Skripsi atau Resepsi

Skripsi atau Resepsi
56 - Terciduk


__ADS_3

Suara bel yang gak kunjung berhenti,membuat Adrian yang belum tertidur lelap jadi terbangun lagi.


Saat melirik jam dinakas baru menunjukkan pukul 8 pagi, fisik serta mentalnya lelah lahir bathin setelah menghadapi sang pacar yang rewelnya bukan main.


Untung saja pagi ini pacarnya pamit pulang, kata Kayana keluarga nya akan tiba dijakarta hari ini, penerbangan pagi pula. Sedangkan kunci rumahnya masih di pegang Kayana, alhasil pagi-pagi buta pacarnya itu terpaksa pulang.


Tadi, Adrian sudah menawarkan untuk mengantarkan Kayana pulang, tapi tumben pacar nya itu pengertian. Barangkali kasihan karena waktu tidur Adrian sangat kurang akhir-akhir ini. Jadilah pacarnya itu mandiri, pulang sendiri. Naik taksi sih, inshallah aman.


Berhubung weekend, dia berencana puas-puasin tidur hari ini. Karena besok pagi ada meeting direksi, meskipun hari minggu anehnya rapat tersebut tetap dilaksanakan. Entah dengan alasan apa, semua orang pada ngotot untuk mengadakan rapat, termasuk Daniel. Perasaan teman-teman nya gak ada yang hobi extramiles.


Karena perusahaan tersebut didirikan oleh dirinya dan Daniel, jadilah isi kursi direksi teman-teman nya semua. Bukannya nepotisme dan semacam nya, mereka terlalu malas buat nyari orang baru. Prinsip mereka, selagi bisa mengorbankan teman kenapa harus repot-repot pula buat rekrut orang baru.


Lagi-lagi bel apartement nya berbunyi, Adrian menggerutu kesal dalam hati.


Dia jarang menerima tamu, apalagi pagi-pagi begini. Temannya rata-rata pria yang sudah beristri, pagi-pagi begini harusnya sibuk ngelonin bini!


Sementang dia belum menikah, disangka hidupnya se senggang itu apa?


Begitu membuka pintu, Daniel dan sekitar seperempat lusin teman nya sudah berjejer didepan pintu.


Rapat direksi nya kapan sih, besok apa hari ini?


"Assalamualaikum pak Haji." sapa Daniel semringah, tanpa dosa.


Dibelakang nya ada Mario, Gerald, dan Sean yang ikut cengengesan.


****!


Kalau ini sih teman-teman nya yang memang hobi melajang semua. Kecuali Daniel, yang sudah tunangan dengan Fita- rekan nya sesama dosen, yang gak perlu susah payah Adrian comblangi, karena mereka langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.


Baru saja diizinkan masuk, temannya sudah mulai kurang ajar membuka tutup pintu kulkas dan kabinet lemari, yang pastinya sudah diisi penuh oleh Kayana dan isinya sudah mulai beragam pula.


"Tumben kulkas lo penuh, biasanya gak pernah di isi." komentar Sean.


"Ini celemek apaan, lucu banget gambar hello kitty." kali ini Gerald yang berkomentar.


"Paan dah." sahut Adrian pura-pura cuek kemudian menghampiri teman-temannya, supaya gak semakin jelalatan.


Sedangkan Mario, teman nya yang paling sopan dan berbudi pekerti cuma duduk manis diruang tamu. Enggan mengomentari. Saking baiknya,kalau semisalnya Adrian punya adik perempuan, mungkin bakalan dia jodohkan dengan Mario.


Hidupnya lurus dan taat beragama, harusnya Adrian banyak-banyak mendekatkan diri dengan Mario. Bukannya bergaul dengan Daniel, yang ada makin sesat.


Daniel adalah teman nya yang paling kampret bahkan lebih kampret dibandingkan teman-teman nya yang lain. Untungnya pria tersebut berotak jenius, pebisnis handal juga. Jadi masih bisa dipertimbangkan untuk menjadi teman.


