SKIP

SKIP
PART 17


__ADS_3

Tidak ada hal yang lebih penting kecuali kebahagiaan KELUARGA!


-farikakoka


Mata mereka masih tertuju ke arah Reyhan. Namun bukannya merasa risih, Reyhan justru bersikap biasa saja. Kinan hanya diam, sedangkan Diara yang mendengar jika tunangannya akan ikut dia pun langsung bergelayut di lengan Reyhan.


“Kau sungguh akan ikut Rey?” tanya Diara yang begitu senang karena sangat jarang Reyhan bersedia untuk makan malam bersama keluarganya, bahkan bisa dikatakan tidak pernah mau.


“Hmm.” jawab Reyhan malas.


“Wah, pasti mama akan sangat senang sekali. Bagaimana Kin? Kau mau kan? yah..yah??” Diara begitu sangat antusias dan terus memaksa Kinan untuk ikut.


“Tidak usah Ki. Kau bersamaku saja!” sahut Kevin.


“Emm.. Kevin, aku minta maaf. Sepertinya hari ini aku tidak bisa keluar denganmu, lain kali saja Vin. Maaf.” tolak Kinan yang merasa sangat sungkan ke Kevin.


“Tapi Ki, kau kan sudah berjanji denganku.” ucap Kevin tidak terima.


“Aku tidak pernah berjanji Vin, kau sendiri yang memaksa. Aku sungguh minta maaf, tapi lain kali saja kita bahas masalah tadi.”


“Tapi Ki…” belum sempat Kevin membalas, Diara sudah lebih dulu menimpalinya.


“Dasar manusia rusuh! Kau tidak dengar Kinan bilang apa.” serunya.


“Diam kau makhluk cerewet! Aku tidak sedang berbicara denganmu. Aku sedang berbicara dengan sahabatku.” Kevin mengembalikan ucapan Diara tadi kepadanya.


“Huh dasar, itukan kata-kataku tadi.” gerutu Diara, namun kemudian dia pun diam.


“Kevin sudah Vin. Vin, aku benar-benar minta maaf. Tapi kali ini aku tidak bisa, lain kali saja. Aku mohon mengertilah Vin.” Kinan memohon agar sahabatnya tersebut mengerti keadaannya dan tidak memaksakan kehendak. Kevin yang melihat perubahan pada ekspresi wajah Kinan pun segera menyadari dan mengerti akan maksud Kinan.


“Baiklah, lain waktu saja kita bahas masalah tadi. Kalau begitu aku pergi dulu Ki, kau hati-hatilah.” pamit Kevin seraya menatap Arga dan Reyhan bergantian seolah tengah memberikan tatapan peringatan agar tidak macam-macam ke Kinan. Kinan pun mengiyakan.


“Maksud si rusuh tadi apa Kin? Bahas masalah apa? Kau ada masalah dengannya?” baru saja Kevin meninggalkan mereka, Diara sudah memborbardir Kinan dengan pertanyaan-pertanyaan sambil menggandeng lengannya.


“Bukan apa-apa Ra. Sudahlah jangan dibahas.” Kinan berusaha mengalihkan pandangan dari sahabatnya yang memang sangat kepo itu.


“Kau yakin Kin?” tanya Diara tidak percaya.


“Iya Ra. Aku yakin, lalu bagaimana? Apakah kita jadi ke rumah kalian?” Kinan berusaha mengalihkan pembicaraan dan mengingatkan tujuan awal Diara mencarinya.


“Iya jadi dong. Emm.. Rey, kau bawa mobil kan?” tanya Diara ke Reyhan.


“Hmm.” jawabnya singkat.


“Nah tepat sekali. Jadi aku bersama dengan mobil Reyhan, kau bersama dengan mobil kak Arga ya Kin? Bagaimana?” tutur Diara ingin meminta pendapat ke Kinan.

__ADS_1


“Iya aku terserah saja Ra.” jawab Kinan sedikit sungkan.


“Bagimana kak? Kau setuju kan?” kali ini Diara beralih meminta pendapat kakaknya.


“Hmm.” jawaban yang sama persis saat Diara bertanya ke Reyhan sebelumnya.


“Huh! Tidak tunangan, tidak kakak sendiri semua sama-sama dingin. Bisa-bisa gila aku jika harus tinggal serumah dengan mereka nantinya.” Diara mendengus kesal dengan sikap kedua pria di hadapannya yang memiliki kesamaan, yakni sama-sama dingin.


“Aku harap kau akan merubah sikapmu yang pemalu itu Kin jika nantinya kau akan menjadi kakak iparku, supaya aku tidak seperti hidup dikelilingi dengan patung yang hanya bisa diam. Hihihi..” Diara beralih ke Kinan sambil terkekeh saat harus membayangkan jika dia harus dikelilingi orang-orang yang sangat pendiam seperti Arga, dingin seperti Reyhan, bahkan pemalu seperti Kinan.


