
Berbicara perihal perasaan memang seolah tidak ada habisnya. Kita memberi, berharap itu akan terbalas. Namun apa yang terjadi? Akankah itu bergerak sesuai keinginan kita? Tidak ada yang tahu, bahkan diri kita sendiri. Tetaplah pada porsi masing-masing. Jangan berlebihan, itu akan menyakitkan.
-Farikakoka
Reyhan mengerjap perlahan, berusaha menetralkan pandangannya kala cahaya mentari ikut masuk dan menyusup bebas ke dalam kamarnya. Dilihatnya jam wecker berbentuk persegi warna putih di atas nakas samping tempat tidurnya, pukul 09.10 AM.
Apakah gadis itu sudah pulang ke rumahnya?
Batin Reyhan saat tiba-tiba mengingat Kinan. Sejenak dia melihat ponselnya yang tergeletak di samping bantal, ibu jarinya mulai menggulir benda pipih tersebut untuk mencari sebuah nama yang hendak dihubungi.
Setelah beberapa saat, panggilan itu pun tersambung dengan si penerima telepon.
“Hmm.. apa kau ada waktu?” ucap Reyhan setelah si penerima menjawab panggilannya.
“Baiklah, aku tunggu di tempat biasa,” sambungnya kemudian menutup panggilan.
Reyhan menghempaskan benda pipih tersebut ke atas kasur, kemudian dia sendiri beranjak menuju kamar mandi untuk segera membersihkan tubuhnya yang dirasa sudah sangat lengket.
💢💢💢
Di sisi lain Kiran masih gelisah di depan kamar adiknya dan terus mondar-mandir sambil sesekali menggigit ibu jarinya sendiri. Kiran sangat tahu betul meskipun sifat Kinan berubah sangat pendiam, namun keras kepalanya tidak bisa hilang dari dalam dirinya.
Berkali-kali Kiran mengetuk pintu kamar adiknya itu, namun tetap saja tidak ada sahutan dari arah dalam.
“Dek, kamu beneran gak papa kan? Tolong buka pintunya dek, jangan buat kakak khawatir Kinan,” panggil Kiran masih terus mengetuk pintu kamar itu.
Hening. Tidak ada jawaban.
“Kinan!! Kau dengar kakak kan dek?”
Masih sama. Tidak ada tanda-tanda Kinan akan membukakan pintunya.
“Kinan, setidaknya beri penjelasan ke kakak. Ada Kevin di sini, dia menunggumu di bawah sekarang.”
Ceklek
Pintu terbuka dari arah dalam, namun Kinan kembali berbaring sambil meringkuk di atas tempat tidurnya. Kiran pun mengikutinya masuk hingga kini ia berdiri di samping ranjang sambil menatapi Kinan.
Kiran mendesah panjang. “Apakah masih sakit dek?” ucapnya sambil menempelkan telapak tangan di dahi Kinan.
“Tolong beritahu Kevin aku tidak bisa pergi dengannya,” sahut Kinan tidak ingin diganggu.
“Kakak tadi sudah memberitahunya Kinan, tapi kau tahu sendiri kan bagaimana Kevin? Dia masih kekeh ingin mengantarkanmu pergi.”
“Bilang saja aku sedang kurang sehat.”
“Kau sungguhan dek? Bukankah itu akan membuat kecurigaan Kevin semakin bertambah? Kau kan tidak suka jika Kevin mengkhawatirkanmu.”
“Hmm.. bilang saja hanya sakit biasa. Aku benar-benar tidak ingin bertemu dengannya.”
“Baiklah kalau begitu kakak keluar dulu, kau istirahatlah. Sebentar lagi kakak akan membawakanmu sarapan.”
Kiran membelai lembut kepala adiknya, kemudian ia pun berlalu menuju ruang tamu.
Sesampainya di ruang tamu, dia mendapati Kevin tengah sibuk memainkan ponselnya. Sembari tersenyum, Kiran langsung duduk di sofa samping Kevin berada.
“Kevin...”
