SKIP

SKIP
PART 11


__ADS_3

Yakinkah rahasia ini akan tetap terjaga? Aku tahu tidak ada yang abadi. Begitupun dengan rahasiaku. Entah cepat atau lambat, semua pasti terungkap. Bagaimana mungkin aku harus terus menutupinya? Bahkan saat reaksi tubuhku pun menolaknya.


-Kinan Putri Cantika


“Ehm Ra, kenalkan. Dia kak Kiran, kakak aku.”


Kinan memperkenalkan Kiran ke Diara, namun dia tidak menyebutkan jika Kiran juga kekasih Arga. Melihat reaksi Diara saat bertemu Kiran sepertinya gadis itu tidak mengetahui jika kakaknya memiliki hubungan dengan Kiran.


“Oh kak Kiran. Kenalin kak, aku Diara. Adik kandung sekaligus satu-satunya kak Arga, hehe.”


Diara menyunggingkan senyum renyahnya sambil menyalami Kiran yang masih menatapnya lekat kemudian memposisikan dirinya duduk di depan Kiran.


Jadi dia adiknya yang sering diceritakan Arga selama ini. Sungguh jauh lebih cantik dari fotonya. Sayang sekali, dia justru tidak mengenaliku. Ah, kenapa juga aku harus menyesalinya? Bukankah selama ini aku sendiri yang memang melarang Arga untuk memberitahukan hubungan kita kepada siapapun termasuk keluarganya sendiri?


Gumam Kiran dalam hati yang sedikit menyesali perbuatannya selama delapan tahun berhubungan dengan Arga. Bagaimana bisa di usia pacarannya yang tidak bisa dikatakan sebentar itu kedua pihak keluarga sama-sama tidak mengetahui. Bahkan kenyataan jika Kinan mengetahui sendiri hubungannya dengan Arga saja sudah sangat mengejutkan.


“Kiran.” jawab Kiran sambil tersenyum berusaha menutupi perasaannya sendiri.


“Wah kak Kiran ini cantik ya. Seperti Kinan, tapi versi dewasa.. hehehe.” Seperti biasa, sifat ramah serta humble Diara keluar begitu menjumpai orang yang baru dikenalnya.


“Ah kamu bisa saja Diara. Kamu justru jauh lebih cantik.” puji Kiran bersungguh-sungguh karena memang seperti itu kenyataannya.


“Oh benarkah kak? Kak Kiran serius?” tanya Diara. Wajahnya bersemu merah karena tersanjung, seolah tak percaya dengan ucapan Kiran.


“Iya, mana mungkin aku berbohong. Sungguh.” Kiran berusaha meyakinkan.


“Hehe, terimakasih kak. Oh iya kak Kiran kok tiba-tiba ada di sini? Bukannya tadi Kinan hanya bersama kak Arga saja ya berangkat kesini?”


“Aku tadi melihat kak Kiran sedang makan sendiri, makanya aku memintanya untuk bergabung bersama kita.” Kinan menjawab kemudian lanjut mengambil ponsel dari dalam tasnya.

__ADS_1


“Oh begitu. Lalu kenapa kak Kiran sendiri? tidak bersama teman kak?” tanya Diara masih mencercanya dengan pertanyaan.


“Iya tadi aku ada meeting di luar, kemudian ada barang yang harus ku beli jadi aku mampir sekalian ke mall dan kebetulan aku juga merasa lapar. Jadilah makan dulu di sini, ternyata Kinan juga ada di sini.. hehe.” jelas Kiran disertai tawa garingnya.


“Wah sepertinya kita jodoh kak, hahaha.” tawa lepas terlihat jelas dari wajah Diara.


“Ehmm begitukah? Lalu kamu kemari juga bersama dengan Arga dan Kinan?”


“Oh tidak-tidak. Kita tadi bertemu di parkiran. Dan ya, awalnya aku sangat terkejut karena ternyata Kinan ini adalah calon tunangan kak Arga yang sering diceritakan papa sama mama. Aku kira Kinan yang dimaksud adalah orang lain, ternyata sahabatku sendiri. Haha, lucu sekali kan? Seperti sudah ditakdirkan saja.” Diara bercerita dengan sangat antusias.


“Kalian bersahabat?” tanya Kiran sedikit terkejut, karena selama enam tahun terakhir adiknya memang tidak memiliki sahabat perempuan, hanya Kevin yang dikenalnya sebagai satu-satunya lelaki sekaligus sahabat Kinan selama empat tahun ini.


