SKIP

SKIP
PART 22


__ADS_3

Air akan tetap tenang ketika ia tak mendapatkan hantaman dari benda lain. Namun air akan berubah riuh saat sesuatu menghantam keras ke arahnya.


-Farikakoka


“Kinan tunggu ayah nak!!!” panggil Hendra.


Semua orang mencoba untuk mengejar Kinan. Namun sayang, tubuh Kinan sudah lebih dulu menghilang saat langkah kakinya juga dipercepat tatkala meninggalkan pelataran rumah keluarga Dandi.


Tak butuh berfikir panjang, Hendra pun langsung mengajak Dr. Frans untuk menyusul Kinan menggunakan mobil Dr. Frans karena sebelumnya dia sendiri menaiki taxi saat menuju rumah Dandi.


Bukan hanya Hendra dan Dr. Frans, Arga dan Reyhan juga hendak menyusul Kinan dengan mobil mereka masing-masing.


Namun, langkah keduanya terhenti tatkala suara Hendra begitu menggelegar dan tubuhnya tertahan saat akan memasuki mobil. Tatapannya tajam seperti seekor harimau yang hendak menerkam mangsanya.


“Kau!! Jangan sekali-kali kau menemui putriku lagi atau kau akan tahu akibatnya!!!” ancam Hendra dengan menunjuk jari telunjuknya ke arah Reyhan.


Hendra kemudian memasuki mobil dan menyuruh Dr. Frans untuk memacu mobilnya dengan kecepatan penuh hingga sekejap mobil itu pun sudah tidak terlihat lagi dari pelataran rumah mewah itu.


Seolah tidak memperdulikan ancaman dari ayah mantan kekasihnya itu, Reyhan tetap berjalan ke arah kursi kemudi mobilnya. Namun saat hendak membuka pintunya, tangan Reyhan tiba-tiba ditahan oleh Diara yang sudah berdiri di sampingnya.


“Rey… kamu tidak dengar apa kata om Hendra tadi?” ucap Diara sambil memegang pergelangan tangan Reyhan.


“Minggirlah, biarkan aku masuk!” jawab Reyhan dengan sedikit menyingkirkan tangan Diara namun tidak menyakitinya.


“Tidak Rey… ini sudah tugasku. Kamu tunanganku. Masalah Kinan biar kak Arga yang menyusulnya.”


Reyhan sejenak diam sembari menatap Diara dan Arga yang sudah lebih dulu memasuki mobilnya dan memacu dengan kecepatan sedang.


Namun sejurus kemudian laki-laki itu justru menyunggingkan sedikit ujung bibirnya hingga membentuk senyum smirk lalu membuka pintu mobilnya dengan sedikit keras hingga membuat Diara sedikit terlonjak kaget.


“Jangan halangi aku. Masalah apa yang terjadi tadi akan ku jelaskan semua jika waktunya sudah tepat. Salamkan permintaan maafku untuk papa dan mamamu,” kali ini Reyhan benar-benar memacu mobilnya dan meninggalkan rumah itu mengikuti mobil Arga.


“Reyhann!!!!!” Diara berteriak sekencang mungkin, namun tetap tidak mendapat perhatian dari pria yang sudah berstatus sebagai tunangannya itu.


“Sayang sudah, biarkan. Kita masuk dulu ke dalam,” ucap Desi yang sudah berdiri di samping Diara dan mengajak putri satu-satunya itu untuk masuk ke dalam rumah.


“Tapi Ma… Reyhan???” tolak Diara.


“Biarkan dia nak, sekarang kita masuk dulu. Besok papa akan mencoba bertemu dengan om Alan,” sahut Dandi sambil berlalu masuk ke dalam rumah.


Diara menatap nanar gerbang rumah yang masih terbuka lebar, raut wajahnya nampak begitu kecewa. Pandangannya kosong, mencoba menerka-nerka.


Apakah ini jawaban atas sikap Reyhan selama ini.Benarkah jika Reyhan masih belum bisa melupakan Kinan yang ternyata adalah mantan kekasihnya?


Pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus memenuhi fikiran Diara.


💢💢💢


“Dek, kamu kenapa?” tanya Kiran yang sebelumnya duduk santai di sofa ruang tamu langsung menghampiri Kinan yang baru saja membuka pintu dengan sedikit sempoyongan, wajahnya pun terlihat begitu pucat.


