SKIP

SKIP
PART 14


__ADS_3

Tanda tanya besar menyelimutiku. Kupaksakan untuk bertanya, namun tak kunjung ku temukan jawabnya. Baiklah, akan aku tunggu sampai waktu itu benar-benar tepat. Tak apa, untuk sementara aku akan menahannya.


-Kinan Putri Cantika


Kinan memutuskan untuk pulang, entah bagaimanapun caranya. Dia harus tetap pulang. Jika dia terus mengulur waktu, bukan tidak mungkin jika sesuatu akan terjadi padanya. Terlebih Kinan juga semakin tidak tenang tatkala melihat Kevin yang pergi dengan penuh kekecewaan tadi. Sejujurnya Kinan juga tidak berniat untuk membohongi Kevin, dia berencana akan memberitahu Kevin jika waktunya sudah tepat. Namun rencana tetaplah rencana, sebelum Kinan menceritakan semua Kevin justru sudah tahu lebih dulu dengan melihatnya sendiri sehingga menimbulkan kesalahpahaman diantara mereka.


Semua memang salahku. Bahkan jika dilihat dari segi manapun, kesalahan tetap ada pada diriku. Aku terlalu fokus pada diri sendiri hingga melupakan Kevin yang selama empat tahun ini menjadi sahabatku. Bagaimana sekarang? Apakah Kevin kecewa kepadaku? Hah, dasar bodoh. Jelas saja dia sangat kecewa kepadamu Kinan. Kau tidak jujur padanya!!


“Kinan?? Kamu kenapa? Kau tidak apa-apa kan?” suara Diara berhasil memecah lamunan Kinan sedari tadi.


“Ehmm.. tidak apa-apa. Diara maaf, sepertinya aku tidak bisa melanjutkan menonton filmnya. Aku benar-benar harus pulang sekarang, permisi.” Kinan berpamitan kemudian menyerahkan popcornnya kembali ke Diara dan langsung meninggalkan mereka.


“Kinan tunggu!!!!” teriak Diara namun tidak dihiraukan oleh Kinan.


“Kak, bagaimana ini? Kinan pergi sendiri dan di luar sedang hujan lebat. Kakak cepat susul dia kak.” pinta Diara ke Arga.


Tanpa menjawab ucapan Diara, Arga langsung meletakkan minuman gelas yang sedari tadi dibawanya dalam kantong kresek kemudiam pergi dan menyusul Kinan keluar. Kini tinggal Reyhan dan Diara yang masih berada di depan bioskop itu. Diara menatap Reyhan, namun pandangan pria itu justru mengikuti kepergian Arga yang sedikit berlari untuk mengejar Kinan.


“Humm, kenapa semuanya jadi pulang? Sekarang malah tinggal kita Rey. Bagaimana kalau kita sendiri yang nonton filmnya berdua? Kamu mau kan?” ajak Diara berharap hal itu juga akan menjadi kencan pertama mereka.


“Kau sendiri saja, aku juga ingin pulang.” tanpa basa-basi Reyhan berlalu meninggalkan Diara sendiri di depan bioskop.


“Rey…tunggu!!! Kenapa kau membiarkan aku sendiri?? REYHAN!!!” teriak Diara kemudian memberikan tiket film, popcorn, serta minuman yang baru dibelinya ke beberapa pengunjung yang akan memasuki bioskop. Diara berusaha mengejar Reyhan, namun karena langkah kakinya terlalu kecil dia pun tidak bisa menemukannya dan berakhir pulang sendiri.


💢💢


Di sisi lain, Kinan berusaha keras mengumpulkan keberaniannya untuk menunggu taxi di depan bangunan ruko yang terletak sedikit jauh dengan lokasi mall. Sebelumnya Kinan juga sudah menerjang hujan lebat dari saat dirinya keluar mall yang membuat tubuhnya basah kuyup dan kedinginan seperti sekarang.


“Kenapa dari tadi taxi belum juga lewat? Sudah hampir 25 menit aku menunggu di sini. Kenapa juga hujannya tidak mau berhenti?” Kinan terus berbicara dengan dirinya sendiri agar ketakutannya sedikit hilang. Namun bukannya hilang, ketakutan itu justru semakin besar karena kilatan petir yang ikut menyambar.

__ADS_1


Kinan sudah tidak bisa lagi berdiri untuk menunggu taxi yang belum juga terlihat, dia beralih memundurkan badannya hingga berdempet dengan bangunan ruko. Dia memilih duduk dan menekuk kedua kaki serta tangannya ke depan sambil sesekali menggosokkan kedua telapak tangannya.


DUARR!!!


Suara petir tiba-tiba terdengar begitu menggelegar dan memekakkan telinga siapapun yang mendengarnya. Kinan langsung menenggelamkan wajahnya diantara kakinya dan menutup telinganya serapat mungkin, tak lama kemudian tubuh kecil gadis itu pun bergetar hebat. Kinan berusaha semaksimal mungkin untuk mengontrol tubuhnya sendiri agar lebih tenang.


Ayo Kinan kamu pasti bisa. Hanya menunggu beberapa saat lagi sampai hujannya benar-benar reda. Tenang Kinan, tenang.


Kinan terus bergumam sendiri sambil memejamkan matanya dan menutup telinga dengan kedua tangannya. Namun ditengah-tengah kekhawatirannya, tiba-tiba seseorang datang dan berdiri tepat di depan Kinan.