“Maksudnya Ra?” dahi Kinan mengernyit heran.


“Haha.. lupakan. Ayo kita pulang! Mama dan papa pasti sudah menunggu kita sekarang.” ajak Diara ke Arga, Kinan serta Reyhan yang masih diam di sana. Mereka pun mengikuti Diara untuk menuju parkiran mobil dan segera menuju ke kediaman Dandi Atmaja (papa Arga dan Diara) dengan Diara yang semobil dengan Reyhan, serta Kinan yang semobil dengan Arga.


💢💢


Kurang lebih 45 menit mereka menempuh perjalanan dari kampus menuju rumah Diara dan Arga karena memang jalanan saat itu sedikit macet. Kini mereka sudah sampai di halaman rumah kediaman Dandi. Suasana rumah tampak begitu sepi, dengan begitu senang Diara segera turun dari mobil dan mengajak Kinan untuk masuk ke dalam rumah bersama. Sedangkan Reyhan dan Arga masih sibuk memarkirkan mobil mereka supaya rapi setelah Diara maupun Kinan turun dari mobil. Setelah itu mereka pun menyusul Diara dan Kinan untuk ikut masuk ke dalam rumah. Dua pria dingin itu hanya saling beradu pandang tanpa berucap sepatah katapun.


Di dalam rumah sudah ada Dandi beserta istrinya dengan ditemani Diara serta Kinan yang sudah duduk di ruang tengah. Mereka tampak saling berbincang satu sama lain sambil sesekali menyelipkan tawa. Bukannya ikut bergabung, Arga justru berlalu hendak menuju kamar tanpa menyapa kedua orang tuanya. Melihat anaknya yang berlalu begitu saja tanpa memberi salam, Dandi langsung menegurnya.


“Arga, kau mau kemana?” tanya Dandi.


“Kamar Pa.” jawab Arga.


“Wah kebetulan sekali, sini nak.” imbuhnya seraya melambaikan tangannya agar Reyhan mendekat. Reyhan pun mengangguk dan ikut bergabung bersama mereka. Sementara itu, Arga hendak kembali melanjutkan niatnya untuk pergi ke kamar namun suara Dandi lebih dulu menahannya.


“Arga, kamu juga duduk disini!” serunya. Arga berdecak kesal, namun tetap menuruti perkataan papanya dan ikut bergabung juga bersama mereka.


“Mama benar-benar tidak menyangka, kedua anak mama dan calon menantu mama bisa berkumpul seperti ini.” ucap Desi yang begitu senang karena merasa momen tersebut begitu langka dan bahkan sangat mustahil terjadi, namun tanpa direncakannya justru momen tersebut datang dengan sendirinya.


“Diara juga tidak menyangka Ma, tadi sewaktu Diara dan kak Arga menjemput Kinan kebetulan sekali Reyhan juga ada di sana. Jadi dia sekalian ikut bersama kita.” tutur Diara yang juga sama senangnya.


“Oh nak Reyhan juga kenal Kinan ya?” tanya Desi ke arah Reyhan, namun Reyhan hanya tersenyum.


“Iya Ma, dan asal mama tahu pertemuan pertamanya itu sama denganku saat aku baru pertama melihat Kinan. Waktu itu kita baru saja dari kantin kampus dan membeli jus semangka, iya kan Rey?” saut Diara, dia begitu bersemangat saat menceritakan kembali momen pertemuan pertamanya dengan Kinan. Reyhan tidak menyautinya dan hanya berdehem.


“Kinan, kenapa kamu diam saja nak?” kali ini Desi beralih ke Kinan yang sedari tadi hanya diam.


“Kinan memang seperti itu Ma, anaknya sangat pendiam. Terlebih lagi dengan orang-orang yang belum terlalu dikenalnya.” lagi-lagi Diara yang menjawab pertanyaan mamanya.


“Oh begitu, berarti mama tepat ya jika mengajak Kinan ke rumah kita? Mama ingin mengenal Kinan lebih dekat lagi. Bolehkan nak Kinan jika tante mengenal nak Kinan lebih dekat sebelum nak Kinan jadi menantu tante? Hehe.” ucap Desi seraya tersenyum ke arah Kinan. Kinan pun membalasnya dengan senyuman yang sedikit dipaksa.


“Nah benar kan Kinan, mama ingin lebih dekat denganmu.” Diara menggoda dengan menyenggol lengan Kinan yang berada di sampingnya.


“Hehe, iya Ra.” Kinan berusaha keras menyembunyikan perasaannya dengan terus menunduk ke bawah. Namun sejurus kemudian saat Kinan berusaha menegakkan kepalanya, pandangannya justru bertemu dengan mata Reyhan yang memang sedari tadi menatapnya. Kinan pun segera membuang pandangannya ke sembarang arah.

