
Kayana menatap Matcha latte dihadapannya tak berminat, memiliki mantan gebetan serta pacar yang ternyata setali darah tentunya tak pernah menjadi bagian dalam rencana hidup Kayana.
Jangan kan menjadi rencana hidup,terlintas dikepala pun tidak!
Dan parahnya,dari semua mantan gebetannya yang ada,kenapa pula harus Wafi? Pria yang sudah dia sakiti sedemikian rupa, belum lagi dalam kisah cinta mereka Kayana-lah yang paling jahat,menoreh luka sedalam-dalam nya kemudian mengakhiri kisah itu secara paksa.
Kalau Wafi sampai tahu hubungan mereka yang sebenarnya, sudah pasti Kayana akan dicap tak punya hati. Setelah menyakiti adiknya,Kayana malah memacari abangnya. Kalau pria itu tipe yang pendendam,pasti dia akan lebih waspada, mungkin juga pria itu akan memperingati abang nya bahwa wanita yang dia puja-puja ini sangat ahli mematahkan rasa,sebegitu hebatnya. Kapan saja dan takkan disangka-sangka.
"Paham kan,yang saya jelaskan, Kay?"
Sapaan dari Adrian barusan membuat Kayana sedikit terhenyak dari lamunannya, dan segera mengalihkan pandangan nya pada Adrian yang menatapnya dengan dahi berkerut. Kayana sedikit kikuk,karena tertangkap basah tidak menyimak penjelasan dari Adrian barusan.
"Penjelasan saya yang terlalu berbelit,atau memang kamu yang gak niat untuk melanjutkan skripsi kamu ini?" Tanya Adrian tegas,otomatis Kayana langsung kicep.
"Maaf pak" cicit Kayana pelan,kemudian memperbaiki posisi duduknya agar lebih tegap.
"Fokus ya" titah Adrian, kemudian menjelaskan kembali mengenai parameter-parameter yang harus Kayana perhatikan dalam penelitiannya.
Baru lima menit mengoceh,Adrian kembali menegur Kayana "Ngelamun terus,kamu sebenarnya niat revisian gak sih?" Adrian mulai jengkel karena lagi-lagi mendapati wanita itu melamun sewaktu dia memberikan ulasan mengenai penelitian Kayana.
Kayana hanya menunduk sembari meremas ujung baju nya, Adrian menghela nafas pelan. "Paham gak, yang saya jelasin barusan?" tanya Adrian mendikte.
"Paham,pak."
"Tadi pemisahan nya saya suruh pakai apa? filtrasi sederhana atau kromatografi?"
"Kromatografi,pak?" sahut Kayana tak yakin.
"Yakin?" Tanya Adrian sembari menaikkan sebelah alisnya dan Kayana masih tampak ragu-ragu.
"Tuh kan,kamu gak nyimak. It's not gonna work Kay,is there something that's bothering you?" Tanya Adrian tegas.
"No,sir"
"Stop lying, you didn't pay attention at all." ujar Adrian sambil menghela nafas.
Adrian kemudian menyodorkan setumpuk kertas kehadapan Kayana, berisi hal-hal yang perlu Kayana perbaiki dalam skripsinya. Mulai dari latar belakang,tinjauan pustaka,sampai hal remeh-temeh seperti letak titik dan koma pun turut mendapat koreksi dari sang Baginda Raja, kalau begini sih tahun depan juga belum tentu revisinya kelar.
"Saya sudah rangkum hal-hal yang perlu kamu perbaiki kedepannya, saya harap draft kamu minggu depan gak asal-asalan kayak begini lagi" keluh Adrian kemudian mengembalikan draft skripsi Kayana.
"Kalau begini terus,kemungkinan saya nggak bisa menerima skripsi kamu." ucapan Adrian barusan langsung membuat Kayana ketar-ketir. Jantungny bea jadi berdebar tidak terkendali.Nggak bisa diterima, gimana maksudnya?- ngulang gitu? Yakali ngulang lagi,memang nya dia Bandung Bondowoso yang sanggup membangun seribu candi dalam satu malam? satu lembar skripsi saja bikinnya sudah setengah mampus.
__ADS_1
Seperti menyadari tatapan bingung dari Kayana, Adrian melanjutkan "Kamu selalu terburu-buru dalam menyusun skripsi kamu, semua nya kamu masukkin sampai-sampai saya gak lihat ini pembatasan topik nya dimana. Sudah berulang kali saya ingatkan ke kamu kalau yang di masukkan itu yang inti-intinya saja. Tapi dari yang saya baca,skripsi yang kamu susun ini malah sudah jauh dari inti nya. Kamu mau bikin karya ilmiah atau apa?" cecar Adrian bertubi-tubi.
