
Hubungan tanpa kepercayaan ibarat cangkir tanpa air, kosong. Tak ada guna. Tak memiliki fungsi. Sia-sia.
-Farikakoka
Arga sudah putus harapan. Hatinya benar-benar tersayat akibat sebuah penolakan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Bagaimana bisa kekasih yang sudah menemani setiap hari-harinya selama 8 tahun itu kini memilih untuk menolak lamarannya?
Kurang apa lagi dia? Inikah jawaban atas penantiannya selama ini? Inikah hasil dari kesabarannya menunggu Kiran?
Pria itu pun berbalik arah, hendak kembali ke dalam mobil dengan sebuah kotak cincin yang masih digenggamnya. Namun tanpa disadari sebuah cekalan di pergelangan tangannya tiba-tiba saja menghentikannya.
“Ran??” ucap Arga sambil menautkan kedua alisnya.
“Kamu mau kemana?” tanya Kiran.
“Pulang. Ayo kita pulang, hari sudah semakin malam.”
“Tapi aku belum selesai.”
“Maksud kamu?”
Tanpa menjawab pertanyaan itu, Kiran bergegas mengambil kotak bludru berwarna merah dari genggaman Arga dengan sedikit paksaan.
“Katamu ini untukku kan?”
“I-iya,” jawab Arga seketika menjadi gagap.
“Lalu kenapa hanya diam? Kenapa tidak kamu pakaikan di jari manisku ini?” kali ini Kiran mengembalikan kotak itu ke Arga kemudian menunjuk jari manisnya sendiri.
Arga masih mematung, dirinya begitu terperangah dengan apa yang dilakukan Kiran.
Sepersekian detik kesadarannya seolah hilang, namun dalam sekejap kembali lagi.
Sedangkan Kiran juga masih mengulas senyumannya, sebuah senyum yang membuat hari-hari Arga selalu candu dibuatnya.
“Kau... kau menerimanya sayang?” tanya Arga memastikan.
Kiran hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian tanpa berfikir panjang Arga langsung mengambil cincin tersebut dan menyematkannya ke jari manis Kiran yang berada di sebelah tangan kiri.
Selanjutnya dengan sekali gerakan dia langsung merengkuh tubuh kekasihnya itu untuk dibawanya ke dalam pelukan yang begitu erat serta menghujani pucuk kepala Kiran dengan ciuman yang bertubi-tubi.
Rasa haru dan bahagia bercampur jadi satu. Arga benar-benar dibuat melayang saat itu juga, perasaannya ikut membuncah.
Sungguh penantian dan kesabarannya selama ini tidak berakhir sia-sia. Akhirnya Kiran menerima lamarannya.
“Terima kasih sayang, terima kasih. I really really love you Kiran Dewi Sartika,” ucapnya sambil terus menghujani Kiran dengan ciuman.
“I really love you too babe,” balas Kiran.
__ADS_1
Mereka sama-sama dirundung kebahagiaan yang luar biasa, hingga tanpa sadar buliran bening kristal sudah membasahi baju masing-masing.
Selang beberapa menit, Arga sedikit merenggangkan jarak keduanya dan sedikit memberikan kecupan sekilas di bibir ranum Kiran.
Karena mendapat serangan yang begitu mendadak, Kiran sedikit terkesiap namun kemudian dia kembali memeluk Arga dengan sangat posesif.
“Kalau pada akhirnya diterima lalu kenapa tadi memilih bucket ini, hm?” tanya Arga saat mereka sudah berada di dalam mobil untuk perjalanan pulang.
“Apakah kamu sudah lupa kalau aku sangat menyukai mawar biru?” balas Kiran sambil sedikit mengerucutkan bibir ke depan dan memeluk bucketnya dengan penuh protektif.
Arga tergelak, baru menyadari kebodohannya.
“Ahaha... aiya aku lupa sayang. Maaf-maaf, lain kali aku akan memberikan pilihan dengan bunga melati bagaimana, hm?” tanyanya bermaksud menggoda Kiran karena tahu kekasihnya itu sangat membenci bunga yang identik dengan warna putih serta bau harumnya yang terlalu menyengat.
“Lain kali?? Memangnya kamu akan melamarku lagi?” sahut Kiran.
Ah iya, kenapa aku begitu bodoh ya?
“Haha, iya jika di depan ayahmu nanti sayang.”
DEG
“Sayang??” panggil Kiran sedikit ragu.
“Iya sayang?” jawab Arga sambil terus fokus mengemudi.
“Emm... Bagaimana kalau masalah ini kita rahasiakan dulu? Aku...”
Arga memotong ucapan Kiran dan berucap sedikit tegas, karena dia sangat tahu apa yang sangat ditakutkan dan dikhawatirkan Kiran saat ini hingga berniat untuk merahasiakan hubungan mereka kembali.
Bukankah Kiran tadi sudah bersedia untuk bersama memperjuangkan cinta mereka di depan semua orang?
“Tapi aku takut ayah...”
Ucapan Kiran terhenti tatkala Arga tiba-tiba menepikan mobilnya di pinggir jalan. Setelah mobil berhenti sempurna, pria itu langsung melepas seatbelt dan berbalik menatap Kiran tajam.