“Berdirilah. Ku antar kau pulang.” suara deep milik seorang pria terdengar samar-samar di telinga Kinan yang masih tertutupi oleh tangannya tersebut.


Kinan lantas mendongakkan kepalanya ke atas, memastikan dengan jelas siapa pemilik suara tersebut. Matanya menyipit dan memperhatikan seogok tubuh tinggi di depannya. Kinan begitu terbelalak saat mengetahui pria itu.


“REYHAN??” Kinan sedikit meninggikan suaranya namun tidak mengurangi ketakutannya karena lebatnya hujan sera suara petir yang terus bergerumuh.


“Kenapa diam? Ingin ku gendong?” Reyhan bertanya masih dengan nada dinginnya.


Bagaimana dia bisa menemukanku? Bukankah tadi dia masih bersama Diara? Dan kak Arga? Kenapa dia justru tidak di sini? Apakah dia tidak berusaha mengejarku? Ah, kenapa kau justru memikirkannya Kinan. Ayo sadarlah!!


“Apakah kau benar-benar ingin ku gendong?” lagi-lagi suara Reyhan berhasil membuyarkan lamunan Kinan.


“Ehmm… ti-tidak, t-tapi??” Kinan menjawab dengan terbata-bata.


Reyhan langsung menyerahkan jaketnya untuk menutupi kepala Kinan agar tidak semakin basah karena guyuran hujan yang belum juga reda dan memapah tubuh Kinan hingga mobil serta membukakan pintunya.


“Naiklah!” titahnya.


Pria itu kemudian berlari mengitari mobilnya dan mendudukkan diri di kursi kemudi. Dia pun segera mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tidak ada pembicaraan diantara keduanya. Mereka sama-sama bungkam dengan fikiran masing-masing.

__ADS_1


Kinan masih terlihat menggigil dan mengapit kedua tangannya dengan kaki yang semakin ia rapatkan ke depan. Tanpa Kinan sadari, setiap gerakannya tersebut ternyata telah diperhatikan Reyhan melalui ujung matanya. Reyhan segera meminggirkan mobilnya dan menghentikannya di pinggir jalan. Dia lantas membuka seat belt dan mengambil sesuatu dari kursi belakang, sebuah kain bermotif kotak-kotak besar dengan warna cokelat sedikit tebal langsung Reyhan lemparkan ke arah Kinan dengan cukup kasar.


“Apa ini?” tanya Kinan yang terkesiap saat menerima selimut itu. Reyhan tidak menjawab dan kembali memasang seat belt lalu melajukan mobilnya lebih cepat dari sebelumnya. Hal itu membuat Kinan semakin takut dan membungkam mulutnya rapat-rapat agar tidak bertanya ataupun berbicara lagi.


💢💢


30 menit berkendara dan mobil pun bergerak memasuki salah satu perumahan elite di kota tersebut. Hujan juga sudah berhenti. Tidak ada lagi kilatan petir ataupun guyuran air seperti beberapa menit yang lalu, hanya ada sisa-sisa genangan air serta genting rumah yang basah di sepanjang jalan. Kinan begitu terkejut karena dia sangat mengenali jalan itu, jalan yang sehari-harinya gadis itu lewati. Benar, jalan yang mereka lewati sekarang adalah arah menuju rumahnya. Lalu bagaimana Reyhan bisa mengetahuinya? Bukankah dari tadi mereka hanya diam? Reyhan bahkan tidak bertanya ataupun berkata sepatah kata pun. Kinan menatap Reyhan lekat, namun tidak berani bersuara dan hanya melipat kedua tangannya di depan dada. Reyhan yang merasa diperhatikan pun merasa risih, matanya sedikit melirik ke arah Kinan yang duduk di samping kursi kemudi.


“Ada yang ingin kau katakan?” pertanyaan Reyhan yang secara tiba-tiba itu membuat Kinan begitu terkesiap hingga memalingkan wajahnya ke kaca mobil dan berganti menatap rumah-rumah yang mereka lewati.


“Kenapa diam? Bukankah dari tadi kau ingin bertanya kepadaku sampai melihatku begitu lekat?” sambungnya lagi namun masih memfokuskan pandangannya ke depan.


“A-aku…emm, bagaimana bisa kau..” belum sempat Kinan meneruskan ucapannya, Reyhan lebih dulu memotong.


“Turunlah, kita sudah sampai.” ucapnya sambil menepikan mobil tepat di depan gerbang rumah Kinan.


“Tunggu, dari mana kau tahu ini rumahku?” tanya Kinan masih dengan rasa penasarannya yang tinggi.


“Aku tahu dari mana kau tidak perlu tahu. Cepat turun! aku harus segera pergi.”


Huh, dasar pria aneh.


Kinan langsung turun dan menutup pintu mobil dengan cukup kuat. Sedangkan Reyhan langsung melajukan mobilnya dengan sangat cepat, membuat Kinan yang masih berdiri di depan gerbang sedikit berlonjak kaget.


“Dasar laki-laki gila!” umpatnya.


***


HAPPY READING👀

__ADS_1


Note: Sebelumnya author mohon maaf sudah jarang up karena memang ada kesibukan lainnya, tapi semaksimal mungkin akan author usahain buat tetep up demi readers kesayangan author😙 Semoga kalian tetap suka dan tetap setia dengan cerita Kinan ya😊


__ADS_2