SKIP

SKIP
PART 24


__ADS_3

Aku tahu kau tidak baik-baik saja. Tak perlu kau mengatakannya. Aku sudah merasakannya. Beginilah hati. Tanpa pernah kau sentuh, namun dengan bodohnya aku telah jatuh terjerembap ke dalamnya.


-Kevin Fardiko


Tring... Tring... Tring...


Suara dering telepon rumah dari atas nakas samping tempat tidur begitu mengganggu pendengaran Kinan, namun ia begitu enggan untuk mengangkatnya. Dibiarkannya telepon tersebut terus berdering.


Tring... Tring... Tring...


Telepon itu masih saja berdering hingga membuat Kinan begitu jengah, mau tidak mau Kinan memaksakan diri untuk segera mengangkat dan mengetahui siapa penelpon yang membuatnya jengkel di pagi hari.


“Halo...” ucap Kinan saat panggilan baru saja tersambung.


“Kia.. ini aku Kevin,” sahut si penelepon yang ternyata adalah Kevin sahabatnya.


“Iya Vin, ada apa kau menelponku pagi-pagi seperti ini?” ucap Kinan yang sedikit kesal karena awalnya mengira panggilan itu penting.


“Kia!!?? Ki… kau tidak apa-apa kan Ki???” ucap Kevin terlihat begitu khawatir dari balik teleponnya.


“Iya, aku baik-baik saja. Kenapa?”


“Oh God!! syukurlah kalau kau baik-baik saja. Aku sangat mencemaskanmu Ki.”


Kinan sejenak diam, memikirkan kembali keadaan dirinya yang sejujurnya sangat jauh dari kata baik. Namun kembali lagi, dia tidak ingin merepotkan semua orang termasuk Kevin yang ia anggap sebagai sahabat.


Kinan tahu betul jika dia memberitahu keadaannya yang sebenarnya, sudah bisa dipastikan Kevin akan begitu heboh dan membuat keributan yang tidak bisa ia duga.


Kinan mencoba mengatur nafas pelan agar tidak menimbulkan kecurigaan di pendengaran sahabatnya itu. “Tidak usah mencemaskanku Vin, seperti yang kau dengar sekarang. Aku baik-baik saja.”


“Lalu kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi Ki?”


DEGG


Kinan baru tersadar jika ponselnya tidak ada, dia baru teringat kejadian di kolam renang rumah Diara kemarin. Sudah jelas jika ponsel tersebut pasti telah rusak karena terjatuh ke dasar kolam, dia juga tidak bisa menemui keberaaannya sekarang. Entahlah, mungkin Kinan harus merelakan ponsel satu-satunya itu.


“Emm... ponselku rusak Vin. Nanti baru akan aku cek ke Counter Hp, ” jawab Kinan sedikit terbata.


“Rusak?? Bagaimana bisa Ki? Bukankah belum ada 3 bulan kau membelinya?” cerca Kevin yang memang tahu jika ponsel itu baru saja dibeli Kinan, bahkan Kevin jelas-jelas juga ikut menemani Kinan berkeliling ke beberapa Counter Handphone kala itu.


Astaga iya, aku lupa kalau Kevin yang menemaniku membeli Hp waktu itu. Ah, kau memang sungguh payah dalam berbohong Kinan.


Kinan kembali diam, tidak tahu harus menjawab apa ke Kevin yang memang sangat lihai menebak isi hati Kinan bahkan tanpa bersitatap langsung sekalipun. Kinan akui bahwa dirinya memang gadis paling bodoh dalam membuat kebohongan.


“Kia??? Kau dengar aku kan Ki????” sambung Kevin kembali.


“I-iya aku dengar kok Vin.”

__ADS_1


“Kenapa kau diam Ki? Apakah ada yang kau sembunyikan dariku?” kini Kevin semakin curiga dengan suara Kinan yang terdengar terbata-bata dan seolah begitu takut.