"Tapi semua isinya,sudah saya bedah baik-baik pak! Justru skripsi saya yang sekarang sudah saya perbaiki dengan sungguh-sungguh ketimbang skripsi saya sewaktu bimbingan dengan pak Helmi dulu" sahut Kayana tak terima.
"Cuma kamu bedah kan?bukan berarti kamu paham dengan apa yang kamu tulis" respon Adrian remeh, Kayana yang merasa tersinggung balas menatap Adrian dengan ekspresi datar.
"Saya paham dengan apa yang saya tulis,dan tentunya draft ini sudah saya susun baik-baik pak. Referensi yang saya gunakan juga sudah valid." Kayana berusaha mempertahankan argumentasinya.
"Valid atau nggak itu kata siapa?" Adrian balas bertanya.
Kayana langsung mendengus kesal,meskipun Adrian selalu menjadi sosok pacar yang baik,tapi urusan profesionalisme pria ini juga gak main-main. Saking profesional nya,gak jarang Adrian malah cenderung bersikap menyebalkan. Jangan kan dibujuk, ada hal-hal yang gak sesuai dengan kehendaknya pun taringnya sampai keluar.
"Oke pak,ada yang perlu saya tambahkan lagi?" Ekspresinya kelihatan tenang padahal saat ini rasanya ia ingin menangis sekencang-kencangnya. Siapa sih yang senang hasil kerja keras nya diremehkan dan dianggap gak berguna.
"Kamu jangan marah gitu dong,Kay" Tegur Adrian,sambil bersandar di singgasananya. Tangannya sibuk mengotak-atik ponsel, yang rasanya ingin Kayana lempar keluar jendela.
"Enggak pak,saya gak marah. Ada yang perlu saya perbaiki lagi,gak?" Tanpa sadar intonasi Kayana sedikit naik karena terpancing emosi. Bodo amat lah dengan nasibnya,pokoknya setelah keluar dari ruangan ini dia ingin menangis sekencang-kencangnya.
"Saya cuma mau yang terbaik untuk kamu,untuk perkembangan skripsi kamu. Biar kamu bisa sidang semester ini" Tuh kan,lagi-lagi bahasannya 'supaya cepat sidang' tapi setiap revisi, koreksinya gak main-main. Ini orang sadar gak sih kalau Kayana masih mengejar gelar strata satu,bukan gelar magister apalagi doktor. Kok koreksinya sampe kebangetan gini?
Lama-lama dia jadi benci,karena selalu diiming-imingi dengan 'sidang', 'kamu perbaiki ini,biar cepat sidang', 'segera ubah bab ini,supaya cepat sidang'.
Siapa sih yang gak kepengen cepat-cepat sidang?tapi kalau selalu ditekan dan didesak begini lama-lama dia jadi patah semangat,bahkan rasanya ingin menyerah sekarang juga.
"Kay." panggil Adrian saat Kayana mencapai diambang pintu.
"Hmm.." Respon Kayana sambil bergumam.Sejujurnya dia sudah malas berbalik badan. Mata nya sudah memerah karena menahan tangis,kalaupun dia bersuara pasti suara nya akan bergetar.
"Kay..." panggil Adrian lagi.
"Apa?!" sahut Kayana ngegas karena terbakar emosi,semoga saja tidak keluar asap dari kepala nya. Kesabarannya sudah diambang batas,jangan sampai pria itu menguji kesabarannya lebih lama lagi.
"Skripsi kamu...nggak usah kamu perbaiki semuanya,cukup kamu tambahkan diskusi kita mengenai parameter tadi, terus yang masih typo kamu perbaiki lagi. Minggu depan kita revisi terakhir, setelah itu kamu boleh daftar sidang. "
"Hah,gimana pak?" Tanya Kayana sekali lagi,memastikan pendengaran nya tidak salah.
"Minggu depan revisi terakhir, kamu sudah boleh daftar sidang." ujar Adrian sambil tersenyum tipis.
Seketika Kayana merasakan kupu-kupu berterbangan diperutnya, rasa bahagia langsung membuncah memenuhi dada nya. Senyum nya langsung mengembang dan mata nya berkaca-kaca penuh haru. Ya tuhan,kebahagiaan seperti ini yang dia maksud!
Tanpa aba-aba Kayana langsung memeluk Adrian erat. "Makasih banyak pak.." ucap Kayana sambil sesenggukan. Anehnya matanya cuma berkaca-kaca,gak sampai menangis. Mungkin karena pergantian emosinya yang terlampau cepat,otaknya masih perlu memproses kejadian barusan sehingga air matanya tidak bisa keluar.
