SKIP

SKIP
PART 27


__ADS_3

Kehidupan abu-abu yang kurasakan selama ini membuat hari-hariku semakin resah karena kekhawatiran yang tak bertuah. Menginginkan segala jejak kesedihan akan segera berakhir, namun diriku tidak berusaha melepasnya.


-Kinan Putri Cantika


“Kenapa diam dok? Lanjutkan penjelasan anda, saya ikut mendengarkan.”


Semua orang begitu terkesiap, tak terkecuali Dr. Frans yang ucapannya seolah tercekat di tenggorokannya.


Suasana di ruangan itu berubah hening saat sang pemilik kamar tiba-tiba duduk dan menajamkan pandangan untuk menanti penjelasan selanjutnya.


Ya. Tepat setelah Dr. Frans memeriksa keadaannya, sebenarnya Kinan sudah lebih dulu sadar dari pingsannya.


Namun karena ia tahu tengah menjadi perhatian banyak orang, ia pun berpura-pura tetap diam dan memejamkan matanya. Hingga sebuah rahasia penting tanpa diduga diungkapkan oleh Dr. Frans sendiri.


Aku tahu selama ini memang kondisi psikisku kurang baik karena trauma itu. Tapi amnesia? Benarkah aku amnesia? Bagaimana mungkin? Aku bahkan bisa mengingat ayah dan kakakku dengan baik.


Fikiran seperti itu terus berkelebat di kepala Kinan, membuatnya semakin enggan untuk membuka mata agar dia juga bisa mengetahui kebenarannya lebih banyak.


Namun saat tiba-tiba Dr. Frans menyebutkan bahwa sang ayah lah yang meminta untuk merahasiakan kondisinya, Kinan pun tidak bisa lagi meneruskan sandiwaranya dan memilih duduk supaya dapat mendengar dengan jelas.


“Dek, kamu sudah siuman?” tanya Kiran sambil mengusap cairan bening yang tadi membasahi wajahnya.


“Diamlah kak. Aku hanya ingn mendengarkan penjelasan Dr. Frans yang sempat terputus tadi. Ayo dokter, tunggu apa lagi? lekas lanjutkan.”


Dr. Frans sejenak diam, dia benar-benar tidak menyangka jika Kinan akan terbangun secepat ini. Sungguh diluar dugaannya.


“Dok, kenapa anda masih diam?” lagi-lagi pertanyaan Kinan membuatnya terperanjat.


Dr. Frans masih diam, namun sejurus kemudian dia langsung mendekat ke arah Kinan untuk memastikan keadaan gadis itu.


“Biarkan saya periksa anda dulu nona. Jika memang keadaan anda baik, saya akan melanjutkan ucapan saya yang sempat tertunda tadi.”


Kinan hanya diam, membiarkan dokter itu memeriksanya. Tak lama, Dr. Frans kembali memundurkan tubuhnya hingga kini berdiri tegak di antara orang-orang yang masih penasaran akan lanjutan ceritanya.


“Sepertinya anda sudah cukup baik nona Kinan,” ucapnya sambil tersenyum lega.


“Jangan mengulur waktu dok! Kenapa anda sangat bertele-tele seperti ini?” desak Kinan sudah tidak sabar.

__ADS_1


“Baiklah-baiklah...” ucap Dr. Frans masih tersenyum simpul.


“Mungkin dari tadi anda sudah mendengar pembicaraan saya nona Kinan, dan memang benar jika dari awal amnesia anda ini saya ketahui, tuan Hendra juga mengetahuinya. Ah, sebenarnya saya tidak berhak menceritakan ini semua. Terlebih tentang alasan beliau menutupi kondisi nona Kinan selama ini.”


“Memang apa alasan ayah menutupi kondisi Kinan dok?” tukas Kiran.


“Tuan Hendra tidak ingin nona Kinan terlibat kembali dengan tuan Aksa atau yang sekarang lebih kita kenal tuan Reyhan, terlebih lagi dengan keluarga Pradana dia sangat menentang itu nona.”


“Ini yang dari dulu aku tidak habis fikir. Jika memang dari dulu orang tua kita sama-sama saling membenci, lalu kenapa aku dan Kinan sama sekali tidak diberitahukan alasannya? Kenapa mereka harus membentengi hubungan kami?!” sahut Reyhan dengan nada berapi-api.


“Hei bro, calm down. Jangan lebih dulu terbawa emosi,” ucap Rafa berusaha menenangkan sahabatnya.


Tiba-tiba saja mata Kinan menyipit, memperhatikan sosok pria yang sedari tadi ikut berdiri di kamarnya namun tidak begitu diperhatikannya.


Wajah itu? Kenapa aku seperti tidak asing?


Kinan terus membatin, namun masih diam dan tetap mengontrol mimik mukanya. Sorotan matanya terkunci.


Pandangan Kinan yang jelas berbeda itu secara tidak langsung juga mengundang Arga untuk ikut memperhatikan wanita itu dan sosok yang dipandanginya.


