SKIP

SKIP
PART 5


__ADS_3

Ketahuilah! Serapat apapun kau menyimpan rahasiamu dalam-dalam, kau tidak akan pernah bisa menyembunyikannya dariku. Perlu kau tahu, aku jauh lebih mengenalmu dari siapapun. Kau adalah satu-satunya sosok yang mampu membangunkanku dari kejamnya keterpurukan yang kualami kala itu.


-Kinan Putri Cantika


Sejak kejadian tiga hari lalu tentang perjodohannya dengan Arga yang tidak pernah diduga dalam kehidupannya, membuat Kinan semakin pendiam dan lebih tertutup lagi.


Bahkan setelah Kiran dan Kinan sampai di rumah malam itu, Kinan tetap bungkam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun sampai saat ini. Entah itu sang ayah atau bahkan kakaknya yang sedang bertanya ataupun sekedar berbicara, Kinan tidak pernah sekalipun meresponnya. Mungkin karena dia merasa sangat kecewa sampai harus membawa-bawa Kiran dalam kemarahannya.


Hal itu tentu membuat Kiran semakin bingung dan merasa bersalah ke adiknya, meskipun sebenarnya dia sendiri juga sangat menentang perjodohan itu namun Kiran juga tidak bisa menentang keputusan sang ayah jika hal tersebut sudah dianggap final.


“Dek, kenapa makanannya masih diaduk-aduk terus? Kamu harus sarapan, kakak perhatikan beberapa hari ini makan mu sangat sedikit bahkan hampir tidak pernah. Makanlah! Ayah tidak ada, sebentar lagi kakak juga akan berangkat kerja.” bujuk Kiran.


Kiran khawatir ke adiknya karena memang beberapa hari terakhir Kinan tidak pernah menghabiskan makanannya, bahkan terkadang dia akan menolak dan memilih tidak makan sama sekali jika mbak Nur membawakan makanan ke kamarnya.


Kinan hanya diam sambil terus mengaduk oatmeal yang sudah berbentuk bubur di mangkuknya, dia tidak menjawab ataupun merespon ucapan Kiran. Karena tidak tahan dengan tingkah Kinan yang sudah tiga hari mengabaikannya, Kiran pun mengakhiri sarapannya dan memilih untuk berbicara dengan Kinan.


“Dek, kamu kenapa sih? sudah tiga hari kamu seperti ini. Kakak tahu kamu kecewa dengan ayah, kakak juga sama denganmu. Tapi kamu juga tidak bisa berdiam terus, apalagi kamu mengabaikan kakak. Ingat! Kakak tidak pernah ikut andil dalam keputusan ayah satu ini, kakak juga sama terkejutnya denganmu. Kakak juga menentang perjodohanmu Kinan!”


Kiran berbicara dengan penuh penekanan di akhir kalimatnya karena ikut kesal dengan sikap sang adik yang bahkan Kiran sendiri sebenarnya tidak berbuat salah ke Kinan.


“Kamu beneran tidak mau berbicara dengan kakak Kinan?” imbuhnya sekali lagi.


“Huhft.. terserah lah. Kakak tidak akan memaksamu. Itu sudah hak mu, terserah kau mempercayainya atau tidak!”


Pagi itu Kiran sudah dibuat sangat jengah dengan sikap Kinan yang tidak mau merespon pembicaraannya dan justru terus memainkan sendok di dalam mangkuknya. Kiran pun hendak meninggalkan adiknya yang masih duduk terdiam dan segera mengambil tas yang diletakkan di kursi sampingnya.


“Aku tidak marah kepadamu. Aku hanya ingin menenangkan fikiranku.” ucap Kinan tiba-tiba saat Kiran hendak berdiri namun diurungkannya dan kembali duduk setelah mendengar jawaban adiknya.


“Lalu bagaimana sekarang? Apa kau masih ingin sendiri dan tetap tak mau bercerita denganku?” Kiran kini semakin lekat menatap Kinan.


“Bukan seperti itu kak, aku malu. Aku tidak ingin menyakitimu.”


“Maksud kamu apa dek?” tanya Kiran tidak mengerti.

__ADS_1


“Jujurlah kak, aku sudah tahu semuanya.”


“Jujur apa? Sudah tahu apa maksudmu Kinan?”


“Kak, aku tahu kau dan kak Arga sudah memiliki hubungan spesial sejak lama bahkan sejak kalian masih sama-sama kuliah. Tapi kalian tidak pernah memberitahukan kepada siapapun termasuk ayah, karena kau tahu bahwa ayah tidak akan suka jika kau berpasangan dengan laki-laki yang lebih muda darimu. Makanya kau terus merahasiakan hubungan itu sampai sekarang bukan? Kenapa kau berbohong? Kenapa kau hanya diam saat tahu laki-laki yang dijodohkan ayah untukku ternyata pacarmu?”


Kiran maupun Kinan sama-sama terkejutnya karena untuk pertama kali Kinan benar-benar berbicara panjang lebar ke seseorang.


Degg


Kiran hanya terdiam mendengar penuturan Kinan. Bukan apa-apa, tapi karena semua tuduhan Kinan memang benar adanya. Bibir Kiran tiba-tiba kelu tidak bisa berucap seperti sebelumnya.


Dia hanya menunduk lemas, bagaimana mungkin rahasia yang sudah hampir delapam tahun disimpan rapat dengan hanya dirinya dan Arga yang tahu bisa diketahui adiknya sendiri. Bahkan Kiran juga tidak pernah menceritakannya ke Kinan, lalu darimana Kinan tahu semua itu?


