
Terhitung sudah dua puluh empat jam Kayana mendiamkannya,setelah kejadian naas kemarin wanita itu pilih bungkam diri.Padahal yang nyosor duluan Kayana,kenapa jadi dia yang kena getahnya?
Dan hari ini,pagi-pagi sekali wanita itu sudah nangkring kembali diruangan nya. Dengan wajah angkuh dan kedua tangan terlipat didepan dada,wanita itu terpaksa tebal muka menemui Adrian. Mau tidak mau,karena hari ini merupakan batas akhir untuk pendaftaran sidang.
"Mau daftar sidang?" Tanya Adrian berbasa-basi, yang tidak dijawab oleh Kayana.
Sebenarnya Kayana tidak benar-benar marah,hanya saja akumulasi dari rasa malu nya terlalu besar sehingga dia berusaha memasang wajah jutek supaya gak malu-malu amat. Kampret banget gak tuh, kepergok lagi peluk-pelukan sama mantan gebetan,yang dipeluk abang nya pula! Kayak gak ada orang lain aja,tapi..dia gak mau orang lain. Maunya cuma Adrian Pramudya.
"Kaki kamu gimana, udah mendingan?" Pertanyaan Adrian langsung mengena di hatinya, otomatis muka Kayana mencebik kebawah. Pergelangan kakinya masih sedikit membiru karena posisi jatuhnya kemarin yang kurang estetik. Sudah terjungkal, yang terjatuh pantat duluan, saat ingin berdiri malah terkilir pula,teguran yang Kayana dapatkan kali ini gak main-main.
Ini sih namanya bukan lagi sudah jatuh tertimpa tangga,tapi tertimpa plafon rumah sekalian. Saking malunya, dada nya sampai terasa sesak. Kalau gak ada Wafi mah,sudah pasti dia nangis kejer, pantat nya sakit bukan main karena harus beradu mesra dengan lantai marmer kemarin.
Tapi gengsi lah,kalau dia sampai mewek dihadapan sang mantan. Nanti image nya bisa rusak!
Adrian yang duduk diseberang Kayana hanya bisa menelan ludah, kebingungan karena tak kunjung berhasil membujuk Kayana yang sudah kelewat ngambek begini.
"Mau pesen gofood gak?" Tanya Adrian,biasanya ini cewek kalau ngambek dikasi asupan langsung melunak.
"Ramen,sushi,kebab,seblak...mau apa?" Tanya Adrian menyebutkan semua menu yang biasanya Kayana pesan dari aplikasi gofoodnya.
"Gak laper" sahut Kayana jutek, Adrian langsung undur diri. Cewek ini sudah menjadi tabiatnya, semakin dibujuk,semakin melunjak. Jadi lebih baik dibiarkan sendiri sampai mood nya membaik kembali.
Tak lama kemudian terdengar suara seseorang mengetuk pintu,kali ini ketukannya sedikit lama sebelum akhirnya diizinkan oleh Adrian untuk masuk. Saat melihat sosok yang memasuki ruangan tersebut, mood Kayana langsung terjun bebas. Kenapa pula dia harus dipertemukan dengan orang yang sangat amat tidak ingin ditemui nya?
"eh,Kay..." sapa Wafi yang ikutan kaget.
"Ya" Kayana menyahut pendek tanpa menoleh, sok sibuk memainkan ponselnya.
"Saya buat teh sebentar ya" pamit Adrian pada akhirnya.
Saat menyadari betapa canggungnya atmosfer diruangan ini,Adrian memilih untuk beranjak menuju pantry. Membuat teh,kopi,bandrek,es sirup atau kapal nabi nuh sekalian supaya terhindar dari amukan Kayana.
Wafi memandangi mereka dari kejauhan dengan tatapan penuh selidik, kepala nya sudah berisi ratusan pertanyaan mengenai hubungan antara abang sepupu nya dan mantan terindahnya.
Kalau cuma sebatas dosen dan mahasiswa sih,gamungkin sampai peluk-pelukkan juga. Timbang yang akrab nya kebangetan pun, tetap aja peluk-pelukkan begitu gak wajar. Ya gak?
"Mau minum apa Feng, kopi,teh apa sirup?yogurt sama susu juga ada." Adrian bertanya dari pantry kecil yang berada disudut ruangannya,sengaja sok sibuk.Biar gak ditanya yang aneh-aneh.
