
Jika kau ingin mengukur kesabaran seseorang, buatlah dia menunggu. Dengan begitu kau akan tahu seberapa sabar dia menyikapi segalanya.
-Author
“Aku kira kau tidak datang Rey, lama sekali. Hampir saja kita akan pergi.” Diara masih terus berbicara.
Reyhan tidak memperdulikan ucapan Diara, pandangannya justru terfokus pada gadis dengan cepolan rambut berbentuk bun yang saat ini tengah duduk di depannya. Mata keduanya saling bersitatap satu sama lain, pandangan Reyhan juga tidak beralih dan justru semakin menatapnya lekat. Ya, gadis itu adalah Kinan. Terlihat jelas jika Kinan sangat terkejut dengan kehadiran Reyhan diantara mereka.
“Rey.. kau dengar aku kan?” sambung Diara karena merasa Reyhan mengacuhkannya sambil melambaikan tangannya ke kanan dan kiri.
Reyhan terkesiap dan tersadar dari lamunannya. Tanpa membalas ucapan Diara, dia pun ikut bergabung dan duduk di samping Diara serta berada tepat di depan Kinan. Pandangannya tetap ke Kinan, namun kali ini Kinan tidak berani menatapnya dan memilih untuk menundukkan kepala menghindari sorot mata Reyhan yang dirasa sangat tajam seolah akan menerkamnya.
“Ehem, bukankah kau tadi mengatakan jika anak ini tidak bisa menemanimu? Lalu ini apa?” ucap Arga ke arah Diara, sedangkan anak yang dimaksud adalah Reyhan.
“Oh itu, tadi memang dia tidak bisa kak. Karena katanya ada keperluan di kampus dan sekarang mungkin urusannya sudah selesai jadi dia menyusulku di sini. Iya kan Rey?” Diara menjawab sambil tersenyum manis ke arah Reyhan.
“Hmm.” ucap Reyhan singkat dan masih menatap Kinan.
“Lalu rencana kalian selanjutnya apa?” Arga masih mencerca Diara dengan pertanyaan.
“Mmm… apa ya?? Apa Rey?” tanya Diara meminta pendapat Reyhan.
“Terserah.” Reyhan tampak sangat malas menanggapinya.
Kinan merasa jika Reyhan terus memperhatikannya, membuat posisi Kinan saat itu sangat tidak nyaman dan ingin segera pergi dari situasi yang mencekam batinnya. Berkali-kali dia merubah posisi duduknya dan mengedarkan pandangan ke sekitar, berharap Reyhan akan berhenti menatapnya. Namun bukannya beralih, Reyhan justru semakin menajamkan pandangannya. Sungguh membuat Kinan semakin resah, terlebih waktu juga semakin larut dan Kinan juga tidak mengetahui cuaca di luar seperti apa.
“Kak Ar, apakah kita tidak akan pulang?” Kinan berusaha keras mengumpulkan nyalinya untuk bertanya karena dirinya ingin segera meninggalkan tempat tersebut dan pulang ke rumah
“Kinan, untuk apasih buru-buru? Jarang-jarang kan kita bisa pergi bersama-sama seperti ini.” Diara berusaha mencegah dan menahan Kinan.
“Tapi Ra, ini sudah sangat malam. Aku tidak pernah keluar semalam ini.” Kinan semakin gusar dan terus melirik jam tangannya.
“Astaga Kinan, ini baru jam setengah 8 malam. Ehm.. bagaimana kalau kita pergi menonton dulu, baru setelah itu pulang. Bagaimana kak? Kakak juga setuju kan, yah..yah??” Diara terus memaksa dan beralih ke Arga untuk mendapatkan persetujuannya.
__ADS_1
“Boleh. Kita juga belum mendapatkan foto yang diinginkan mamaku.” jawab Arga dan mengingatkan Kinan kembali dengan tujuan awal mereka keluar.
“Tapi kak, ini sudah malam. Aku tidak terbiasa berada di luar lebih dari jam 7 malam. Aku takut ayah akan mencariku.” Kinan terus memelas, berharap Arga mau untuk segera pulang.
“Kalau kau takut karena ayahmu akan mencarimu, biar aku yang menghubungi om Hendra. Dia tidak akan khawatir jika kau bersamaku.” Arga bergegas hendak menelpon ayah Kinan, namun Kinan terus bersikukuh untuk pulang.
“Tapi kak bukan karna itu…”
“Sudahlah Kinan, kau tidak perlu takut ataupun khawatir. Ada kak Arga dan aku di sini. Lagipula ayahmu justru akan senang jika dia tahu anaknya keluar dengan calon menantunya.” Diara berusaha meyakinkan dan sedikit menggoda Kinan.
“Tunangan??” suara Reyhan tampak terkejut saat Diara menyebutkan jika Arga adalah tunangan Kinan.
“Iya Rey, oh iya maaf aku sampai lupa memberitahumu. Perkenalkan, dia ini adalah Kinan calon kakak ipar sekaligus tunangan kakak aku.” senyum Diara ikut mengembang saat memperkenalkan Kinan ke Reyhan. Sedangkan Reyhan hanya diam dan semakin menautkan sebelah alisnya ke atas.