Saat ini Adrian cuma berharap teman-teman nya tidak menyadari pernak-pernik unik di apartemennya, meskipun gak berbeda jauh sampai 180 derajat, tapi kalau teman-temannya ini jeli pasti bakalan sadar kalau ada banyak dekorasi baru yang memenuhi apartemennya.


"Mbak lo udah balik? bukannya maren pulang kampung?" Tanya Sean penasaran, dia memang paling peka dengan keadaan sekitar.


"Hooh." Adrian cuma menyahuti seadanya, dia itu paling gak jago bohong. Jadi lebih memilih untuk menjawab singkat, dari pada menjawab panjang terus ketahuan boongnya.


"Man! Lo bawa cewek ke sini?" seru Gerald heboh, Adrian langsung nerveous . Tadi dia gak sempat mengecek jejak-jejak apa saja yang ditinggalkan Kayana, keburu ngantuk dan keburu juga para kutu kupret ini datang ke apartemennya.


"Hah?" sahut Adrian pura-pura polos, padahal jantung nya sudah betalu-talu.


Mario juga ikut-ikutan menatapnya curiga, sejak kapan Mario Alfarisi jadi hobi suuzon gini?


"Tuh,ada sepatu cewek." tunjuk Gerald pada rak sepatu. Diantara sepatu khusus laki-laki, tentu saja sepatu itu langsung kelihatan mencolok.


"Sepatu Ralina kali, ketinggalan maren."


"Sejak kapan Ralina hobi pake sneakers gini, biasanya pakai heels melulu." komentar Gerald.


Fyi, Gerald ini mantan kakaknya sewaktu zaman kuliah. Sebenarnya Gerald juga lebih tua dari mereka, tapi karena pada dasarnya mereka gak ada yang berbudi luhur jadi gak ada yang mau repot-repot memanggil abang.


"Hahahah, kayak lo hafal aja sepatu Ralina." sahut Adrian tertawa,padahal sudah keringat dingin.


"Inget, bini orang sob." timpal Daniel sok prihatin.


Gerald langsung mesem, gak jadi bertanya-tanya.


Sedangkan Daniel cuma ketawa-ketawa bangsat dan mencurigakan. "Ah, kalian pada gak tau ya? pak Haji bentar lagi mau beristri."


"Wajar dong kalau calon nyonya sering-sering inspeksi kesini, ya gak?" goda Daniel.


Wait, perasaan dia gak pernah ngasih tau kalau Kayana sering kesini.


Dan rasa-rasanya gak pernah ngasih tau juga, kalau dia punya pacar. Adrian sebisa mungkin menyembunyikan pacarnya, biar nggak ada yang ganggu. Apalagi pacarnya imut-imut, dia takut teman-teman nya pada suka.


Perasaan nya mulai gak enak.


"Kemarin gue ketemu nyonya besar, lagi nenteng belanjaan. Awalnya kaget, kok bisa ada anak abg nyasar ke apartement ini. Setelah diintrogasi ternyata calon istri boss." ujar Daniel mulai bocor.


"Gila lo,Man! punya pacar gak bilang-bilang." ujar Sean shock.


"Haha, bulan depan gue mau lamaran. Dateng ya."


Karena sudah kepalang tanggung,mending dia bocorin aja sekalian.


Pernyataan Adrian yang super dadakan itu tentu saja membuat teman-teman nya shock.


"Anjing!" maki Gerald dengan lancar.


"What the fu-" ujar Mario kaget.


Sekarang malah Adrian yang gantian melongo.


Mario? bukannya elo alim?


Fix lah berarti teman nya memang sudah kampret semua. Sampai Mario yang suci pun, ternoda juga.


"Udah seserius itu ya.." ujar Sean.


"Gak nyangka gue, orang yang paling polos di circle kita paling cepet juga naik ke pelaminan." komentar Mario.