"Air putih aja bang" sahut Wafi kalem, merasa canggung maksimal dengan situasi yang dihadapinya saat ini. Diliriknya komuk Kayana yang tampak masam, bahkan wanita itu gak mau repot-repot untuk beramah-tamah dengannya.
"Sorry ya Kay,gue jadi bikin lo gak nyaman lagi."
"Hmmm" sahut Kayana datar, mood nya sudah rusak abis. Selepas pantatnya yang sakit,sekarang giliran hatinya yang sakit. Barangkali ini merupakan teguran dari tuhan,supaya Kayana tidak asal nyosor seperti kemarin lagi.
Sedangkan Adrian yang sedang berkutat dipantry tampak berusaha menahan tawanya. Kocak banget sih Kayana kemarin,saking paniknya sampai hilang akal. Padahal yang mergokin juga cuma Wafi,sepupunya itu juga gak bakalan peduli-peduli amat. Hidupnya masih asyik meratapi mantan terindahnya,yang sukses membuatnya empat tahun gagal move on itu.
Kayana yang menyadari Adrian sedang menertawainya dipantry, langsung balas menatapnya tajam, sontak Adrian buru-buru menghentikan tawanya.
Ini cowok kok tega amat sih! Pacar sendiri lagi sakit,bukannya disayang-sayang malah di ketawain.
"Sorry" ujarnya sambil berjalan menghampiri, Kayana tidak menyahut dan sengaja mendiamkannya.
Karena atmosfer yang terlampau mencekam,Wafi merasa tidak enak hati dan memutuskan untuk kabur secepatnya.
"Bang..ini gue cuma mau nganterin titipan dari Bunda . Tongseng kambing sama sate ayam, udah itu aja. Gue cabut dulu yak" pamit Wafi.
"Loh...cepet banget?"
"Gapapa bang, bunda udah nyuruh balik. Minta anter ke arisan" Kilahnya,padahal bohong besar.
"Balik ye Kay" pamit Wafi dan tanpa menunggu sahutan dari Kayana,pria itu langsung ngacir menuju pintu.
__ADS_1
Kayana itu cantiknya pake banget,dan baik juga. Tapi sekali nya marah gak bakalan ada yang tahan. Tatapannya kayak beda orang,tajam-tajam nyelekit gitu.Kalau gak dibujuk, bisa nge diemin orang sampe berhari-hari. Kecuali, langsung dibeliin makanan enak,baru sedikit jinak.
***
Selepas Wafi pergi, Adrian langsung pening sendiri. Padahal bagus kalau ada Wafi tadi disini,jadinya dia gak sendirian kena amuk Kayana. Ada temen lah,istilahnya.
Belum lagi sudah setengah jam Kayana tetap bergeming seperti batu, tak bersuara sama sekali. Di putar lagu dangdut remix pun gak kepancing, biasanya sih langsung merespon dan mengomentari selera nya yang buruk seperti bapak-bapak.
Karena bingung dengan Kayana yang terus-terusan mendiamkannya, akhirnya Adrian pilih menghubungi Lisa. Dia gak tau kalau Kayana ngambek parah,cara ngebujuknya gimana.
Meylisa Azzahra
Nggak usah dibujuk lagi pak.
Meylisa Azzahra
Gak bakalan mempan.
Meylisa Azzahra
Langsung aja beliin makanan,yang enak.
Selesai memesan makanan, Adrian langsung menyenderkan punggung nya disofa disebelah Kayana. Kayana tampak memejam,entah beneran tidur atau cuma pura-pura.
Tak lama kemudian,pesanan mereka datang dan langsung diantar ke depan ruangan Adrian. Pria itu langsung menghindangkan seluruh makanan nya diatas meja, sambil menata makanan Adrian melirik sedikit pada pergelangan kaki Kayana yang sedikit membiru, dia tidak sadar bahwa saat terjatuh kemarin kakinya ikutan terkilir. Mau tidak mau dia jadi merasa bersalah, seharusnya dia lebih sigap dan menahan tubuh Kayana.
Kalau begini sih sudah pasti Kayana kesal setengah mampus padanya,sudah sakit pantat,sakit hati, sakit kaki, diketawain pula sama pacar sendiri!
"Kay" panggilnya pelan, suaranya kembali menye-menye dalam upaya nya membujuk Kayana. Padahal sama keponakan sendiri,dia juga gak pernah membuat intonasi suaranya sampai kekanakan begini.
"Tidur ya?"
Kayana masih tidak menyahut, dan masih memejamkan matanya. Ogah meladeni Adrian yang dari tadi cuma ketawa ketiwi,padahal dia sudah pundung.
