SKIP

SKIP
PART 4


__ADS_3

Jika hal ini semata-mata untuk mengembalikan apa yang pernah hilang dari dalam dirimu, akan kulakukan itu meski sejujurnya aku tak sanggup. Jikapun nantinya hatiku menentang, rasa sayangku untukmu lah yang akan mengalahkan segala keegoisanku.


-Kiran Dewi Sartika


Suasana hening yang Kinan rasakan sore itu membuatnya semakin hanyut dalam buku yang tengah ia baca di dalam kamarnya, buku cerita anak yang sejak kecil sudah menjadi favoritnya menjadikan Kinan bahkan tidak sadar jika sedari tadi ada sosok yang terus memperhatikannya.


“Sudah selesai dek?” tanya Kiran sang kakak yang tersenyum melihat adiknya tengah meregangkan tubuh tanda telah selesai dari aktivitas favoritnya.


“Ah kak Kiran! Bikin kaget saja. Sejak kapan kakak di sini?” Kinan tampak terkejut melihat kehadiran kakaknya yang secara tiba-tiba.


“Haha maaf-maaf aku sudah membuatmu terkejut ya. Sudah dari tadi aku disini tapi kau bahkan tidak menyadari jika pintu kamarmu dibuka.”


“Oh itu, maaf. Aku masih menyelesaikan cerita ini tadi.” Kinan menunjukkan buku anak yang menceritakan kisah si singa dan harimau kecil.


Kiran hanya tersenyum melihat kelakuan sang adik yang menurutnya sangat naif itu. Sejujurnya dia juga tidak mengerti mengapa Kinan bisa sangat menggilai buku cerita anak, bahkan rela membelinya hingga berjumlah ratusan dan menyimpannya di lemari khusus buku yang hampir memenuhi kamarnya.


Melihat Kinan yang menggeser tubuhnya, Kiran lantas ikut duduk di samping Kinan untuk melemaskan otot kakinya yang kram karena berdiri 20 menit lamanya.


“Kau masih sangat menyukai itu dek?”


“Tentu kak, kemarin aku juga baru saja membeli edisi terbaru namun belum sempat aku baca.”


“Ah begitu. Dek, bolehkah kakak bertanya?”


“Silahkan, apa?”


“Kau serius ingin menjadi penulis buku cerita anak?”


“Jelas kak. Kau tahu kan jika ini impianku satu-satunya? Dan kau juga tahu sendiri kan alasanku memilih ini karena apa?”


“Hmm iya, kakak juga sangat tahu tentang itu dek. Tapi ayah..??” kalimat Kiran menggantung.


Belum sempat Kiran meneruskan ucapannya, Kinan sudah lebih dahulu menyelanya.


“Kak, aku mohon. Jangan kakak juga. Di rumah ini aku hanya mempercayaimu. Aku juga selalu menuruti semua keinginan ayah sebelum-sebelumnya. Namun, untuk yang satu ini… aku benar-benar tidak bisa kak.”


“Baiklah-baiklah, kakak mengerti. Maafkan kakak sudah mengingatkanmu tentang ini, untuk kedepannya kakak akan berusaha membujuk ayah.” tangan Kiran mengusap lembut kepala adiknya.


Sejujurnya Kiran juga tidak tega untuk membahas hal itu dengan Kinan, terlebih dia juga sangat mengetahui jika menjadi seorang penulis cerita anak adalah satu-satunya hal yang menjadikan sang adik lebih bersemangat dan bisa membuatnya bertahan hingga sekarang.


“Terimakasih. Sekarang, kakak keluarlah. Aku ingin membaca lagi.” Kinan menutupi wajahnya dengan buku di tangannya


“Baiklah, kakak akan keluar. Tapi dek, kau tidak akan lupa untuk nanti malam kan?” ucap Kiran saat hendak berdiri namun kembali duduk dan menatap Kinan.


“Ada apa?” tanya Kinan masih menutupi wajahnya.


“Ayah akan mengajak kita makan malam dengan keluarga temannya.”


“Baiklah. Terimakasih sudah mengingatkan.”


