Skripsi atau Resepsi

Skripsi atau Resepsi
Wara-Wiri (2)


__ADS_3

"Yang namanya Kayana mana?" Sebuah suara lantang terdengar dari arah depan. Kayana yang sedang duduk bersama teman-teman seangkatannya pun kebingungan saat namanya dipanggil.


"Saya kak?" Sahut Kayana sembari mengancungkan tangannya.


"Kedepan,cepat!" Bentak salah seorang senior nya dengan bedak paling tebal.


"Tanda tangan absen kamu, kok beda banget sama yang kemarin? Kamu tipsen ya?" Tanya seniornya sesampainya Kayana didepan aula.


'Duh,enak banget tuh tipsen' sindir beberapa orang senior dihadapannya.


"Engga kak-" geleng Kayana sembari menunduk dalam.


Sudah pasti seniornya kemarin yang mengadukan Kayana,nggak salah lagi!


'Anjrit, dasar manusia cepu!' Maki Kayana didalam hati.


"Kalau yang suka bolos ospek enaknya diapain nih kak?" Senior dihadapannya bertanya pada rekannya yang lain.


"Hah? Kok bisa sih ada yang berani bolos?Siapa tuh?" Tanya seniornya yang lain.


"Ini nih orangnya." ucap seniornya yang berbedak tebal tadi berusaha mempermalukan Kayana.


"Kayana Amira." ucap Seniornya membaca name tagnya dengan nada mengejek.


"Ngerasa cantik lo? Berani banget bolos ospek." sindir nya pedas.


"Engga kak." jawab Kayana dengan nada sabar.


"Loh? Berani lo ngejawab?" Ketus seniornya.


Lah terus dia harus ngapain? kalau ditanya ya dijawab. 


"Engga kak." balas Kayana lagi kalem.


"Diapain nih guys bagusnya? Ada saran ga? Atau temen-temen lo yang lain ada saran ga? Enaknya lo di apain gitu." ujar Rosa, seniornya yang berdempul tebal tadi dengan suara lantang.


"Disuruh nyebur ke sungai dibelakang kampus boleh juga tuh kak." saran salah seorang seniornya.


"Oh! Yang dibelakang ya, seru juga tuh kayaknya!" Ujar Rosa tampak menyetujui usulan barusan.


Kayana pun hanya diam dan tak menanggapi,berusaha meredam emosinya walaupun didalam hati dia sudah dongkol maksimal dan menyumpah serapahi seniornya karena memperlakukannya seperti ini.


"Jangan diem aja dong,punya mulut nggak?" Ujar Rosa tajam,membuat Kayana serba salah.Tadi saat dia menjawab dicap kurang ajar. Saat Kayana memilih diam, tindakannya tetap disalahkan.


Karena Kayana tetap hening dan tak menggubris ucapannya barusan,Rosa langsung menarik kencang rambut Kayana yang tergerai membuat kepala nya langsung mendongak kedepan.


Sebenarnya tarikan barusan nggak begitu sakit,namun karena akumulasi dari rasa malu kesal serta amarah yang sudah menumpuk dan dia tahan sedari tadi refleks air matanya keluar begitu saja.


"Yah...nangis. Gimana dong?ga seru deh.." ujar seniornya yang lain dengan nada mengejek.


Kayana yang sedang menangis sesegukan berusaha keras menahan dirinya agar tidak mengacak-acak wajah penuh dempul dihadapannya ini. Kalau dia sampai mengeluarkan kemampuan bela diri yang dimilikinya,pasti wanita dihadapannya ini sudah tidak berbentuk.


"Udah!" ucap seseorang dengan tegas dari kejauhan. Suara nya begitu tajam dan aura nya tampak menakutkan.


"Eh.. Adrian. Ini nih,junior kurang ajar yang kemaren-" ucap wanita tersebut terpotong.


"Lo yang kurang ajar." sembur Adrian marah.


"Lepasin." Adrian menepis tangan wanita tersebut dari rambut Kayana.


'Anj- ampir botak gue' batin Kayana dalam hati saat melihat sejumput rambutnya ditangan wanita tersebut.


Adrian menyerahkan sebotol air mineral serta sapu tangannya kepada Kayana,agar wanita tersebut menghapus air matanya.


"Kamu gapapa?" Tanya Adrian dengan nada khawatir,dan Kayana hanya balas mengangguk meskipun masih sesegukan.