"Lo sih, ibadah mulu tiap hari. Cari pacar makanya." ujar Daniel memulai khutbah sesatnya.


Mario cuma mingkem, takut obrolan ini merusak akhlaknya.


"Pantesan hawa apart lo beda banget." tukas Sean sembari memperhatikan sekitarnya.


"Beda apaan dah, dari dulu gini-gini aja kok." jawab Adrian ngeles, lagi.


Dia gak ingin pacarnya di terpa isu miring, apalagi kalau dia sampe ketahuan sering nyeludupin pacar nya kesini.

__ADS_1


****!


Sebenarnya apa yang dia takutkan sih, teman-teman nya ini bahkan lebih brengsek lagi dari dia. Sewaktu mereka kuliah diluar negri, yang absen dugem cuma dirinya berdua dengan Mario. Selebihnya selalu pulang pagi dalam keadaan hangover.


"Iyaa..beda lah, kayak ada hawa-hawa yang ngurusin."


"Memang sejak kapan apartement gue gak ke urus?"


"Kulkas terisi, piring tercuci bersih, rumah wangi. Apalagi kalau bukan indikasi ada yang ngurusin?" timpal Gerald dengan spekulasi nya.


"Perabot mulai nambah satu-satu, posisi barang juga mulai berganti-ganti. Bukannya dulu sofa lo madep sana ya? kok sekarang udah mepet ke dinding?" ujar Sean yang kepekaan nya melebihi manusia rata-rata. Kayaknya ini cowok punya ingatan fotografis. Dia aja gak sadar apartement nya sudah diobrak-abrik pacarnya.


Adrian langsung berlagak bego, pura-pura gak denger dan untung nya teman-teman kampret nya ini lagi pada sibuk semua, membuka tutup lemari, kulkas, mesin cuci, pokoknya selagi bisa dijarah mereka buka-buka in semua. Kurang ajar emang!


"Bagi makan dong pak Haji, laper nih pada belum sarapan."


Adrian sudah tidak bisa mengelak lagi saat Sean terlanjur menghampiri meja makan nya yang sudah dipenuhi masakan Kayana. "Wah..ada banyak makanan." ujar Sean semringah.


"Yo, ada telur balado kesukaan elo." Gerald ikutan heboh.


Mario yang mendengar nya pun ikut semringah, jadilah dia gak tega untuk menolak.


"Pada mau makan nggak? biar gue angetin." tawar Adrian meski berat hati.


"Wah, gak usah repot-repot pak Haji. Tapi boleh deh...pengen nyicip masakan calon ibu boss" sahut Daniel.


Adrian mingkem, sembari mengutuk dalam hati.


Kontan saja teman-teman nya yang jarang menolak makanan ini langsung mengambil piring bersih.


"Wah, tumben lo gak masak beras pulen." komentar Gerald, yang sangat amat paham mengenai dunia per-berasan. Maklum, Gerald Tanjung ini keluarganya toke beras. Jadi wajar kalau paham.


"Gapapa, lagi pengen ganti selera."


"Tapi ini bukannya beras solok ya? beli dimana?" tanya Gerald sembari mengambil nasi.


"Hah?bukannya itu beras biasa?" respon Adrian berlagak bego.


"Kagak, ini beras solok, dari kampung gue." skakmat.


Damn! dia lupa kalau Gerald juga punya darah minang, ya pasti paham perbedaan nasi dijawa dan disumatra.


"Calon istri boss sekampung kali sama lo,Bro. Tanyain gih marga nya apa?" sahut Daniel.


"Suku kali." timpal Mario membenarkan.


"Nah iya.."


"Yang jelas bukan Tanjung." sahut Adrian kalem.


***


Sepulangnya Daniel,dkk dari apartement ini, selanjutnya gantian Kayana yang berkunjung kesini. Kali ini gak tau deh, alasannya apa. Sementang Kiran a.k.a abangnya lagi dinas ke luar kota, pacarnya ini suka semena-mena. Perlukah dia menelfon Kiran supaya mempercepat kepulangannya? Plis, adik Kiran yang satu ini ganas nya minta ampun. Spesies liar dan langka mending disimpen didalam rumah biar gak membawa bahaya!


