
Akan ku lakukan segala hal agar aku bisa mendapatkan hatimu. Seberat apapun perjuangan, sekuat apapun kau bertahan, aku akan terus melawan hingga menjadikan hatimu satu-satunya tempat persinggahan.
-Kevin Fardiko
Kinan berdecak kesal, namun sejurus kemudian dia langsung berbalik menuju ke dalam rumah. Betapa terkejutnya dia saat melihat Arga, Kiran, serta ayahnya sudah berdiri di ambang pintu bertiga. Wajah mereka terlihat begitu khawatir dan saling melihat ponsel masing-masing. Kinan berjalan perlahan sambil sesekali meremas sweater nya yang basah.
“Kinan!! Kamu dari mana saja dek??” suara Kiran yang terdengar begitu keras berhasil membuat semua orang beralih menatap ke arah Kinan.
“Dari mana saja kamu jam segini baru pulang? Kenapa tidak pulang bersama Arga? Kamu tahu seberapa khawatirnya dia mencarimu kemana-mana!” sarkas Hendra terdengar begitu dingin namun juga sangat tegas.
Kinan hanya diam, tidak berani menjawab ataupun menatap ayahnya. Dirinya terlalu takut jika harus berhadapan dengan sang ayah, terlebih jika suasana hatinya tidak baik seperti sekarang. Kinan tahu betul jika ayahnya kali ini sangat marah besar, dia harus tetap diam agar tidak membuatnya semakin marah. Memikirkannya saja sudah membuat Kinan bergidik ngeri.
“Kinan jawab ayah!! Apa kamu tidak punya mulut!” bentaknya sehingga membuat semua orang yang berada di sana berjingkat kaget.
“Ayah sudah ayah, kasihan Kinan sudah sangat lelah. Dia harus segera mandi dan mengganti pakaiannya.” sahut Kiran yang khawatir melihat kondisi Kinan yang basah kuyup.
“Kamu juga Kiran! Kenapa kalian tidak pulang bersama jika tadi sempat bertemu?” kali ini Hendra justru melampiaskan amarahnya ke putri sulungnya yang tidak tahu apa-apa.
“A-ayah…” ucap Kinan terbata.
“Maaf om, sepertinya saya harus pamit. Saya juga sudah memastikan Kinan pulang dengan selamat, saya permisi om.” Arga berpamitan untuk pulang dan menyalami Hendra yang masih menatap tajam ke arah anak-anaknya.
“Kenapa buru-buru nak? Di sini saja dulu, atau kalau perlu menginaplah. Ini sudah malam. Akan om suruh mbak Nur untuk menyiapkan kamar tamu.” suara Hendra terdengar lebih melunak dari sebelumnya.
“Tidak om, terimakasih. Saya harus segera pulang karena masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan. Maaf om, saya permisi.”
“Kinan juga permisi ayah, maaf.” Kinan berlalu menuju kamarnya dengan sedikit berlari, rasanya seharian ini banyak sekali kejadian yang menguras tenaganya. Dia hanya ingin merebahkan badan di atas tempat tidur dan sesegara mungkin mengistirahatkan diri. Panggilan dari sang ayah pun juga tidak bisa menghentikan langkah kaki Kinan yang semakin mempercepatnya agar segera sampai di kamar.
💢💢
Drrt...Drrt…Drrt
“Iya halo, siapa?” Kinan mengangkat telepon dengan keadaan setengah sadar. Gadis itu masih berusaha keras mengumpulkan nyawanya dari alam mimpi.
“Ki, ini aku Kevin. Kau ada dimana sekarang?” tanya Kevin dari seberang telepon.
“Kevin??” Kinan langsung terbelalak saat menyadari ternyata Kevin yang menelponnya.
“A-aku di rumah Vin, ada apa?” sambungnya sedikit terbata karena masih teringat kejadian kemarin malam.
“Bisakah kita bertemu? Ada yang harus kau jelaskan padaku bukan?” Kevin berusaha mengingatkan kembali ucapan Kinan sebelumnya.
