SKIP

SKIP
PART 8


__ADS_3

Pria dingin itu selalu saja menggangguku. Apa yang membuatnya begitu sangat menyebalkan hingga saat berada di dekatnya emosiku seolah ikut meluap? Padahal sejujurnya aku bukanlah tipikal seseorang yang akan dengan mudahnya terpancing amarah.


-Kinan Putri Cantika


“Apa kau bodoh?” Reyhan mencoba menahan tubuh Kinan dan langsung memposisikan kursinya seperti semula.


“Kembalikan buku ku!” titah Kinan ke Reyhan karena kesal bukunya diambil paksa.


“Hahaha, kau ingin buku ini? Ambillah. Aku juga tidak memiliki niatan untuk membaca buku aneh seperti ini.” ucap Reyhan dan menyodorkan buku tersebut kembali ke Kinan.


Kinan langsung mengambilnya segera dan menatap Reyhan tajam.


Apa? Pria ini tertawa? Sungguh? Ternyata manusia es seperti dia bisa tertawa juga, dan oh.. mengapa wajahnya terlihat begitu tampan? Pria ini juga terlihat begitu manis, tapi tidak. Dia sedang menghinaku. Ya. Dia sedang merendahkanmu Kinan. AYO SADARLAH!!


Kinan memukul-mukul kepalanya kasar dan merutuki segala ucapannya dalam hati.


Tidak ingin berdebat dengan Reyhan, gadis itu pun segera bangkit dari tempat duduknya dan hendak pergi dari sana. Namun suara Reyhan tiba-tiba saja menghentikan langkahnya.


“Kenapa kau selalu duduk di tempatku?” tanya Reyhan kemudian duduk di kursi yang semula di duduki Kinan.


“Apakah tempat ini milikmu? Ini tempat umum, siapa saja boleh duduk dimanapun mereka inginkan.” ucap Kinan tak kalah pedasnya.


“Dan lagi, ini juga salah satu fasilitas kampus yang diberikan untuk setiap mahasiswa disini. Jadi aku juga berhak menempatinya.” imbuhnya lagi karena tidak terima dengan ucapan Reyhan yang mengklaim seolah-olah kursi itu adalah tempat duduk yang dibuat khusus untuknya.


“Kau benar. Tempat ini memang milikku dan dibuat khusus untukku. Lihat tulisan di meja dan kursi ini.” jawab Reyhan datar sambil menunjuk tulisan di kaki meja serta tempat dudukan kursi.


Kinan pun mengikuti dengan pandangannya, seketika mata gadis itu ikut terbelalak saat melihat tulisan yang bertuliskan "Only Reyhan Aksa Pradana" dan ditulis tebal serta digaris bawahi menggunakan spidol permanen.


Jantung Kinan ikut mencelos tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat itu. Bagaimana bisa Reyhan mengklaim bahwa tempat itu adalah miliknya, bahkan sampai memberikan tulisan kepemilikan yang menyatakan hanya dia yang berhak menempati tempat tersebut.


“A-apa maksudnya itu?” tanya Kinan terbata-bata.

__ADS_1


“Apakah kau tidak bisa membaca? Bukankah tulisan ini sudah sangat jelas?” Reyhan balik bertanya serta memberikan senyum smirk ke Kinan.


“Aku tahu itu, tapi maksudnya apa kau sampai menuliskan bahwa tempat ini hanya untukmu? Bukankah itu sangat egois?” ucap Kinan penuh selidik karena masih tidak percaya dengan kelakuan Reyhan yang dinilai cukup membuat siapapun akan terkejut.


“Aku tidak peduli. Yang jelas tempat ini hanya untukku dan hanya aku yang berhak menempatinya. Bukan mahasiswa lain, termasuk kau.” ucap Reyhan datar dan melanjutkan membaca buku yang sebelumnya ia bawa dari tempat paling pojok ruang perpustakaan.


Kinan benar-benar dibuat jengah dengan sikap Reyhan yang dingin dan sangat menyebalkan itu. Gadis yang biasanya hanya diam itu merasa tidak terima jika dirinya terus-terusan ditindas dan dianggap lemah oleh orang lain, termasuk oleh Reyhan yang saat ini tengah berada di depannya.


Bersamaan dengan itu, seorang petugas perpustakaan datang menghampiri mereka sambil membawa map berwarna merah.


“Ini ada apa ya? Bukankah sudah ada aturan jika berada di dalam perpustakaan dilarang membuat gaduh?” tanya petugas yang biasa dipanggil Mrs. Mey itu sambil membenarkan letak kacamatnya yang sedikit turun.


“Sebelumnya saya mohon maaf Mrs karena sudah membuat gaduh di perpustakaan. Tapi anak ini tiba-tiba saja datang dan mengambil tempat duduk saya dan mengklaim jika tempat ini miliknya. Padahal ini kan fasilitas kampus yang siapa saja berhak menggunakannya ya Mrs?” ucap Kinan mengadu sambil menunjuk Reyhan yang masih duduk dengan tenangnya seperti tidak berbuat kesalahan apapun sehingga membuat Kinan semakin kesal.