💢💢


Malam hari saat Kinan dan Kiran sudah berkumpul di ruang tamu. Sang ayah Hendra Adji Suratma masih belum juga menampakkan tubuhnya pertanda pulang kerja. Entah karena lembur atau apa yang jelas mereka sudah menunggunya selama hampir satu jam. Tidak ada yang berani menghubunginya lebih dahulu, karena mereka juga tahu bahwa ayahnya sangat tidak menyukai jika ada yang mengganggu pekerjaannya. Kinan masih setia membaca buku favoritnya, sedangkan Kiran juga masih sibuk berkutat dengan tabletnya dan mengecek laporan yang dikirimkan oleh asisten pribadinya.


Berbeda dengan Kinan yang tidak ingin bekerja di perusahaan sang ayah serta memilih menjadi penulis cerita anak, Kiran memutuskan untuk menjadi Manajer di perusahaan ayahnya sendiri. Selang beberapa menit, tiba-tiba ponsel Kiran berbunyi.


“Halo, kami sudah siap dari satu jam lalu.” Kiran berbicara dengan sang penelepon.


“Ehmm iya, baiklah kami berangkat sekarang.” imbuhnya mengakhiri panggilan telepon.


“Dek, ayo berangkat sekarang!” ajak Kiran.

__ADS_1


“Ayah bagaimana?” tanya Kinan.


“Ayah sudah di sana, dia menyuruh kita segera menyusulnya sekarang.”


“Baiklah.”


💢💢


30 menit Kiran dan Kinan menempuh perjalanan menuju lokasi yang disebutkan ayahnya, dan kini sampailah mereka di salah satu resto khas Itali di Jakarta Selatan. Dengan pakaian Kiran yang menggunakan dress lengan panjang warna merah diatas lutut serta Kinan yang memakai dress lengan pendek warna biru muda selutut membuat tampilan keduanya begitu nampak anggun dan elegan. Kakak beradik itu mencari-cari sosok sang ayah namun tidak menemuinya. Kemudian datang seorang pelayan yang menghampiri mereka.


“Permisi, dengan nona Kiran dan nona Kinan?” tanya pelayan itu memastikan.


“Iya benar.” jawab Kiran dibarengi dengan senyum khasnya yang menawan.


“Silahkan nona ikuti saya. Ayah anda sudah menunggu.”


Kiran dan Kinan pun mengikuti pelayan itu, dan sampailah mereka di salah satu meja yang berada di samping jendela dan menghadap taman. Di sana sudah ada Hendra serta keluarga rekan bisnisnya. Hendra pun menyuruh anak-anaknya untuk segera ikut bergabung dan duduk. Betapa terkejutnya Kiran saat melihat sosok lain yang ia kenal tengah duduk di hadapannya sambil sibuk menatap ponselnya.


Arga? Kenapa dia ada disini?


Kiran memberi salam kepada semua orang, sedangkan Kinan hanya diam tanpa mengikuti kakaknya.


“Selamat malam om dan tante.” sapa Kiran dengan ramah.


Mendengar suara yang tidak asing, sontak membuat Arga pun langsung berpaling dari ponselnya dan melihat ke sumber suara tersebut. Betapa terkejutnya dia saat melihat ternyata Kiran sudah berdiri di depannya. Bahkan beberapa kali Arga mengusap-usap matanya untuk memastikan jika itu tidak mimpi.


Ki.. Kiran?


Arga tidak percaya dengan sosok yang dilihatnya saat ini, dia pun menutupi wajahnya dengan buku menu yang berada di depannya.


“Nah Kiran Kinan, kenalkan ini om Dandi teman yang ayah maksud. Di samping om Dandi itu ada istrinya, yaitu …..”


Desi sudah lebih dulu memotong ucapan Hendra dan menyambar tangan Kiran dan Kinan berbarengan disertai senyum sumringah.


Kiran dan Kinan hanya tersenyum kikuk dengan perlakuan Desi yang menurut mereka sangat agresif untuk pertemuan pertamanya. Kakak beradik itu hanya saling pandang satu sama lain dan menggaruk tekuk leher mereka yang tidak gatal.