Aku sudah menyimpan rahasia ini sangat rapat, aku juga tidak pernah menceritakannya ke siapapun apalagi ke Kinan. Namun dari mana Kinan tahu tentang semua itu? Apakah selama ini diam-diam Kinan sudah memperhatikanku?


Kiran terus membatin dalam hati, dia tidak membalas ucapan Kinan yang seperti menyudutkannya. Gadis itu benar-benar dibuat kikuk dengan ucapan sang adik. Dia juga bingung harus berkata seperti apa.


“Kak??? jawab aku!” imbuhnya.


Kinan sudah mulai tersulut emosi dan mengeluarkan seluruh uneg-uneg yang selama ini ia pendam. Gadis itu merasa kecewa karena sang kakak justru membiarkan perjodohan sang adik dan kekasihnya sendiri yang jelas-jelas juga akan menyakitinya.


“Kau benar Kinan. Aku memang sudah menjalin hubungan lama dengan Arga, namun aku juga tidak bisa berbuat sekehendakku. Kau tahu bagaimana ayah kita kan? Bagaimana bisa aku memperkenalkan Arga kepadanya? Yang ada ayah justru akan murka.” tangis Kiran sudah tidak bisa dibendung lagi.


“Maaf kak, aku tidak bermaksud seperti itu. Kenapa kau jadi menangis? Maaf aku salah.” ucap Kinan merasa bersalah.


“Bukan salahmu Kinan. Aku yang memang pengecut hingga beberapa kali menolak permintaan Arga untuk menemui ayah, padahal sudah jelas-jelas bahwa niat dia ingin serius denganku. Kakak terlalu banyak memikirkan hal-hal yang bahkan belum terjadi, kakak terlalu bodoh. Kau juga tahu jika beberapa kali ayah berusaha menjodohkanku seperti halnya dirimu sekarang.”


“Aku tahu itu. Tapi, bukankah kau harus jujur ke ayah kak? Itu akan lebih baik untuk kita semua.”


“Tidak dek, saat ini akan lebih baik kalau kita menuruti kemauan ayah. Ini waktu yang tepat untuk kakak benar-benar melupakan Arga sebagai kekasih. Kau tenang saja dek, kakak tidak akan menghentikan perjodohan ini. Kakak akan ikhlas menerima Arga sebagai calon adik ipar kakak. Kakak sangat tahu bahwa Arga orang yang baik. Mungkin awalnya dia menolakmu, tapi jika nanti kalian berdua sudah menikah aku yakin Arga akan menjagamu dan menyayangimu layaknya pasangan suami istri. Percayalah ke kakak!”


“Aku mohon jangan kau juga kak. Sampai kapanpun aku tidak akan menerima perjodohan ini. Aku bahkan tidak menginginkannya, mana mungkin aku melakukan hal konyol seperti ini?”

__ADS_1


“Jangan pernah bilang jika perjodohan ini hal konyol di depan ayah Kinan, ayah akan marah besar jika tahu. Dan jangan bilang ke ayah tentang hubunganku dengan Arga, dia akan sangat kecewa ke kita.”


“Kalau kau tidak ingin aku memberitahu ayah, kau harus membantuku untuk membatalkan perjodohan ini!” tegas Kinan.


“Bagaimana bisa Kinan? Kakak tidak bisa membujuk ayah.”


“Terserah kau mau bagaimana, yang jelas sampai kapanpun aku tidak akan pernah menerima perjodohan ini. Selama ini aku sudah cukup diam, biarlah untuk kali ini aku memilih jalanku sendiri.”


“Kakak mengerti maksud kamu Kinan, tapi cobalah sekali saja kau mengenal Arga demi nama baik keluarga kita.”


“Baik. Sekarang aku ingin bertanya dan jawablah pertanyaanku ini dengan jujur, jika pun nantinya aku dan kak Arga sungguh-sungguh menikah apakah kau akan ikhlas melihatnya? Apakah kau bisa menerima kekasihmu menjadi adik iparmu?”


“………”


Mulut Kiran terasa kelu dan tidak bisa menjawab pertanyaan yang memang dirinya saja belum bisa membayangkan akan seperti apa jadinya jika dia harus melihat kekasihnya menikahi adiknya sendiri.


“Kenapa kau diam lagi? Apa kau tidak bisa menjawabnya?”


“Sudahlah Kinan, jangan bahas masalah ini sekarang. kakak sudah telat. Kakak harus pergi bekerja, kita bicarakan ini lain kali. Kau juga harus ke kampus bukan?”


“Kali ini aku sungguh tidak mengenalimu sebagai kakakku kak.” Kinan berlalu meninggalkan meja makan dengan penuh kekecewaan.


Sarapan pagi itu pun dilewati dengan perdebatan kakak beradik. Kinan yang sebelum-sebelumnya tidak pernah banyak bicara, kali itu justru banyak mengeluarkan kata-kata dibanding Kiran yang biasanya lebih banyak bicara.


Mungkin karena Kinan sudah memendamnya cukup lama dan berfikir saat itu merupakan waktu yang tepat untuk mengutarakan segala yang ia pendam selama ini. Tapi sayang, tawaran negosiasi Kinan yang sebelumnya dianggap akan langsung disetujui oleh Kiran justru mendapat penolakan dari sang kakak.


Kinan memang kecewa dengan keputusan kakaknya yang memilih untuk membiarkan perjodohannya, namun dia tidak akan tinggal diam dan bertekad untuk terus membujuk Kiran agar mau menyetujui idenya tersebut.


***


HAPPY READING ALL💕


Like, vote, dan beri saran serta kritikan kalian ya biar Author tambah semangat berimajinasi🖎

__ADS_1


__ADS_2