Skripsi atau Resepsi

Skripsi atau Resepsi
55 - Tutorial Menjadi Istri yang Baik


__ADS_3

Kayana terbangun karena merasa ada yang aneh.


Perlahan dia meraba-raba guling yang sedang dipeluknya. Buset, sejak kapan guling nya sekeras ini. Kayak batu, tapi batunya harum. Wangi sandal wood, kayak parfum-parfum mahal.


Wait!


Kayana mengendus-endus lagi wangi yang ada didepan nya. Ini sih parfum pacarnya! sontak Kayana membuka kedua mata nya.


Omaigat!


Adrian sedang tertidur sambil merengkuhnya, dan dia juga tertidur berbantalkan lengan Adrian yang kokoh dan kekar. Kalau tiap pagi bangun begini sih sudah pasti dia mabuk kepayang. Makin jatuh cinta sama calon suaminya.


Kayana sontak merem lagi,berusaha kembali ke alam mimpi sembari mendekatkan kepala nya pada dada Adrian,menghirup aroma pria tersebut dalam-dalam. Kapan lagi dapat kesempatan emas untuk tidur berduaan sama Adrian, cowok ini dulu tahan godaan. Kalau sekarang sih di uyel-uyel dikit langsung luluh.


Tapi kali ini Adrian tertidur sambil mengenakan baju, barangkali dia takut di *****-***** Kayana sewaktu tidur. Edan emang! mau gak mau Kayana sedikit tersinggung. Memang dia se ganas itu apa?


Sewaktu memperhatikan wajah Adrian, sudah pasti ganteng gak ketulungan. Pria tersebut tertidur dengan tenang, helaan nafasnya juga terdengar lembut. Ini cowok beneran tidurnya se elegan ini? kayak princess disney. Beneran!


Tunggu dulu, hp nya dimana ya?Ini sih harus difoto, mana tidur nya pules banget kayak anak bayi habis dikasih ASI.


Saat terlalu asyik bergerak, Adrian pun ikut terbangun. Tangan nya merengkuh Kayana semakin dalam kemudian menciumi ubun-ubun wanita tersebut, plis ini perutnya berasa di aduk-aduk. Kayak geli tapi merinding juga,so this is how butterflies feels like?


Hati Kayana langsung terenyuh, merasa bersalah karena selama ini mengabaikan ajakan Adrian untuk menikah. Nggak tahu diri banget, diajak nikah sama cowok cakep yang bibit-bebet-bobotnya juga terjamin, masih aja banyak alasan. Emang dia udah laku banget, sampe berlian aja digantungin?!


Kalau mau,dia bisa saja memacari orang lain yang jauh lebih cantik dari pada Kayana. Jauh lebih berprestasi juga, ketimbang sama Kayana yang lebih banyak kurangnya dari pada lebihnya.


"Udah bangun?" Tanya Adrian dengan suara serak basahnya. Kayana pun langsung berdoa dalam hati,semoga iman nya dikuatkan berlapis-lapis lagi. Masalahnya ini tempat beneran pewe abis kalau mau berbuat yang iya-iya.


Di dalam kamar, adem, mana tirainya masih tertutup sehingga suasana nya remang-remang. Gak lagi-lagi deh dia macam-macam sama pesona Adrian, sudah pasti dia bakalan kalah telak dan nyosor duluan.


"Masih sakit perutnya?"


Kayana cuma menggeleng sembari mengeratkan pelukannya. Dasar tukang modus!


"Btw, minta morning kiss dong!" ujar Kayana dari balik dada pacarnya. Seperti biasa,Kayana itu pantang dikasih hati. Ujung-ujungnya pasti bakalan ngelunjak.


Adrian cuma tertawa, kemudian mencubit pipi Kayana gemas.


"Kamu tuh ya,hobi banget nyosor duluan."


"Abisnya mas ganteng hehe."


"Terus kalau ganteng kenapa?pengen dicium terus?"


"Iyaa.." sahut Kayana polos.


Ahela,kalau gitu sih nama nya napsu. Gak ada korelasinya sama sekali.


"Gimana nih, mau dikasih ga?" tanya Kayana menantang.


Wadaw, dia ikut terkagum-kagum dengan keberanian nya barusan.


Adrian sedikit berjengit saat tangan Kayana sudah mulai meraba-raba nakal, morning time itu paling rawan. Paling gak ada obatnya!


Alhasil pria tersebut langsung meloncat dari kasur, sebelum makin digrepe-*****. Semenjak pacaran sama Kayana, satu persatu bagian tubuhnya mulai gak perawan. Bahaya memang itu cewek, kalau gak bikin jantung nya copot ya bukan Kayana namanya.


"Mas..." Kayana memanggilnya lagi dari balik pintu. Karena terlalu panik akhirnya Adrian pilih kabur kekamar mandi, tapi sialnya dia malah lupa bawa handuk.


Jadi gimana ini,solusinya?