“Kiran, kita belum tahu reaksi om Hendra akan seperti apa. Karena selama ini kita masih sama-sama tertutup. Kamu bahkan tidak pernah mencoba mengenalkanku dengan beliau. Apakah kau ingin hubungan kita tetap stag seperti ini? Kau tidak ingin menikah denganku? Kau tidak sudi membangun rumah tangga denganku?” cerca Arga sudah mulai kehabisan stok kesabaran.
“Bukan seperti itu sayang, aku hanya...”
“Jawab aku Kiran! Aku tidak akan memaksamu. Sebelum semuanya terlambat, kali ini pikirkan baik-baik. Mobil ini tidak akan jalan sampai kau memberi keputusan yang benar-benar kau yakini!”
Kiran diam. Nyalinya benar-benar ciut. Ini pertama kalinya Arga menunjukkan kemarahan dan ketegasannya yang bisa dikatakan tidak pernah Kiran lihat selama 8 tahun berhubungan dengannya.
Kiran melihat jalanan begitu sepi, hanya ada pohon-pohon di sebelah kanan dan kirinya. Gadis itu mengintip jam tangannya yang sudah menunjukkan puk 21.30 WIB.
Ponselnya juga lowbatt. Satu-satunya hal yang dicemaskan Kiran saat ini adalah kondisi Kinan sang adik serta ayahnya.
“Baiklah sayang aku percaya sepenuhnya kepadamu. Kita akan menghadapi bersama-sama,” kata-kata itu pun akhirnya lolos dari mulut Kiran.
__ADS_1
“Kau benar-benar yakin dengan keputusanmu ini? Sekali lagi aku tidak ingin mengulanginya Kiran.”
Meskipun sebenarnya Arga ingin langsung berjingkat dan bersorak, namun sekuat tenaga ia tahan agar Kiran tidak akan ragu lagi dengan keputusannya. Jujur saja dia juga sudah lelah menghadapi sikap over thinking kekasihnya itu.
“Aku yakin asal kau janji akan memperjuangkannya bersamaku.”
“Ya, aku janji. Sekarang kita pulang,” ucap Arga diselingi senyuman kemudian mencium punggung tangan Kiran sekilas. Setelah itu dia memakai kembali seatbeltnya dan mengemudikan mobil dengan kecepatan sedikit tinggi.
Di kediaman Hendra Adji Suratma
“Sekarang kau istirahatlah nak. Ayah masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Jangan lupa obat tadi diminum. Apa perlu ayah panggilkan mbak Nur untuk membuatkanmu susu?” ujar Hendra yang sedikit memapah putri bungsunya itu untuk menaiki tangga.
“Tidak perlu. Aku akan langsung beristirahat,” tutur Kinan begitu enggan untuk disentuh dan sedikit menepis tangan Hendra kemudian mendahuluinya di depan.
Hendra hanya mendengus pelan melihat sikap putrinya yang begitu dingin. Laki-laki paruh baya itu pun melangkah menuju kamar asisten rumah tangganya yang berada tepat di samping kamar mandi dapur.
Tok.. Tok.. Tok..
“Nur... Nur!!!” panggilnya sambil mengetuk pintu kamar mbak Nur.
Tak butuh waktu lama, pintu pun terbuka dari dalam. Terlihat mbak Nur yang mengucek matanya untuk menyesuaikan cahaya dari lampu dapur. Dia begitu terkesiap melihat sang tuan besar malam-malam begini sudah berdiri di depan kamarnya.
“I-iya tuan, ada yang bisa saya bantu?” tanya mbak Nur masih terdengar aksen medoknya.
“Kiran sudah pulang?” tanya Hendra dengan nada begitu khawatir.
“Non Kiran? Saya tidak melihatnya tuan. Sepertinya belum.”
“Bukannya anak itu tidak ke kantor hari ini?! Kau tahu dia kemana?”
“Sa-saya tidak tahu tuan. Tapi tadi sepertinya pergi dengan tuan Arga,” jawab mbak Nur ragu-ragu.
“Arga??” ucap Hendra seraya mengerutkan dahinya.
“Iya tuan. Tadi pagi tuan Arga kesini, sepertinya untuk menjenguk non Kinan. Tapi saat Dr. Frans datang, selang beberapa lama dia pergi kemudian disusul non Kiran yang masuk ke mobilnya.”
“Untuk apa mereka pergi bersama? Bukankah mereka tidak saling mengenal kecuali hubungan yang akan menjadi ipar?” kini Hendra semakin penasaran.
“Saya juga tidak tahu tuan. Emm.. ada lagi yang bisa saya bantu tuan?”
“Oh itu, tolong buatkan Kinan segelas susu dan antarkan ke kamarnya. Pastikan juga dia meminum obatnya!”
“Baik tuan.”
***
Happy Reading^^
NB : Kalau menurut kalian cerita absurd ini bagus... jangan lupa rekomendasikan ke teman, sahabat, pacar, selingkuhan, suami, istri, selir, kakek, nenek, eyang, bibi, paman, sepupu, tetangga, pak RT, pak RW, KADES, Camat, Bupati kalian yah 😍❤❤❤
__ADS_1
Salam pukpuk online dari KOKA kakak😙