"Mas lamaaa..." sungut Kayana yang sudah berdiri didepan pintu dengan beragam tentengan.


Plis, hari ini jangan bawa seblak lagi.


"Cuma nunggu dua menit doang sayang, mas tadi lagi mandi." jelas Adrian lalu berjalan menuju pantry, meletakkan belanjaan Kayana yang lagi-lagi pasti untuk mengisi apartementnya.


"Sepatu aku ketinggalan ya.." ujar Kayana sembari melepaskan kaos kaki.


"Tauk tuh, tadi mas lihat ada dirak sepatu."


Kayana pun masuk kedalam lalu menata belanjaan, kali ini mengisi kabinet sebelah kiri. Sedangkan kabinet sebelah kanan sudah dipenuhi berbagai macam makanan kaleng dan cemilan, untuk kabinet sebelah kiri di isi dengan bumbu-bumbu masak yang serba unik, mulai dari kecap asin, kecap ikan, kecap inggris, dan yang Adrian tahu cuma kecap manis.


"Yang ini kapulaga, ini kayu manis, ini ketumbar, ini bunga lawang, ini cengkeh..." gumam Kayana sambil membuka kantong belanjaannya.


"Mas..boleh pinjem spidol gak.Mau aku tandain satu-satu." pinta Kayana.


Semua bumbu-bumbu kering sudah dimasukkan nya kedalam toples-toples kecil lalu disusun rapi didalam kabinet, kategorisasi nya berdasarkan ukuran, bentuk, warna. Dari sini mulai kelihatan kalau pacarnya ini ada indikasi OCD, susunan nya itu loh,rapi banget! Nggak ada cela, nggak ada yang isi toplesnya nggak sama rata, barangkali bumbu-bumbu ini ditimbang dulu satu persatu sebelum dimasukkan ke dalam toples.


Memang ya, cewek itu kalau sudah dikasih keseriusan bisa langsung berubah 180 derajat, Kayana yang biasanya cuek bebek perkara masakan, kini sudah mulai melek dapur.


Apartement ini sudah mulai dipenuhi dengan benda calon istrinya satu-persatu, kalau dilihat dari dapurnya sih sudah bisa dibilang lengkap. Kayaknya kalau pindah kesini nanti, yang perlu Kayana bawa cuma pakaiannya.


Barangkali perempuan itu sudah mulai-mulai memantaskan diri, padahal Adrian fair-fair saja kalau semisalnya Kayana gabisa memasak. Toh, dia menikahi perempuan itu buat dijadikan istri bukan untuk dijadikan koki.


Selesai menata bumbu dapur, Kayana pun duduk selonjoran di sofa.


"Capek." keluh Kayana sambil memijat kakinya.


"Sini..sini biar mas pijitin." tawar Adrian berinisiatif, kemudian mengulurkan tangan untuk memijat bahu serta kepala sang pacar.


Saking keenakannya dipijat, ini cewek hampir-hampir ketiduran lagi. Sontak Adrian berhenti memijat, sudah hafal dengan gelagat pacarnya yang hobi modus ini.


"Lama-lama mas berasa jadi penginapan gratis." gumam Adrian.


"Lah, kenapa?" sahut Kayana heran.


"Tiap kamu datang kesini, kerjaan nya tidur mulu." Adrian pura-pura ngambek, biar nggak kentara banget dia sedang menyindir pacarnya.


"Ululu, ciannya pacar ku. Mau gantian aku pijitin gak mas?" tanya Kayana sembari balik badan.


"Aku jago mijit loh,mas!" ujar Kayana saat melihat tatapan Adrian yang ragu-ragu.


Tanpa babibu, perempuan tersebut langsung menarik tangan Adrian agar tengkurap, selanjutnya Kayana dengan senang hati memijat kaki sang pacar.