__ADS_1
“Iya kak, bagaimana? Apakah Kinan sudah bersiap-siap?”
“Emm... maaf Vin, tapi Kinan benar-benar tidak bisa keluar hari ini.”
“Ada apa lagi kak? Kalau alasannya karena ingin kakak ajak keluar, bukankah tadi aku sudah bilang akan mengantarkan kalian?”
“Tidak, bukan itu Vin. Emm... Kinan sedang kurang sehat sekarang.”
“Ha?? Bagaimana bisa kak? Tadi pagi waktu aku telfon sepertinya suara Kinan baik-baik saja.”
“Iya, baru saja aku melihatnya dia nampak kurang sehat Vin.”
“Kalau begitu aku ingin melihat Kinan kak. Biarkan aku menjenguknya.”
“Jangan Vin, dia bilang tidak ingin diganggu. Dia butuh istirahat.”
“Aku tidak akan menganggunya kak, aku hanya ingin melihat Kinan.”
“Kevinnn….” Kiran sedikit menaikkan alisnya tanda tidak ingin disanggah lagi.
“Baiklah-baiklah. Aku akan pulang kak, tolong sampaikan salamku ke Kinan.”
“Kau jangan khawatir, Kinan akan baik-baik saja. Dia hanya butuh istirahat.”
“Hemm... baiklah, kalau begitu aku pulang dulu kak.”
Kiran mengangguk, kemudian mengantar Kevin hingga ambang pintu. Setelah dipastikan mobil milik Kevin telah keluar dari pelataran rumahnya, Kiran pun berniat hendak menuju kamar Kinan.
Namun saat langkahnya hampir memijak anak tangga, tiba-tiba bel pintu rumah kembali berbunyi. Mau tidak mau Kiran harus kembali untuk melihat siapa yang datang bertamu.
Mungkinkah Kevin lagi? Ah, anak itu memang sangat keras kepala sekali. Tanpa berfikir panjang Kiran langsung membuka pintu.
“Arga???”
“Ya. Bolehkah aku masuk?”
“Ee.. I-iya, silahkan.”
Mereka berdua pun duduk di sofa saling berhadapan. Sungguh, kali ini jantung Kiran serasa meledak harus mendapatkan tatapan intens dari Arga, calon adik ipar sekaligus pria yang masih berstatus sebagai kekasihnya.
Suasana mendadak hening, Kiran benar-benar salah tingkah karena Arga terus memperhatikannya tanpa mau melepaskan pandangan sedikitpun.
“Lama tidak berjumpa,” ucap Arga membuka obrolan.
“Emm.. iya. Ada apa? Ingin bertemu Kinan kah?” jawab Kiran berusaha menepis kegugupannya.
“Awalnya iya, tapi setelah aku melihatmu sepertinya kita butuh bicara.”
“Kinan sakit Ar, dia juga belum sarapan. Aku harus mengantarkan sarapannya dulu,” ujar Kiran dan beranjak dari duduknya.
“Ran.. aku mohon, kita harus bicara sekarang.”
Arga menahan dengan menggenggam tangan Kiran erat. Kiran yang sudah berdiri pun terpaksa harus berbalik dan menatap Arga dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi Ar,” ucapnya sambil menepis tangan Arga.
“Itu menurutmu. Tapi aku ada Ran.”
__ADS_1
“Sudahlah Ar, lupakan masa lalu kita. Anggap saja itu sebagai pendekatanmu sebelum menjadi adik iparku,” sahut Kiran dengan mata yang sudah menampakkan bulir-bulir cairan yang siap ditumpahkan.
JLEBB
Satu kata yang menggambarkan hati Arga saat itu. Sungguh dia tidak pernah menyangka jika perjuangannya selama 8 tahun ini akan sia-sia.
Awalnya dia akan mengira Kiran akan ikut memperjuangkan hubungan mereka dan mengatakan yang sebenarnya kepada pihak keluarga.
Namun ternyata dia salah, Kiran justru memilih mengalah dan tetap membiarkan perjodohan konyol itu terjadi.
