SKIP

SKIP
PART 2


__ADS_3

Meski ku tahu kau tak sepenuhnya dapat mempercayaiku. Namun akan ku pastikan bahwa aku akan menjadi satu-satunya orang yang selalu berada di sisimu. Walau kau tak berbicara sekalipun, aku akan mengetahuinya hanya dengan melihat matamu.


-Kevin Fardiko


Hari sudah semakin sore, namun Kinan masih saja setia dengan kertas-kertas skripsi serta laptop yang sudah empat jam ia gunakan untuk merevisi laporannya. Fikirannya benar-benar fokus dan tak menyadari jika orang-orang yang sebelumnya memenuhi ruang perpustakaan sudah semakin sedikit hingga menyisakan Kinan yang masih berkutat dengan buku-buku tebalnya.


Tringg!!


*Ki, kau masih di perpus?


Sebuah pesan singkat dari Kevin berhasil membuyarkan konsentrasi Kinan. Dengan posisi yang masih terduduk di kursi, gadis itu lantas meregangkan tubuhnya ke belakang sambil memejamkan mata menghadap ke atas. Namun tanpa diduga Kinan justru tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya hingga kursi yang ia duduki ikut goyah.


“Oh tidaakk!!” teriak Kinan.


Membayangkan tubuhnya akan jatuh ke lantai membuat Kinan semakin panik. Tapi tiba-tiba sepasang tangan kekar berusaha menahannya, sontak Kinan pun menoleh ke pemilik tangan itu.


Degg!


Seolah jantungnya berhenti sejenak, mata Kinan tidak percaya melihat sosok yang saat ini berada di belakangnya. Sosok yang sebenarnya sangat Kinan hindari dan paling tidak ingin ia temui. Sosok pria yang memberikan tatapan penuh kebencian serta sikap sangat dingin beberapa hari lalu saat mereka harus terlibat sebuah insiden kecil. Jika harus mengingatnya kembali, Kinan sungguh merasa takut dan nyalinya semakin ciut.


Namun seolah takdir berkata lain, kali ini Kinan justru dipertemukan dalam situasi yang membuatnya berjarak sangat dekat dengan pria tersebut.


Reyhan? Kenapa pria ini tiba-tiba disini? Tuhan, apalagi sekarang?


Fikiran Kinan terus dipenuhi tanda tanya yang tak berujung. Dia bahkan tidak menyangka jika dari sekian banyak mahasiswa di kampusnya mengapa harus Reyhan yang saat ini berada disana dan menahan tubuhnya.


“Apa kau sangat nyaman?”


Satu kalimat itu berhasil membuyarkan lamunan Kinan tentang pertanyaan yang sedari tadi hinggap di fikirannya. Betapa terkejutnya Kinan saat tersadar dirinya justru merangkul lengan Reyhan.


“Oh maaf.”


Wajah Kinan merah padam menahan rasa malu karena pertanyaan Reyhan, dia pun segera membenarkan posisi duduknya.


“Terimakasih.” imbuh Kinan.


“Kau tak pergi?”


Lagi-lagi pertanyaan Reyhan membuat Kinan tersekat karena terdengar begitu datar namun sangat dingin.

__ADS_1


“Ehm.. ini, anu.. ehm aku masih mau menyelesaikan laporanku.” jawab Kinan gugup.


“Aku tidak bertanya apa yang kau lakukan disini.”


Degg!


Apakah jawabanku ada yang salah? Apakah aku menyinggungnya? Oh Ayolah Kinan, fikir kembali apa yang salah dari perkataanmu.


“Tempat dudukmu. Ini yang biasa kutempati, tapi hari ini kau menggunakannya cukup lama.”


Duarrr!!


Bagai disambar petir, pipi Kinan semakin panas karena menahan rasa malu yang luar biasa akibat ucapan Reyhan kepadanya. Dalam hati Kinan, Reyhan benar-benar mampu membuatnya terlihat bodoh karena sudah salah mengartikan pertanyaan itu.


“Kia??” suara Kevin berhasil menyelamatkan Kinan dari suasana canggung itu.


“Kenapa pesanku tidak kau balas Ki? Dan.. Rey?? Kenapa kau disini? Kenapa kalian bisa bersama? Apa yang terjadi?” tanya Kevin beruntun tanpa jeda dengan tatapan penuh curiga.


“Tidak ada Vin. Ayo kita pergi.” ajak Kinan sambil memasukkan laptop ke tasnya dan menarik tangan Kevin hendak pergi dari sana.


“Tunggu Ki, aku hanya ingin memastikan. Reyy!!” tolak Kevin enggan beranjak dari tempatnya dan memanggil Reyhan sekali lagi sambil menetapkan tatapan tajam kearahnya.


“Lalu kenapa wajah Kinan bisa merah seperti ini? Kau apakan dia?”


Kevin semakin kesal dengan jawaban Reyhan yang seolah tidak terjadi apa-apa, namun saat melihat tingkah sahabatnya dia jelas sudah tahu pasti ada yang tidak beres diantara mereka.


“Sudahlah Vin, tidak ada apa-apa. Ayo kita pergi sekarang.” tidak ingin semakin salah paham, Kinan pun menyeret lengan Kevin agar pergi bersama.