"Enak gak mas?"


Adrian yang sudah setengah terpejam cuma menggumam.


"Mantep..."


Kemudian perempuan tersebut beralih memijat punggung nya, untung nya betulan memijat punggung nya. Bukan mengelus-elus ataupun menggodanya, tumben pacarnya ini lurus? ketularan Mario kali ya.


"Mau dikerokin sekalian gak mas? biar badannya enakan."


Firasat Adrian langsung buruk, Kayana pasti belum pernah mempraktekkan ini pada siapapun. Pacarnya ini demen uji coba, tapi plis jangan ke kulitnya juga.


"Gausah sayang..udah enakan kok." tolak Adrian seraya balik badan jadi telentang.


"Udah...gapapa. Cepetan buka bajunya." Kayana mulai menarik tepi bajunya.

__ADS_1


Mau gak mau, Adrian menurut saja. Takut membuat sang pacar kecewa, apalagi dalam upaya nya ingin menjadi istri berbakti ini sebaiknya apapun tindakan baik sang pacar di dukung sepenuhnya. Berdoa saja, semoga kulitnya gak terkelupas sehabis dikerok nanti.


Tiga puluh menit kemudian, Adrian mulai menyesali keputusannya membiarkan Kayana melakukan praktek illegal terhadap badannya. Kampret emang itu cewek! kerok nya gak kira-kira. Kulit badannya jadi perih semua, padahal cuma dikerok pake koin lima ratusan tapi rasanya sekulit-kulit badan nya terkelupas semua. Perih cuy!


"Wah,kok bisa berbekas ya." Ujar Kayana polos, sedangkan Adrian sudah terlanjur makan hati.


Ya iyalah berbekas, wong di keroknya pake koin bukan pake kapas.


"Aw.." ringis Adrian sewaktu memasang baju. Kayana langsung merasa bersalah.


"Maaf ya mas." Kayana menatapnya dengan mata berkaca-kaca, mendadak kambuh panick attack karena terbukti sudah melukai pacarnya.


Adrian cuma mingkem, menahan kesal.


Mau marah tapi gak bisa, begitu melihat wajah ketakutan pacarnya, rasa kesalnya menguap begitu saja. Alhasil dia cuma bisa menghela nafas, memaklumi keluguan serta ketidaktahuan Kayana.


"Maafin aku, mas.." kali ini Kayana mengusap kedua matanya yang sudah berkaca-kaca lagi.


"Udah, dong. Jangan nangis lagi." Adrian mencoba membujuk.


"Abisnya mas dari tadi diemin aku." cicit Kayana pelan, air mata nya berlinang lagi.


"Siapa yang nggak kesel coba Kay, dikerokin kulitnya sampe perih-perih." sahut Adrian jujur, biar pacarnya ini sadar dan badan nya gak dijadikan bahan eksperimen lagi.


"Kan aku nggak sengaja mas." jawab Kayana sembari terisak.


"Iyaa..gapapa. Udah dong, jangan nangis lagi, perihnya udah ilang kok." bujuk Adrian yang nggak tega melihat sang pacar menangis-nangis lagi.


Akhirnya Kayana berhenti menangis, namun mata nya masih kelihatan sembab.


"Aku nggak mau disuruh pulang." Kayana mewek.


Lah?


Ini cewek kesambet apa lagi, kapan coba Adrian mengusirnya? hobi banget overthinking.


"Enggak sayang, nggak disuruh pulang. Disini aja ya, temenin mas. Mau?" bujuk Adrian.


Kayana mengangguk patuh.


Setelah mendapat kecupan singkat didahi, barulah Kayana ceria kembali.


Tuh kan, obat kalau cewek lagi ngambek itu cuma dua. Kalau nggak mempan dikasih makan, ya disayang aja atau dipeluk cium pasti bakalan luluh.


Untuk mengalihkan perhatian Kayana, Adrian mengusap-usap kepalanya. "Udah makan?" tanya Adrian.