__ADS_1
"Jahat banget sih" protes Kayana yang tiba-tiba saja sudah mencubiti pinggang Adrian,pria itu refleks mengaduh.
"Aduh...sakit sayang" keluh Adrian sambil mengelus-ngelus pinggangnya. Halah lebay! lebih sakit hatinya saat dikata-katain tadi.
Bukannya berhenti,Kayana malah semakin bernafsu mencubiti pinggang Adrian namun segera berhenti saat pria itu malah memeluknya erat.
"Udah ya,jangan dicubit lagi. Cubitan kamu pedes,nanti badan saya biru-biru semua" bujuk Adrian kemudian mengecup kening Kayana,perempuan itu otomatis tersipu. Semoga saja gak ada yang lihat, kalau teman-temannya tahu dia uwu-uwu begini,sudah pasti dia kena bully.
Entah karena terbawa suasana atau wanita itu memang dari sononya demen nyosor. Kayana malah mendekatkan wajahnya ke arah Adrian membuat pria itu langsung tremor dan refleks menjauhkan wajahnya.
"Wah..wah,jangan Kay.Bahaya..." ucap Adrian sambil mengalihkan pandangannya, bahaya ini cewek. Main sosor,bukankah seharusnya Kayana yang lebih menjaga diri,kenapa malah jadi dia yang takut diapa-apain?
"Kenapa?" sahut Kayana tampak kecewa,mata nya tampak berkaca-kaca.
"Gak suka ya?" gerutunya pelan, mulai mewek. Kemudian menyembunyikan wajahnya diceruk leher Adrian.
"Siapa yang gak suka sih Kay, dicium sama orang yang disayang. Tapi masih belum saatnya kita ngelakuin itu,saya gak mau dan gak berani macem-macem ke kamu, saya sayang banget sama kamu. Jadi kita sama-sama jaga diri ya" Adrian memeluk balik Kayana. Kali ini lebih erat,sambil mengelus lembut punggung Kayana.
"Udah ya,takut ada yang dateng" kata Adrian yang gak tahan ditempelin lama-lama,selain karena bukan muhrim. Jantung nya juga gak aman kalau mereka terus dempet-dempetan begini, pelukan Kayana sudah menjadi candu. Dia takut kelewat batas nantinya.
"Gamau.." tolak Kayana manja dan semakin mengeratkan pelukannya, Adrian sampai harus menahan napas.
Padahal dia sudah hapal,kalau ini cewek modus abis. Tapi kalau sudah melihat tampang menggemaskan Kayana,pada akhirnya dia akan luluh juga.
Kayana menjauhkan wajahnya dari leher Adrian dan keduanya saling pandang,tatapan mereka bucin abis. Khas orang kasmaran,yang selalu merasa dunia nya milik berdua. Kalau orang tua mereka sampai tahu kelakuan mereka sejauh ini,sudah pasti ini dua manusia langsung diseret ke KUA.
Belum lagi yang hobi nyosor Kayana,sudah pasti dia akan disemprot habis-habisan dan parahnya mungkin dia akan dikirim Kiran ke pondok pesantren,supaya otaknya kembali normal.
"Mas.." panggil Kayana sambil menatap Adrian teduh,tangannya turut mengelus pipi Adrian dengan lembut,membuat tengkuk pria tersebut meremang seketika.
"Aku juga sayang banget sama mas, makasih ya udah jagain aku dan sayang sama aku" ucap Kayana malu-malu kemudian menyembunyikkan wajahnya didada Adrian.
Bisa gak sih ini cewek dia halalin saat ini juga? gemesin banget soalnya. Kalau nanti sudah jadi miliknya pun,Kayana bakalan dia umpetin dirumahnya dan gak bakalan dia kenalin dengan teman-temannya. Dia jadi gak rela kalau kampret-kampret diluar sana ikutan demen sama istrinya.
"Bentar aja ya mas,gak ada yang lihat juga kok" seru Kayana manja,kemudian memeluk tubuh pria tersebut erat bahkan sampai mengalungkan lengannya dileher Adrian.
"Bang,pinjem mobil lo dong. Mobil gue..-mogok"
Tiba-tiba suara Wafi terdengar dari luar ruangan, dan kepalanya langsung muncul dari ambang pintu.
Kayana yang panik karena tertangkap basah,langsung memisahkan diri. Namun karena gerakannya yang terlalu terburu-buru Kayana malah terpeleset dan pantatnya langsung mendarat dengan indah dilantai marmer yang super keras dan kokoh.
__ADS_1
Kayana langsung memekik kesakitan.
Sesakti itukah ucapannya barusan?