SKIP

SKIP
PART 32


__ADS_3

Mudah untuk mengatakan iya jika kita dihadapkan pada situasi yang mendesak. Namun sangat sulit untuk melakukannya saat kita memulainya dengan sebuah keterpaksaan.


-Farikakoka


Hendra mencoba untuk menghubungi ponsel Kiran, namun nihil.


Panggilannya selalu mengatakan bahwa si penerima berada di luar jangkauan.


Tidak mudah menyerah, duda dua anak itu terus menghubungi putri sulungnya meskipun lagi-lagi ia tidak mendapatkan hasil yang memuaskan.


“Kemana anak ini?” ucap Hendra pada diri sendiri sambil terus mondar-mandir di ruang kerjanya.


“Apa yang mereka lakukan hingga selarut ini?”


Tak berapa lama ponselnya berdering menampilkan nama ‘Arga’ di sana. Tanpa berfikir panjang ia pun langsung mengangkat panggilan itu.


“Halo Arga, kau dimana sekarang? Kau bersama Kiran kan? Dimana dia? Kenapa ponselnya tidak aktif? Apakah kalian baik-baik saja?” cerca Hendra yang sudah begitu khawatir dengan keberadaan putri sulungnya.


“Selamat malam om. Iya benar saya bersama Kiran. Sebelumnya saya mohon maaf om, tadi saat di perjalanan tiba-tiba mobil saya mogok dan kami terjebak hujan yang cukup deras. Kiran baik-baik saja om, dia sedang tidur saat ini...


Tapi om jangan salah faham, saya tidak bermacam-macam dengannya. Kiran aman om, hanya saja mungkin sedikit kelelahan selama di perjalanan...


Ponselnya juga lowbatt. Saya menghubungi om hanya untuk mengabari ini karena jika pulang sekarang itu sangat tidak memungkinkan om...


Sekali lagi saya mohon maaf sekaligus minta izin ke om untuk pulang besok,” jelas Arga dibalik telepon karena tidak ingin Hendra berprasangka yang tidak baik kepadanya.


“Lalu sekarang kalian dimana?” tanya Hendra masih dengan nada khawatirnya.


“Kita sekarang masih di Bandung om.”


“Apa??? Bandung?? Arga kamu jangan bercanda! Ngapain kalian ke Bandung?” sontak Hendra membelalakkan bola matanya tatkala mendengar jawaban itu.


“Iya om, besok akan saya jelaskan langsung. Mohon maaf saya tidak bisa menjelaskan sekarang, yang jelas Kiran sangat baik bersama saya. Saya harap om dapat percaya dengan saya.”


“Baiklah nak Arga, om percaya denganmu. Tapi jika besok om mendapati Kiran sedikit saja terluka atau apapun, kau tentu tahu akibatnya bukan?!”


“Iya om, saya tahu. Kalau begitu saya tutup teleponnya, terima kasih om.”


Setelah panggilan ditutup Hendra beralih menuju kursi kerjanya dan duduk di sana, namun kepalanya masih terus memikirkan hubungan putri sulungnya dengan calon tunangan putri bungsunya.

__ADS_1


Apa hubungan Kiran dan Arga? Kenapa mereka bisa pergi bersama? Mungkinkah mereka terlibat sebuah bisnis? Tapi jika memang benar, bukankah seharusnya aku lebih tahu dulu? Sepertinya memang ada yang tidak beres dengan mereka berdua.


Di tempat lain, tepatnya di rooftop salah satu apartemen mewah kota Jakarta


“Sa.. sampai kapan lu kayak gini terus? Sadar hey!! Hidup lu tuh masih panjang, *wake up boy*! *Wake up*!!!” karena kesal Rafa pun mengambil paksa minuman botol di tangan Aksa.


“Lo gak tau apa yang gue rasain Raf! Bertahun-tahun gue nunggu Kinan. Selama 6 tahun ini gue cuma jadi stalkernya! Sedikitpun dia gak pernah sadar siapa gue, yang dia tahu gue cuma mahasiswa populer di kampus dan gak lebih!” tukas Aksa dengan bersungut-sungut kemudian merebut lagi botol minuman beralkohol itu dan menenggakknya hingga tandas tak bersisa.


“Lu gila bro! Lu tuh gak hanya nyiksa diri lu doang kalo kaya gini. Tapi juga orang-orang di sekitar lu!”


“Gak ada yang peduli ke gue.”