“Hahaha jangan kaget.. istri saya memang seperti itu. Terlalu ramah dengan semua orang jadi sedikit agresif seperti sekarang ini.” ucap Dandi yang sama sekali tidak terkejut dengan kelakuan istrinya.


“Tidak apa-apa om, hehe. Senang bertemu dengan anda tante Desi.” ucap Kiran sambil tersenyum hangat.


“Oh iya Kiran.. Kinan, kenalin ini Arga anak tante. Nak, ayo beri salam ke mereka!” titah Desi sambil menyenggol lengan Arga yang masih menutupi dirinya dengan buku menu.


Arga tampak ragu-ragu, namun akhirnya ia pun menjabat tangan Kiran. Setelah itu Arga menjabat tangan Kinan dan tersenyum tipis kemudian kembali duduk. Tak lama pelayan datang sambil membawa beberapa makanan.


Acara pun dilanjutkan dengan makan bersama sambil mendengarkaan para tetua bercerita perihal bisnis mereka masing-masing. Sedangkan para anak hanya diam dan fokus dengan makanan serta fikiran mereka masing-masing.


“Baiklah Kiran…Kinan, disini ayah akan berbicara ke kalian alasan sebenarnya kita mengadakan makan malam bersama keluarga om Dandi.” Hendra tiba-tiba berucap setelah semua orang menyelesaikan makan.


Degg!!


Kiran dan Kinan pun saling tatap kemudian secara bersamaan menoleh ke arah ayah mereka. Tak terkecuali dengan Arga yang ikut menatap Hendra heran. Ketiga anak itu jelas tahu jika makan malam itu tidak mungkin hanya acara makan bersama biasa, namun mereka juga tidak tahu apa yang selanjutnya akan dibicarakan oleh orangtua mereka.


“Begini, ayah dan om Dandi ini kan teman bisnis. Kita kenal sudah dua tahun, sudah lumayan lama dan kebetulan perusahaan kita juga sama-sama tengah berkembang, rencananya kita akan memperluas jaringan bisnis ini bersama-sama dan….”


“Tunggu, maksud pembicaraan ayah ini apa?”


Belum selesai Hendra menjelaskan, Kiran sudah lebih dulu menyela dan memaksa ingin langsung ke permasalahannya. Selain itu Kinan, Arga, Dandi serta Desi hanya diam dan ikut mendengarkan.


“Iya Kiran, ini ayah sedang menjelaskan dulu ke kalian.”


“Langsung ke intinya saja Yah, jangan berbelit-belit!” Kiran sudah tidak bersabar.

__ADS_1


“Wah, nak Kiran ini memang sama persis ya dengan ayahnya. Tegas dan tidak sabaran, maunya langsung to the point aja hehehe. Sabar nak, ayahmu akan menjelaskan semuanya kok jadi jangan khawatir ya.” sahut Dandi menyela pembicaraan Hendra dan Kiran.


Kiran hanya diam mendengar ucapan Dandi yang menurutnya sedikit menyinggung perasaannya itu. Sedangkan Desi selaku istri Dandi mencubit pinggang suaminya karena dianggap sudah ikut campur dalam pembicaraan yang seharusnya dilakukan antara Ayah dan dua anaknya itu. Hening sebentar, namun tak lama Hendra pun angkat bicara kembali.


“Ayah dan om Dandi sudah membuat keputusan dan kesepakatan bersama, bahwa kami akan menjodohkan nak Arga dengan Kinan.”


Duarrrr!!!!


Bagai disambar petir, Kiran dan Kinan yang sebelumnya tidak mengetahui apa-apa itu merasa dunianya telah gelap. Begitupun dengan Arga yang begitu shock hingga tidak sadar telah menumpahkan air yang sebelumnya akan dituangkan ke gelasnya.


“A-Apa maksud ayah?” tanya Kiran terbata.


“Seperti apa yang kamu dengar Kiran. Om dan ayahmu sudah sepakat untuk menjodohkan anak laki-laki om ini dengan adikmu. Kami juga sudah mengatur akan melangsungkan pertunangannya setelah Kinan wisuda.” kali ini Dandi lah yang menjawab.


