
Ku terjang segala kerikil tajam yang menghadang saat akan mengejarmu. Tak apa meski telapak kaki ikut berdarah, menahan sakit yang kian merebah. Aku puas jika pada akhirnya Tuhan tetap mengizinkanku bersamamu.
-Reyhan Aksa Pradana
“A..Aksa?????”
Semua orang terperangah. Kinan memanggil Reyhan dengan nama Aksa? Mungkinkah ingatannya telah kembali?
“I-iya Na... ini aku Aksa,” jawab Aksa yang tiba-tiba tergagap.
Tubuh Kinan langsung melompat dari ranjang dan berhambur memeluk Aksa. Sangat erat. Begitupun dengan tangisannya yang semakin tenggelam karena pelukan Aksa yang ikut mengikat keduanya.
Arga benar-benar sudah jengah dengan situasi itu, dia langsung keluar tanpa berucap apapun. Kiran yang melihatnya pun ikut keluar dan mengejar Arga.
Sedangkan Dr. Frans dan Rafa masih sama-sama terpaku. Bingung harus bagaimana melihat dua insan yang saling berpelukan sambil terisak di depan mereka.
Akhirnya setelah hampir 5 menit menunggu, Dr. Frans menghampiri Kinan dan Aksa yang masih sama-sama enggan untuk merenggangkan tubuh mereka.
“Maaf nona Kinan, sebaiknya kita ke Rumah Sakit sekarang. Saya perlu memeriksa kondisi anda lebih lanjut lagi.”
Kinan dan Aksa saling melepaskan pelukan mereka. Mata sembap Kinan beralih ke Dr. Frans sambil menggulirkan sedikit senyum yang ditahan.
“D-dok... bisakah kita lakukan besok saja? Saat ini ayah saya tidak ada dan saya ingin pergi dengan beliau,” jawab Kinan memelas.
Sedangkan di tempat lain
“Arga..??” suara Kiran begitu lirih, sedikit takut karena sedari tadi hanya ada keheningan diantara mereka.
Ya, saat ini Kiran tengah duduk di samping kursi kemudi yang sedari tadi dikendalikan Arga.
Setelah sebelumnya ia memutuskan untuk menyusul Arga, Kiran juga mengikuti Arga masuk ke dalam mobilnya.
Entah tujuan Arga akan kemana, Kiran sama sekali tidak tahu. Gadis itu hanya ingin menyelesaikan permasalahan mereka dengan segera.
“Hm..” Arga bergumam seolah sangat enggan untuk menjawab.
“Ehmm.. apakah kamu kecewa melihat Kinan dan Aksa tadi?” akhirnya pertanyaan yang sedari tadi ditahan berhasil lolos dari mulut Kiran.
“Ya.”
DEG
Entah kenapa satu kata itu terdengar begitu menyakitkan dan menyesakkan hati Kiran. Seolah seperti ditusuk ribuan pisau tajam sampai ke dasar yang terdalam.
__ADS_1
Tapi kenapa? Bukankah Kinan juga akan menjadi tunangan Arga? Jadi sudah sepantasnya jika Arga akan merasa kecewa.
Kiran kembali menunduk dan memandangi buku-buku jarinya, sedikit meremas dan memainkan ujung baju yang ia kenakan. Namun karena tak cukup puas dengan jawaban Arga, ia pun bertanya kembali.
“K-kamu... cemburu dengan Aksa?”
Arga yang masih fokus menyetir tiba-tiba menoleh ke Kiran, dahinya berkerut seolah tidak mengerti maksud pertanyaan itu. Pria itu masih diam dan kembali memusatkan pandangannya ke depan.
Menyadari Arga yang tidak memberikan jawaban, Kiran seolah sudah tahu jawaban apa yang akan diberikan Arga.
Lagi-lagi hatinya ikut mencelos. Arga sudah membuka hatinya untuk Kinan. Harusnya Kiran senang, karena itu yang diinginkannya dari awal.
Di kamar Kinan
“Tapi perasaan anda sekarang bagaimana nona? Apakah anda mual.. atau mungkin kepala anda terasa berkedut?”
Dr. Frans masih sedikit enggan untuk memenuhi permintaan Kinan begitu saja, karena selama 6 tahun terakhir Kinan tidak pernah sekalipun menunjukkan kemajuan perihal amnesia parsial yang diidapnya. Selama ini Kinan hanya lebih baik pada kondisi traumanya.
“Saya bisa menahannya dok, saya mohon.”
“Tapi nona, jika tidak segera kita periksa itu akan berbahaya pada kondisi anda. Saya akan menghubungi tuan Hendra dan memintanya untuk pulang. Kita akan pergi ke Rumah Sakit bersama-sama,” ujar Dr. Frans dan hendak mengambil ponsel di tas kerjanya.
