
"Pak,ini apartemen bapak?"
Kayana memastikan,setelah berkendara kurang lebih satu jam akhirnya mereka sampai juga di tujuan.
Kayana meragu, pasalnya apartemen ini berada dikawasan mewah yang rata-rata isinya anak konglomerat semua. Gamungkin sekelas dosen muda seperti Adrian mampu menyewa apartemen semewah ini. Kecuali profesi nya sebagai dosen cuma karena gabut doang.
Adrian mengiyakan. "Hmm...sudah sampai ya?" tanya Adrian dengan suara sedikit serak.
Seketika Kayana merasa kasihan, karena pria itu nekat berhujan-hujanan tadi alhasil jadi sakit begini. Dia jadi nggak enak plus merasa bersalah.
"Saya bantuin turun ya pak." tawar Kayana sambil melepas seatbelt nya lalu turun dari mobil.
Kayana merasa dengkulnya sedikit goyang, saat membantu Adrian berjalan. Masalahnya ini cowok badannya gede plus berotot, kayak kingkong! mana berat pakai banget. Badannya yang cuma setinggi dada nya Adrian ini jelas tenggelam.
Akhirnya Kayana beralih menggandeng lengan Adrian. Takut tulang nya beneran kenapa-napa, dia nggak sanggup membawa badan besar Adrian sendirian, keburu pingsan duluan.
"Pak,kayaknya saya ga kuat bantuin bapak jalan kalau sendirian. Gimana kalau kita coba minta tolong sama satpam nya saja pak?" ujar Kayana sambil menyengir.
"Kenapa nggak bilang?" tanya Adrian lalu mengelus kepala nya pelan.
Kayana langsung meleleh, paling nggak bisa kalau kepala nya di elus-elus begitu. Bawaan nya pengen dihalalin saat itu juga, kalau nggak ingat skripsinya.
Kayana mengusap tengkuknya malu, mencegah bulu kuduknya meremang. Suer bawaan nya merinding gitu tiap Adrian mengelus kepala nya.
"Saya kuat kok jalan sendiri." Adrian melepaskan rangkulan tangannya dari bahu Kayana.
Kayana langsung merasa lega, seolah-olah beban berton-ton baru saja terlepas dari pundaknya. Beneran deh, dia nggak lebay. Adrian itu tinggi, besar, kayaknya dia bisa gepeng beneran kalau Adrian berlama-lama menyender di pundaknya.
"Saya pegangin lengannya aja ya pak." tawar Kayana dan Adrian pun menyetujui.
"Lantai berapa pak?" Tanya Kayana sesampainya mereka didalam lift.
"Lantai 35." jawab Adrian.
Kayana memperhatikan urutan angka yang ada di panel tombol lift tersebut dan menyadari bahwa lantai 35 merupakan lantai paling atas dari gedung ini.
"Bapak ngapain tinggal dilantai paling atas pak? Nggak takut kalau tiba-tiba gempa?" tanya Kayana ngeri,lantai segitu paling nggak cocok untuk orang parnoan seperti Kayana. Pasalnya dikampung nya itu rawan gempa, jadi dia terbiasa tinggal dirumah yang paling mentok cuma dua sampai tiga lantai.
"Bangunan nya sudah dirancang anti gempa bahkan sampai 9 SR Kay,no need to worries." ucap Adrian menenangkan. Wajar sih kalau tahan gempa, buat apa bayar mahal kalau bangunan nya nggak aman.
Eh,tapi tunggu dulu.
Bukannya lantai paling atas itu termasuk bagian eksklusif ya?Apasih namanya?Penthouse? Berarti ini cowok kaya banget dong sampai mampu tinggal di penthouse.
Berulang kali Kayana menekan tombol lift tersebut,namun liftnya tidak kunjung menutup dan naik keatas.
Ini lift nya rusak atau bagaimana sih?Bayar mahal-mahal kok bobrok begini?
"Pak,dari tadi lift nya kok gabisa saya tekan ya?rusak ya pak?"
Dia nggak sekampungan itu sampai nggak tahu cara nya naik lift, tapi masa sih apartement semahal ini lift nya macet begini?
"Oh,sorry. Saya lupa." sahut Adrian, lalu pria tersebut menempelkan jarinya dibagian atas panel tersebut yang terdapat tempat untuk menempelkan sidik jari.
Sialan!
__ADS_1
Ternyata akses menuju lantai paling atas gedung ini harus menggunakan sidik jari. Pantas saja dari tadi liftnya ga naik-naik!
Begitu sampai di lantai tiga lima, Kayana kembali dibuat ternganga. Karena ternyata dilantai ini hanya terdapat satu unit ruangan besar dengan beberapa kamar, ruang tamu, dapur yang saling menyatu tanpa sekat apapun. Lebih mirip rumah ketimbang apartement.
Jangan bilang satu lantai ini Adrian semua yang punya?!
***
"Duduk Kay." tawar Adrian berbasa-basi.