“Papa! Apa maksud papa pertunangan? Kenapa papa tidak memberitahuku terlebih dahulu?” Arga merasa tidak terima dengan keputusan papanya.


“Ayah??” kali ini Kinan pun ikut angkat bicara.


“Itu benar Kinan, ayah ingin kamu menikah dengan nak Arga.” ucap Hendra.


“Maaf-maaf, tante harus menyelanya. Begini lho nak Kinan, rencana perjodohan ini sebenarnya sudah lama kita bicarakan. Sudah dari satu tahun yang lalu, tapi kita para orangtua memutuskan untuk menundanya terlebih dahulu karena mengingat nak Kinan yang masih kuliah. Tapi sekarang kan nak Kinan sudah hampir lulus, jadi kita beritahu terlebih dahulu sebelum acara pertunangan resmi.” Desi ikut menjelaskan.


“Tapi Ma, Aku…..”


Belum sempat Arga melanjutkan kata-katanya, Kinan bangkit dari tempat duduknya dan memegang lengan Kiran.


“Kak, kepalaku sedikit pusing. Bisakah kita pulang sekarang?” ajak Kinan.


Kiran yang melihat raut wajah adiknya berubah pucat langsung menyadari jika saat itu Kinan sudah tidak nyaman berada di sana. Dia pun bangkit dari tempat duduknya dan menggandeng lengan Kinan.


“Mohon maaf om, tante, ayah.. saya dan Kinan permisi dulu.” ucap Kiran berpamitan.


“Loh, kalian mau kemana? Kita kan masih belum selesai berbicara, kenapa tidak sekalian nanti bersama ayah kalian saja?” tanya Desi khawatir melihat Kiran dan Kinan sudah berdiri dan hendak pergi.


“Iya Kiran, Kinan. Kita selesaikan dulu pembahasan ini, setelahnya kita pulang sama-sama. Ayah masih perlu berbicara lagi ke kalian.” bujuk Hendra ke anak-anaknya.


“Kita bicarakan ini di rumah Yah, sekarang aku akan mengantar Kinan pulang dia juga terlihat pucat. Kerjaanku juga masih belum selesai. Ayah lanjutkan saja, kita akan naik taxi.”


“Oh tunggu Kiran, bagaimana jika kalian diantar Arga saja? Kebetulan tadi tante dan om bawa mobil sendiri, jadi Arga bisa mengantar kalian. Bagaimana Pa?” tanya Desi ke suaminya.


“Wah ide bagus itu Ma, jadi kalian gak perlu lama-lama menunggu taxi lagi. Bagaimana Hen?” kali ini giliran Dandi yang bertanya ke Hendra.


“Iya, aku juga setuju. Lebih baik seperti itu, ini juga sudah malam Kiran, Kinan. Ayah akan di sini dulu dengan om Dandi dan tante Desi.”


“Tidak perlu om, tante, ayah. Aku akan naik taxi sendiri. Dan kak Kinan, lebih baik kakak di sini menemani ayah. Aku tidak jadi meminta kakak menemaniku.” Kinan langsung melepaskan gandengan tangan Kiran dan berlari meninggalkan tempat tersebut.


“Kinan, tunggu dek!”


panggil Kiran.


Kiran pun ikut berlari dan mengejar Kinan. Sedangkan Arga, Hendra, Dandi, serta Desi hanya diam menyaksikan Kiran dan Kinan yang sudah hampir tidak terlihat lagi.


Setelah kepergian Kiran dan Kinan mereka masih melanjutkan pembahasan sebelumnya, namun tak lama Arga pun ikut berpamitan dan meninggalkan restoran tersebut.


Malam di pertemuan keluarga itu sungguh membuat Kiran, Kinan serta Arga merasa begitu terkejut. Mereka bahkan tidak mengerti dengan fikiran orang tuanya karena yang terlalu memaksakan kehendak dan bertindak semaunya tanpa berdiskusi terlebih dahulu.


***


HAPPY READING ALL💕


Like, vote, dan beri saran serta kritikan kalian ya biar Author tambah semangat berimajinasi🖎

__ADS_1


__ADS_2