SKIP

SKIP
PART 26


__ADS_3

Hidup memang tak melulu soal hal-hal yang berbau manis. Bahkan kenyataan pahit pun mau tak mau harus mampu kita terima untuk memenuhi warna-warni kehidupan serta pembelajaran lebih baik ke depan.


-Farikakoka


Hampir saja kepalan tangan itu melayang dan menyapa wajah Reyhan, namun suara pecahan yang begitu keras tiba-tiba saja terdengar dari lantai dua.


Prangg


Tanpa basa-basi Kiran serta para pria yang masih bersitegang itu langsung bergegas menuju lantai dua. Begitupun dengan Arga yang sebelumnya sudah memasang muka bringas seketika langsung berubah dan segera mengikuti di belakang.


Sesampainya mereka di lantai dua, Kiran langsung memekik hebat melihat apa yang ada di depannya.


“Kinan!!!”


Terlihat Kinan yang sudah tergeletak di lantai depan lemari buku bersama pecahan vigura dan sebuah kotak dengan isi yang sudah berhamburan memenuhi kamarnya.


Mereka begitu terkesiap, kemudian tanpa aba-aba Reyhan langsung menerobos masuk melewati Kiran dan mengangkat Kinan ke tempat tidur.


“Dek kau kenapa?? Kinan bangun!!! Hiks.. Hiks..” ucap Kiran yang terus terisak.


“Lebih baik hubungi dokter pribadinya sekarang daripada kondisinya akan semakin memburuk,” titah Reyhan yang tak kalah khawatirnya.


Dengan buru-buru Kiran langsung merogoh sakunya untuk mencari benda pipih yang selalu menempel padanya. Jarinya dengan lincah menggulir nama kontak yang ada di sana, tidak butuh waktu lama nama Dr. Frans langsung terhubung dalam panggilannya.


Setelah menyelesaikan panggilannya Kiran juga ikut mendudukkan dirinya di tepi ranjang tempat tidur Kinan sambil sesekali membelai rambut adik kesayangannya itu.


“Dek, kamu yang kuat ya. Kakak akan selalu berdoa untukmu.”


“Lebih baik kita keluar dulu Raf,” ajak Reyhan ke temannya yang sedari tadi ikut berdiri di sampingnya. Laki-laki yang sering disapa Rafa itu pun menganggukkan kepala dan ikut mengekori Reyhan di belakangnya.

__ADS_1


“Sebenarnya apa maumu Reyhan?!” ucap Arga yang ternyata juga mengikuti Reyhan hingga keluar kamar.


“Ada apa?” jawab Reyhan datar.


“Bukankah kemarin om Hendra sudah memperingatimu untuk jangan menemui Kinan lagi? Kinan itu masa lalumu. Lupakan dia, biarkan dia bahagia.”


“Itu tidak ada urusannya denganmu!!”


“Kau...” kedua tangan Arga sudah mencengkeram kerah baju Reyhan seraya memberikan tatapan membunuh. “Aku peringatkan sekali lagi. Jangan sekali-kali kau menyakiti Diara!! Jika kau berani macam-macam dengannya akan ku pastikan kau akan menyesal,” ancamnya.


“Tolong tahan emosi, kita bisa bicarakan ini baik-baik,” ucap Rafa yang berusaha melerainya.


“Siapa kau? Ini tidak ada urusannya denganmu. Jangan ikut campur!!” hardik Arga.


“Jangan menyalahkannya. Justru dia satu-satunya orang yang tahu segalanya,” sahut Reyhan kemudian melepaskan cengkraman tangan Arga dari kerah bajunya.


“Kau jangan pernah bermain-main dengan keluargaku!!!” ancam Arga.


Arga benar-benar merasakan luapan emosi kini sudah berada di puncak kepalanya. Bahkan urat-urat di sekitar rahang dan telapak tangannya sudah sangat jelas terlihat. Satu kepalan dari tangan kanannya hendak ia layangkan ke Reyhan namun segera ditahan Rafa.


Saat Reyhan dan Arga masih bersitegang, Dr. Frans tiba-tiba muncul dari arah tangga dan langsung menghentikan keduanya.


Tanpa menyapa ketiga pria di depannya, Dr. Frans langsung menyelonong masuk ke kamar Kinan dengan langkah cepat serta tatapan yang tak bisa diartikan. Langkahnya pun diikuti Reyhan, Arga, serta Rafa yang mengekor di belakangnya..


“Sudah saya peringatkan berkali-kali! Tolong jaga ketenangan di sekitar nona Kinan!! Jangan membuat keributan bahkan sekecil apapun itu! Saat ini mental health nona Kinan tengah terguncang hebat. Saya belum bisa memutuskan, tapi saya bisa memastikan jika perlahan ingatan masa lalunya telah kembali. Kondisi ini sangat rentan dan bisa berbahaya, mengingat kemampuan otaknya juga belum bisa berfungsi secara sempurna. Dalam keadaan seperti sekarang ini, seharusnya kalian sebagai orang-orang terdekatnya dapat memberikan support yang lebih. Bukan malah meninggikan ego dan saling menyalahkan satu sama lain!!” ujar Dr. Frans panjang lebar sambil memberikan tekanan di setiap kalimatnya.


