kau bersedia, maka terima apa yang ada di tangan kananku. Jika kau tak bersedia, maka ambillah yang ada di tangan kiriku.”
Kiran membeku, benar-benar tidak menyangka jika Arga akan melamarnya secepat ini.
Ah tidak, bahkan ini sudah 8 tahun hubungan mereka namun memang dari dulu belum ada kemajuan sama sekali.
Dia masih bingung harus memilih jawaban yang seperti apa. Jauh di lubuk hatinya sejujurnya dia sangat mencintai Arga dan menginginkan hubungannya bertahap ke jenjang yang lebih serius.
Namun di sisi lain dia juga tidak ingin mengecewakan semua orang terutama sang ayah yang sudah menjodohkan Arga dengan adiknya sendiri.
Kiran khawatir karena itu akan berakibat fatal pada kondisi kesehatan ayahnya.
Seolah tahu apa yang difikirkan Kiran, Arga langsung menyambung perkataannya kembali.
Kali ini bahkan dengan tatapan yang jauh lebih serius. Kedua netranya sudah mengunci pandangan Kiran.
“Aku harap kau memberikan jawaban sesuai isi hatimu sayang. Untuk saat ini jangan fikirkan orang lain dulu. Jika kau bersedia, kita akan berjuang bersama. Kali ini aku tidak ingin mengulang kesalahan yang akan berujung pada kekalahanku.”
“Kiran Dewi Sartika, dari kedua benda yang aku pegang saat ini mana yang akan kau pilih?” sambung Arga yang sudah tidak sabar menunggu jawaban Kiran.
“Ar, kamu jelas sangat tahu sendiri kan bagaimana keadaan kita sekarang. Aku tidak ingin ayah...”
Belum sempat Kiran menyelesaikan ucapannya, Arga lebih dulu menyelanya.
“Hsstt... aku tidak ingin mendengar alasanmu karena orang lain Kiran. Aku ingin mendapat jawaban sesuai apa yang kamu rasakan padaku. Tanyakan pada hatimu sendiri, aku akan menunggunya dari sekarang. Kita akan pulang setelah kamu memberikan jawaban. Fikirkan baik-baik karena ini terakhir kali aku meminta. Jawabanmu akan menentukan hubungan kita ke depan.”
“Maksud kamu apa Ar?” tanya Kiran seraya mengerutkan dahinya tanda tidak mengerti.
__ADS_1
“Ini adalah bentuk lamaran pertama dan terakhir dariku untukmu Kiran sayang. Setelah ini aku tidak akan melamarmu kembali. Sekarang, jawabanmu lah yang ku tunggu.”
Kiran termenung. Suasana berubah menjadi tegang saat tak ada lagi pembicaraan diantara keduanya.
Angin malam berhembus semakin kuat, begitupun ombak laut yang semakin liar menampakkan gelombangnya.
Tanpa sadar 15 menit sudah berlalu. Kiran dan Arga masih saling diam.
Arga masih setia berjongkok di depan Kiran dengan membawa cincin dan bucketnya.
Selang beberapa menit kemudian, Kiran memantapkan hati dengan menatap manik Arga seraya mengulurkan tangannya untuk mengambil salah satu barang itu.
Mata Arga membulat sempurna saat dia melihat sendiri barang yang dipilih Kiran.
Akhirnya jawaban itu telah ia dapat.
Menjalin hubungan tersembunyi atau istilah lain backstreet selama 8 tahun dengan Kiran tanpa diketahui kedua pihak keluarga, bahkan telah mempersiapkan acara lamaran romantis ini satu tahun terakhir.
Namun lagi-lagi Arga dihadapkan pada kenyataan pahit yang harus ia terima sekali lagi.
Arga sudah kehabisan kata-kata. Tidak mampu berucap maupun mengubah pilihan Kiran kembali.
Keputusan kekasihnya adalah mutlak, dia sangat tahu itu.
Ucapannya tercekat, seperti ada biji buah salak yang menyangkut di tenggorokannya.
“Sayang, kau sudah yakin dengan pilihanmu saat ini?” tanya Arga memastikan.
“Ya! aku yakin sekali,” jawab Kiran mantap.
“Kau sungguh memilih bucket mawar biru ini Kiran?”
***
Happy Reading^^
Wah sedih banget pasti si bang Arga kalo neng Kiran ambil bucket mawar biru😢
Btw, ini tampilan mereka kalo lagi sama-sama kerja di kantor masing-masing ya😍
NOTE : yuhhuu..... akhirnya up lagi. Semoga gak bosen-bosen yah readers. Salam pukpuk dari KOKA😙
Selamat menempuh weekend😋
__ADS_1