Begitu sampai di ruang tamu,Kayana langsung merebahkan dirinya disofa. Capek lahir bathin plus gerah juga karena selama menenteng Adrian tadi keringat nya langsung bercucuran. Rasa capeknya nggak kira-kira setelah menyetir kurang lebih dua jam, ditambah lagi dia harus mendengarkan ocehan Adrian sepanjang jalan. Energinya sukses terkuras habis.
Kayana memperhatikan design interior di sekitarnya. Apartemen Adrian bernuansa monokrom, seperti pria pada umumnya. Namun Kayana sangat menyukai design seperti ini,menurutnya tata ruangan ini berhasil membuat ruangan ini tampak elegan tanpa terkesan berlebihan, bahkan ada lampu gantung seperti yang pernah Kayana lihat di televisi.
Sudah pasti harga sewa ataupun harga satu unit apartemen ini tidak akan mampu Kayana beli meskipun harus menjual kedua ginjalnya.Kayana curiga saking kayanya pria ini,gaji nya tidak diambil melainkan langsung ditransfer ke dompet amal.
Kok Adrian bisa tajir melintir ya?
Terlepas dari latar belakang keluarganya yang sudah oke. Apa diam-diam pria ini memelihara tuyul atau melakukan ritual sesembahan semacam babi ngepet begitu untuk menumpuk hartanya?
Selama mendudukkan dirinya di sofa empuk ini Kayana nyaris ketiduran. Dia berasa hampir tenggelam saking empuknya. Nyaman banget woy!Ketiduran disini boleh gasih? Apa gasopan?
Berulang kali Kayana memaksakan matanya agar tetap terjaga,namun rasa kantuknya begitu tak tertahankan,seolah-olah matanya diberi beban ribuan ton dan dia kesulitan untuk menjaga agar kelopak matanya tetap terbuka.
Apakah gaya gravitasi bumi saat ini melebihi 9,8 m/s? Kenapa matanya terasa amat sangat berat.
Tidak butuh waktu lama bagi Kayana untuk tenggelam dialam mimpi nya,sofa yang empuknya sudah melebihi kasur dikamarnya ini mana mampu Kayana lawan gravitasinya.
'Gapapa deh bentar aja' batin Kayana menyerah,lalu mulai memasuki alam mimpi.
Setelah tertidur cukup lama Kayana pun terbangun karena bunyi notifikasi dari ponselnya yang saling bersahutan.
Kayana mengambil ponselnya yang di letakkan di ata meja, mengecek ponselnya dan menemukan beberapa notifikasi panggilan tak terjwab dari ibunya. Mau nggak mau Kayana merasa terharu, akhirnya dia di cariin juga. Selama ini mau pulang jam berapapun nggak pernah dicariin, tuh!
Sembari mengusap matanya pelan, Kayana membalas pesan ibunya agar beliau tidak khawatir.
Selesai berbalas pesan,Kayana mengalihkan pandangannya ke arah jam dipergelangan tangannya. Matanya terbelalak kaget saat melihat waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam, sontak Kayana panik sendiri.
Bagaimana bisa dia keblabasan begini dan tidur nyaris 2 jam?!
Kayana buru-buru bangkit, menggulung rambutnya asal dan berjalan cepat menuju dapur. Dia cukup yakin dengan kondisinya saat ini,pria itu pasti akan melewatkan makan malamnya begitu saja.
Duh kurang baik apa coba dia, sampai repot-repot masakin Adrian segala. Pacar bukan, istri bukan. Kalau temen doang sih harusnya dia nggak seperhatian ini juga.
Kayana tidak bisa menahan rasa kagum nya begitu melangkahkan kaki ke dapur. Saking rapi dan bersihnya dapur ini, dia jadi nggak tega mengotorinya. Dia pikir karena yang tinggal pria lajang, setidaknya ada satu dua piring bekas yang belum dicuci.
Saking nggak pernahnya di pakai buat memasak, peralatan disini masih baru-baru semua. Masih kinclong, bahkan beberapa alat masak masih ada yang belum dilepas labelnya.
Meja dapur nya terbuat dari keramik, Kayana sampai bisa berkaca karena siluetnya langsung memantul saking bersihnya dapur ini.
Dia jadi nggak tega memasak disini. Kayana tahu betul saat memasak dia cenderung berantakan,sehingga tidak jarang Kayana kena omel ibunya karena selalu mengambil peralatan masak bahkan yang tidak ia perlukan sama sekali tetap akan Kayana kotori,apalagi Kayana itu paling malas mencuci piring,tentu saja ibunya jadi meradang.
Saat memeriksa isi kulkas,Kayana mendapati kalau isi kulkas pria tersebut nyaris kosong melompong dan hanya berisi beragam jenis minuman soft drink, junk food dan berbagai macam makanan tidak sehat lainnya.
Dengan bahan yang sangat terbatas ini,Kayana hanya kepikiran untuk memasak bubur sederhana dengan tambahan beberapa sayuran yang masih tersisa dikulkas,Kayana hanya berharap agar rasanya sesuai dengan lidah Adrian.
