
Terkadang usaha sebesar apapun jika Tuhan berkehendak gagal, maka hasil akhir akan tetap gagal. Namun sekali lagi, Tuhan maha tahu setiap usaha yang kita keluarkan. DIA tidak akan membiarkan setiap usaha tersebut berakhir sia-sia. Optimis dan pantang menyerah adalah kunci agar usaha kita berbuah manis dan berujung pada keberhasilan.
-Author
“Kiaaa!!!” teriak Kevin dari arah belakang.
Kinan hanya berbalik sekilas melihat Kevin yang tengah berlari ke arahnya namun kemudian melanjutkan jalannya sambil memeluk map warna biru berisi berkas-berkas skripsi yang akan diajukan ke dosen pembimbing.
Belum sampai lima langkah kaki Kinan, tiba-tiba tangan Kevin sudah lebih dulu merangkul pundak Kinan dan berjalan sejajar sambil tersenyum ke arahnya. Sedangkan Kinan tidak membalas senyuman Kevin dan memilih acuh tanpa memperdulikan rangkulan Kevin di pundaknya.
“Hei, malah diam. Mau ke Bu Susi ya?” tanya Kevin yang masih menautkan tangannya di pundak Kinan.
“Hmm.” jawab Kinan malas.
“Bolehkah aku ikut?” imbuh Kevin lagi.
“Terserah.” Kinan masih tidak peduli dan fokus berjalan kedepan.
Mereka pun berjalan melewati koridor kampus menuju ruang dosen. Tak lama setelah itu, Kinan dan Kevin pun sampai di depan ruang Bu Susi.
Setelah itu Kevin segera melepaskan tangannya dari pundak Kinan, namun betapa terkejutnya Kinan saat melihan Reyhan dan Diara tiba-tiba keluar dari ruang Bu Susi. Diara tersenyum melihat sahabat barunya yang kini berada di depannya, dia pun lantas menyapa Kinan dengan senyum sumringahnya.
“Hei Kin, sudah berapa hari kita tidak bertemu. Ah, aku sangat merindukanmu.” ucap Diara sambil memeluk tubuh Kinan yang masih berdiri tegak di depan pintu.
“Loh.. kau dekat dengan Diara Ki?” tanya Kevin menyelidik sambil membalikkan tubuh Kinan kearahnya dan menatap Kinan lekat.
“Kau siapa?” tanya Diara sambil melepaskan tangan Kevin yang mencengkeram lengan Kinan.
“Aku sahabat Kinan asal kau tahu.” jawab Kevin tidak suka.
“Aku juga sahabatnya!” tandas Diara merasa tidak senang dengan jawaban Kevin.
“Aku lebih dulu mengenalnya daripada kau.” ucap Kevin tidak mau kalah.
“Dan aku lebih dekat dengannya daripada kau!”
Diara benar-benar dibuat jengah dengan sikap Kevin, sehingga dia pun harus mengeluarkan kata-kata yang bisa membuatnya lebih unggul dari Kevin.
__ADS_1
“Apa kalian anak kecil?” Reyhan yang dari tadi hanya diam dan melihat pedebatan Kevin dan Diara akhirnya buka suara.
Kevin, Diara, tak terkecuali Kinan pun langsung menoleh kearahnya. Namun Reyhan masih memasang ekspresi dingin tidak peduli, hingga tiba-tiba pintu ruangan itu dibuka dari arah dalam. Sosok wanita berusia empat puluh tahunan keluar dari dalam sambil membawa tas jinjing merk mewah di tangannya, wanita itu terlihat begitu elegan dengan gaya yang sangat fashionable seperti biasanya. Wanita yang kerap dipanggil Bu Si tersebut nampak terkejut melihat empat orang berdiri di depan ruangannya sambil melemparkan tatapan saling membunuh.
“Kalian ngapain di depan ruangan saya?” tanya Susi pada keempat mahasiswa tersebut sambil menatap mereka penuh selidik.
“Reyhan.. Diara, kalian masih disini? Ada yang perlu dikonsultasikan lagi dengan ibu?” imbuhnya lagi dan melihat ke arah Reyhan dan Diara.
Kinan, Kevin, dan Diara tersentak kaget melihat kehadiran Bu Susi yang tiba-tiba saja sudah berada diantara mereka. Sedangkan Reyhan hanya memasang muka datar dan tidak menampakkan keterkejutannya.
“Eh Bu Si, ini Bu.. emm kita sedang berdiskusi tadi.” jawab Diara berbohong.
“Oooh.. diskusi, baiklah.” imbuh Susi hendak meninggalkan tempat tersebut.
“Bu Si, mohon maaf. Saya juga ingin bimbingan skripsi dengan ibu.” ucap Kinan mencegah Susi pergi.
“Emm dengan siapa ya? Maaf, ibu suka lupa jika tidak terlalu mengenal.” tanya Susi yang memang masih asing dengan Kinan.
“Saya Kinan Bu, anak jurusan Sastra Indonesia yang tadi malam mengirimi pesan ke ibu untuk izin bimbingan. Tadi malam ibu juga menjanjikan saya untuk bertemu jam 10 pagi di ruangan Bu Susi.” jelas Kinan.
Susi pun mengambil ponsel di tas yang dijinjingnya kemudian melihat pesan di aplikasi line yang biasa ia gunakan untuk terhubung dengan para mahasiswanya.
“Oh kamu Kinan Putri Cantika yang tadi malam menghubungi ibu ya?” tanya Susi memastikan.