Kayana cuma menggeleng.


Ini pacarnya kenapa mendadak jadi pendiam? Biasanya nggak terima banget kalau udah disalahin, bisa mencak-mencak seharian. Melihat Kayana yang patuh-patuh saja, dia jadi tergelitik. Sejak kapan pacarnya jadi se-Bucin ini?


"Tapi aku bawa seblak." ujar Kayana yang sudah reda tangisnya.


Ah, shibal.


"Makan yang normal aja yuk,sayang. Delivery apa gitu? kamu nggak kangen bebek bakar pak Slamet?"


"Enggak, baru kemarin makan itu sama Kiran."


"Kalau ayam penyet? yang deket setiabudi enak loh. Kemarin mas baru coba." tawar Adrian.


"Lagi nggak pengen makan ayam."


"Kalau chinese food gimana? kamu mau dimsum, sapo tahu atau apa gitu." ujar Adrian memberi rekomendasi lagi.


"Terserah sih.." jawab Kayana memberi teka-teki, untungnya dia sudah pro perihal ini. Kalau sudah mentok dan diberi opsi terserah, artinya sang pacar menginginkan opsi terakhir sebagai pilihan.


Oke,berarti chinese food.


Setelah memesan delivery, Adrian berbaring dipangkuan sang pacar.


"Mana yang sakit mas?" tanya Kayana yang sepertinya masih belum move on dari kejadian tadi.


Adrian menunjuk bagian bahunya, yang terasa paling sakit, sepertinya Kayana memfokuskan kekuatan indra nya disana, kayaknya sih ini bukan cuma melukai kulit tapi udah nembus sampe ke daging.


"Merah banget mas." ujar Kayana yang mata nya sudah berair lagi.


"Sakit banget?" tanya Kayana.


Adrian mengangguk.


"Kalau perih gini, biasanya dikasih apa mas? salep atau krim?"


"Krim aja sayang, dikasih lotion juga boleh yang penting kulit nya tetap lembab."


"Kenapa gak dikasih salep aja mas?" tanya Kayana penasaran.


"Salep itu biasanya buat luka yang disebabkan oleh infeksi, contohnya dari jamur, bakteri atau virus. Luka mas kan karena kamu kerokin, jadi kategori nya non-infeksi. Pake lotion atau krim udah cukup kok" terang Adrian yang memberi lecture dadakan siang ini.


"Bentar, aku pakein lotion."


"Pas luka nya rada kering sayang, bukan sekarang." jelas Adrian.


"Terus sekarang diapain dong?" tanya Kayana khawatir.


"Dilap pake air bersih aja, terus ditutup perban. Tapi gak perlu lah, paling besok juga kering." jawab Adrian santai, ya kali cuma karena dikerokin dia sampe pake perban. Lebay banget.


"Kok mas bisa pinter banget sih?" respon Kayana takjub.


"Lain kali ajarin aku dong,mas." pinta Kayana dengan mata berbinar.


"Lulus sidang aja dulu, ntar kalau kamu mau belajar. Siang pagi malam juga mas jabanin."


Kayana langsung meringis, mendadak teringat sidang nya yang tinggal 3 hari lagi. H-3 cuy! dan dia masih sempat-sempatnya ngebucin disini.


"Mas, takut banget mau sidang. Hiks, ajarin dong." Kayana mulai dilanda cemas.


"ah, ntar kamu nya main-main. Mas mau ngajarin kalau kamu nya serius."


"Emang kapan aku nggak serius?" sahut Kayana ngambek.


"Sering Kayana..sering." jawab Adrian dengan nada lelah.


Kayana cuma cemberut, kemudian bertekad didalam hatinya. Dia nggak mau kelihatan dungu saat disidang skripsi nanti. Oke, mulai detik ini dia akan serius belajar sekaligus ingin memanfaatkan previllege nya dari sang pacar.

__ADS_1


Kayana,Fighting!


__ADS_2