SKIP

SKIP
PART 18


__ADS_3

Terkadang saat kita tak mengharapkan sesuatu, Tuhan justru memberinya dan menambahnya dengan sesuatu lain diluar perkiraan kita.


-farikakoka


Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore ketika orang tua dan anak itu memutuskan untuk saling menyudahi pembicaraan mereka yang diselingi banyak tawa didalamnya. Banyak hal-hal yang ditanyakan Desi ke dua orang calon menantunya tersebut, entah itu hal yang penting atau bahkan hal yang tidak penting sekalipun. Karena sikap keibuan serta keterbukaannya itu membuat Kinan maupun Reyhan sama-sama nyaman dan tidak sungkan lagi. Bahkan sifat Kinan yang cenderung pemalu dan penutup terhadap orang asing tersebut, perlahan mulai terbuka ketika ia diajak berbicara oleh Desi. Sama halnya saat dirinya menjalin hubungan persahabatan dengan Diara. Memang benar kata pepatah, buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Sama halnya seperti Diara dan mamanya, yang sama-sama memiliki kemiripan di sikap serta karakter mereka.


“Baiklah kalau begitu om sama tante pamit istirahat dulu ke kamar ya nak Kinan, nak Reyhan. Kalian saling mengobrol saja dulu, atau kalau mau di atas ada kolam renang mungkin kalian ingin berenang atau bermain-main. Biar Diara dan Arga yang akan mengantarnya. Nanti kalau sudah waktunya makan malam, kita makan bersama-sama. Diara, kalau kamu mau ke atas jangan lupa minta Bi Jinah untuk membawakan camilan dan minuman ya sayang. Arga juga, temani Kinan lho nak. Mama sama papa mau istirahat dulu.” tutur Desi seraya menggandeng lengan suaminya untuk meninggalkan anak-anaknya.


“Iya mama ku yang paling bawel, Diara akan mengajak Kinan dan Reyhan ke atas. Sudah, mama sama papa istirahat dulu sana.” ucap Diara sambil sedikit mendorong tubuh mamanya agar segera pergi dari sana.


“Hehm, dasar anak nakal!” ucap Desi diselingi senyuman kemudian segera menuju ke kamarnya.


Setelah kepergian papa dan mamanya, Diara kembali mengalihkan pandangannya ke Reyhan dan Kinan yang masih duduk sembari menebarkan pandangan mereka ke sembarang arah. Sedangkan Arga langsung berdiri dan hendak pergi meninggalkan ruangan itu.


“Kakak mau kemana?” tanya Diara yang melihat Arga hendak melangkahkan kakinya.


“Kamar.” jawab Arga malas.


“Kak, tapi kan kakak harus menemani Kinan. Kakak tidak dengar ucapan mama tadi?” protes Diara dan mengingatkan kembali pesan mamanya.


“Kau saja. Aku lelah.” tanpa memperdulikan ucapan Diara, Arga langsung berlalu begitu saja. Bahkan panggilan Diara yang berkali-kali juga tidak bisa menghentikan langkahnya.


“Huh dasar! Untung saja dia kakakku. Coba saja kalau bukan, sudah ku remat-remat dan ku jadikan makanan kudanil di ragunan dari dulu.” umpat Diara sambil berdecak kesal.


“Ehmm.. Kin, Rey. Ayo kita ke atas!” imbuhnya lagi dan mengajak Kinan serta Reyhan ke ruangan atas.


“Tapi Ra…” ucap Kinan sedikit ragu.


“Sudahlah ayo!” seru Diara.


Kinan pun menyetujui. Mereka hendak pergi, namun langkah Diara tiba-tiba terhenti tatkala dirinya melihat Reyhan yang masih diam dan tak bergeming dari tempat duduknya.


“Rey, ayo! Kenapa kamu diam saja?” ajak Diara.


“Apa harus aku juga?” Reyhan balik bertanya.