"Apaan sih!" sungut Kayana sebal.
"Makan dulu yuk,nanti asam lambung kamu kambuh. Belum sempet sarapan kan tadi?" tebak Adrian yang seratus persen benar.
"Males"
"Mau saya suapin?" Tawar Adrian masih tak menyerah. Tawaran tersebut tentu saja membuat Kayana langsung tergoda,tapi dia kan masih harus pura-pura marah.
"Terserah" balas Kayana sok jutek.Adrian langsung manggut-manggut. Oke, berarti ini cewek mau nya disuapin.
Adrian menyodorkan sesendok penuh nasi ke hadapan Kayana, namun perempuan itu balas mendengus "gak suka sayur" ucapnya masih berusaha jutek.
Adrian langsung tersenyum geli, dia pikir Kayana akan langsung menolak nya mentah-mentah. Namun,ternyata wanita itu hanya mengomentari sayuran yang memenuhi piring nya, dengan cekatan Adrian langsung menyingkirkan mentimun dan sayuran lainnya dari piring. Setelahnya Adrian kembali menyuapi Kayana, wanita itu langsung makan dengan lahap, seolah-olah lupa kalau diri nya sedang ngambek sepersekian detik yang lalu.
Adrian mengusap sudut bibir Kayana yang tampak belepotan, kalau urusan makan Kayana gak mau repot-repot menyelamatkan muka nya. Nyaris gak pernah menolak.
Meskipun makan tanpa berkata-kata, wanita tersebut tetap menerima suapan demi suapan dari Adrian hingga tak terasa satu piring nasi tersebut sudah tandas.
"Mas nggak makan?" Kayana tiba-tiba bertanya, mood nya sedikit membaik setelah makan.
"Udah tadi,masih kenyang" sahut Adrian kemudian menyodorkan segelas air kehadapan Kayana.
"Kaki nya masih sakit?" Tanya Adrian lembut dan Kayana pun mengangguk manja sambil mengangsurkan kakinya ke hadapan Adrian, menunjukkan bagian yang sedikit membiru.
"Terus gimana? mau berobat?" tawar Adrian spontan. Siapa tahu ini bukan sekedar keseleo biasa, kalau dibiarkan bisa-bisa berakibat fatal nantinya.
"Engga, diurut pake balsem aja nanti sembuh sendiri" tolak Kayana kemudian selonjoran di atas sofa.
__ADS_1
"Mau saya pijetin?" Tawar Adrian super bucin, kalau orang tua nya tahu pasti Adrian kena bully kemudian di pecat dari KK. Diminta tolongin saja susah nya minta ampun, dan sekarang pria ini malah menawarkan dirinya dengan sukarela.
"Boleh.."
Adrian langsung memijat pergelangan kaki Kayana dengan telaten. Otot-otot disekitar pergelangan kaki Kayana yang sebelum nya menegang, perlahan-lahan mulai berangsur rileks.
Mendadak mata Kayana terasa berat, suasana ruangan yang nyaman ditambah lagi dengan penyejuk ruangan yang menyala, sukses membuat Kayana merasa ngantuk maksimal.
Adrian sengaja tidak membangunkan nya, membiarkan Kayana terlelap. Kemudian mengambil selimut dari lemari dibelakang nya dan menyelimuti wanita tersebut, setelahnya Adrian ikut membaringkan dirinya disebelah Kayana.
Pria tersebut berbaring miring ke arahnya sambil mengelus-elus lembut kepala Kayana sampai akhirnya wanita tersebut benar-benar terlelap.
***
Kayana nyaris menjerit saat mendapati dirinya tertidur nyenyak disebelah pria,sudah tinggi, besar pula kayak jerapah.
Tubuhnya juga dipeluk erat sehingga kepala nya berada tepat di depan dada bidang pria tersebut, debaran jantung nya yang tenang menandakan pria dihadapannya ini juga pure-ketiduran.
Hidung nya mencium bau yang tidak asing, sekujur tubuhnya langsung merasa lega saat menyadari dirinya masih berada diruangan Adrian.
Saking nyaman nya tidur sambil dielus-elus, Kayana sampai gak sadar dirinya sudah tidur selama ini. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul tiga sore, yang berarti dia sudah tertidur selama tiga jam.
