
Jika boleh ku sampaikan, sejujurnya aku tidak ingin menyakiti perasaan siapapun terlebih itu saudara kandungku sendiri. Namun aku juga bingung harus bertindak seperti apa jika ayah sendiri sudah mengeluarkan titah yang tak bisa dibantah. Tugasku sekarang adalah menjaga hubungan baik dengan keduanya agar bibit kebencian tidak akan tumbuh diantara kita.
-Kinan Putri Cantika
Pletak!!!
Handphone itu terjun bebas dari genggaman Kinan. Namun untungnya layarnya tidak retak maupun mati, hanya ada goresan sedikit di pinggirannya. Kinan bersyukur dan segera mengambilnya kembali tanpa melihat sosok yang tengah berada di sampingnya.
“Kinan??? Sedang apa kau di sini?” tanyanya.
Mendengar namanya dipanggil, Kinan pun menoleh ke arah sumber suara tersebut.
Sejenak mata Kinan saling bertatapan dengan sepasang mata bulat di depannya. Mata itu nampak apik saat harus dipasangkan pada wajah cantiknya.
“Diara?? Ehmm.. itu anu, emm…” jawaban Kinan tersela saat Diara tiba-tiba melanjutkan ucapannya.
“Kak Arga?? Kenapa kakak bisa ada di sini? Dan, kenapa kalian bisa bersama??”
Diara kembali terkejut dan mencerca Arga dengan berbagai pertanyaan saat mendapati pria tersebut keluar dari mobil yang sama bersama Kinan.
“Kau kenal dengan dia Ra?” Kinan menatap Arga dan Diara secara bergantian seperti orang kebingungan.
“Kamu sama siapa dek?” Arga bertanya dengan nada santai dan menghampiri Diara.
“Dek?? Maksudnya?” tanya Kinan semakin penasaran, bahkan ekspresi wajahnya saat ini mungkin seperti orang bodoh.
“Oh Kinan ayolah, kak Arga ini kan kakak aku. Kakak kandungku.” Diara berucap sambil menampilkan senyum merekah di wajahnya.
“APA??? Kakak kandung??” teriak Kinan tidak percaya.
Bagaimana mungkin dunia sesempit ini? Bahkan dirinya saja masih belum bisa percaya jika pasangan perjodohannya adalah Arga, kekasih kakaknya sendiri. Ditambah lagi sekarang, ternyata pria itu adalah kakak kandung sahabatnya (yah meskipun terbilang masih sahabat baru).
Mulut Kinan membentuk huruf O sempurna serta matanya yang terus mengerjap tanda tidak percaya.
“Kak, Kinan ini siapanya kakak? Kenapa kalian bisa keluar mobil bersama?” tanya Diara kembali memandang Arga lekat.
“Dia lah gadis itu, gadis pilihan orang tua kita.”
“Apa? Jadi Kinan adalah gadis yang akan dijodohkan dengan kak Arga?” tanya Diara tidak percaya dan memandang Kinan penuh makna.
“Hmm.” jawab Arga singkat.
“Kau.. sedang apa kau di sini sendiri? Mana tunanganmu?” sambung Arga.
Tunangan? Apa maksud Arga tunangan itu adalah Reyhan?
Gumam Kinan dalam hati. Sejujurnya dia juga sudah tahu sedikit banyak tentang Diara, termasuk perihal Reyhan yang berstatus sebagai tunangannya namun akhir-akhir ini pria itu justru sering mengganggunya dan mengusik fikirannya.
“Oh dia sedang ada urusan di kampus. Berhentilah bersikap menyebalkan ke dia kak, biar begitu dia juga akan menjadi bakal adik iparmu.” Diara bersungut tidak terima.
“Cih, anak dingin itu. Dari awal saja aku sudah tidak suka dengannya. Entah apa yang disukai orang tua kita dari anak sombong itu, bahkan kau juga sangat tergila-gila kepadanya.”
“Huh, cukup kak! Reyhan tidak seperti yang kakak kira, dia anak yang sangat baik asal kakak tahu. Jangan pernah lagi menghakimi tunanganku. Lihatlah dirimu! Apa kata-kata tadi tidak berbalik kepadamu? Bukankah kau juga jauh lebih dingin darinya?” Diara berdecak kesal dengan penuturan sang kakak yang dinilai sangat menyinggungnya.
“Sudah Ra, sudah. Bagaimana kalau kita masuk bersama? Kau ikut dengan kita.” ucap Kinan berusaha mendinginkan suasana yang terjadi akibat perdebatan kakak beradik itu.
“Bolehkah? Ayolah kalau begitu.” jawab Diara bersemangat kemudian menggandeng lengan Kinan.
__ADS_1
“Kin, apa benar yang diucapkan kakakku tadi? Kau sungguh gadis yang akan dijodohkan dengan kak Arga?” sambung Diara masih tidak percaya.