“Iya kak. Belum lama sih, itu pun awalnya keadaan yang memaksanya.. hihi.” Diara terkekeh mengingat kejadian yang membuatnya memutuskan bersahabat dengan Kinan.


“Keadaan?? Keadaan apa?” tanya Kiran penasaran.


Diara menyenggol tangan Kinan yang asyik bermain hp dan tersenyum memberikan kode agar Kinan tidak memberitahu kejadian yang melibatkan kecanggungan antara dirinya, Kinan, serta Reyhan beberapa waktu lalu. Kinan hanya tersenyum kecil dan kembali bermain dengan ponselnya


“Ehm.. kak Kiran ingin minum apa? Ingin aku pesankan lagi kah?” sambung Diara.


“Oh tidak usah, sebentar lagi aku juga harus pergi.” tolak Kiran.


“Kenapa harus buru-buru?” Arga yang sedari tadi diam mendengarkan percakapan mereka kini ikut angkat bicara.


“Iya kenapa buru-buru kak?” sahut Kinan.


“Maaf. Pekerjaanku masih banyak, ini pun selesai aku mendapatkan barang yang aku cari aku harus kembali lagi ke kantor.”


“Yah kak Kiran.. padahal kita baru saja bertemu dan aku ingin mengenal kak Kiran lebih jauh lagi. Aku sangat suka dengan kakak, sepertinya kita sangat cocok.” Diara berucap dengan sedikit kecewa.

__ADS_1


“Hehe, iya maaf Diara. Lain kali saja jika kau ingin bertemu, berkunjunglah ke rumah saat weekend sekalian kau bisa main dengan Kinan. Bagaimana?”


“Bolehkah kak?” ucap Diara antusias.


“Tentu saja boleh. Kau juga kan belum pernah ke rumah kita. Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu ya, maaf sekali lagi. Dan Diara, jangan lupa untuk main ke rumah weekend ini. Oke?” pamit Kiran kemudian berlalu meninggalkan mereka.


“Humm.. padahal aku masih ingin berbicara banyak dengan dia.” Diara mendengus kecewa saat Kiran sudah pergi.


“Kau bisa menemuinya lagi weekend ini Ra.” ucap Kinan berusaha menghiburnya.


“Benarkah Kin?”


“Iya. Kau dengar sendiri kan tadi kakakku bilang apa. Selama ini dia memang suka bekerja. Tapi jika sudah weekend tiba sebisa mungkin dia akan menyisihkan waktunya untuk quality time khusus.”


“Baiklah, kalau begitu weekend ini aku akan berkunjung ke rumahmu. Dan Kak Arga, antarkan aku. Oke kak?” ucap Diara bersemangat kemudian melemparkan pandangannya ke Arga yang membalasnya dengan menautkan sebelah alisnya.


Kinan dan Diara melanjutkan obrolan mereka, sedangkan Arga masih setia menatap layar ponselnya. Beberapa kali Diara berusaha untuk mengajak Arga ikut bergabung dengan pembicaraan mereka, namun Arga justru tidak meresponnya. Mungkin karena ia merasa pembicaraan itu tidak penting dan sangat membosankan sehingga dia pun lebih memilih untuk tetap berkutat dengan ponselnya.


Cukup lama mereka berada di food court hingga tidak sadar waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Kinan sedikit gusar dan terus menerus menatap jam di tangannya sambil sesekali melihat Diara yang terus mengajaknya mengobrol hal-hal yang terkadang tidak dimengerti Kinan, namun untuk menghormati sahabatnya itu Kinan pun mau tidak mau harus tetap meresponnya. Kinan sengaja menoleh ke Arga, namun laki-laki itu bahkan tidak menatapnya.


Bagaimana ini? Hari sudah semakin gelap. Tapi Diara masih saja ingin mengobrol. Sedangkan kak Arga? Dia bahkan tidak menunjukkan gerak-gerik ingin segera pergi. Tidak mungkin kan aku bilang ke mereka jika aku…


“Reyhan?? Kau datang?”


Belum sempat Kinan meneruskan pembicaraannya dengan dirinya sendiri, tiba-tiba Diara setengah berteriak karena terkejut. Kinan pun mengikuti pandangan Diara, dirinya ikut terkesiap saat mendapati Reyhan telah berdiri di belakangnya.


***


HAPPY READING👀

__ADS_1


__ADS_2