Adrian dipastikan masih tertidur karena dengkuran halus masih terdengar dari pria tersebut. Duh,kalau tau bakalan senyaman ini tidur sambil dipeluk, lebih baik dia menolak tadi. Sudah bisa dipastikan ia akan merasa hampa saat dirumah nanti, apa sebaiknya dulu Kayana terima saja ya ajakan untuk menikah dari pria ini?
Kalau dia mengungkitnya lagi sekarang, gengsi dong. Lagipula setelah drama per-asam lambungan itu, pria tersebut tidak pernah lagi mengungkit-ungkit perihal menikah. Bahasan nya juga masih dalam batas wajar,gapernah yang aneh-aneh seperti 'nanti kalau semisalnya kita nikah bagusnya pakai adat apa ataupun nanti anaknya mau berapa' karena dia tahu Kayana gampang ilfeel.
Tapi parahnya keputusan tersebut malah berakhir seperti senjata memakan tuannya, sekarang dia ngebet parah untuk menikah dengan pria dihadapan nya ini. Kayana cuma bisa berharap agar Kiran cepat-cepat dipertemukan dengan jodohnya supaya Kayana tidak perlu melangkahi abang nya tersebut.
Adrian terdengar mengerang sebelum akhirnya membuka matanya. Kayana buru-buru menutup mata, pura-pura tidur. Takut ketahuan kalau dirinya sudah bangun dari tadi, tapi sengaja diam saja karena nyaman dipeluk.
Setelah Adrian beranjak dari sofa dan berjalan menuju pantry barulah Kayana akhirnya berpura-pura terbangun, drama banget gak sih dia?
Tapi mau gimana lagi,takut canggung kalau dia yang bangun duluan.
"Udah bangun,Kay?" Tanya Adrian sambil melongok dari arah pantry.
"Udah mas" sahut Kayana sambil melipat selimut kemudian merapikan sofa, sudah numpang tidur gak mungkin kan dia bersikap seenak jidat, jadi seminimal-minimalnya dia merasa perlu merapikan sofa itu kembali.
Saat melenggang menuju pantry ternyata Adrian sedang meneguk air es, Kayana langsung panas dingin saat memperhatikan jakun pria tersebut tengah naik turun seiring tegukan air minumnya. Otomatis Kayana salah fokus dan membutuhkan air es saat ini juga, bukan untuk diminum tapi untuk disiramkan diatas kepalanya agar segera bertobat.
Seriusan deh, kalau Adrian mengajaknya menikah saat ini juga. Pasti langsung Kayana terima kok!
"Itu minuman buat kamu, udah saya bikinin" ucap Adrian saat Kayana terdiam di sebelahnya.
Kayana langsung tergagap kemudian menjangkau gelas yang berada di hadapannya, wanita tersebut minum dengan canggung sambil memperhatikan Adrian yang kembali meneguk air es,gelas yang kedua.
Barang kali pria tersebut juga sama-sama tergoda, tapi takut melewati batas sehingga pilih menarik diri, salut sih ini cowok. Tahan godaan,apalagi sama Kayana yang hobi nyosor duluan.
"Semalam baliknya gimana?" Tanya Adrian sambil meletakkan gelas kotornya kedalam sink kemudian mencucinya.
"Dijemput Kiran" sahut Kayana.
"Kamu sih,main kabur!lain kali jangan begitu ya. Saya khawatir banget, pesan saya juga gak kamu bales, ditelfon juga langsung kamu reject. Untung nya Kiran upload sg sewaktu nemenin kamu makan seblak jadinya saya sedikit tenang."
"Saya sayang banget sama kamu.Jadi,please kalau ada apa-apa kita bicarain baik-baik ya. Kita udah sama-sama dewasa,saya gamau kita terus-terusan berantem karena kesalahpahaman. Saya harap kamu paham dengan maksud saya" Adrian menasehati nya dengan lembut, pembawaan nya tetap tenang sehingga Kayana tidak merasa terpojokkan.
"I treasure you so much and i don't wanna lose you" Ucap Adrian lembut kemudian mengecup kening Kayana, sontak wanita itu semakin baper.
Dia gak mau kehilangan berlian, apalagi yang se-premium Adrian. Kalau terlalu lama digantung,Kayana takut Adrian merasa bosan dan berpaling darinya. Meskipun itu sedikit tidak mungkin melihat betapa bucin pacarnya tersebut.
"Mas,Nikah yuk!" Ajak Kayana spontan.
__ADS_1
Adrian yang sedang meminum teh nya langsung tersedak.
Ini cewek, nggak lagi kerasukan kan?