Wajah Adrian tampak mengeras dan dia merasa marah luar biasa "Lo budeg? Dia kan udah bilang nggak tipsen. Ngapain lo tetap serang!" ujar Adrian geram.


Dan wanita dihadapannya tampak kaget sekaligus shock dengan ucapan Adrian.


"Ngerasa hebat lo?" Tanya Adrian dengan nada ketus.


"Ian..lo kok?" Ujar Rosa tercekat karena merasa shock.


"Sekali lagi gue ngelihat lo ataupun panitia yang lain sampai main fisik sama maba, gue gabakalan tinggal diam.Inget itu." ancam Adrian memperingati dan seketika suasana pun berubah jadi super seram.


"Panitia yang lain juga pada diem doang!gue kan sudah kasih tau dari awal gaada yang boleh main fisik ataupun perpeloncoan disini." semprot Adrian sambil menatap tajam pada panitia yang lain.


"Kecewa gue sama lo semua!" Suara Adrian terdengar menggema diaula tersebut,tak ada satupun dari seniornya yang berani membantah ucapan Adrian.


"Duduk lagi ya sama temen nya yang lain." nada suara Adrian berubah sedikit lembut saat menyuruh Kayana duduk kembali bersama temannya yang lain.


Kayana pun melangkah kembali menuju tempat duduk nya semula,sedikit nggak menyangka bahwa Adrian akan membela nya seperti tadi dihadapan teman-teman nya plus pria tersebut juga membungkam para senior yang menyerangnya tadi.


"Are you okay, Kay?" tanya salah seorang temannya pada Kayana.


"I'm okay." sahut Kayana sembari mengangguk.

__ADS_1


"Pacar lo?" Bisik salah seorang teman seangkatannya pada Kayana.


"Kaga anjir-" bantah Kayana cepat,nggak ingin rumor aneh menyebar diantara teman-teman seangkatannya.


"Cieee...." ujar teman-temannya yang lain mengompori.


"Suer!Kaga" Ujar Kayana meyakinkan.


"Gausah ngeles deh,tuh! Pipi lo merah banget kayak kepiting rebus." tunjuk temannya pada pipi Kayana yang merah.


"Engga woy!!" Bantah Kayana dengan nada frustasi dan teman-teman nya hanya terbahak setelah puas mengusili Kayana.


***


Akhirnya rangkaian kegiatan ospek hari ini berakhir dengan khidmat. Bahkan kalau bisa dibilang acara hari ini terlampau lancar menurut Kayana,biasanya ada saja drama memuakkan yang ditujukkan seniornya dan kerap kali membuat Kayana mual.


Namun anehnya segala rangkaian kegiatan hari ini berjalan amat lancar,entah sebesar apa pengaruh Seniornya itu tapi semenjak kejadian tadi pagi,tak satupun seniornya yang berani menatap rendah pada Kayana.


Bahkan saat berpanas-panasan ria tadi dia sampai ditawari payung dan air mineral. Biasanya, boro-boro ditawari air mineral, mereka bahkan dibiarkan gosong dibawah teriknya matahari. 


Rasa-rasanya dia jadi kayak punya orang dalam karena mendadak diperlakukan istimewa. 


Kayana berencana untuk mengucapkan rasa terimakasihnya secara langsung kepada sang Senior, berkat Adrian seluruh kegiatannya hari ini dapat berjalan dengan lancar.


Saking lancarnya, berasa semua lomba tuh menyesuaikan diri dengan kemampuan Kayana. Bisa-bisanya sewaktu lomba lomba cerdas cermat dia menang,lomba tebak kata menang lagi, bahkan kalaupun ada lomba paling ngggak masuk akal sekaligus kayaknya Kayana bakalan dikasih menang saking dia diprioritaskan dalam kegiatan hari ini.


Ya iyalah, nggak ada yang berani ngelawan. Toh, Adrian ketua panitia acara ini. Kalau ada mulut maba yang mengadu ke bagian akademik otomatis acara ini bakalan dibubarkan detik ini juga. Pantas saja para senior kampretnya tadi nggak ada yang berkutik.


Kayana tahu bahwa dari sononya dia memang terlahir handal dan mahir dalam beberapa hal, tapi rasanya terlalu nggak mungkin jika Kayana meraih kemenangan demi kemenangan tersebut tanpa kontribusi dari Adrian.