__ADS_1


“Nak Rey, bagaimana keadaan papamu?” tiba-tiba suara Dandi menyela diantara mereka.


“Baik om.” jawab Reyhan dengan sangat sopan.


Ternyata anak ini bisa sopan juga ya? Aku kira karena dia berasal dari bongkahan es makanya dia begitu dingin dengan siapapun. Tapi ternyata sikapnya sungguh berbeda jika berhadapan dengan orang tua.


Kinan terus bergumam sendiri hingga tanpa sadar tatapannya terus memperhatikan Reyhan dengan lekat, hal itu tentu menarik perhatian Arga yang memang sedari tadi memperhatikan Kinan.


Ada apa dengan tatapan itu? Kenapa sepertinya ada sesuatu diantara mereka? Apa hubungan mereka?


Arga bertanya sendiri dalam hati. Dia masih memperhatikan Kinan yang tengah menatap tunangan adiknya itu tanpa beralih sedikitpun. Karena merasa tengah diperhatikan, Kinan pun menoleh ke arah Arga. Pandangan mereka saling menyatu, hingga membuat Kinan semakin salah tingkah dan menundukkan kepalanya kembali.


“Nak Reyhan, kapan-kapan ajak orang tuamu kemari ya. Kita makan malam bersama, itung-itung untuk mempererat hubungan calon besan. Hehehe.” Desi begitu antusias saat menyuruh Reyhan untuk mengajak keluarganya agar mau makan malam bersama mereka.


“Jika mereka tidak sibuk saya akan memberitahunya tante.” ujar Reyhan seperlunya.


“Usahakan dong nak Rey, sekali-kali jangan kerja saja yang diurusi. Yah? bagaimana?” desak Desi, namun Reyhan hanya diam dan tersenyum.


“Mama ini selalu saja. Jangan suka memaksa Ma! Om Alan dan tante Arina kan orang sibuk, tidak seperti mama dan papa. Bahkan sekarang saja papa sudah ada di rumah dan malah menyuruh Kinan untuk makan malam bersama.” bibir Diara berkerucut ke depan karena kesal dengan sikap mamanya yang suka sekali memaksa. Dia tidak ingin jika Reyhan akan merasa risih dengan perlakuan mamanya tersebut.


“Haha.. mama hanya ingin merekatkan hubungan kalian saja sayang. Memang salah ya jika mama ingin lebih dekat dengan calon besan dan calon menantu mama? Iya kan Pa?” ucap Desi dengan berusaha meminta dukungan ke suaminya.


“Iya sayang, mama mu benar. Dan masalah papa yang sudah di rumah sekarang, karena besok kan sudah weekend dan memang tidak ada pekerjaan penting di kantor. Papa juga sudah menyerahkan pekerjaan papa ke asisten pribadi papa, jadi untuk apa papa masih ada di kantor? Lebih baik papa menghabiskan waktu bersama keluarga tercinta papa. Sekalian juga mengajak kakakmu untuk menjemput Kinan agar makan malam bersama kita. Ini juga untuk mengabulkan permintaan istri tercinta papa. Iya kan Ma?” kali ini giliran Dandi yang mencoba menggoda istrinya.


“Iya betul itu Pa.” saut Desi bersemangat.


“Aishh.. mama sama papa ini memang sama. Sama-sama bucin!” dengus Diara.


“Kalau mama sama papa tidak bucin, tidak mungkin ada kamu sama kakakmu di sini sekarang sayang.” ucap Desi sambil mentoel hidung Diara dengan gemas, kemudian tertawa lepas begitupun dengan Dandi.


“Hishh.. bahkan kalian pun tahu arti kata bucin?” Diara sedikit mengerutkan dahinya karena tidak habis fikir dengan orang tuanya.


“Taulah Diara. Begini-begini kami ini juga mengikuti trend anak muda jaman sekarang lho. Jangan salah!” saut Dandi ke anak bungsunya tersebut.


“Memang apa artinya kalau kalian tahu?” Diara mencoba memberi tebakan ke orang tuanya yang bertingkah seolah seperti anak muda itu.


“BUDAK CINTA!!” jawab Dandi dan Desi serempak, kemudian mereka tertawa kembali dengan begitu puas.


Arga hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan adik serta orang tuanya yang dirasa tidak tahu malu meskipun ada dua tamu di depan mereka. Sedangkan Reyhan dan Kinan hanya diam melihat keharmonisan sebuah keluarga yang saat ini di depan mereka.


***


HAPPY READING^^


Beri saran serta kritikan kalian ya, supaya Koka bisa evaluasi karya Koka ini agar lebih baik lagi ke depannya😊

__ADS_1


__ADS_2