“Siapa bilang? Tunangan lu yang kata lu cinta mati itu gimana?! Nah gua?? Gua juga peduli ke lu brother. Kalau gua gak peduli, gak mungkin gua bela-belain terbang dari Jerman ke sini buat nyelesaiin masalah lu ini!”


“Trus kalo lo peduli ke gue, kenapa tadi lo justru halangi gue buat jelasin semua ke Kinan??! Bahkan tadi itu timingnya udah tepat. Ada om Hendra juga di sana.”


“You really crazy Reyhan Aksa Pradana! Lu pengen bunuh Kinan secara perlahan? Lu tadi gak denger tuh dokter ngomong apa? Saat ini kondisi Kinan lagi gak stabil. Sedikit aja lu buat dia mikir, kita gak ada yang tahu nanti reaksinya kayak apa! Lu pikir dong Sa!! Jangan gara-gara keegoisan lu semuanya jadi kacau.”


“Dan lagi ya Sa, bukannya lu udah punya tunangan? Siapa tuh namanya? Ra.. Ra.. Dara? Burung dara atau apalah itu.”


“Diara maksud lo?”


“Lo tau sendiri Raf gue sama sekali gak ada rasa sama dia.”


“Emang lu gak pengen buka hati buat tuh cewek? Kasian bro, kayaknya dia beneran tulus sama lu.”


“Kok jadi bahas Diara? Gue butuh lo buat nyelesaiin urusan Kinan, bukan Diara!”


Dahi Aksa berkerut, menandakan ketidaksukaannya akan pembicaraan Rafa. Sedangkan Rafa hanya nyengir kuda.


Dia tahu bahwa sahabatnya itu tidak menyukai perjodohan yang dianggap konyol dan sangat kekanakan.


“Oke-oke. Slow down boy! Keep calm.. jangan ngegas gitu lah,” ucap Rafa sembari menepuk pundak Aksa pelan.


“Pliss lah gak usah resek. Pikiran gue lagi buntu sekarang!!”


“Oke trus mau lu gimana sekarang Sa?”


“Bantu gue cari tahu hubungan orang tua gue sama om Hendra!”

__ADS_1


“Hmm.. sebenernya ada masalah apasih Sa orang tua lu sama om Hendra? Kok kayaknya om Hendra gak seneng gituh sama bokap lu.”


“He d*d*l!! Kalau gue tahu, gue gak bakal minta bantuan lo!!” karena kesal, Aksa pun menghadiahi Rafa dengan satu tonyoran cukup keras di kepalanya.


“Aw sakit beg*!!!!” umpat Rafa.


“Dahlah, sekarang yang penting gimana caranya kita mulai misi ini!” ucap Aksa mantap.


“Lu yakin bro??”


“Yakinlah!! Kalau gue gak yakin, gue gak bakal ngajak lo idi*t!!!”


“Dih iye-iye. Sensi amat omongan lu bos!!!”


Akhirnya mereka berdua pun memilih untuk mengakhiri perdebatan tidak jelas itu dengan turun menggunakan lift menuju kamar apartemen milik Rafa, tepatnya berada di lantai 27.


Dengan sedikit sempoyongan, Aksa pun dibantu Rafa untuk berjalan hingga sampai di ruangan dengan tipe convertible serta nuansa warna krem dominan.


Saat mereka sampai di sofa, tiba-tiba saja Aksa mengeluarkan ekspresi yang sudah bisa ditebak oleh Rafa.


Kedua pipi Aksa sudah mengembang dengan bibir yang mengerucut ke depan serta rona wajah memerah seperti udang rebus.


“Tahan dulu bro!! Jangan di sini. Gua anterin ke kamar mandi! TAHAN!!!!”


Rafa dengan cekatan kembali meraih tubuh Aksa hendak membawanya ke arah kamar mandi yang berada tidak jauh dari sofa.


Namun belum sempat setengah perjalanan, Aksa sudah lebih dulu menyemburkan seluruh isi perutnya ke baju Rafa.


“Huueekkkkk!!!”


Seketika baju Rafa sudah basah karena cairan sedikit kental dengan bau yang begitu menyengat dan memenuhi seluruh ruangan itu.


“AKSA!!!!!!!!!”


***


HAPPY READING^^


Maaf readers tercintakuh, beberapa waktu terakhir ini KOKA bener2 lagi syibuk banget dan gak bisa ninggalin kerjaan di dunia nyata. Nih aku kasih satu aja yah.. jangan marah2 zeyeng biar disayang jodoh😙

__ADS_1


__ADS_2