“A-apa maksud dokter???” tanya Kiran terbata.


“Apakah nona masih tidak mengerti juga? Selain traumatic yang dialami nona Kinan, selama ini dia juga mengalami amnesia!!!”

__ADS_1


DUARR


Satu pernyataan yang berhasil lolos dari mulut Dr. Frans mampu membuat semua orang yang berada di sana begitu terkesiap, tak terkecuali Kiran yang selama ini tinggal bersama Kinan namun sedikitpun tidak mengetahui sebuah fakta penting tentang sang adik.


Jantungnya terasa mencelos, tubuhnya ikut limbung, bahkan pendengaran dan penglihatannya dalam sekejap seolah tak berfungsi kembali. Kiran hendak pingsan, namun sebisa mungkin ia tetap mempertahankan kesadarannya.


“Maksud dokter apa mengatakan adik saya amnesia?? Tolong jelaskan dok!!!” ucapnya disertai isakan yang tak bisa ia tahan lagi.


Dr. Frans ikut terkejut dengan apa yang diucapkannya barusan, dia benar-benar merutuki mulutnya sendiri karena sudah membeberkan rahasia besar itu. Dirinya benar-benar frustasi dengan keadaan Kinan yang tidak kunjung menemui kemajuan selama 6 tahun ini.


Bahkan vonis sembuh yang diutarakannya setahun lalu hanya ditujukan pada kondisi mental health Kinan yang sudah tidak menunjukkan gejala-gejala seperti sebelumnya. Namun ternyata dia salah, pasiennya itu belum sembuh. Atau bahkan tidak bisa sembuh?


“Maaf, sejujurnya ini bukan sesuatu hal yang harus saya ceritakan. Rahasia ini terjalin hanya antara saya dan tuan Hendra. Namun karena dua kali ini saya menemui kondisi nona Kinan yang selalu tidak sadarkan diri, ditambah lagi dengan perseteruan yang selalu saya temui tiap kali hendak memeriksanya, saya kira saya harus mengatakan yang sebenarnya kepada kalian,” ucap Dr. Frans seraya menatap mereka satu persatu.


“Semua tentang kondisi nonan Kinan. Tanpa terkecuali,” tambahnya.


Semua orang masih diam, menunggu Dr. Frans memulai penjelasannya. Tidak ada yang ingin menyela ataupun memotong pembicaraan dokter pribadi Kinan selama 6 tahun itu. Dr. Frans menarik nafas panjang dan bersiap-siap untuk menceritakannya.


“Mungkin kalian sudah tahu jika selama 6 tahun terakhir ini saya sudah menjadi dokter pribadi nona Kinan dan ditunjuk langsung oleh tuan Hendra. Bukan tanpa alasan beliau mempercayakannya pada saya. Saya sebenarnya seorang dokter spesialis bedah syaraf yang kebetulan juga banyak mempelajari ilmu tentang mental health seseorang...” Dr. Frans sedikit menjeda kalimatnya.


“Saat itu kondisi nona Kinan sangat kritis, bahkan para dokter juga tidak yakin jika nyawanya akan tertolong. Pihak Rumah Sakit pun memutuskan untuk mengambil tindakan operasi dengan menugaskan beberapa dokter spesialis dalam prosesnya, termasuk saya salah satunya. Selama hampir 10 jam kami berperang peluh dengan alat-alat bedah, akhirnya operasi itu pun berhasil. Namun kendala lain menghampiri, karena nona Kinan tidak kunjung menunjukkan tanda-tanda untuk sadar. Dia mengalami koma selama hampir satu bulan. Singkat cerita setelah nona Kinan sadar, saya merasa ada sesuatu yang aneh meskipun kelihatannya baik-baik saja...” lagi-lagi Dr. Frans menjeda ucapannya, kali ini dia bahkan membuang nafasnya dengan sangat kasar.


“Setelah beberapa pemeriksaan lanjutan, saya berkesimpulan bahwa nona Kinan telah mengalami amnesia parsial dan traumatic yang cukup serius. Kondisi ini sangat berbahaya jika nona Kinan dalam kondisi mental down dan tekanan terus-terusan menghampirinya.”


Dr. Frans menghentikan ucapannya dan memandangi Kiran yang semakin hanyut dalam isakan. “Saya minta maaf karena sudah merahasiakan hal ini kepada nona. Awalnya saya berfikir akan lebih baik jika pihak keluarga tahu semua, tapi tuan Hendra melarangnya.”


“Jadi ayah sudah tahu semua?? Dan selama ini aku hanya diberitahu bahwa Kinan hanya mengalami trauma biasa. Tapi kenapa??? Kenapa ayah menyembunyikannya dariku?? Hiks.. Hiks.. Hiks,” tangis Kiran semakin pecah tatkala mengetahui bahwa sang ayah telah membohonginya.


***

__ADS_1


HAPPY READING^^


see you on monday🍁


__ADS_2