“Iya Bu benar, saya Kinan Putri Cantika. Anak bimbingan ibu, kebetulan ibu jadi dosen pembimbing 2 saya.” jawab Kinan membenarkan.
“Ya ampun, maafin saya Kinan. Sepertinya hari ini saya tidak bisa, saya ada urusan penting dan harus segera pergi sekarang. Bagaimana jika bimbinganmu ditunda lagi lain waktu?” ucap Susi memberikan alternatif lain sambil meletakkan kembali ponselnya ke dalam tas.
“Baiklah Bu, saya akan menghadap ibu lain waktu.” jawab Kinan lesu.
Akhirnya Susi benar-benar pergi dari sana dan meninggalkan mereka yang masih diam dan berdiri di depan ruangannya.
Sedangkan Kinan, jujur dia sangat kecewa karena jadwal bimbingannya ke Bu Susi kembali harus ditunda. Bahkan kejadian seperti ini tidak terjadi satu dua kali menimpa dirinya. Tak lama setelah kepergian Susi, Kinan pun ikut hendak meninggalkan tempat tersebut tanpa memperdulikan tiga orang di sampingnya.
“Loh Ki, mau kemana?” tanya Kevin sambil menahan pergelangan tangan Kinan untuk mencegahnya pergi.
“Perpus. Lepasin Vin, jangan ikuti aku.” jawab Kinan dengan malas.
__ADS_1
“Tapi Ki--” Belum sempat Kevin melanjutkan ucapannya, Diara sudah lebih dulu menimpali dan melepas cengkraman tangan Kevin dari tangan Kinan.
“Aku temani ya Kin?” ucap Diara meminta izin.
“Tidak usah Ra, aku ingin sendiri. Maaf.” tolak Kinan kemudian berlalu meninggalkan mereka yang masih berdiri sambil menatap lekat punggungnya.
Setelah kepergian Kinan, giliran Reyhan yang ikut pergi dari tempat tersebut tanpa berpamitan atau sekedar mengeluarkan sepatah kata.
Kini tinggallah Kevin dan Diara yang masih berdiri saling melempar tatapan yang sulit diartikan antara satu sama lain. Akhirnya mereka berdua pun sama-sama meninggalkan tempat tersebut tanpa melalui perdebatan lagi.
💢💢
Kinan tengah berada di perpustakaan kampusnya, perpustakaan itu memiliki ruang yang bisa dikatakan sangat besar untuk sekelas Universitas ternama di Indonesia.
Dengan banyaknya koleksi buku yang berjumlah puluhan ribu mulai dari buku fiksi sampai non fiksi serta fasilitas lengkap lainnya tentu membuat siapa saja yang berada disana merasa sangat nyaman, terlebih bagi mahasiswa semester akhir yang tengah dipusingkan dengan laporan skripsi seperti Kinan saat ini.
Namun kedatangan gadis itu di perpus kali ini bukan karena laporan skripsinya, melainkan karena hobinya untuk membaca buku anak. Tentunya buku tersebut bukan milik perpustakaan, tapi milik Kinan sendiri yang sengaja ia bawa dari rumahnya untuk berjaga-jaga apabila dia merasa bosan saat harus menunggu dosen untuk bimbingan skripsi atau mungkin di PHP dosen karena tidak jadi bimbingan.
Dan ternyata intuisinya benar, hari ini Kinar benar-benar di PHP oleh Bu Susi yang tidak lain adalah dosen pembimbing 2 di laporan skripsinya.
Sejujurnya Kinan benar-benar merasa kecewa dan lesu karena jarak antara rumah dan kampusnya lumayan jauh, sedangkan pagi tadi dia rela berlarian menuju halte yang tidak jauh dari rumahnya ditambah lagi dirinya juga harus ikut berdesak-desakan dengan penumpang lain di dalam bus namun setelah sampai di kampus yang ia dapati justru Bu Susi langsung membatalkan secara sepihak kegiatan bimbingannya yang sebenarnya sudah dijadwalkan oleh Bu Susi sendiri.
Ah memang apa-apa dosen selalu benar. Sabar Kinan, setelah ini kamu pasti akan terlepas dari belenggu drama skripsi yang tidak berperikeakhlakan ini. Tinggal selangkah lagi. Semangat!
Gumam Kinan dalam hati, gadis itu lantas mengeluarkan buku anak dari dalam tasnya. Senyum merekah tampak sangat jelas dari raut wajah Kinan. Buku berjudul Si Kancil Anak Cerdik itu mampu mengubah perasaan Kinan dari yang tadinya murung, kini berubah langsung sangat sumringah.
Benar-benar gadis aneh.
Begitu mungkin pikiran orang-orang yang melihatnya. Namun tidak dengan seseorang yang tiba-tiba berada di belakang Kinan dan mengambil buku tersebut tanpa permisi kepada si pemilik.
Sosok pria bertubuh tinggi dengan tangan kekar serta kemeja berwarna biru tua polos dan bagian lengan dilipat sampai siku membuat siapa saja yang melihat pasti akan terpikat, terlebih lagi dengan wajah tampannya serta aroma parfum kopi semakin menambah kesan maskulin pria tersebut.
Kinan langsung berbalik arah saat buku tersebut direbut paksa dari tangannya, tapi karena gerakan spontannya itu membuat keseimbangan Kinan menjadi lemah hingga kursi yang di dudukinya ikut goyah dan Kinan pun hendak terjungkal.
***
HAPPY READING👀
__ADS_1