Rafa tersenyum ramah ke arah Kinan. “Halo Na... yess i’m.”


“Na???” ucap Kinan dan Arga bersamaan.


“Nana,” sambung Rafa.


“Arrgghh….” pekik Kinan saat Rafa memanggilnya dengan sebutan Nana. Aneh. Kenapa dia seolah sangat familiar dengan sebutan itu?


“Kamu kenapa dek?” tanya Kiran dengan begitu khawatirnya.


Dr. Frans yang masih menjeda ucapannya tadi dan kembali memeriksa Kinan dengan bergegas mendekati gadis itu.


“Maaf nona Kinan, boleh saya tahu apa yang anda rasakan saat ini?” tanya Dr. Frans memastikan prediksinya.


“Nama itu….” ucap Kinan menggantungkan kalimatnya.


“Nana, kamu sudah ingat? Coba lihat baik-baik mataku Na!!” sahut Reyhan berhambur mendekat ke arah ranjang.

__ADS_1


Kinan diam. Kini matanya menatap kornea cokelat kehitaman milik Reyhan, memperhatikannya dengan lamat-lamat.


Sekejap hening. Semua orang nampak begitu menantikan respon yang akan diberikan Kinan. Gadis itu mengerutkan dahinya sambil sesekali memijat pelipisnya.


“No brother, lu gak boleh maksain ingatan Kinan. Sekarang ini kondisinya masih rentan,” cegah Rafa agar sahabatnya tidak semakin membuat Kinan berfikir keras.


“Teman anda benar tuan Reyhan, biarkan nona Kinan mengingat dengan sendirinya. Saat ini jangan terlalu memaksanya,” tambah Dr. Frans ikut menimpali.


Sedangkan Kiran dan Arga hanya diam. Arga masih terlalu bingung dengan keadaan di depannya sekarang, sehingga dia pun memutuskan untuk tetap diam dan mengikuti pembicaraan mereka sembari mencoba menelaah semuanya.


Kiran sendiri masih setia duduk di samping adiknya sambil mengusap lembut pundak Kinan. Mencoba memberi ketenangan kepada adiknya agar tidak terlalu memikirkan hal-hal berat. Berharap dengan begitu kondisi Kinan akan tetap stabil.


“Tapi Kinan harus tahu semuanya, masa lalu kita, kenanganku bersama dia!!” tandas Reyhan kembali.


“Gua tau bro, tapi lu jangan egois! Lu harus bisa kontrol emosi lu. Inget kondisi Kinan! Pentingin keselamatannya! Inget juga, gua di sini juga bela-belain demi kalian! So, please be careful with your words... Oke???” ucap Rafa mengingatkan.


Reyhan langsung diam. Begitu terpaku dengan ucapan sahabatnya barusan. Benar kata Rafa, dia tidak boleh egois, harus bisa mengontrol emosinya. Ingat, ini demi keselamatan Kinan! Namun di sisi lain hatinya tetap ingin Kinan segera mengingat semuanya.


Sudah cukup penantian dan pencariannya selama 6 tahun ini. Haruskah dia menunggu kembali? Kenapa takdir seolah tidak memberikan restunya untuk bertemu dengan wanita itu? Lagi-lagi Reyhan harus mengalah.


“Na... aku tidak akan memaksamu untuk mengingatku kembali. Tak apa jika saat ini kau masih belum bisa mengenaliku sebagai sosok lain selain ‘Reyhan’. Aku mengerti kau pasti butuh waktu. Tidak mudah memang jika harus mengingat semuanya sekaligus,” suara Reyhan seolah tercekat di dalam tenggorokan namun dengan susah payah dia terus melanjutkannya.


“Selama ini aku mampu menunggumu. Hingga datang hari ini. Aku memang bodoh karena terlalu mengharap sesuatu yang jelas-jelas masih jauh terlihat. Bahkan kebodohanku sampai pada titik aku tidak sadar kalau kau ternyata amnesia. Padahal jelas-jelas di awal pertemuan kita setelah 6 tahun lamanya kau sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda mengenaliku. Ku kira kau memang sengaja menghindariku...”


Reyhan menjeda ucapannya, tatapan intens matanya tetap ditujukan pada Kinan yang juga masih memandang kedua bola matanya. Pria itu membuang nafasnya pelan, kemudian melanjutkan lagi.


“Kinan Putri Cantika! Jika aku adalah satu-satunya orang yang tidak bisa kau ingat dari masa lalumu, sekali saja tolong ingat baik-baik nama Reyhan AKSA Pradana di hatimu.”


Seketika hening kembali, semua mata tertuju pada Kinan yang masih duduk di atas ranjang bersama Kiran.


Tanpa aba-aba lagi, tiba-tiba saja cairan bening langsung melesat cepat membasahi pipi mulus Kinan.


“A..Aksa?????”


***


HAPPY READING^^

__ADS_1


__ADS_2