“Ee.. itu.. tidak Vin. Ponselku sungguh rusak, kemarin tidak sengaja waktu aku menuruni tangga tiba-tiba saja itu terlepas dari genggamanku dan layarnya langsung mati,” terang Kinan berusaha meyakinkan.


“Dari tangga??? Kau jatuh dari tangga Ki? Kau ada di mana sekarang? Aku akan kesana,” bukannya tambah tenang kebohongan Kinan justru membuatnya semakin kelabakan karena harus menghadapi sikap Kevin yang begitu over protective kepadanya.


“Kevin, dengar!! Aku tidak jatuh dari tangga Vin, tapi ponselku yang tidak sengaja jatuh dari genggaman tanganku. Bukan tubuhku yang jatuh, kau jangan berlebihan deh Vin.”


“Oh begitu, hehe.. baiklah. Kalau begitu nanti aku akan ke rumahmu, kita pergi ke Counter Hp sama-sama.”


Mata Kinan terbelalak mendengar ucapan Kevin yang mengatakan hendak menyusulnya untuk pergi ke Counter Handphone sama-sama. Gadis itu benar-benar kehabisan kata-kata jika harus menghadapi sikap Kevin dengan segala tingkah berlebihannya.


“Eh tidak usah Vin, aku bisa sendiri. Sungguh, jangan mencemaskanku oke.”


“Tidak Ki, lagian waktuku lenggang hari ini. Aku bosan dan juga ingin keluar bersamamu.”


“Tapi Vin...” suara Kinan tercekat dalam tenggorokan.


“Tidak ada tapi-tapi. Setengah jam lagi aku sampai di rumahmu, kau bersiap-siaplah dari sekarang,” ujar Kevin kemudian menutup panggilan.


Kinan memundurkan sedikit gagang telepon dari telinganya kemudian meletakkan gagang telepon tersebut pada tempatnya kembali.


“Aishh.. dasar Kevin drama king, selalu saja berlebihan. Huhf, lalu bagaimana jika dia tahu aku berbohong? Ah sudahlah, terserah. Aku sangat malas menemui siapapun,” ucapnya sendiri kemudian menarik selimut sampai menutupi seluruh badannya.


💢💢💢


Sementara di sisi lain rumah itu, Kiran terus berkutat dengan alat-alat dapur serta beberapa bahan yang dibutuhkan untuk membuat bubur. Ya, kali ini dia akan membuatkan bubur sum-sum untuk adik kesayangannya yang masih saja mengurung diri di kamar.


Bukan hanya itu, dengan teksturnya yang lembut bubur sum-sum juga sangat efektif dikonsumsi bagi para penderita maag atau asam lambung.


“Yess.. akhirnya selesai juga,” ujar Kiran saat dirasa bubur buatannya tersebut telah matang dan siap disajikan.


Ting tong...


Bunyi bel dari arah depan terdengar begitu nyaring hingga masuk ke pendengaran Kiran yang masih berada di dapur. Kiran masih tak mengindahkan suara tersebut, dia masih sibuk memindahkan bubur serta kuahnya itu ke dalam wadah terpisah yang telah disiapkan sebelumnya.


Ting tong... (2x)


Seolah tak memperdulikan kesibukan penghuni di dalamnya, bel itu terus menerus ditekan oleh seseorang dari arah luar. Kinan menoleh setelah meletakkan bubur buatannya itu di atas meja, dengan celemek yang masih menempel di badan dia pun berlalu meninggalkan dapur menuju ruang tamu.


Ceklek


Suara itu terdengar ketika pintu dibuka dari arah dalam oleh penghuninya. Terlihat sosok pria dengan alis tebal yang kini telah berdiri sambil mengulas senyumnya di depan pintu.


“Kevin!!” seru Kiran saat melihat sahabat adiknya itu kini telah berdiri di depannya.


“Hai kak Kiran, iya ini aku Kevin. Kinan nya ada kak?” sahut Kevin saat mendapati Kiran yang sedikit terkejut dengan kehadirannya.

__ADS_1


“Ayo masuk... iya, Kinan ada di kamar. Tumben kesini pagi-pagi? Ada apa?” tanya Kiran kemudian mempersilahkan Kevin untuk duduk.