“Emm.. i-iya Vin. Aku bisa. Bertemu dimana?”
“Tempat biasa. Aku tunggu jam 1 sekalian makan siang Ki.”
“Baiklah, sampai nanti.” Kinan pun menutup teleponnya lebih dulu.
Tok…Tok…Tok
“Dek!!! Kamu sudah bangun?” suara Kiran terdengar dari arah luar pintu.
__ADS_1
“Kinan tolong buka pintunya! Kakak ingin berbicara dek.” titahnya kembali.
Ceklek
Pintu pun dibuka dari arah dalam. Kinan masih sangat malas jika harus menjelaskan kejadian tadi malam kepada kakak ataupun ayahnya.
“Ada apa?” tanyanya dengan malas.
“Dek, kakak bisa bicara sebentar denganmu?”
“Aku sudah tahu apa yang ingin kau bicarakan kak. Jangan membahasnya, aku tidak tertarik.” ucap Kinan sambil berjalan kembali ke arah tempat tidur.
“Kinan, apa kau tau tadi malam kita semua sangat mengkhawatirkanmu dek. Kenapa kau tidak mengabari kami?”
“Aku tidak bisa menghubungi kalian.” jawab Kinan sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
“Kamu kan punya handphone dek, apakah tidak bisa menelepon salah satu dari kami? Arga juga sangat mengkhawatirkanmu. Kenapa kalian bisa berpisah? Bukankah sebelumnya kalian pergi bersama?” Kiran terus mencerca dengan berbagai pertanyaan, berharap adiknya akan menjawab salah satu diantara pertanyaannya.
“Handphone ku lowbatt.” jawab Kinan.
“Kak, kalau kakak ke kamarku hanya untuk menanyakan hal itu lebih baik kakak keluarlah. Aku sedang tidak mood sekarang.” sambungnya berusaha mengusir Kiran.
“Tapi Kinan…” ucapan Kiran terjeda.
“Keluarlah! Aku ingin tidur kembali.” sela Kinan kemudian mengangkat selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
“Baiklah-baiklah, kakak akan keluar. Kau istirahatlah, kakak akan menyuruh mbak Nur untuk membawakan makanan ke kamarmu.”
“Kau ingin pergi kemana lagi Kinan?”
“Sudahlah, cepat keluar kak aku ingin istirahat!”
ucap Kinan kembali menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
“Iya-iya, istirahatlah. Aku keluar.”
💢💢
Kinan berjalan perlahan memasuki sebuah cafe dengan nuansa industrial minimalis. Bangunan cafe dibuat senatural mungkin dengan tidak mengecat ulang tembok maupun perabot lainnya. Ditambah lagi pencahayaan di dalam cafe juga bergaya futuristik dengan lampu-lampu yang dipagari oleh kerangka besi sehingga membuatnya semakin terlihat lebih artistik. Suasana cafe begitu tenang, membuat siapapun yang berkunjung akan sangat betah jika harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk sekedar mengobrol di dalamnya. Suasana tersebut juga menjadi favorit Kinan, karena pada dasarnya gadis itu juga tidak menyukai keramaian seperti kebanyakan cafe pada umumnya yang biasanya banyak di huni anak-anak muda seusianya.
“Kinan!” teriakan seorang pria berhasil membuat Kinan mengalihkan pandangannya untuk segera menoleh ke arah sumber suara tersebut. Kinan pun bergegas menghampirinya.
“Sudah lama Vin?” tanyanya ke pria itu yang ternyata adalah Kevin, sahabatnya.
“Dari 15 menit yang lalu. Kau ingin pesan apa Ki?” tanya Kevin sambil menyodorkan buku menu ke arah Kinan yang masih terlihat membenarkan posisi duduknya.
“Seperti biasa saja Vin.” jawab Kinan kemudian beralih meletakkan tas di kursi sampingnya.
“Baiklah, tunggu sebentar.”
“Permisi!” Kevin memanggil seorang waitress dengan melambaikan tangan kanannya.
