
Secercah harapan mungkin tlah nampak di depan mata. Namun aku juga tidak yakin, akankah harapan itu akan berbuah kebahagiaan atau bahkan berbuah penyesalan.
-Kinan Putri Cantika
Kinan terperangah, begitupun dengan Hendra serta dua orang di sampingnya. Mereka begitu terkejut dengan pengakuan Aksa. Bahkan mata Kinan masih membulat sempurna sepersekian detik.
“Sa...???”
“Aku serius Na.”
“Nak, saya tahu apa yang kau rasakan sekarang. Tapi saya juga tidak ingin Kinan akan tersakiti kembali,” ucap Hendra seraya menepuk pundak Aksa.
“Saya tidak pernah menyakitinya om. Kali ini tolong beri saya kesempatan sekali lagi,” pinta Aksa.
Hendra nampak berfikir sejenak, namun sejurus kemudian seulas senyum ia sematkan ditengah-tengah pembicaraanya.
“Saya tahu itu bukan kau Aksa, tapi kau tidak pernah tahu orang-orang di sekitarmu.”
“Saya tidak mengerti maksud om.”
“Mungkin bukan saat ini, tapi suatu saat nanti kau pasti mengerti.”
“Tolong jelaskan saja sekarang om. Saya tidak tahu permasalahan om dengan keluarga saya seperti apa, tapi yang jelas saya tulus dengan Kinan. Perasaan saya tidak pernah berubah, dari dulu hingga sekarang. Mungkin dulu saya terlalu pengecut dengan keadaan, namun tidak dengan sekarang om. Saya akan tetap memperjuangkan Kinan putri om,” ujar Aksa mantap.
“Saya tetap pada keputusan awal. Sekarang tolong pergilah selagi saya masih bisa berbicara baik-baik kepadamu.”
Melihat raut wajah Hendra yang sudah mulai jengah, Rafa bergegas meraih lengan sahabatnya untuk diajak keluar. “Lebih baik kita pergi dulu bro,” ajaknya.
“Nggak Raf! Kali ini gue gak bakal ngulangin kesalahan yang sama. Gue ngajak lu kesini supaya lu bisa jelasin semua ke Kinan, bukan malah diem aja kayak gini!!!” kesal Aksa pun meninggikan suaranya.
“Jelasin apa? Sa?? Raf??” tanya Kinan seraya menatap Aksa dan Rafa bergantian.
“Jelasin kalau...” suara Aksa berhasil terjeda saat mulutnya berhasil dibekap oleh kedua telapak tangan Rafa.
“Bukan apa-apa Na... sekarang lebih baik lu periksa dulu ke Rumah Sakit. Gua sama Aksa pamit, sehat-sehat lu ya.”
Rafa benar-benar membawa Aksa dari rumah itu. Meskipun beberapa kali Aksa mencoba memberontak, namun dengan sekuat tenaga Rafa tetap memaksanya untuk pergi dulu.
Di tempat lain
Kiran mengerjapkan mata beberapa kali dan mencoba menyesuaikan cahaya lampu mobil yang masuk dalam indra penglihatannya.
Gadis itu masih berusaha untuk mengumpulkan kesadarannya yang sebelumnya telah terbawa ke dunia mimpi.
“Sudah bangun?” ucap Arga menyunggingkan sedikit senyuman.
“Kita dimana Ar?”
__ADS_1
“Kau tidak melihatnya, hm?” sahut Arga balik bertanya.
“Pantai???” ucap Kiran mengerutkan dahinya.
Tanpa menjawab perkataan Kiran, Arga langsung keluar dari mobilnya.
Kiran yang masih bingung berusaha mengumpulkan nyawanya, namun sejurus kemudian ia pun ikut keluar dari mobil.
Hari sudah gelap, hanya ada cahaya lampu mobil Arga yang masih dibiarkan menyala.
Saat sudah berada di luar mobil Kiran dibuat bingung lagi. Arga tiba-tiba menghilang, entah kemana perginya tadi. Yang jelas saat ini hanya Kiran seorang diri di sana.
“Arga!!!” teriaknya.
“Arga kamu dimana Ar??” raut wajah Kiran sudah menunjukkan ekspresi khawatir.
“Arga!!!!!!”
Gadis itu benar-benar kalut. Dia tidak tahu Arga membawanya ke pantai mana. Bahkan pantai itu nampak begitu sepi, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Hanya suara deburan ombak yang sesekali menghempas hingga ke bibir pantai.
Kiran sudah frustasi. Tubuhnya melorot dan terduduk di pasir pantai sambil kedua tangannya menutupi wajah. Dia terisak. Apakah Arga memang berniat untuk meninggalkannya sendiri di tempat sepi seperti ini?
Di dalam mobil
“Nak, kakakmu Kiran kemana? Kenapa ponselnya tidak aktif?” tanya Hendra yang kini tengah mengendarai mobilnya menuju Rumah Sakit bersama Kinan di sampingnya, sedangkan Dr. Frans sudah lebih dulu mengemudikan mobilnya sendiri di depan mereka.
Sebenarnya apa yang mereka sembunyikan?
Hendra tahu jika putrinya saat ini masih enggan untuk berbicara dengannya. Mungkin Kinan masih terlalu syok mengetahui sebagian kecil kebenaran dari masa lalunya, untuk itu Hendra memutuskan untuk tidak bertanya kembali dan memilih fokus mengemudikan mobilnya meskipun fikirannya juga terpecah dengan keberadaan putri sulungnya.
