SKIP

SKIP
PART 9


__ADS_3

Mencintai bukan perihal kita harus selalu bersama. Terkadang keadaan yang akan memaksa kita untuk saling meninggalkan. Segala perasaan serta keegoisan yang ada pada diri kita pun terpaksa harus menjadi nomor sekian. Mungkin untuk sebagian orang hal itu terasa berat, namun percayalah saat sang pencipta telah bersabda maka tidak ada siapapun yang mampu mencela.


-Author


Pagi itu sinar matahari ikut masuk melalui celah jendela kamar Kinan dan membuatnya mengerjapkan mata tanda silau, sangat mengganggu tapi dia masih sangat malas untuk sekedar bangun dari tempat tidur, terlebih hari ini tidak ada jadwal untuk bimbingan skripsi dengan dosen.


Akhirnya Kinan pun memutuskan untuk melanjutkan tidur dan menarik selimut tebalnya kembali hingga menutupi seluruh tubuhnya. Namun suara notifikasi pesan di aplikasi whatsapp membuat gadis itu mengurungkan niatnya. Perlahan tangan Kinan meraih ponsel yang berada di atas nakas samping ranjang tempat tidurnya.


*Pesan ini hanya mengingatkanmu agar tidak lupa untuk nanti. Datang sebelum jam tiga sore atau kau akan tahu akibatnya.


Sebuah pesan singkat dari nomor tidak dikenal membuat Kinan hanya membacanya sekilas tanpa berniat untuk membalasnya. Dia pun meletakkan kembali ponselnya di atas nakas, namun tak lama ponsel itu kembali menunjukkan notifikasi dari nomor yang sama.


*Jangan membuatku menunggu. Reyhan.


Degg


Jantung Kinan seolah mencelos dari tempatnya, gadis itu benar-benar tidak percaya jika Reyhan mengiriminya pesan. Bukankah mereka tidak saling menyimpan nomor satu sama lain? Lalu dari mana Reyhan mendapatkan nomor Kinan? Terlebih isi pesannya mampu membuat tubuh Kinan kian bergidik ngeri tak karuan. Namun Kinan masih membiarkannya dan memilih mengabaikan pesan tersebut.


Agghh terserah lah, lebih baik aku lanjutkan kembali tidurku. Dasar balok es! Bisanya cuma memerintah saja, huh.


Begitu pikir Kinan dalam hati. Kali ini dia benar-benar membiarkan ponselnya tergeletak dan mengubahnya ke mode senyap. Gadis itu pun melanjutkan kembali aktivitas tidurnya yang sempat tertunda.


💢💢


TOK.. TOK.. TOKK!!!


“Non Kinan, buka pintunya non.”


Kinan mencoba mengerjap-ngerjapkan matanya mendengar ketukan pintu yang cukup keras dari arah luar kamar, nyawanya belum pulih seluruhnya. Gadis berambut panjang sebahu itu pun bergegas ke arah pintu dan membukanya dengan kondisi rambut berantakan serta muka bantal yang masih enggan untuk bangun.


“Ah mbak Nur, ada apa mbak? Saya masih sangat mengantuk.”


Kinan bertanya ke wanita yang sering disapa mbak Nur tersebut. Mbak Nur sendiri merupakan seorang wanita berusia akhir 40 tahunan yang sudah bekerja selama 15 tahun di keluarganya sebagai asisten rumah tangga.


“Eh itu non, saya minta maaf sudah mengganggu waktu tidur non Kinan. Tapi di bawah ada den Arga non. Mau ketemu sama non Kinan katanya.”


“Mbak Nur salah mungkin, dia bukan mau ketemu saya tapi kak Kiran.”


“Tidak non, den Arga benar-benar ingin bertemu dengan non Kinan bukan non Kiran, saya nggak salah dengar kok non. Lagian kan kalau jam segini non Kiran masih di Kantor.”


“Ha? Buat apa pria itu datang kesini untuk menemuiku, bukannya kak Kiran?” mata Kinan langsung terbelalak, seolah lupa dengan keinginannya untuk tidur kembali.


“Loh non Kinan ini bagaimana? Den Arga kan bakal jadi tunangan non, ya jelas dia mau menemui non Kinan lah, kok malah jadi non Kiran?” tanya mbak Nur bingung.