“Lalu kamu mau di sini sendiri? Mama dan papa di kamar, kak Arga juga di kamar. Tidak ada siapa-siapa lagi kecuali Bi Jinah yang sedang di dapur Rey, lebih baik kamu ikut kita.” tutur Diara. Reyhan sedikit melirik ke Kinan, namun pandangan Kinan segera beralih ke bawah.

__ADS_1


“Baiklah.” Reyhan pun menyetujui dan mengikuti mereka untuk naik ke lantai atas.


Kolam renang itu letaknya ada di lantai tiga, atau lebih tepatnya lantai yang letaknya paling atas sendiri. Lantai dua digunakan sebagai letak kamar para penghuni rumah serta terdapat perpustakaan pribadi dan satu ruang kerja khusus yang biasanya dipakai oleh Dandi selaku kepala keluarga. Sedangkan lantai satu sendiri menjadi ruangan yang paling luas ukurannya jika dibandingkan dua lantai di atasnya, karena di sana terdapat beberapa kamar tamu, ruang keluarga, ruang tamu, dapur, serta kamar khusus untuk para asisten rumah tangga maupun sopir.


Sesampainya di atas, Kinan dibuat takjub akan pemandangan yang luar biasa di depannya. Bagaimana tidak, di lantai tiga tersebut Kinan melihat adanya taman kecil serta kolam renang yang memiliki air yang sangat jernih sehingga membuat siapapun ingin segera menceburkan diri ke dalamnya. Bukan hanya itu, bahkan dari lantai tempatnya kini berada Kinan dapat melihat jelas pemandangan kota Jakarta yang banyak dipadati oleh kendaraan yang berlalu lalang serta bangunan gedung pencakar langit.


“Kin, kamu di sini dulu ya. Aku mau ke bawah dulu bilangin Bi Jinah untuk buatin minuman dan camilan.” ucap Diara sambil menepuk pelan pundak sahabatnya.


“Iya.” Kinan tak bergeming dan masih takjub akan pemandangan di sana.


“Tunggu dulu di sini oke!” titah Diara kemudian berlalu hendak turun menuju dapur.


“Kamu juga tunggu dulu di sini Rey!” imbuhnya ke Reyhan yang sudah duduk di sofa dengan jarak 20 meter dari bibir kolam renang.


“Hmm.” jawab Reyhan singkat. Diara pun segera bergegas menuju dapur dan meninggalkan Kinan serta Reyhan berdua di sana.


💢💢


Mata Kinan masih memandang apa yang ada di sekitarnya, sedangkan dari sisi lain ekor mata Reyhan terus memperhatikan Kinan yang sibuk akan aktivitasnya. Hampir setengah jam namun Diara tak juga muncul menampakkan dirinya kembali, hal itu membuat Kinan semakin risau dan hendak menyusulnya. Namun tiba-tiba suara Reyhan menghentikan langkah kaki Kinan yang sudah mendekati pembatas pintu kaca.


“Mau kemana?” tanya Reyhan namun pandangannya tidak berpaling dari ponselnya.


“Dia akan segera kembali.” tutur Reyhan.


“Tapi ini sudah hampir setengah jam Diara belum juga kembali kesini, aku ingin memastikannya.”


“Jangan bebal. Duduklah.” suara Reyhan terdengar begitu datar namun sangat dingin dan menakutkan, hingga mau tidak mau Kinan pun mengurungkan niatnya dan memilih untuk duduk di bibir kolam renang dengan kakinya yang dibiarkan menggantung serta sedikit basah karena air kolam.


Huh, rasanya segar sekali. Ingin sekali aku berenang, tapi aku mana bisa berenang.


Kinan terus bergumam sendiri sembari kakinya yang terus menyipak-nyipakkan air dan tangan kanannya yang disibukkan dengan memegang ponsel untuk berselfie ria. Bahkan Kinan juga tidak sadar jika kelakuannya itu telah menarik perhatian Reyhan yang memang sedari tadi memperhatikannya.


