
Sungguh sampai kapan masa lalu akan terus terbayang meski ku sudah menguburnya sekalipun? Tak ingin teringat, namun juga tak ingin terlupa.
-Reyhan Aksa Pradana
Di kediaman keluarga Pradana suasana tampak begitu sepi, malam semakin larut sehingga para penghuni di dalamnya pun memutuskan untuk beristirahat dalam kamarnya masing-masing.
Reyhan yang saat itu baru sampai di depan rumahnya meminta penjaga untuk membuka pintu gerbang. Perlahan mobil yang dikendarainya pun memasuki pelataran rumah menuju garasi. Tidak lekas turun, Reyhan justru memilih berdiam diri di dalam mobil sambil mengacak frustasi rambutnya.
“Sial, kemana dia?” ucapnya sendiri.
Dengan langkah gontai Reyhan kemudian memasuki rumah untuk menuju kamarnya, ingin segera mengistirahatkan tubuhnya yang dirasa sangat lelah.
Pria itu tampak begitu kesal karena tidak dapat menemukan Kinan yang pergi entah kemana setelah sadar akan pingsannya. Fikirannya terus meracau terlebih dirinya juga sangat mengingat jelas ucapan Dr. Frans yang mengatakan bahwa Kinan mengalami trauma berat setelah kejadian itu.
Kau laki-laki tidak bertanggung jawab Reyhan Aksa Pradana!! Kau membiakan wanitamu saat itu menanggung kesakitan sendiri. Kaulah penyebab kecelakaan itu. Kau pantas disebut pria br*ngs*k.
“Reyhan…?? Nak?? Kau dari mana saja?” panggilan dari arah dapur itu sukses membuat Reyhan menghentikan langkahnya yang hendak menjajakan kaki ke arah tangga.
“Tidak ada,” jawab Reyhan singkat hendak berlalu.
“Sayang, kau dari mana saja? Kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi?” tanya wanita paruh baya yang sering disapa Arina itu kemudian melangkah mendekat ke arah anaknya.
“Kenapa?” tanya Reyhan sudah mulai risih karena terus-terusan dicerca berbagai macam pertanyaan.
“Mama khawatir Rey. Kau kenapa nak? Kenapa wajahmu lusuh seperti ini?”
“Hanya lelah, ingin segera istirahat.”
“Mandilah dulu nak. Mama akan siapkan air hangat untukmu.”
“Tidak usah. Aku ingin langsung tidur,” ucapnya lalu berbalik hendak melangkahkan kakinya kembali.
“Reyhan??” panggil Arina kembali.
“Ada apa lagi?”
“Ehmm.. tidak jadi nak, sepertinya kau sudah sangat lelah. Istirahatlah.”
Tidak begitu peduli dengan apa yang ingin dikatakan mamanya, Reyhan langsung menuju kamar.
Sesampainya di kamar, Reyhan langsung merebahkan tubuh ke atas kasur king size dengan warna grey dominan.
Sembari tangan kanannya memijat lembut pelipisnya, matanya ikut memandang langit-langit kamar yang bernuansa hitam metalic itu.
Sekelebat bayangan masa lalu pun ikut terbawa dalam lamunannya. Ya, lebih tepatnya kejadian 6 tahun silam.
Flashback On
“Sampai kapanpun ayah tidak akan merestui hubungan kalian Kinan!!” tegas Hendra dengan wajah yang bersungut serta luapan emosi yang membuncah.
“Tapi ayah, Kinan sangat mencintai Aksa. Kita berdua sudah lumayan lama menjalin hubungan. Dan sekarang Aksa dengan niat baiknya ingin meminta restu ke ayah,” ujar Kinan disertai isakan tangisnya.
“Sekali ayah bilang tidak ya tidak Kinan. Jangan membantah!! Sampai ke liang lahat sekalipun ayah tidak akan membiarkan keluarga kita berhubungan dengan keluarga Pradana!!”
Karena ikut tersulut emosi, Kinan pun semakin meninggikan nada bicaranya. “Berikan alasannya ayah!! Kenapa??? Apa salah mereka??”
__ADS_1
“Sebelumnya saya minta maaf om jika mungkin ucapan saya lancang atau kurang ajar. Namun jika permasalahannya karena keluarga terlebih karena ayah saya, bukankah itu hanya hubungan antara om dan beliau? Sebaiknya itu juga bisa kalian selesaikan dengan baik. Saya juga tidak tau permasalahan apa yang dialami keluarga saya dan keluarga ini, tapi yang pasti saya tulus mencintai Kinan terlepas dari masalah hubungan om dan papa saya yang kurang baik. Saya harap om dapat memberikan restu untuk kita,” dengan susah payah Aksa memberanikan dirinya untuk berbicara langsung di depan Hendra.