“Kak, tolong bayarkan taxi di depan. Aku tidak membawa tas dan dompetku,” ucap Kinan tidak peduli dengan pertanyaan Kiran.

__ADS_1


“Iya dek, tapi kamu ini kenapa? Apa terjadi sesuatu?” Kiran bertanya lagi dengan penu kekhawatiran.


“Aku lelah kak, aku ingin istirahat. Tolong jangan membiarkan siapapun menggangguku nanti terutama ayah,” dengan sedikit penekanan Kinan kemudian berjalan perlahan menuju kamarnya.


Langkah Kinan terhenti tatkala dia sudah sampai di depan pintu kamarnya. Gadis bertubuh mungil itu lalu memegang gagang pintu dan membukanya secara perlahan. Kepalanya masih terasa pusing sehingga ia pun memutuskan untuk segera menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.


Sedangkan di ruang tamu Kiran yang hendak mengikuti Kinan tiba-tiba melonjak kaget dan segera membalikkan badannya ketika suara pintu di dorong kuat dari arah luar.


“Kiran, apakah adikmu sudah pulang?” Hendra berucap dengan nada penuh desakan.


“Sudah ayah, baru saja dia sampai. Ada apa Yah? Apakah sesuatu terjadi ke Kinan?” tanya Kiran begitu cemas.


“Nanti akan ayah ceritakan, sekarang ayah akan ke kamar Kinan dulu.”


“Tapi ayah, Kinan tadi berpesan untuk jangan mengganggunya. Termasuk ayah sekalipun,” cegah Kiran.


“Ayah ini orang tua kalian, bukan orang lain.”


“Kiran tahu ayah, tapi biarkan Kinan beristirahat terlebih dahulu. Tadi saat pulang Kinan juga terlihat kelelahan dan tidak sedang baik-baik saja. Jika ayah ingin berbicara dengannya sekarang, itu justru akan mempeburuk suasana hatinya. Kiran mohon mengertilah sekali ini saja,” tutur Kiran berusaha merayu ayahnya yang memang sangat keras kepala.


Hendra hanya diam, dengan sekali gerakan dia langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa yang berada tepat di sampingnya.


Tangan kanannya memijat pelan pelipisnya yang terasa berkedut, sedangkan matanya ikut terpejam tatkala gerakan itu perlahan sedikit menenangkannya.


Kiran yang masih tampak bingung segera mendudukkan diri di samping ayahnya. Wanita yang berstatus sebagai kakak Kinan itu pun ingin memastikan lebih keadaan Kinan dan apa yang sebenarnya terjadi dengan adik satu-satunya itu.


“Ayah…” panggil Kiran pelan.


“Ayah, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Kinan tiba-tiba seperti itu? Apakah traumanya kembali lagi?” tanya Kiran lagi.


“Kiran…” ucap Hendra.


“Iya ayah??” sahut Kiran.


“Apakah selama ini kau tahu dengan siapa saja adikmu bergaul sejak kejadian itu?”


“Kiran tidak begitu tahu ayah, yang Kiran tahu sejak saat itu Kinan jadi jauh lebih pendiam dan suka mengurung diri di kamar. Teman saja Kinan hanya memiliki Kevin, bukankah ayah juga sudah tahu itu? Memangnya ada apa Yah?”


“Kau juga tidak tahu jika si br*ngs*k itu berusaha mendekati Kinan lagi?”


“Si br*ngs*k siapa maksud ayah?” tanya Kiran tidak mengerti.


“AKSA!! Kau sungguh tidak tahu!??” jawab Hendra dengan penuh penekanan.


“Aa-apa??? A-aksa??? Maksud ayah Reyhan Aksa Pradana?” sahut Kiran dengan begitu terkejut.


“Ya. Pria yang pernah menjalin hubungan dengan Kinan.”


“B-bagaimana bisa ayah? Bukankah dia berada di luar negeri?”


“Kau sungguh tidak tahu masalah ini atau kau sengaja menutupinya dari ayah Kiran?” selidik Hendra.

__ADS_1


“Ayah, Kiran benar-benar tidak tahu masalah ini. Kita semua kan tahu jika setelah kejadian itu Aksa langsung dipindahkan ke luar negeri oleh om Alan dan dia juga tidak memiliki kesempatan untuk menemui Kinan lagi.”