“Ehmm.. apa kau masih belum mengenalnya? Kau sudah tiga kali bertemu dengan dia, yang pertama saat bajumu terkena tumpahan jus itu, yang kedua saat kejadian di lorong itu.. hihi, dan terakhir saat kita berada di depan ruang Bu Susi itu lho. Kau sungguh tidak mengingatnya?” sambung Diara berusaha mengingatkan kembali kejadian-kejadian saat mereka bertemu dengan Kinan tanpa sengaja.
“Sudah.” Jawab Reyhan singkat.
Reyhan terus bergumam dalam hati, pertanyaan demi pertanyaan yang menancap langsung di kepalanya seolah ingin dikeluarkannya langsung agar segera mendapat jawaban. Namun pria itu terlalu gengsi untuk sekedar bertanya perihal Arga, terlebih lagi tentang Kinan. Punya hak apa dia untuk bertanya seperti itu, rasanya Reyhan ingin sekali memukul-mukul kepalanya sendiri agar terlepas dari fikiran-fikiran tidak bermanfaat yang justru membuatnya semakin terlihat seperti orang bodoh. Alhasil dia pun hanya mengusap kasar kepalanya. Diara yang melihat tingkah Reyhan merasa bingung dengan perubahan sikap Reyhan secara tiba-tiba.
“Rey, kau kenapa? Kau tidak apa-apa kan?” tanya Diara memastikan, bahkan Arga dan Kinan juga ikut menoleh ke arah Reyhan. Reyhan nampak terkesiap melihat mereka tiba-tiba memandanginya, namun sejurus kemudian dia langsung mengalihkan pembicaraan.
“Tidak. Bagaimana? Apakah jadi menonton?” tanya Reyhan berusaha menutupinya.
“Oh iya, bagaimana Kin? Kau mau kan? Ya??? Sekali saja..” Diara beralih dan membujuk Kinan, tampak jelas raut wajahnya begitu memelas.
“Emm.. bagaimana ya?” Kinan nampak berfikir.
“Di luar hujan deras dan banyak kilatan petir, apakah kau masih ingin pulang?” sahut Reyhan yang tidak sabar karena Kinan kebanyakan berfikir.
“Benarkah Rey? Lalu kenapa kamu tidak basah sama sekali ini?” ucap Diara yang memang tidak melihat baju ataupun tubuh Reyhan basah.
“Itu karena aku pakai mobil, dan mobilnya aku parkir di basement lalu aku kesini menggunakan lift.” ucap Reyhan menjelaskan.
__ADS_1
“Ooh begitu.. jadi bagaimana Kin? Mau kan? Akan sangat membahayakan jika berkendara saat hujan deras, ditambah lagi banyak petir kata Reyhan.” desak Diara.
“Baiklah.” akhirnya Kinan pun mengalah dan memilih untuk ikut, meskipun dia harus memaksakan dirinya sendiri untuk tetap tenang.
Mereka berempat pun pergi menuju ke bioskop yang berada di lantai 4 mall tersebut. Sesampainya di depan pintu bioskop Diara bergegas menarik tangan Arga untuk ikut membeli tiket serta popcorn. Alasannya tidak lain tidak bukan adalah agar acara menonton hari ini di traktir sang kakak yang notabennya akan melangsungkan pertunangan dengan Kinan.
Itung-itung PL alias Pajak Lamaran.
Begitu mungkin pikir Diara dalam hati. Dia pun dengan semangat menarik paksa tangan Arga agar mau mengikutinya, Arga hanya mendengus namun tetap mengikuti kemauan adiknya dan berjalan di belakangnya.
Sementara itu, Kinan dan Reyhan menunggu di pinggir pintu masuk pas sambil sesekali melihat orang-orang yang hilir mudik berjalan keluar masuk bioskop. Suasana begitu canggung diantara keduanya, terlebih setelah kepergian Diara dan Arga tadi semakin menambah kikuk tingkah keduanya.
“Kenapa kau tidak datang?” suara Reyhan tiba-tiba memecah keheningan diantara mereka.
“Maksudnya?” tanya Kinan masih tidak faham.
“Kau lupa dengan ucapanku kemarin? Aku bahkan juga mengirimimu pesan pagi tadi.” Reyhan berangsut seakan ingin meminta pertanggung jawaban.
“Ehmm.. itu. Tidak apa-apa, aku hanya sedang tidak bisa.”
“Tidak bisa karena kau sibuk dengan tunanganmu?” Reyhan menarik sedikit ujung bibirnya hingga membentuk senyum smirk yang begitu menakutkan.
“Apa maksudmu bicara seperti itu?” Kinan merasa sedikit tersinggung dengan ucapan Reyhan barusan.
“Aku peringatkan! Aku paling tidak suka menunggu. Kau tahu aku tadi menunggumu selama 4 jam? Selama ini hal yang membuatku menunggu lama hanya ada dua, dan kejadian tadi adalah salah satunya.” Reyhan menajamkan tatapannya ke arah Kinan.
Kinan tampak terkejut saat tahu ternyata Reyhan sudah menunggunya di perpustakaan kampus selama 4 jam. Mereka saling bertatapan, sangat lama hingga tidak sadar ternyata ada yang memperhatikan gerak gerik keduanya sedari tadi.
***
HAPPY READING👀
Beri like, vote, saran serta kritikan agar Author semakin bersemangat💕
__ADS_1