Mrs. Mey yang memang sudah mengenal Kinan karena seringnya gadis itu berada di perpustakaan untuk meminjam buku atau sekedar membaca tersenyum tipis ketika melihat Reyhan yang duduk manis sambil membaca buku dan acuh dengan keadaan sekitarnya. Wanita itu kemudian menatap Kinan yang berdiri seolah ingin minta pembelaan.


“Emm begitu. Tapi Kinan, yang diucapkan Reyhan itu memang benar. Tempat ini satu ini hanya dia yang berhak menempati, jika tanpa seizinnya siapapun dilarang untuk duduk disini.” ucap Mrs. Mey sambil tersenyum sangat manis ke arah Kinan.


“M-maksudnya apa Mrs?” tanya Kinan heran.


jelas Mrs. Mey


“DI SEWA??? Maksud Mrs. Mey?” teriak Kinan langsung melongo hingga membuat beberapa penghuni perpustakaan itu pun menoleh ke arahnya.


“Artinya tempat ini sudah dibayar khusus untuk bisa aku tempati.” saut Reyhan datar.


Kinan menatap Reyhan kesal. Sungguh jika saja membunuh itu hal yang legal dan tidak berdosa, gadis itu akan senang hati membunuh pria dingin di depannya. Kata-kata pedas serta ekspresi datar dari raut wajah pria itu bahkan bisa membuat emosi Kinan semakin meluap.


“Ya seperti yang dikatakan Reyhan itu benar adanya Kinan, dia juga menjadi donatur tetap untuk perpustakaan ini. Bahkan beberapa buku disini juga dari sumbangannya.” imbuh Mrs. Mey sambil menunjukkan isi map yang dibawanya.


“Ini kamu lihat, ini merupakan daftar nama donatur serta nominal yang diberikannya untuk perpustakaan ini.” tambah Mrs. Mey dan menunjuk nama Reyhan yang terpampang jelas berada di urutan nomor satu.

__ADS_1


“I-ini benar???” tanya Kinan melongo kaget dan tidak percaya melihat nominal uang yang di donasikan Reyhan untuk perpusatakaan kampus, belum lagi dengan sumbangan buku-buku yang tidak masuk dari nominal tersebut.


“Iya Kinan, benar. Yasudah, saya permisi dulu ya Kinan. Oh iya Reyhan, maaf ya atas ketidak-nyamanannya. Lain kali saya akan lebih memastikan kembali mahasiswa-mahasiswa lainnya agar tidak terulang kejadian seperti ini lagi.” Mrs. Mey pun meninggalkan Reyhan dan Kinan yang masih saling diam.


“Bagaimana? Kau masih tidak percaya?” ucap Reyhan tiba-tiba hingga membuat Kinan kembali tersentak kaget.


“Baiklah, kali ini aku percaya. Aku minta maaf, permisi.”


Saat Kinan hendak pergi meninggalkan tempat tersebut, pergelangan tangannya tiba-tiba saja dicekal oleh Reyhan. Sontak membuat Kinan kembali menoleh.


“Jika kau sangat menyukai tempat ini, kau bisa menggunakannya saat aku tidak ada. Tapi dengan satu syarat dariku dan kau tidak boleh membantahnya.” ucap Reyhan dan membuat Kinan menatap kearahnya tajam.


“Apa maksudmu?” selidik Kinan.


“Tidak ada, aku hanya menawarimu sebuah kesepakatan. Itu pun jika kau bersedia.” jawaban Reyhan benar-benar membuat Kinan semakin berfikir rancu.


Apa yang sebenarnya pria ini inginkan? Kenapa hanya karena tempat duduk yang tidak begitu penting harus dipermasalahkan? Tapi tunggu, oh tidak!! Tempat ini sangat penting. Bagaimana bisa tempat duduk ini sangat berbeda dengan yang lainnya? Kursi yang empuk, meja yang luas, posisi pas dan letaknya yang berdampingan dengan jendela langsung menghadap ke seluruh penjuru kampus, serta berada di pojokan yang pastinya akan sangat sedikit mahasiswa lain yang melewatinya. Ditambah lagi tempat ini juga dekat dengan AC, jadi akan tetap dingin meskipun cuaca tengah panas di luar. Oh, sungguh tempat yang sangat sempurna untuk mahasiswa sepertiku yang masih harus berkutat dengan skripsi dan bolak-balik mengejar ACC dosen.


Kinan benar-benar tenggelam dalam fikirannya sendiri.


“Kesepakatan? Kesepakatan apa? Aku tidak mengerti, tolong bicara yang jelas.”


ujar Kinan.


“Jika kau ingin tahu, datanglah lagi kesini besok jam 3 sore.”


Tanpa mendengar jawaban atau persetujuan dari Kinan, Reyhan pun bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan Kinan begitu saja.


Benar-benar manusia bongkahan es batu.


Batin Kinan dalam hati, kemudian ikut meninggalkan perpustakaan.

__ADS_1


***


HAPPY READING👀


__ADS_2