“Hmm begitulah Ra.” jawab Kinan malas.
“Apa kalian hanya ingin berdiri di sini?” ucap Arga kemudian berlalu lebih dulu ke dalam mall meninggalkan Kinan dan Diara yang masih berdiri di parkiran.
Kinan dan Diara pun mengikuti Arga memasuki pintu utama mall, namun saat berada di depan pintu mall langkah Diara tiba-tiba terhenti ketika nada dering hpnya berbunyi tanda panggilan masuk.
Diara mencoba membuka isi dalam tas dimana ponselnya berada. Tak butuh waktu lama, akhirnya dia pun menemukan benda pipih berwarna silver dengan gambar apel kroak di belakangnya.
Mata Diara seketika memancarkan sinar kebahagiaan setelah mengetahui nama dibalik panggilan teleponnya, dengan sekejap dia pun langsung menggeser tombol received ke samping.
“Reyhan?? Iya ada apa?” ucap Diara ke penelpon yang tak lain adalah Reyhan, tunangannya sendiri.
Sangat jarang Reyhan meneleponnya jika itu tidak karena hal-hal yang mendesak atau penting.
“………” Reyhan berbicara dibalik telepon.
Kinan hanya memperhatikan gerak-gerik Diara tanpa mengetahui dengan jelas apa yang dibicarakan sahabatnya dengan pria yang ia sebut balok es itu. Namun, yang dapat Kinan simpulkan terlihat jelas raut wajah Diara yang sangat bahagia karena mendapat telepon dari Reyhan.
Tidak hanya itu, senyum yang terpancar dari wajah cantik Diara juga menjadi pelengkap selama panggilan telepon itu berlangsung. Melihat itu, Kinan hanya menggeleng kepala dan tersenyum simpul.
“Seperti biasa Rey.” sambung Diara.
“……..” masih dari balik telepon yang tidak bisa didengar oleh Kinan.
“Baiklah.” ucap Diara mengakhiri panggilannya.
“Kenapa?” tanya Kinan penasaran.
“Bukan apa-apa. Ayo masuk, kak Arga sudah sangat jauh.”
“Kak Arga tunggu!!!” teriak Diara ke Arga yang sudah lebih dulu berjalan cukup jauh dari mereka.
Arga tidak menjawab dan terus berjalan mendahului.
💢💢
Mereka bertiga berada di area food court mall dimana banyak terdapat stand yang menawarkan berbagai macam makanan, minuman serta camilan yang dapat menggugah selera orang-orang yang melewatinya.
Kinan mengikuti Arga dan duduk di sebelahnya, sedangkan Diara masih berdiri serta melihat-lihat stand apa yang akan dipilihnya.
“Ehm Kin, kau ingin makan apa? Biar aku yang memesankan.” Diara menawari sambil tersenyum.
“Tidak usah Ra, aku sudah kenyang.” tolak Kinan karena tidak berselera meskipun sebenarnya dari pagi dirinya belum makan apapun.
“Ayolah jangan seperti itu. Tenang saja ada kak Arga yang akan mentraktir semuanya, iya kan kak??” bujuk Diara sambil mengerling usil ke Arga. Arga tidak peduli dan masih asyik dengan hpnya.
“Hmm baiklah-baiklah, kalau begitu jus strawberry saja ya?” Kinan tersenyum saat menyebutkan minuman favoritnya.
“Okesiap bu boss. Kalau kak Arga? Kakak ingin apa?” Diara beralih ke Arga.
“Cappucino hangat, jangan terlalu cair.” jawabnya datar dan masih memfokuskan diri di layar hp.
“Hanya itu? Kalian tidak ingin menambah sesuatu lain?”
Diara sedikit kecewa dengan pesanan dua orang di depannya yang hanya memesan minuman tanpa ada makanan ataupun camilan.
__ADS_1
“Kalau kau ingin pesan yang lain terserah, aku hanya ingin itu.” Arga mengeluarkan sebuah kartu debit dari dalam dompetnya serta menyerahkannya ke Diara.
“Oh terimakasih kakakku yang paling pengertian namun sangat-sangat dingin.” Diara sedikit menyinggung Arga kemudian menerima kartu tersebut dan berlalu menuju stand makanan.
Setelah kepergian Diara, suasana menjadi canggung. Arga dan Kinan hanya saling diam dengan fikiran masing-masing, tidak ada pembicaraan diantara keduanya.
Arga hanya menggeser naik turun layar hpnya, sedangkan Kinan hanya mengedarkan pandangannya di penjuru food court. Namun tak lama, mata Kinan menangkap sosok yang sangat dikenalinya. Sosok itu tengah asyik menikmati makanannya sendiri dan duduk tidak jauh dari mereka berada.
Kak Kiran? Bukankah itu kak Kiran?