“Kau benar. Lalu bagaimana bisa anak itu berhubungan lagi dengan Kinan?”


“Maksud ayah… Kinan dan Aksa kembali berpacaran?” tanya Kiran seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


“Tidak akan!!” tukas Hendra.


“Lalu??” lanjut Kiran seraya mengernyitkan dahinya tanda tidak mengerti.


“Anak br*ngs*k itu sekarang adalah tunangan adik Arga, calon menantu keluarga Dandi Atmaja,” jawab Hendra dengan nada berapi-api.


“APA????”


“Lihatlah, kau saja tidak percaya. Awalnya ayah juga sama sekali tidak ingin mempercayai hal konyol seperti itu, tapi itu memang benar adanya karena ayah sudah melihat dengan mata kepala sendiri.”


“Lalu jika benar mereka memang sudah saling bertemu sebelumnya kenapa Kinan tidak pernah mengeluhkan sesuatu dan masih bersikap biasa-biasa saja? Mungkinkah Kinan sudah melupakan masa lalunya? Bukankah itu baik Yah, karena secara tidak langsung Kinan juga sudah melupakan trauma itu.”


“Tidak. Itu tetap tidak baik. Ayah tidak akan mengizinkan Kinan bertemu apalagi berhubungan lagi dengan anak br*ngs*k itu, sampai kapanpun!!!” seru Hendra.


“Tenang ayah. Ingat kondisi jantung ayah. Kenapa ayah begitu khawatir? Bukankah ayah sendiri yang bilang jika Aksa sekarang sudah memiliki tunangan?”


“Tetap saja Kiran, mereka itu hubungan dekat. Ayah tidak bisa biarkan itu. Kau sangat jelas tahu bagaimana anak br*ngs*k itu dulu mempertahankan adikmu.”


“Kiran sangat tahu ayah. Tapi itu kan dulu, itu sudah menjadi masa lalu mereka dan sekarang mereka juga sudah memiliki masa depan masing-masing. Pertunangan Kinan dan Arga juga sebentar lagi, apakah ayah masih tetap mengkhawatirkan itu?” bibir Kiran sedikit bergetar saat menyebut kata pertunangan Kinan dan Arga, karena memang gadis berusia 29 tahun itu belum sepenuhnya melupakan perasaannya sendiri.


“Ayah berencana akan membatalkan pertunangan Kinan jika Dandi tidak bisa membatalkan pertunangan putrinya dengan si br*ngs*k itu,” ucap Hendra penuh penekanan.


“Ayah!!! Apa maksud ayah bicara seperti itu?” dengan spontan Kiran sedikit menaikkan nada bicaranya karena merasa keberatan dengan keputusan sang ayah.


“Kenapa? Apakah ayah salah? Ayah hanya ingin melindungi putri ayah dari pria tak bertanggung jawab itu!!”


“Tapi Yah.. bukan seperti ini caranya. Tolong fikirkan baik-baik, jangan mudah memutuskannya dengan keadaan emosi. Ini juga akan berimbas pada hubungan ayah dan om Dandi.”


“Nak.. ayah tidak peduli masalah itu. Yang ayah pedulikan sekarang adalah kebahagiaan putri-putri ayah.”


“Kiran tahu Yah, tapi…”


“Sudahlah Kiran, ayah tidak ingin berdebat lagi. Ayah lelah dan ingin beristirahat, kau istirahatlah juga,” titah Hendra mengakhiri perdebatan malam itu.


Kiran hanya diam tak mampu menyanggah ucapan ayahnya lagi. Dia tahu betul jika kehendak sang ayah tidak bisa ditentang, terlebih jika sudah memutuskan suatu hal maka itu tidak akan pernah bisa diganggu gugat.


Perlahan Kiran beringsut mendudukkan tubuhnya kembali ke sofa sambil kedua tangan yang mengusap kasar wajahnya.


Dek, kenapa masalah selalu bertubi-tubi menghujanimu? Kapan kau akan bahagia kembali seperti dulu Kinan?


***


HAPPY READING^^


🍁🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Yeayyy.... akhirnya setelah sekian purnama😭


__ADS_2