SKIP

SKIP
PART 21


__ADS_3

VISUAL!!!



Kinan Putri Cantika (Kinan)



Reyhan Aksa Pradana (Reyhan/Aksa)



Diara Felisya (Diara)



Deviro Arga Satya (Arga)



Kiran Dewi Sartika (Kiran)



Kevin Fardiko (Kevin)


Nih author kasih visual biar tambah lancar halunya😋


Mungkin ada yang kurang suka atau kurang setuju dengan visualnya bisa langsung pakai imajinasi masing-masing yaa. Visual di atas hanya menggambarkan imajinasi author yang menurut author cocok dan sesuai dengan karakter mereka😊


Jangan lupa tinggalkan jejak😙🤗


BONUS



Kinan lagi baca buku favoritnya nih, ada yang mau nemenin?😃



Tatapan si manusia balok es alias Reyhan waktu di mall nyusul Diara dan gak sengaja lihat Kinan. Duh meleleh😍


..........................................................................


Menyakitkan memang jika kita mengetahui kebohongan seseorang ke kita, terlebih orang tersebut adalah orang yang kita percaya selama ini. Ingin mempercayainya kembali pun rasanya begitu sulit. Ibarat sebuah kaca, jika kau sudah melemparnya ke lantai maka kaca tersebut tidak akan utuh seperti semula.

__ADS_1


-farikakoka


Semua orang yang berada di sana begitu terkesiap dengan penuturan Dr. Frans, bahkan Desi yang begitu syok langsung limbung dan hampir terjatuh karena tidak bisa mengimbangi berat tubuhnya sendiri. Melihat sang mama hendak terjatuh, Arga dengan cekatannya langsung menangkup dan memapah tubuhnya untuk duduk di kursi.


“Apa benar itu Hendra?” tanya Dandi memastikan kebenarannya.


“Ya! Dan asal kau tahu, ini semua gara-gara anak si*lan ini!!” umpat Hendra seraya mengarahkan jari telunjuknya tepat di wajah Reyhan.


“Kalau saja waktu itu putriku memilih pulang bersamaku, dia tidak akan mengalami kejadian naas yang pada akhirnya merenggut seluruh kebahagiaannya. Bahkan sikapnya tidak akan berubah sependiam seperti sekarang ini. Semua gara-gara anak Alan ini!! Dia penyebab kecelakaan itu!!” imbuhnya masih dengan nada penuh emosi.


“Tunggu om! Jadi maksud om Hendra, Kinan dan Reyhan sudah kenal sebelumnya?” Diara masih berusaha mencerna kata-kata Hendra yang membuatnya begitu terkesiap.


“Bukan hanya kenal, mereka bahkan dengan sangat berani sudah berhubungan tanpa sepengetahuan om!!” sarkas Hendra.


DUARR


“APA???” dengan mulut yang menganga sempurna, Diara langsung berteriak tidak percaya.


“Apa benar itu Reyhan?” sahut Dandi dengan nada menyelidik. Sedangkan Reyhan hanya bungkam seolah ada yang tercekat di dalam tenggorokannya.


“REYHAN JAWAB!!! Papaku sedang bertanya kepadamu!!!” karena kesal, Arga pun ikut berbicara dengan mengeraskan suaranya.


“Benar. Tapi tidak sepenuhnya benar.” jawab Reyhan datar, sebenarnya dia tidak bermaksud mengeluarkan jawaban yang terdengar dingin. Namun karena sikapnya yang cenderung cuek, justru membuat kata-katanya tersebut begitu dingin untuk sampai di telinga orang.


“Jawab yang benar Rey. Jangan menggantung kalimatmu seperti itu!! Kita butuh penjelasanmu!” desak Diara dengan sedikit gusar.


“Hendra cukup!! Biarkan Reyhan menjelaskan lebih dulu ke kita!” tukas Dandi karena merasa jengah dengan perkataan sahabat sekaligus calon besannya itu.


“Nak Rey.. apa yang sebenarnya terjadi? Bicaralah nak, tante dan semua orang yang ada di sini akan mendengarkannya.” tutur Desi dengan penuh lemah lembut.


“Apa yang dikatakan om Hendra memang benar tante, tapi itu semua tidak sepenuhnya benar. Saya memang pernah memiliki hubungan dengan Kinan, bahkan saat kecelakaan itu terjadi saya juga bersamanya. Namun penyebab kecelakaan itu bukan karena saya.” jawab Reyhan dengan sedikit merendahkan suaranya.


“Kau!!! Masih saja kau tidak mau mengakui kesalahanmu!! Dasar anak tidak bertanggung jawab!!!” umpat Hendra karena begitu kesal dengan jawaban Reyhan.


“Maaf om, saya memang berbicara apa adanya. Dan perihal saya yang tidak bertanggung jawab, bukankah sebelumnya saya sudah mengajukan untuk mengusut kasus itu kepada pihak kepolisian? Namun di tengah-tengah penyelidikan mereka, om sendiri yang justru menghentikannya dan membiarkan kasus itu tertutup begitu saja tanpa kita tahu penyebab kecelakaan sebenarnya.”


“Sekali lagi saya mohon maaf om, bukan maksud saya untuk bersikap lancang atau kurang ajar kepada om. Namun saya sendiri merasa jika kecelakaan itu adalah ulah seseorang yang menyabotasenya seolah itu murni karena kondisi cuaca yang buruk.” tutur Reyhan panjang lebar.