__ADS_1
Setelah 30 menit berkutat didapur,akhirnya bubur sederhana buatan Kayana pun selesai, ia melirik jam dipergelangan tangannya yang menunjukkan pukul sembilan malam, lebih baik ia segera bergegas untuk pamit,karena jarak antara rumah nya kesini cukup jauh,dan memakan waktu kurang lebih 30 menit.
"Pak." panggil Kayana pelan sambil menggoyang lengan Adrian yang sedang tertidur pulas.
"Woy bangun elah!" Batin Kayana dalam hati. Adrian ini tidurnya seperti orang mati, sudah hampir 5 menit Kayana berusaha membangunkan Adrian,namun ia masih tidak bergeming.
Boleh diteriakin ga sih? Tapi kalau ia bernyali melakukan itu pada orang yang menentukan nasib skripsinya ini,bisa-bisa Kayana jadi mahasiswa abadi!
Setelah hampir 10 menit berusaha membangunkan Adrian,akhirnya pria itu pun benar-benar terjaga setelah Kayana memutarkan sound super annoying dari poselnya.Lagu dangdut remix dj dengan volume full membahana, manusia macam apa yang tidak terusik kalau lagunya cetar begini?bahkan menurut Kayana, Lagu ini pantas dikategorikan polusi suara saking annoying nya.
"Hmmm" respon Adrian dengan suara serak khas bangun tidur.
"Bapak tidur apa pingsan sih pak?" Ucap Kayana judes.
"Saya pamit pulang dulu ya pak,tadi udah saya masakin bubur. Saya taro dibawah tudung saji dimeja makan bapak,masih hangat. Langsung dimakan sekarang saja pak" ucap Kayana cepat, sambil buru-buru merapikan isi tasnya.
Adrian menahan lengan Kayana yang tampak tergesa-gesa "Kamu gimana?sudah makan?" Tanya Adrian.
"Aman deh kalau saya pak,sabi beli makanan dijalan,jajan martabak entar juga bisa"
"Terus kamu baliknya gimana?" Tanya adrian.
"Saya pesen ojek online saja pak,gaperlu khawatir.Bapak istirahat saja ya,semoga cepat sembuh" ujar Kayana.
"Tapi sudah malam Kay,gak aman" cegat Adrian.
"Kamu pulang diantar sopir saya saja" titah adrian.
"Jangan deh pak,saya pesen taksi saja kalau gitu. Pasti aman kok" sanggah Kayana,tidak ingin merepotkan.
"Gak aman kay! Kamu itu cewek,tunggu sebentar disini. Kurang lebih 15 menit lagi beliau kesini, kamu pulang diantar sama supir saya saja" ucap adrian tak mau dibantah.
"Gaperlu pak,hari masih jam sembilan kok,insyallah masih aman.Saya takut dipites ibu saya kalau pulang nya lebih malam lagi,nanti langsung saya telfon begitu sampai dirumah" pinta Kayana.
"Ditaksi pun banyak kasus penculikan Kay,saya gak tenang kalau kamu pulang nya pakai taksi" ujar Adrian mulai hiperbola.
"Pak,saya udah gede dan saya juga bisa jaga diri,bapak gaperlu terlalu khawatir" balas Kayana dengan nada lelah.
"Oke deh" jawab Adrian pasrah,tidak ingin memperpanjang masalah.
"Handphone kamu mana?" Tanya Adrian.
Kayana merogoh sakunya lalu menyerahkan nya ke Adrian "Buat apa pak?"
"Kamu share live location kamu, jadi saya bisa tahu kamu sudah sampai dimana. Kalau ada apa-apa langsung telfon saya" ucap Adrian sambil mengotak atik ponsel Kayana.
"Done, yuk biar saya antar kamu kebawah" ucap Adrian sambil menggulung lengan kemeja nya dan mengambil ponselnya diatas meja.
"Gausah pak,bapak kan lagi gaenak badan" tolak Kayana.
Adrian menghela nafasnya menghadapi Kayana yang cukup keras kepala "Kalau cuma ngantarin kamu sampe lobby,saya gak akan pingsan kok Kay"
"Tapi pak..." sanggah Kayana lagi namun langsung dipotong oleh Adrian.
Sorot mata nya tampak lelah karena Kayana terus-terusan membantahnya sedari tadi "Kamu gaperlu kok memaksakan diri kamu untuk selalu mandiri,saya tau kamu pasti bisa ngelakuin semuanya sendiri,tapi saya gak keberatan kalau kamu sedikit bergantung sama saya,ataupun cerita sama saya kapanpun kamu merasa kesulitan,saya cuma pengen kamu tau kalau saya juga cukup bisa kamu andalkan" ujar Adrian sambil menatap lurus ke mata Kayana,membuat Kayana jadi canggung sendiri.
__ADS_1
Ia mendadak speechless dan tidak tahu ingin bereaksi seperti apa,kenapa ucapan Adrian barusan terdengar sangat manis dan terkesan sedikit romantis ?Maybe? Atau Kayana nya saja yang terlalu baper.
Duh, ini maksudnya apa sih?kok malah jadi bingung!