__ADS_1


“Agh mbak Nur gak bakal mengerti. Ehm… tolong sampaikan saja ke dia aku sedang tidak enak badan ya mbak.” ucap Kinan berbohong.


“Non Kinan sakit? Mau saya bikinkan jamu tradisional non biar cepat pulih?” tanya mbak Nur dengan polosnya dan mengira Kinan benar-benar sakit.


“Aduh tidak sakit beneran mbak, tapi tolong bilang saja ke kak Arga aku gak mau nemuin dia.” jawab Kinan merasa gemas dengan kepolosan mbak Nur.


“Oalah non Kinan gak beneran sakit to? Waduh saya gak berani bilang kalau gitu non, nanti kalau bapak tahu pasti saya yang dimarahi. Saya takut, maaf non saya permisi.”


Mbak Nur pun meninggalkan Kinan tanpa menuruti perkataan nona mudanya itu karena takut jika tuan besar tahu pasti pekerjaannya yang akan dipertaruhkan.


Setelah kepergian mbak Nur, Kinan semakin berdecak kesal. Akhirnya dia pun menemui Arga yang sudah berada di bawah dengan sangat terpaksa serta penampilannya yang masih berantakan karena bangun tidur. Gadis yang terlihat sangat lesu itu berjalan gontai menuruni tangga sambil sesekali bibirnya mengerucut.


Sesampainya di ruang tamu, Kinan mendapati Arga yang sudah terlihat rapi dengan setelan jeans warna biru tua yang dipadu padankan dengan kaos putih polos di dalam serta sepatu sneakers berwarna hitam.


Ah kenapa dia begitu tampan dan terlihat tidak seperti usianya?


Kinan membatin, namun sejurus kemudian ia segera menyadarkan fikirannya kembali dan memilih untuk berdiri tepat di depan Arga yang tengah duduk di sofa.


“Ada perlu apa mencariku?” tanya Kinan ketus.


“Hmm, jangan salah faham dulu. Mamaku menyuruhku untuk mengajakmu keluar.” jawab Arga tidak ingin Kinan besar kepala.


“Untuk apa? Bukankah dari awal kakak juga tidak menginginkan perjodohan ini?”


“Aku tahu, bahkan aku juga sudah tahu siapa wanita itu.” ucap Kinan datar.


“Kk-kau.. kau sudah tahu siapa kekasihku?” tanya Arga dengan terbata-bata memastikan ucapan Kinan.


“Ya! Bukankah dia kak Kiran? Kakakku sendiri?” Kinan memperlihatkan senyum licik seolah dia sudah mengetahui semuanya.


DUARR!!!


Bagai disambar petir di siang bolong, Arga sangat tekejut dengan jawaban Kinan. Bagaimana tidak, karena yang Arga tahu Kiran tidak pernah sekalipun mengizinkan dirinya bertemu dengan keluarg Kiran atau sekedar memperkenalkannya sebagai teman dekat.


Selama delapan tahun pacaran Kiran masih bersikukuh untuk merahasiakan hubungannya. Bahkan sampai perjodohannya dengan Kinan, Arga tidak pernah mengetahui jika Kinan ternyata adalah adik Kiran karena kekasihnya itu begitu tertutup jika menyangkut perihal keluarga.


Bukan tidak pernah Arga mencoba menyelidiki sendiri informasi tentang keluarga Kiran. Saat usia hubungan mereka berjalan satu tahun, Arga sempat mencoba mencari informasi tentang keluarga Kiran secara diam-diam. Namun karena kepandaian kekasihnya itu membuat semua keinginannya gagal. Kiran tahu tentang rencana Arga.


Hal itu tentu membuat Kiran marah besar dan sempat memutuskan hubungan dengannya. Karena rasa cinta Arga yang begitu dalam ke Kiran akhirnya mulai saat itu dia tidak akan mencari tahu tentang keluarga Kiran sampai wanitanya itu benar-benar mau terbuka dan bercerita sendiri ke dia.


“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Arga masih dengan ekspresi bingungnya.


“Tidak penting aku tahu darimana, yang jelas itu semua benar bukan?”