“Tidak dok! Jangan! Saat ini saya ingin menyelesaikan urusan saya dengan Aksa. Tidak mungkin jika saya akan langsung memberitahu ayah masalah ini. Dokter jelas sangat tahu itu,” lagi-lagi Kinan menampakkan wajah memelasnya berharap sang dokter akan mengizinkannya.
“Tidak Na! dokter ini benar. Kamu harus diperiksa sekarang,” titah Aksa.
“Tapi aku...”
“Kinan!!” tiba-tiba saja Hendra sudah masuk dan berhambur memeluk putrinya.
Semua orang begitu terperanjat, termasuk Aksa yang langsung memundurkan langkahnya hingga hampir mendempet ke dinding.
Sedangkan Kinan masih syok akan kehadiran sang ayah yang kini sudah memeluknya sangat erat seakan ingin menumpahkan segala kekhawatirannya saat itu juga.
Kenapa ayah sudah pulang? Bukankah ini masih jam kantor?
“Ternyata benar firasat ayah. Kau baik-baik saja nak? Bagaimana dengan kepalamu? Apakah sakit?” ucap Hendra dengan sebegitu dramatisnya serta masih belum menyadari keadaan sekitar.
“A-ayah…” suara Kinan tercekat.
Hendra menatap sekeliling kamar, dan alangkah terkejutnya dia saat mendapati dua orang pria yang tidak asing tengah diam terpaku di belakangnya. Aksa dan... Rafa??
“Bagaimana bisa kalian ada di sini!?? Dan kau... lagi-lagi kau mengganggu putriku. Untuk apa kau datang ke rumahku?” nada bicara Hendra terdengar begitu mengintimidasi keduanya, terlebih kalimat terakhir yang ditujukan untuk Aksa.
__ADS_1
“Maaf tuan Hendra, ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu. Sekarang lebih baik kita bawa nona Kinan ke Rumah Sakit,” tukas Dr. Frans yang sudah tahu jika orang tua itu pasti akan menumpahkan segala amarahnya.
Hendra berbalik untuk menatap Dr. Frans, sedikit bingung namun juga terkejut. “Rumah Sakit? Memang ada apa? Sepertinya putriku sudah baik-baik saja,” ujarnya kemudian.
“Putri anda sudah mengingat sebagian masa lalunya tuan, terlebih.. tentang pria yang saat ini berada di belakang anda.”
DEG
Kinan sudah mengingat semuanya? Apa jangan-jangan dia juga ingat tentang…
“Bagaimana tuan? Apakah kita bisa pergi sekarang? Tadi saya sudah mengajak nona Kinan, namun katanya dia ingin pergi bersama anda. Sangat kebetulan jika anda saat ini sudah pulang.”
Hendra bergeming. Masih belum lepas akan lamunannya sendiri, namun tepukan lembut Kinan pada pundaknya seakan memberinya kesadaran penuh untuk menatap putrinya kembali.
“Kinan sudah tahu Yah, tapi Kinan tidak akan marah ke ayah. Kinan hanya butuh ayah menjelaskannya nanti,” ujar Kinan lembut.
Hendra menatap kedua manik putrinya dengan intens. Mencari celah dibalik ucapan Kinan barusan. Apakah benar putrinya sudah tahu semua? Namun kenapa Kinan justru tidak marah kepadanya?
“Baiklah, kita pergi sekarang!”
Kini Hendra menatap Aksa tajam. “Aku mohon jauhi Kinan jika kau ingin ia tetap aman!” ucapnya datar namun terdengar begitu dingin.
Mata Aksa membulat, masih belum bisa mencerna ucapan itu. “Maksud om apa?”
“Kau jelas sangat tahu maksudku. Orang tuamu sangat membenci putriku, terutama wanita yang kau anggap ibu itu.”
Dahi Aksa mengkerut. “Mama??? Tidak om! Mama dari dulu sangat mendukungku dan Kinan,” elaknya.
“Kau sama sekali tidak tahu mama mu nak. Saya sama sekali tidak ingin mencampuri urusan keluarga kalian. Tapi yang pasti, saya hanya berharap Kinan bisa tenang. Jangan ganggu kehidupan kami lagi. Lupakan semua yang terjadi di masa lalu kalian. Biarkan putri kami hidup bahagia.”
Kalimat itu begitu halus, bahkan diucapkan dengan begitu tenang. Namun entah kenapa hal itu justru terasa begitu menyayat hati Aksa berkali-kali lipat.
Berbeda dengan titah-titah Hendra sebelumnya yang terdengar tegas namun masih bisa Aksa terima.
Kali ini penuturan Hendra benar-benar membuatnya semakin jatuh hingga dasar terdalam. Aksa seakan telah kalah akan perang batin yang selama ini ia emban sendiri.
“Om... saya mencintai Kinan. Dari dulu hingga sekarang.”
***
Happy Reading^^
__ADS_1
Si Aksa alias Reyhan yang lagi galao gegara permasalahannya dengan Kinan. Ada yang mau nemenin?😋
Please feedback kalian ditunggu yah😙