“Iya, mau nganter Kinan ke Counter Hp kak. Katanya ponsel dia rusak ya kemarin karena jatuh dari tangga?!” ucap Kevin sedikit memastikan.


“Ha.. jatuh dari tangga?” Kiran sedikit terkejut mendengar pernyataan Kevin. Pasalnya kemarin dia sama sekali tidak melihat Kinan di rumah, justru dia mendapati adiknya itu pulang malam dengan kondisi yang sangat menyedihkan.


“Iya kak. Loh bukannya kak Kiran sudah tahu ya?” ucap Kevin seraya mengendikkan bahu karena curiga dengan respon Kiran.


Kiran sedikit bingung harus menjawab seperti apa, mengingat dia juga tahu sikap Kevin yang sangat berlebihan jika menyangkut soal Kinan. “Emm itu.. oh ya, kamu sudah sarapan?” jawabnya berusaha mengalihkan pembicaraan.


“Belum kak, ini sekalian ingin ngajak Kinan sarapan di luar.”


“Emm begini Vin, sepertinya Kinan tidak bisa pergi sekarang.”


“Loh kenapa kak? Tadi aku sudah telfon Kinan sebelumnya, dan dia juga diam saja waktu aku bilang akan kesini.”


“I-iya itu... Kinan mau aku ajak keluar nanti,” balas Kiran mengelak.


“Sekalian saja kalau begitu kak, aku akan antarkan kak Kiran juga,” sahut Kevin bersemangat.


“Eh itu, jangan Vin nanti merepotkanmu.”


“Tidak apa-apa kak, aku tidak merasa direpotkan. Justru aku senang bisa pergi dengan kalian.”


Kiran benar-benar sudah kehabisan akal menghadapi sahabat adiknya yang satu ini, Kevin benar-benar kekeh ingin bertemu dengan Kinan. Sedangkan Kiran juga tidak ingin jika keadaan adiknya itu akan diketahui orang lain, sekalipun itu sahabat Kinan sendiri.


Baginya tidak boleh ada yang tahu masa lalu Kinan selain keluarganya dan keluarga Aksa, karena itu akan membuat adiknya terus terbayang-bayang kisah masa lalu yang dirasa sangat pahit dan menyakitkan bagi Kinan.


Mana mungkin kakak akan memberitahukan keadaanmu yang sekarang dek. Kakak tahu, kau tidak akan suka itu. Terlebih jika kakak mengatakannya ke Kevin, kau pasti akan sangat marah kan Kinan?


Satu tahun ini Kiran sudah cukup senang karena Dr. Frans selaku dokter pribadi Kinan menyatakan bahwa adiknya itu telah sembuh atas trauma masa lalunya.


Namun melihat keadaan Kinan tadi malam, Kiran salah besar jika mengira trauma itu benar-benar sudah hilang dari diri adiknya.


“Kak Kiran, kau tidak apa-apa kan kak?” sambung Kevin.


“Ha, i-iya Vin. Aku tidak apa-apa kok,” sahut Kiran gelagapan.


“Tidak ada yang coba kakak sembunyikan tentang Kinan ke aku kan kak?” selidik Kevin, merasa tingkah kakak sahabatnya itu sedikit aneh.


Kiran terperangah, namun dengan spontan dia langsung menepis ucapan Kevin. “Tidak Vin, kau ini bicara apa.”


“Kak Kiran yakin?” tanya Kevin kembali, dia merasa ada yang tidak beres di sini.


“Iya Vin, emm... kalau begitu kakak tinggal dulu ke kamar Kinan. Kau tunggu dulu di sini,” Kiran segera beranjak meninggalkan Kevin di ruang tamu sendirian.


Aishh... harus alasan apa lagi dengan anak ini? Kevin benar-benar tidak bisa dicegah jika menyangkut persoalan Kinan. Ah, memang sulit jika menghadapi masalah hati dan perasaan.

__ADS_1


***


HAPPY READING^^


__ADS_2