💢💢💢
Sesampainya di Rumah Sakit Dr. Frans langsung memandu Hendra dan Kinan untuk menuju ruangannya.
Setelah berada di ruangan yang didominasi warna putih dan hijau muda yang tak lain adalah ruangannya sendiri, Dr. Frans mempersilahkan ayah dan anak itu untuk duduk di depan kursi kebesarannya.
“Silahkan duduk tuan Hendra dan nona Kinan. Saya akan menyuruh perawat untuk mempersiapkannya terlebih dulu.”
Dr. Frans menyalakan intercom yang menghubungkan ruangannya dengan ruang perawat kemudian menyuruh salah satu diantara mereka untuk segera menyiapkan segala pemeriksaan yang dibutuhkan pasien khusus atas nama ‘Kinan Putri Cantika’.
Seolah tahu akan maksud sang dokter, perawat itu pun lekas mempersiapkannya tanpa banyak bertanya.
“Baiklah nona Kinan, sebelum kita melakukan pemeriksaan lebih lanjut saya ingin tahu seberapa banyak anda mengingat hal-hal yang sempat anda lupakan sebelumnya?”
“Maksud dokter?” tanya Kinan tidak mengerti.
“Ehmm... saya to the point saja. Untuk masalah Aksa, apa yang anda ingat tentang dia?”
__ADS_1
DEG
Kinan termangu. Sejenak hanya saling bertatap dengan manik sang dokter pribadinya. Namun dia kembali tersadar tatkala Dr. Frans kembali menyuarakan ucapannya.
“Saya tidak akan memaksa jika nona Kinan keberatan. Jangan terlalu dipaksa nona, karena itu akan tidak baik untuk kondisi anda. Biarkan ingatan itu perlahan muncul. Anda hanya perlu rileks dan jangan mudah stress,” tuturnya.
“Yang saya ingat Aksa adalah bagian dari masa lalu dok. Kami pernah menjalin hubungan saat masih sama-sama duduk di bangku SMA. Banyak kenangan yang kami ukir kala itu, termasuk tentang Rafa sahabatnya yang sudah tahu semua tentang hubungan kami. Selebihnya saya tidak tahu lagi, termasuk saat kejadian kecelakaan itu terjadi otak saya sama sekali tidak bisa mengingatnya sedikitpun,” ucap Kinan tiba-tiba setelah beberapa saat hanya diam.
Akhirnya Kinan menceritakan semua yang diingatnya, namun tidak sampai pada peristiwa kecelakaan itu terjadi. Hendra sedikit bernafas lega karena ternyata Kinan tidak mengingat sepenuhnya.
Pria paruh baya itu hanya was-was jika sewaktu-waktu Kinan sudah mengingat semuanya, dia harus menyiapkan mental untuk menghadapinya.
Hendra hanya diam mendengarkan pembicaraan putrinya dengan dokter yang telah dipercayainya selama kurang lebih 6 tahun ini untuk merawat Kinan.
Tanpa bermaksud menyela, dia terus memperhatikan segala penuturan Dr. Frans maupun Kinan.
Tok.. Tok.. Tok..
Suara pintu diketuk dari arah luar. “Ya, masuk!” sahut Dr. Frans sudah paham jika itu adalah perawat yang ia tugaskan sebelumnya.
“Permisi dok.. semuanya sudah siap di ruang pemeriksaan,” ujar perawat tersebut sambil sedikit membungkukkan badanya.
“Baik terimakasih. Mari nona dan tuan, kita lanjutkan ke tes berikutnya,” ajak Dr. Frans sambil bergegas keluar dari ruangannya menuju ruang pemeriksaan selanjutnya.
Kinan dan Hendra hanya mengangguk dan segera bergegas, diikuti perawat yang berada di belakang mereka.
Hanya berbatas dua ruangan dari ruang Dr. Frans kini mereka sudah sampai di ruang pemeriksaan selanjutnya.
“Nah nona Kinan, untuk selanjutnya kita lakukan tes darah terlebih dulu ya untuk mendeteksi adanya infeksi pada otak atau tidak,” tutur Dr. Frans.
Kinan hanya diam tanpa bertanya atau mengeluarkan sepatah kata pun. Dia hanya mengikuti rangkaian pemeriksaan dengan taat.
Setelah tes darah, Dr. Frans melakukan MRI atau CT scan untuk melihat adanya kerusakan atau pendarahan pada otak Kinan. kemudian dilanjutkan Elektroensefalogram (EEG) yang berfungsi untuk mendeteksi aktivitas listrik pada otak Kinan.
Pria itu dibantu oleh perawat yang sedari tadi mengikuti mereka.
Selama proses pemeriksaan berlangsung, baik Hendra maupun Kinan sama-sama menciptakan suasana hening. Hanya suara Dr. Frans yang beberapa kali berbicara dengan perawatnya serta menanyakan beberapa hal ke Kinan.
***
Happy Reading^^
Huallo haa.... lama banget gak ada kabar? bener-bener rindu tapi tak bisa ketemu, huhu😢
Sekali lagi KOKA minta dukungan kalian para readers sekalian kalau suka kisah absurd novel ini jangan sungkan-sungkan like dan komentarnya kakak.
Salam pukpuk jauh dari author amatir inih😚😚
__ADS_1