__ADS_1


“Ya, kau benar. Dan kami sudah lama menjalin hubungan ini, bahkan jauh sebelum aku seperti sekarang.” tampak ekspresi lesu bersamaan dengan setiap penuturan Arga.


“Hmm baiklah kalau begitu, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Kakak bisa pergi kan?” ucap Kinan berusaha mengakhiri pembicaraan dan berbalik hendak kembali ke kamarnya, namun sebelum itu tangan Arga sudah lebih dulu mencegahnya.


“Tunggu, tapi kita harus pergi bersama.”


Arga menahan pergelangan tangan Kinan sehingga membuat gadis itu menoleh dan menatapnya tajam.


“Oh maaf, bukan maksudku bersikap lancang. Tapi sejak pertemuan itu kita belum bertukar nomor, dan juga untuk keluar saat ini sejujurnya bukan karena keinginanku melainkan mamaku yang terus memaksaku untuk menemuimu dan mengajakmu keluar. Dia ingin aku mengirimkan foto juga sebagai buktinya.” jelas Arga dan melepaskan tangannya.


“Huh, ada-ada saja. Jika aku tidak mau bagaimana?” tanya Kinan ketus.


“Aku tidak tahu. Tapi yang jelas sepertinya ayahmu akan sangat marah.”


“Huh dasar. Kenapa harus membawa-bawa ayahku!” Kinan mendengus kesal.


“Bukan aku yang menginginkannya. Sekali lagi, ini keinginan mamaku kau tahu sendiri bagaimana antusiasnya dia dengan perjodohan ini. Jika pun salah satu dari kita tidak menurutinya, aku yakin dia pasti akan memberitahu ayahmu.”


“Kau benar juga. Aishh, sangat menyusahkan sekali. Kenapa juga harus ada perjodohan konyol ini.” Kinan mengusap rambutnya kasar.


“Tunggu sini, aku akan bersiap dulu.” sambung Kinan dan berlalu ke kamarnya.


💢💢


Setelah hampir 30 menit lamanya, Kinan turun dengan setelan sweater warna putih dan celana jeans warna biru ditambah sepatu sneakers warna putih serta rambut yang dicepol keatas dengan anak rambut yang berjatuhan menambah keimutan gadis berusia 22 tahun tersebut.


Tak lupa Kinan juga mengenakan totebag canvas warna putih kesayangannya sebagai tempat untuk membawa barang-barang lainnya. Arga memandangi Kinan dengan lekat, namun dalam sekejap dia kembali menyadarkan fikirannya.


“Kita akan kemana?” tanya Kinan setelah dia berada tepat di depan Arga.


“Ikut saja, nanti kau akan tahu.” jawab Arga dan berlalu keluar menuju mobilnya yang terparkir di garasi depan rumah Kinan.


Kinan pun mengikuti Arga dan langsung mendudukkan diri di samping kursi kemudi. Arga mencoba melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibukota yang saat itu lumayan lenggang, tidak seperti pada jam-jam berangkat atau pulang kantor dan sekolah yang akan sangat macet dan berisik sehingga membuat siapapun pasti akan stres karenanya.


Tidak ada percakapan diantara keduanya, mereka sama-sama diam dalam fikiran masing-masing. Arga yang masih fokus menyetir, sedangkan Kinan yang sibuk bermain Hp sambil sesekali beralih ke samping kaca mobil untuk melihat jalanan dan gedung-gedung tinggi yang mereka lewati.


💢💢


30 menit berlalu, akhirnya mereka sampai di salah satu mall terbesar di kota tersebut. Arga pelan-pelan memasuki parkiran yang di khususkan untuk mobil dan terletak di lantai paling dasar mall. Setelah dirasa mobil sudah terpakir dengan benar, mereka berdua keluar dari mobil secara bersamaan.


Karena jarak antar mobil yang terpakir tidak begitu luas, Kinan yang masih fokus ke layar handphone serta tidak begitu memperhatikan keadaan sekitarnya tiba-tiba saja menyenggol seseorang dan membuat handphone nya ikut jatuh ke lantai.


***

__ADS_1


HAPPY READING👀


__ADS_2