“Andai saja om tidak menghentikan penyelidikan itu, pasti kita akan tahu siapa pelaku sebenarnya.” imbuhnya lagi.


“Jadi maksudmu ini semua salahku?? Kau ingin mengatakan jika penyebab kecelakaan itu adalah ulahku!!!” sarkas Hendra tidak terima.


“Hendra tenanglah, mungkin maksud Reyhan bukan itu. Kita dengarkan dulu penjelasannya.” tutur Dandi sambil menepuk bahu sahabatnya itu.


“Kau tidak tahu apa-apa Dandi!! Bahkan anak ini sudah berbohong kepadamu.”

__ADS_1


“Berbohong apa maksudmu?”


“Nama panggilan dia yang sebenarnya bukan Reyhan, tapi Aksa!!” penuturan Hendra membuat semua orang begitu terkesiap dan membulatkan matanya dengan sempurna.


“A-Aksa???” ucap Diara terbata.


“Tapi itu tidak sepenuhnya salah om, nama saya memang Reyhan.” tukas Reyhan.


“Aku tahu. Reyhan Aksa Pradana!!?” seru Hendra.


“Tapi dari dulu kau tidak pernah memakai nama itu. Lalu untuk apa sekarang kau memakainya jika bukan karena ada sesuatu lain?!” imbuhnya.


Reyhan hanya diam, tidak mampu menjawab atau menyanggah ucapan Hendra yang terdengar begitu sarkastik. Ingin menjelaskan lebih dalam pun percuma, respon laki-laki paruh baya itu seolah tidak bisa menerima apapun alasan yang diberikan olehnya.


“Maaf tuan Hendra, sebaiknya untuk saat ini jangan terlalu terbawa emosi. Terlebih nona Kinan saat ini juga belum sadarkan diri. Saya memang tidak berhak ikut campur urusan keluarga anda. Namun sebagai dokter pribadi nona Kinan, saya hanya ingin memastikan jika kondisi pasien saya baik-baik saja. Dengan membuat keributan di sekitar nona Kinan seperti ini justru akan memicu otaknya untuk memikirkan hal-hal yang mengakibatkan stres, dan itu tentu akan sangat berbahaya.” tutur Dr. Frans.


“Benar apa kata dokter, lebih baik kita tunggu dulu sampai Kinan benar-benar sadar.” sahut Desi.


Mereka semua hendak turun menuju lantai satu ke ruang tamu, namun hal lain justru membuat mereka begitu terkesiap tatkala melihat Kinan yang sudah berdiri di ambang pintu dengan sedikit sempoyongan dan berjalan perlahan.


“Kinan!!!” semua orang kompak memanggil nama tersebut.


“Kinan, kamu sudah sadar sayang?!” ucap Desi sembari sedikit berjalan cepat untuk ikut memapah tubuh Kinan.


“Kinan, bagaimana keadaanmu nak? Apakah masih pusing? Ini ayah nak..” sahut Hendra dengan nada penuh kekhawatiran.


“Kinan apa kau baik-baik saja?? Kita semua sangat khawatir kepadamu.” sambut Diara tak kalah khawatirnya.


Semua orang yang begitu cemas dan khawatir langsung menghujani Kinan dengan beberapa pertanyaan yang membuatnya terlihat sangat jengah. Bukannya menjawab, Kinan justru hanya diam seraya tatapan matanya yang tak bisa diartikan.


“Saya mohon jangan terlalu banyak bertanya kepada nona Kinan. Biarkan dia tenang terlebih dulu.” ujar Dr. Frans saat melihat gadis yang sudah menjadi pasiennya selama enam tahun itu tidak nyaman.


Desi pun mengikuti ucapan Dr. Frans dan hendak memapah Kinan untuk kembali ke kamar, namun dengan sedikit penolakan Kinan memilih untuk berjalan sendiri meninggalkan mereka semua. Bahkan sang ayah yang jelas-jelas berada di depannya juga tidak mampu mampu menarik perhatian Kinan.


“Maaf nona, anda harus saya periksa terlebih dahulu.” cegah Dr. Frans sembari menahan pergelangan tangan Kinan.


“Lepas. Aku ingin pergi.” sarkas Kinan seraya menampis tangannya dengan kasar.


“Tapi nona, kondisi anda benar-benar belum membaik. Anda harus saya periksa terlebih dahulu supaya saya tahu jika anda tidak akan kenapa-kenapa.”


Kinan tidak memperdulikan ucapan Dr. Frans, dia tetap bersikeras untuk melepaskan diri dan hendak menuruni anak tangga yang tinggal empat langkah dari posisinya saat ini. Namun suara deep milik seorang pria tiba-tiba saja menghentikan langkahnya. Dengan sedikit ragu-ragu, Kinan pun berbalik dan sejenak diam sambil menatap tajam ke arahnya.


“Diamlah dan turuti perkataan doktermu!! Kenapa kau begitu keras kepala!?” titah Reyhan dengan begitu dinginnya.


Tanpa menyahuti perkataan Reyhan, Kinan langsung berbalik arah dan melanjutkan niat awalnya untuk menuruni tangga sambil sesekali memegang kepalanya yang terasa di putar-putar.

__ADS_1


***


Happy Reading^^


__ADS_2