Gadis itu terlalu asyik dengan aktivitas tersebut hingga tiba-tiba ponsel yang dipegangnya jatuh ke dasar kolam. Wajah Kinan berubah panik, dia mencoba menoleh ke arah Reyhan namun Reyhan segera mengalihkan pandangan ke sembarang arah dan kembali menatap ponselnya sambil memasang earphone. Kinan sedikit ragu, ingin meminta bantuan ke Reyhan tapi setelah melihat respon Reyhan tadi nyalinya semakin ciut. Dengan mengumpulkan seluruh keberaniannya, akhirnya Kinan memutuskan untuk menceburkan diri ke kolam.


Byurrr


Suara air yang keluar sampai bibir kolam akibat hantaman benda padat pun terdengar jelas hingga telinga Reyhan. Tanpa berfikir panjang, Reyhan langsung melemparkan ponselnya ke sembarang arah dan berlari ke arah kolam. Pandangan matanya begitu dikejutkan saat melihat Kinan yang sudah kehabisan nafas di dalam air. Dengan sekali gerakan, Reyhan ikut menceburkan dirinya dan merengkuh tubuh Kinan untuk kembali ke permukaan.

__ADS_1


💢💢


Diara baru sampai rumah dengan beberapa kantong kresek belanjaannya. Dirinya baru saja pulang dari supermarket untuk membeli bahan makanan serta camilan yang sudah hampir habis di kulkas.


"Bi, ini camilan dan minumannya biar Diara sendiri yang bawa ya." ucap Diara ke Bi Jinah yang baru saja membuatkan minuman.


"Biar bibi saja non." tutur Bi Jinah.


"Sudahlah, lebih baik bibi menata bahan makanan yang baru aku beli ke dalam kulkas."


"Tapi non..." Bi Jinah masih bersikukuh karena merasa tidak enak dengan anak majikannya tersebut.


"Ssstt.. sudah, Diara ke atas dulu." ucap Diara tak mau dibantah.


Dengan langkah kaki yang bersemangat serta wajah yang begitu sumringah, Diara pun menaiki tangga dengan membawa beberapa camilan serta tiga gelas minuman di nampan.


Kini Diara sudah sampai di pembatas pintu kaca yang membatasi ruangan luar dan ruangan dalam, namun matanya dibuat terbelalak saat mendapati tunangannya memberikan ciuman pada sahabatnya dengan posisi tubuh Kinan yang terlentang. Pakaian keduanya pun tampak sama-sama basah.


Tanpa sadar, Diara telah menjatuhkan nampan berisi camilan serta minuman yang sebelumnya ia bawa hingga menimbulkan kegaduhan di sana. Dengan langkah panjang serta emosi yang bersungut-sungut, Diara langsung menghampiri mereka.


“Reyhan! Kinan! Apa yang kalian lakukan!” bentak Diara.


Dirinya begitu marah dan tidak menyangka jika tunangan dan sahabatnya akan menghianatinya secara terang-terangan, bahkan hal tersebut dilakukan di dalam rumahnya. Namun sejurus kemudian Diara kembali dibuat terkesiap saat mengetahui ternyata Kinan tidak sadarkan diri dan Reyhan berusaha memberinya nafas buatan sambil terus menerus menepuk pipi Kinan.


“Reyhan, apa yang terjadi dengan Kinan?” kali ini suara Diara terdengar lebih melunak dan berganti menjadi sangat khawatir.


“Dia tenggelam. Cepat panggilkan dokter!” seru Reyhan sambil terus berusaha menyadarkan Kinan.


“Baiklah. Tunggu.” Diara bergegas meraih ponsel yang berada di saku celananya.


“Reyhan, sebaiknya Kinan kita bawa dulu ke kamarku.” imbuhnya.


Tanpa berkata, Reyhan langsung mengangkat tubuh Kinan dan menggendongnya untuk menuju kamar Diara yang berada di lantai dua. Namun saat akan menuruni tangga, mereka berpapasan dengan Arga, Dandi, serta Desi yang hendak naik ke lantai tiga. Mata Reyhan dan Arga saling menaut satu sama lain.


***


Happy Reading^^

__ADS_1


tinggalkan jejaknya buat KokA ya👣


__ADS_2