Sungguh jika bisa mengulang waktu dan diberi kesempatan lagi, Arga dulu akan memilih nekad dan meminta restu sendiri ke ayah Kiran tanpa harus menunggu wanitanya itu siap dan menjanjikan akan membawanya bertemu dengan sang ayah.
“Kamu yakin dengan ucapanmu itu sayang?” tanya Arga dengan tatapan yang mengiba, kali ini dia benar-benar tidak bisa menahan mulutnya untuk memanggil Kiran dengan sebutan itu.
“Arga cukup!! Jangan panggil aku seperti itu. Ini di rumah, dan Kinan juga masih sakit di kamarnya. Tidak sepantasnya kamu kayak gini Ar, kamu akan jadi tunangan adik aku. Ingat itu,” tukas Kiran bersamaan dengan pipi yang kian membasah.
Tok.. Tok.. Tok..
Suara ketukan pintu yang sudah terbuka lebar begitu menyentakkan Kiran dan Arga. Keduanya sama-sama mengalihkan pandangannya hingga menyoroti kehadiran sosok yang benar-benar membuat mata Kiran membulat sempurna meskipun dengan kondisi yang sedikit sembap. Begitupun dengan Arga yang ikut terperangah melihat sosok tersebut.
“Aksa??”
“Reyhan??”
Pekik mereka bersamaan. Ya, saat ini Reyhan tengah berada di ambang pintu bersama seorang pria asing yang ikut berdiri di sampingnya. Matanya melihat Kiran dan Arga secara bergantian, dan sejurus kemudian dia beralih ke Kiran.
“Bolehkah aku masuk?” sapanya meminta ijin ke Kiran.
“E.. itu, I-iya silahkan,” jawab Kiran tergagap.
“Ada apa kau kemari?” tanya Arga saat Reyhan dan temannya tersebut sudah duduk.
“Aku ingin menemui Kinan,” jawabnya menatap Arga. “Dia ada kan?” sambungnya beralih ke Kiran.
“I-itu.. keadaannya kurang sehat Sa. Dia ada di kamar sekarang,” sahut Kiran masih sedikit terbata.
Reyhan sudah beranjak dari tempat duduk dan memberikan aba-aba kepada temannya yang masih berdiam diri. “Kalau begitu aku akan menemuinya,” ucapnya.
“Kau... apakah kau sudah memberitahu Diara kalau kau kesini?” tukas Arga menghentikan Reyhan seraya memberikan tatapan tajam.
Reyhan balas menatapnya tak kalah tajam. “Untuk apa aku memberitahunya? Aku tidak perlu ijinnya.”
“Hei!! Diara itu tunanganmu!!!” sarkas Arga karena kesal dengan ucapan Reyhan.
“Ya aku tahu itu,” jawab Reyhan datar.
“Kau!!! Jangan sekali-kali kau menyakiti adikkku!! Jika kau tidak suka dengannya, kenapa tak kau bilang dari awal kalau kau terpaksa dengan perjodohan itu?! Kau tahu dari kemarin sampai saat ini tadi Diara terus menangis di kamarnya karena memikirkanmu!!” pekik Arga sudah semakin naik pitam.
“Bukankah kalimat itu seharusnya kau gunakan sendiri pada hubunganmu??? Benarkan itu kak Kiran?” Reyhan memberikan pukulan telak pada Arga dengan cara menyindirnya secara halus.
Ucapan Reyhan tentu saja membuat Arga tiba-tiba tersulut emosi, hingga secara spontan kedua tangannya ikut terkepal kuat sampai memperlihatkan urat-urat yang seolah hendak terlepas dari tempatnya dan mencuat keluar.
“Reyhan Aksa Pradana!!!!!!” pekiknya sudah siap menghantamkan kepalan tangannya ke wajah Reyhan.
***
HAPPY READING^^
__ADS_1
Mulai sekarang updatenya tiap hari senin-jumat ya. Tunggu terus kisah Kinan dan jangan lupa tinggalkan jejak 👐