Merasa tidak terima dengan ucapan Aksa, Hendra pun menggebrak meja dengan sangat keras. “Siapa kau berani-beraninya menasehatiku!! Dasar anak kurang ajar!!” sarkasnya kemudian mengangkat sebelah tangannya hendak mengarahkannya ke Aksa.
Melihat sang ayah yang hendak menampar kekasihnya, Kinan segera menghadang dan menahan sekuat tenaga. “Ayah cukup!!! Jangan ayah… Kinan mohon, hiks.. hiks.. hiks.”
“Minggir Kinan!! Ayah akan beri pelajaran ke anak kurang ajar ini.”
“Tidak ayah, tidak. Kinan mohon, hu..hu..hu.”
“Tenanglah Yah.. kita dengarkan dulu penjelasan mereka,” ucap Kiran yang sedari tadi hanya diam namun tidak tega melihat sang adik yang terusa-terusan menangis.
“Diam Kiran!!! Kau jangan membela mereka. Dan untukmu Kinan, keputusan ayah tetap final. Sampai kapanpun ayah tidak akan pernah merestui kalian. Kamu itu masih kecil, perjalananmu masih panjang dan kamu masih bisa mendapatkan laki-laki yang lebih dari anak kurang ajar ini.”
“Tapi Kinan sangat mencintai Aksa Yah… kita sama-sama serius dalam hubungan ini. Kinan mohon sekali ini saja penuhi permintaan Kinan,” pinta Kinan dengan wajah yang memelas.
“Saya minta maaf, tapi saya mohon om… kami tulus saling mencintai.”
“Cukup!!!! Apa kau tuli ha..?!!! Sekarang juga kau pergi dari rumahku anak kurang ajar!!!” hardik Hendra seraya mengarahkan telunjuknya ke arah pintu.
Kinan, Kiran, serta Aksa menatapnya begitu terperangah namun sekejap Hendra kembali mengumpati Aksa dengan kata-kata kasar.
Laki-laki yang berstatus sebagai ayah Kinan tersebut begitu murka dan menuntut Aksa agar segera keluar dari rumahnya. Bahkan matanya pun memancarkan pendar-pendar kebencian yang teramat dalam.
Tanpa berkata-kata lagi Aksa langsung beranjak dari duduknya dan hendak melangkahkan kakinya, namun tangan Kinan sudah lebih dulu menahan dan mencengkram lengannya untuk tetap tinggal.
“Sa... aku mohon jangan tinggalin aku.”
“Kamu tenang Na... besok kita akan bicarakan ini lagi,” ucap Aksa sambil menggenggam tangan Kinan.
“Ayah tidak ayah.. Kinan tidak bisa berpisah dengan Aksa Yah, hiks...hiks...hiks.”
“Kiran bawa adikmu ini ke kamar sekarang,” titah Hendra ke anak sulungnya.
“Dek, ayo kita ke kamar dulu. Jangan seperti ini,” ajak Kiran sambil merangkul pundak Kinan hendak menuntunnya ke kamar.
“Tidak!!! Aku tidak mau. Jika ayah tidak merestui hubungan kami, aku akan pergi juga dari rumah ini.”
“Kinan!! kamu jangan keras kepala!!! Ayah bilang masuk ke kamar sekarang juga!!!” bentak Hendra membuat Kinan begitu terkesiap suara lantang itu berada tepat di wajahnya.
“Nana tolong jangan buat ini semakin rumit. Mungkin ini yang terbaik untuk kita. Aku pulang dulu, kamu jaga diri baik-baik,” ucap Aksa kemudian berlalu keluar.
“Aksa tidak, Aksa berhenti!!!!” Kinan terus berteriak namun Aksa tidak menoleh sedikitpun, dia terus melangkahkan kakinya untuk menuju mobil yang terparkir tepat di pelataran depan pintu rumah Kinan.
Saat Aksa hendak membuka pintu mobil, tiba-tiba pintu tersebut tertahan oleh tangan mungil yang kini berdiri tepat di sampignya.
“Aku ikut Sa... Jangan tinggalkan aku,” ucap Kinan sambil menahan kuat pintu mobil.
“Tapi Na...” belum selesai Aksa berucap, suara keras dari arah rumah sudah lebih dulu membuat keduanya begitu terperanjat.
“Kinan!!! Kembali!!!” teriak Hendra dengan sarkasnya.