Ditambah lagi sepanjang acara ini dia selalu diawasi oleh Adrian,seniornya itu benar-benar memastikan bahwa tak ada satupun panitia acara yang berani mengusiknya. Dekat sedikit, Adrian nggak segan-segan langsung memelototi itu orang sampe nggak berani macem-macem.


Mau nggak mau dia jadi sedikit baper. Diperlakukan sebaik ini plus love language nya itu Act of service, apa nggak klepek-klepek dia?


Dengan membawa nyali cap badak nya,Kayana melenggang santai menuju koridor utama. Terakhir kali Kayana lihat Adrian sedang berada disana, membereskan perlengkapan acara. 


Bukannya Kayana nggak menyadari tatapan tajam yang mengarah kepadanya selama dia berjalan menuju koridor. Dia sih udah bodo amat.


Setelah berkeliling akhirnya Kayana menemukan Adrian yang tampak sedang berjalan santai menuju parkiran motor.


"Mas!" panggil Kayana dari kejauhan sembari mengejar Adrian yang berjalan dengan langkah lebar nya,namun sepertinya sang senior tidak dengar dan masih melanjutkan langkahnya menuju parkiran.


"Hoy! MAS!" panggil Kayana, ngegas. 


Adrian tampak kaget dan relfeks menoleh kebelakang. Dia tertawa kecil saat melihat Kayana dengan langkah kecil nya berusaha menyamakan langkahnya dengan Adrian.


"Buset! itu kaki atau apa, kenceng banget!" Ujar Kayana ngos-ngosan setelah berhasil mencegat Adrian.


"Kamu sih jalannya pelan banget,terus kaki kamu pendek." ejek Adrian lalu menyamakan langkahnya dengan Kayana.


"Udah ah,gausah body shaming mas. Btw,aku mau berterimakasih karena mas sudah bela aku tadi. Hehe. Thank you ya, mas." ucap Kayana secepat kilat, karena malu plus deg-degan.


Sayangnya karena sudah terlanjur mengenakan helm. Adrian hanya mendengar akhirannya saja.


"Ngomong Apasih? Gadenger-" protes Adrian.


"Udah tadi." timpal Kayana.


"Ulang lagi deh,pelan-pelan ngomongnya!" Pinta Adrian.


"Makasih Banyak." ucap Kayana dengan suara kecil nyaris berbisik.


"Buat apa?" Balas Adrian ikut-ikutan berbisik.


"Karena udah bantuin aku tadi." jawab Kayana pelan sambil malu-malu kucing membuat Adrian gemas sendiri.


"Hmm...sama-sama." balas Adrian santai.


"Kenapa sampai nyamperin saya?" Tanya Adrian penasaran.


"Oh..itu-" otmoatis Kayana kagok.


"Ooh..kamu tadi mikirnya saya yang laporin kamu ke panitia yang lain?" tebak Adrian tepat sasaran.


"Kok?-"


"Dari muka kamu juga kelihatan." ujar Adrian.


"Emang muka aku gimana?" Tanya Kayana penasaran.


"Kayak mau nonjok saya?" Ucap Adrian dengan nada tak yakin.


"Saya nggak se-tega itu kok,kamu juga sudah aman. Jangan bolos-bolos lagi ya kedepannya." ujar Adrian sambil menurunkan kaca helm nya.


"Err...iya. Makasih banyak mas."


"Iyaa..sama-sama." jawab Adrian tulus.

__ADS_1


"Ada lagi?" Tanya Adrian setelah menghidupkan mesin motornya.


"Hmm..engga ada hehe..kalau gitu,aku pamit dulu ya mas...dadah." ujar Kayana sembari melambaikan tangannya seperti anak kecil, membuat Adrian gemas sendiri.


Kayana pun berjalan menjauh dan Adrian masih memunggu dari belakang,memastikan wanita tersebut kembali ke gedung fakultasnya dengan aman.


"Duh,jauh banget lagi baliknya." keluh Kayana tanpa sadar menyuarakan isi hatinya.


"Naik." ujar Adrian tiba-tiba dengan motornya sudah berada disebelah Kayana.


"Eh.. tapi aku pakai rok. Gausah mas." tolak Kayana halus. Bukannya Kayana pilih-pilih,tapi motor Adrian ini bukan motor matic yang biasa Kayana kendarai. Seniornya ini membawa motor besar dengan dudukannya yang cukup tinggi,Kayana yakin 1000 persen dia akan gamang saat dibonceng dengan motor ini.


"Pakai jaket saya." ujar Adrian menyerahkan jaketnya pada Kayana.