Kinan bertanya-tanya sambil menyipitkan mata untuk memfokuskan pandangannya dan memastikan jika wanita itu benar-benar Kiran sang kakak. Setelah memastikan jika itu benar-benar Kiran, Kinan lantas menghampiri kakaknya.
“Kak Kiran? Sedang apa kak?” sapa Kinan sambil menepuk bahu Kiran dari samping.
Kiran berbalik dan menoleh ke Kinan. Dirinya cukup terkejut melihat kehadiran sang adik di sampingnya. Tidak biasanya Kinan berada di mall sendiri.
Biasanya Kinan akan lebih senang berdiam diri di rumah sambil melakukan aktivitas favoritnya yaitu membaca buku cerita anak. Lalu untuk apa adiknya sekarang berada di sini?
“Kinan? Tumben kamu di sini? Sama siapa dek?” tanya Kiran heran.
“Ehmm itu.. sama kak Arga kak. Kakak sendiri ngapain di sini? Bukannya kakak di kantor? Ayo duduk si sana saja kak!” jawab Kinan ragu-ragu kemudian mengalihkan pembicaraannya dan menyuruh Kiran untuk mengikutinya sambil menggandeng lengan kakaknya.
Degg
Tubuh Kiran seolah membeku saat Kinan berkata jika ia tengah bersama Arga, pria yang entah hubungannya dengan Kiran saat ini sebagai apa namun akhir-akhir ini justru memenuhi fikirannya.
Kiran termangu, namun sejurus kemudian dia mencoba untuk terlihat biasa saja di depan Kinan. Kiran tidak ingin jika adiknya tahu bahwa perasaannya ke Arga masih ada, bahkan sampai detik ini pun hubungan Kiran dan Arga belum menemui titik terang. Tidak ada kejelasan diantara keduanya, baik Kiran maupun Arga sama-sama menggantungkan hubungan mereka.
Sejujurnya setelah kejadian malam perjodohan itu Arga sudah lebih dulu mencoba untuk menghubungi Kiran, Arga mencoba berbagai cara untuk meyakinkan Kiran.
Namun karena tidak ingin menyakiti perasaan adiknya maupun ayahnya, Kiran berusaha keras untuk menjauhi Arga.
Nomor Arga sudah diblokir dalam daftar kontaknya, Kiran juga memutus segala hal yang berhubungan dengan Arga. Termasuk akun media sosialnya serta hubungan dengan rekan-rekan dekat Arga.
“Ehem, ayo duduklah kak!” titah Kinan saat mereka sudah sampai di mejanya namun melihat Kiran masih berdiri termangu.
Arga tersentak saat melihat Kiran sudah berada di depannya. Pria yang awalnya hanya acuh dengan lingkungan sekitar itu kemudian beralih menatap Kiran lekat.
Tubuhnya terpaku, tidak menyangka jika wanitanya yang selama beberapa hari terakhir menghindarinya saat ini justru datang sendiri di hadapannya.
Tidak ada lagi tatapan pria dingin, yang ada hanya tatapan sendu seorang pria yang sangat merindukan kekasihnya dan ingin menyampaikan secara langsung segala kesalah pahaman yang terjadi dengan hubungannya.
Ya, hanya dengan Kiran lah kepribadian Arga berbanding terbalik 180 derajat dari yang sebelumnya dingin dan kaku dengan semua orang akan berubah menjadi pribadi yang hangat dan melunak, terutama saat di depan Kiran.
Arga tersenyum, akhirnya dia bisa bertemu dengan Kiran. Wanita yang sudah delapan tahun terakhir mewarnai hari-harinya, meskipun dia sendiri juga belum mengetahui secara pasti seperti apa kehidupan wanitanya itu.
Mulai dari asal keluarganya sampai perasaan Kiran sendiri terhadap Arga seperti apa, Arga sendiri tidak mengetahui. Yang Arga tahu, dia hanya mencintai Kiran dan tidak ingin melepasnya. Karena hanya Kiran yang mampu mengubah sosok Arga yang dingin menjadi sosok Arga yang hangat.
“Maaf-maaf lama, tadi masih antri dan aku beli camilan untuk kita lumayan banyak. Hehehe.” suara Diara yang tiba-tiba membuyarkan lamunan Arga namun masih tidak mengalihkan pandangannya dari Kiran.
“Ehemm.. kak, ini kartumu.” ucap Diara sambil menyodorkan kartu debit milik Arga yang tadi dibuatnya membeli berbagai macam camilan dan minuman.
Namun sekilas dia melihat tatapan dalam kakaknya yang tertuju pada seorang wanita di samping Kinan.
“Dia siapa?” tanya Diara yang membuat Arga, Kinan serta Kiran ikut menoleh ke arahnya.
***
__ADS_1
HAPPY READING👀