Flashback Off
💢💢💢
__ADS_1
Cahaya mentari pagi ikut terbias masuk melalui celah-celah gorden yang tidak tertutup sempurna ke dalam kamar seorang gadis yang kini tengah meringkuk di atas tempat tidur. Berkali-kali pintu kamarnya diketuk dari arah luar, namun lagi-lagi gadis itu tidak mengindahkan suara yang sedari tadi memanggil-manggil namanya.
“Kinan, tolong buka pintunya nak. Apa kau baik-baik saja? Ayah sangat khawatir kepadamu nak.”
Tok.. Tok.. Tok..
“Kinan!!”
Hendra terus memanggil nama putri bungsunya tersebut tanpa henti, begitupun dengan ketukan pintu yang terus diulang-ulang. Dirinya begitu khawatir dengan kondisi Kinan setelah apa yang dialaminya di rumah Dandi sahabatnya kemarin.
Fikirannya berkecamuk memikirkan hal yang tidak-tidak, mengingat ucapan Dr. Frans yang mengatakan bahwa kondisi mental Kinan tidak begitu baik.
“Kinan.. Kau mendengar ayah kan nak??” panggilnya sekali lagi.
“Ayah, sudah Yah.. mungkin Kinan masih butuh waktu sendiri,” ucap Kiran yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya.
“Ayah hanya tidak ingin terjadi apa-apa dengan adikmu Kiran.”
“Kiran yakin Kinan akan baik-baik saja Yah, biarkan dia menenangkan diri dulu.”
“Tapi dia juga harus sarapan.”
“Masalah itu biar Kiran yang akan mengurusnya Yah, hari ini Kiran mengajukan cuti dari kantor. Sebaiknya sekarang ayah sarapan dulu, bukankah nanti ayah akan menghadiri meeting di kantor?”
“Hmm.. baiklah. Kalau begitu ayah serahkan Kinan padamu. Tolong jaga adikmu nak, saat ini kondisinya sedang tidak stabil. Nanti ayah akan menelpon Dr. Frans untuk memeriksa Kinan.”
“Iya Yah, sudah ayah jangan khawatir. Kiran akan menjaga Kinan.”
“Baiklah, kalau begitu ayah akan bersiap-siap dulu pergi ke kantor. Nanti kalau ada apa-apa dengan Kinan, kau beritahu ayah. Ayah akan segera pulang.”
“Baik Yah.. ingat kondisi ayah juga. Ayah tidak boleh banyak berfikir.”
“Iya nak, ayah tinggal dulu.”
Kiran tersenyum tulus sembari memandangi punggung ayahnya yang sudah berlalu, namun dalam sekejap pendar kesedihan ikut nampak dari wajah ayunya.
Gadis dewasa itu melihat pintu kamar adiknya yang masih tertutup rapat, dia hanya bisa mendengus pasrah untuk apa yang terjadi saat ini. Mungkinkah masa lalu akan terulang lagi? Entahlah, Kiran pun tidak tahu pasti.
“Dek... untuk kali ini, kakak berjanji akan melakukan apapun untukmu. Maaf jika selama 6 tahun ini kakak tidak bisa menjadi kakak yang baik untukmu dan hanya diam saat dirimu harus menanggung beban yang teramat dalam,” ucap Kiran lirih pada diri sendiri kemudian berlalu menuju dapur untuk membuatkan adik satu-satunya itu sarapan.
Sedangkan di dalam kamar Kinan masih saja mengunci dirinya dari luar, tidak ingin bertemu siapapun. Fisik dan fikirannya benar-benar lelah, butuh istirahat tanpa gangguan siapapun sekalipun itu Dr. Frans yang nanti pasti akan datang memeriksanya.
Reyhan??? Aksa??? Atau siapalah, aaggghh…. Apa yang terjadi padamu Kinan? Sadarlah!! Kau ini kenapa???
Hati Kinan bergemuruh dan berkecamuk tak menentu, mencoba memikirkan kembali kejadian yang sudah-sudah. Namun tetap saja, dia tidak bisa mengingat apapun itu.
Kenapa? Jelas-jelas kemarin dia mendengarkan percakapan ayahnya dengan Reyhan yang mengatakan bahwa Reyhan adalah mantan kekasihnya. Dan Aksa?? Bukankah itu suku kata kedua dari nama lengkap Reyhan? Reyhan Aksa Pradana... Tapi kenapa nama itu seolah sangat familiar di pendengaran Kinan? Apa yang terjadi?
Ya. Jawabannya satu. Ayah pasti tahu semua ini.
***
HAPPY READING^^
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1