__ADS_1
“Iya tuan, ada yang bisa saya bantu?” tanya waitress tersebut saat sudah berdiri di depan Kevin dengan membawa buku kecil yang biasanya digunakan untuk mencatat list order.
“Saya pesan jus strawberry 1 dan chicken katsu 2 ya.” jawab Kevin ke waitress tersebut.
“Baik tuan, ada lagi tuan?”
“Kau ingin apalagi Ki?” Kevin beralih menatap Kinan yang sudah duduk manis di depannya.
“Kenapa pesan chicken katsu banyak sekali Vin? Aku tidak bisa menghabiskannya.” ujar Kinan karena menurutnya Kevin sudah salah pesan.
“Tidak, yang satunya aku.” jawab Kevin sambil tersenyum.
“Oh baiklah, kalau begitu itu saja.” ucap Kinan.
“Oke, itu saja untuk sementara.” Kevin berbalik ke arah waitress tersebut dan menutup buku menu yang sebelumnya dibuka. Waitress pun menganggukkan kepala dan berlalu meninggalkan mereka.
“Bukannya kau tidak suka daging ayam Vin?” tanya Kinan sedikit heran dengan pesanan sahabatnya.
“Ya.” jawab Kevin singkat.
“Lalu kenapa kau pesan chicken katsu?”
“Karena kau menyukainya.”
“Ha maksudnya?” dahi Kinan berkerut tidak mengerti dengan jawaban Kevin.
“Jangan dibahas. Jelaskan saja apa yang seharusnya kau jelaskan Ki, mulailah dari awal. Aku ingin mengetahui semuanya. Kenapa kau tidak memberitahuku? Kenapa kau malah menyembunyikannya dariku? Apa aku bukan sahabatmu?” Kevin terus berbicara dengan tidak sabar, segera ingin mendengar penjelasan Kinan.
“Baiklah, akan ku jelaskan semuanya.” Kinan pun memulai untuk menceritakan semuanya dari awal hingga mereka bertemu di depan bioskop kemarin.
Kevin mendengarkan dengan seksama setiap kata yang diucapkan Kinan tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya ke arah gadis yang selama empat tahun ini mengisi hatinya. Terdapat sedikit kelegaan setelah mengetahui ternyata Kinan tidak benar-benar menyukai calon tunangannya, terlebih yang membuat Kevin semakin senang adalah kenyataan bahwa Arga ternyata kekasih kakak Kinan sendiri. Bahkan mereka telah menjalin hubungan itu sangat lama tanpa ada yang mengetahuinya.
“Kenapa kakakmu tidak memberitahu yang sebenarnya saja ke ayah kalian? Dengan seperti itu masalah akan selesai.” ucap Kevin setelah Kinan menyelesaikan penjelasannya.
“Tidak semudah itu Vin, ayah tidak akan mudah menerimanya. Dia akan marah besar dan tidak akan merestui mereka.”
“Lalu, apakah dengan cara seperti itu menurut kalian sudah benar? Bukankah itu justru akan menyakiti kalian berdua? Bagaimana dengan perasaan Arga?” pertanyaan-pertanyaan Kevin membuat Kinan semakin bungkam. Dia juga bingung harus berbuat apa, meminta pertolongan Kiran pun percuma. Dia tidak ingin membantu adiknya dan memilih menuruti kemauan ayahnya.
“Ki, apa kau mendengarku?” sambung Kevin.
“Aku harus bagaimana Vin? Kakakku juga diam, aku sudah berusaha meminta bantuannya tapi dia tidak mau dan memilih pasrah dengan keputusan ayah.” ucap Kinan sambil tertunduk lesu.
“Kenapa kau tidak meminta bantuanku saja Ki?”
“Maksudmu?”
“Aku bisa membuat om Hendra membatalkan sendiri perjodohan konyol ini.” Kevin berucap dan menyunggingkan senyum smirk di wajahnya.
***
HAPPY READING👀
__ADS_1
Yang penasaran dengan kisah rumit Kinan jangan lupa tinggalkan jejak ya, author sudah menyiapkan kejutan di akhir cerita😁