Sampai di dalam mobil, Kinan justru semakin banyak dicerca berbagai pertanyaan dari Kevin. Kinan faham betul jika sahabatnya itu tidak mungkin langsung percaya dengan ucapannya, terlebih lagi karena dirinya memang tidak pandai berbohong. Jika pun harus berbohong, tubuh serta wajah Kinan akan menunjukkan hal yang berbeda dari apa yang ia ucapkan. Hal itu tentunya dimanfaatkan Kevin agar Kinan mau berkata jujur kepadanya dan memastikan tidak ada yang disembunyikan Kinan dari Kevin.


“Jawab jujur sekarang Ki, kamu ada apa dengan Reyhan?” tanya Kevin mulai menginterogasi.


“Aku tidak ada apa-apa Vin, sungguh.”


“Lalu kenapa wajahmu sangat merah sekali? Dan lagi, bahkan sangat panas. Apa Rey menyakitimu?” Kevin memastikan sambil memegang wajah Kinan yang memang masih merah dan panas.


Kevin memang terkadang suka berlebihan jika itu menyangkut sahabatnya. Terlebih perlakuannya ke Kinan sudah sama seperti perlakuan seorang pria ke pacarnya, maka tak jarang banyak yang salah paham dengan hubungan keduanya. Begitupun dengan para wanita yang menyukai Kevin, tidak sedikit dari mereka yang akan melabrak Kinan secara langsung dan menyatakan ketidaksukaannya karena terlalu dekat dengan Kevin. Padahal sudah jelas jika hubungan Kevin dan Kinan hanya sebatas sahabat, tidak lebih.


Kinan lantas menarik nafas panjang dan menatap Kevin mantap.

__ADS_1


“Vin, dengarkan! Sungguh, aku tidak apa-apa. Tidak ada yang terjadi antara aku dan Reyhan, dia juga tidak menyakitiku. Wajah merah ini muncul karena aku tadi terkejut hampir jatuh dari kursi, justru Reyhan tadi membantuku dan menahan kursi itu.”


“Benar yang kau katakan itu Ki? Tidak ada lagi setelahnya?” tanya Kevin menyelidik.


“Benar Vin. Percayalah.” jawab Kinan meyakinkan sambil mengangkat jari tengah dan telunjuknya membentuk huruf V.


“Baiklah, aku percaya. Namun, kau tidak lupa kan jika ada satu orang saja yang menyakitimu kau harus bilang kepadaku?”


“Iya-iya Vin, aku masih ingat. Jangan khawatir, aku bisa menjaga diriku sendiri.”


“Jangan banyak alasan Ki. Terakhir kali kau justru menjadi bahan bullyan Rena karena tak mau memberitahuku.”


“Iya Kevin Fardiko. Baiklah, untuk sekarang bagaimana kalau kita ke toko buku terlebih dahulu sebelum kau mengantarku pulang?”


“Untuk apa Ki? Bukankah kemarin kau sudah kesana? Jangan bilang kau ingin membeli buku cerita anak lagi?”


Kevin sangat faham jika sahabatnya itu sangat menyukai dan hobi mengoleksi buku cerita anak, bahkan jika koleksinya dikumpulkan mungkin ada ratusan lebih di lemari buku Kinan. Bukan hanya itu, Kevin juga tahu jika impian Kinan adalah menjadi seorang penulis cerita anak. Namun yang dia tidak habis fikir dari sahabat satu-satunya itu adalah terkadang tingkat kebucinan Kinan ke buku cerita anak sudah semakin akut sehingga keseharian Kinan pun hanya dipenuhi dunia cerita anak.


Sebenarnya Kevin tidak masalah akan hal itu, tapi dia khawatir dengan kebiasaan serta sifat pendiam Kinan yang seperti itu justru membuat Kinan semakin sulit bersosialisasi dengan dunia luar. Sejauh ini memang hanya Kevin seorang teman sekaligus sahabat satu-satunya yang mau bergaul dengan Kinan.


“Ah itu kan kemarin Vin. Hari ini ada peluncuran buku cerita baru, dan ini benar-benar berbeda dari koleksi-koleksiku sebelumnya.”


“Setiap kali ada buku baru kau juga pasti bilangnya begitu Ki. Tapi nyatanya? Hampir semua sama, hanya cover dan tokohnya saja yang beda. Aku jamin, yang ini pasti seperti itu.”


“Tidak tidak, aku yakin yang ini pasti berbeda Vin. Please.” bujuk Kinan.


Kinan.. Kinan, memang sangat sulit memberitahu orang keras kepala sepertimu. Terlebih melarangmu berhenti melakukan kebiasaanmu satu ini.


“Hmm baiklah, tapi selesai itu kau harus menemaniku makan malam terlebih dahulu sebelum pulang. Bagaimana tuan putri?”


“Hehe, baiklah baiklah.”


Mobil Kevin mulai bergerak dan perlahan meninggalkan parkiran kampus menuju tempat tujuan mereka yakni toko buku. Selama perjalanan di dalam mobil, Kinan hanya diam seperti biasa. Sedangkan Kevin, beberapa kali dia mencoba mencuri-curi pandang ke Kinan namun pandangan wanita itu terus mengarah keluar jendela kaca mobil. Sebuah lagu milik Stephanie Poetri – I Love You 3000 yang diputar melalui dashboard mobil mampu mengalihkan pandangan Kinan hingga menatap Kevin lekat.


Tidak biasanya Kevin memilih lagu seperti ini. Ada apa?


***


***HAPPY READING ALL💕

__ADS_1


Beri like, vote, saran dan kritikannya ya agar Author semakin bersemangat untuk mengeksplor imajinasi🖎***


__ADS_2