"Terus..mas pake apa?" Tanya Kayana bingung.


"Gapapa kok,malah saya lagi kepanasan." jawab Adrian berkilah.


Kayana pun akhirnya memasang jaket Adrian,dan benar saja rupanya jaket tersebut tampak kebesaran dibadannya.Namun setidaknya jaket ini berhasil menutupi pahanya sampai bawah lutut.


Kayana lalu menaiki motor tersebut dan duduk menyamping, membuat Adrian menatap aneh posisi duduk Kayana yang cukup berani tersebut.


"Kamu pengen jatuh?" Tanya Adrian tajam.


"Eh- engga" jawab Kayana.


"Duduknya kayak biasa aja.Gausah yang aneh-aneh begitu." titah Adrian lalu Kayana pun memperbaiki posisi duduknya menghadap depan.


"Jangan ngebut ya mas." cicit Kayana pelan saat motor tersebut mulai melaju.


"Uwah!" Pekik Kayana tanpa sadar saat Adrian menambah kecepatan motornya,refleks Kayana langsung memeluk erat pinggang Adrian.


'Sorry' bisik Kayana.


Mau nggak mau Kayana memeluk pinggang Adrian erat, kalau nggak mau pantat cantiknya mendarat sempurna diaspal. 


Sesampaimya digerbang depan kampus,Kayana langsung bersiap untuk turun dan sebenarnya dia memang  berencana ingin meminta tumpangan sampai disini saja. Karena jarak dari fakultasnya cukup jauh dengan halte busway yang terletak di gerbang depan kampus.


"Makasih Mas." ujar Kayana sembari menyerahkan helm nya pada Adrian.


"Kamu mau ngapain?" Tanya Adrian dengan nada bingung.


"Turun?" Ujar Kayana ikutan bingung.


"Gausah,kamu saya antar pulang." ujar Adrian lalu menjalankan motornya menuju jalan raya.


"Jangan deh mas,Rumah aku jauh banget loh." tolak Kayana halus.


"Dimana emang?" Tanya Adrian.


"Pondok Gede." jawab Kayana mendekatkan wajahnya ke arah Adrian karena takut terjadi miss-komunikasi seperti dia dan driver ojol alami setiap berangkat kekampus.


"Deket kok." ujar Adrian.


"Emang rumah mas dimana?" Tanya Kayana balik.


"Bekasi kota." sahut Adrian asal.


"Bolak balik salemba-bekasi dong tiap hari?" Suara Kayana terdengar shock.


"Iyaa.."


"Musafir ya hahah." respon Kayana receh.


"Tapi searah lah ya,lagian kita sama-sama bekasi." timpal Kayana dan Adrian pun hanya balas mengangguk.


Sepanjang perjalanan mereka banyak bercerita mengenai hal-hal random.Mulai dari hobi Kayana memelihara berbagai macam satwa sampai hobi ekstrem Adrian yaitu surfing. Mereka juga sempat membahas perkembangan politik dan perekonomian dunia yang dikuasai oleh elit global serta membahas beberapa teori konspirasi lainnya seperti bumi itu datar,ataupun NASA yang tidak benar-benar terbang keluar angkasa dan merekam semua kegiatan tersebut menggunakan green screen.


Dilihat dari topik obrolannya yang bisa merambat kemana-mana bisa disimpulkan bahwa mereka berdua sama-sama random!Pantas saja nyambung!


"Thanks Mas." ucap Kayana sembari menyerahkan helmnya pada Adrian.


"Oh iya.. kamu punya line?" Tanya Adrian.


"Oh..punya-punya." jawab Kayana lalu mengeluarkan ponselnya.


"Discan aja ya." ujar Kayana lalu mengarahkan kameranya ke ponsel Adrian.


"Done." ujar Kayana setelah menambahkan kontak Adrian.


"Saya balik dulu ya." pamit Adrian setelah menyimpan ponselnya.


"Okedeh..Hati-hati ya mas balik ke bekasinya." ujar Kayana riang sembari melambaikan tangannya.


Adrian pun hanya mengangguk kalem lalu melajukan motornya,yang tidak Kayana ketahui adalah bahwa sebenarnya Adrian tinggal di apartemen yang jaraknya nggak sampai 5 menit dari kampus mereka dan pada dasarnya memang Adrian saja yang bucin kuadrat sampai rela mengantar Kayana sejauh itu!


Dasar Bucin!

__ADS_1


***


__ADS_2