Adrian yang sedang sibuk memikirkan solusi cuma balas berdeham.


"Masih lama ya, mandinya?" tanya Kayana dari balik pintu, seriusan ini cewek persis kayak anak kecil sewaktu ditinggal berak sama ibunya. Nggak sabaran!


"Sabar,sayaang. Mas lagi berak..sakit perut  habis makan seblak kemarin." sahut Adrian ngeles,  padahal yang sakit bukan perutnya tapi kepala nya. Punya pacar tukang nyosor seperti Kayana, menambah beban yang sebelumnya berat menjadi semakin berat. Sewaktu cewek itu diam saja, Adrian sudah klepek-klepek. Apalagi sewaktu ganas mode on, pengen pingsan aja udah.


Dua puluh menit kemudian, Adrian keluar dari kamar mandi dengan berpakaian lengkap. Setelah menghabiskan berlembar-lembar tisu untuk mengelap badan nya, lebih baik badan nya setengah basah seperti ini dibanding minta tolong ambilin handuk sama Kayana tapi pamrihnya gak main-main. Rugi bandar dong dia.


Kayana mendesah kecewa saat melihat tampilan Adrian, dia berharap pagi-pagi bakalan disuguhi perut six pack ataupun bahu pelukable pacarnya. Tapi Adrian keluar kamar mandi dengan setelan persis kayak mau pergi kerja. Sudah mengenakan kemeja dan celana kantor, kurang dasi doang. Tetep hot sih, tapi ibarat makan seblak, gak pake topping ceker, kayak ada yang kurang gitu lho!


Ah, perlukah Kayana menawarkan diri untuk memasangkan dasi Adrian? hitung-hitung berlatih mejadi istri yang baik. Kapan lagi coba dia berbakti sama Adrian? biasanya juga ngelawan terus.


"Mau dibantu masangin dasi gak,mas?" Kayana menawarkan diri.


"Mas mau buru-buru sayang, ada kelas pagi ini."


Karena gak tega melihat wajah sendu Kayana, akhirnya dia mengalah dan membiarkan perempuan tersebut memasangkan dasinya.


Ternyata oh ternyata, Kayana jago juga memasang dasi.


Padahal Adrian sudah underestimate tadi.


Sembari Adrian menyiapkan keperluan untuk mengajar, Kayana mulai menyiapkan sarapan didapur, matanya merasa aneh melihat dapur Adrian yang terlalu rapi tapi terasa kosong juga. Cuma ada microwave, coffe maker, sama blender. Nggak sih, ini lebih ke chopper. Kompornya juga sudah nempel dikabinet, Kayana gak paham apa istilahnya. Intinya dapur orang kaya lah.


Pokoknya ini dapur kurang pernak-pernik, kurang perabotan. Ibarat beli bakso, tapi cuma polosan gak pakai mie dan sambel, kurang makjreng! Tapi wajar sih, apa yang Kayana harapkan dari apartement cowok lajang? set memasak lengkap, tupperware beragam rupa?Masak sekali seminggu juga sudah syukur.


Sewaktu membuka pintu kulkas Kayana cuma menemukan tiga bahan, dada ayam kukus, telur rebus dan brokoli. Ini cowok yakin sehari-hari makan begini doang? Kayana yang melihatnya saja sudah eneg.


Karena gak punya pilihan lain, akhirnya Kayana membuatkan sereal saja, ditambah secangkir kopi. Pakai coffe maker pula, gak diseduh sendiri. Padahal niatnya pengen jadi istri baik, tapi setelah pusing mengenai takaran gula dan kopi. Akhirnya Kayana lebih memilih mempercayakan semuanya pada teknologi. Memang untuk apa teknologi diciptakan? untuk memudahkan pekerjaan bukan?


Sewaktu Adrian tiba di meja makan, semua nya sudah terhidang. Semangkuk sereal,secangkir kopi panas, serta pacar yang dia sayangi. Kalau begini dia jadi semangat berangkat kerja, motivasinya jadi melambung tinggi.


Sewaktu menyesap kopi buatan Kayana, dia refleks mengernyit. Suer, ini kopi pahitnya sampai ke ulu hati. Lebih pahit juga dari omongan Kiran, abang iparnya.  Ibarat minum espresso tapi enam belas shot, pahitnya sampe berasa ke pangkal lidah.

__ADS_1


Setelah memakan sereal, Adrian meminum air putih saja. Gak lanjut meminum kopi buatan Kayana.


"Kok gak dihabisin mas?" tanya Kayana heran.


"Mas gak biasa minum kopi pagi-pagi sayang, masukin kulkas aja, ntar mas bikin coffe milk aja." jawab Adrian, ngeles lagi. Tapi gapapa, menghilangkan rasa pahit dari kopinya saja butuh semangkuk sereal, gak bisa dibayangkan kalau dia minum seisi gelasnya, bisa-bisa dia nyemilin gula selama dijalan.


Akhirnya Adrian pamit pergi kekampus, Kayana yang merengek-rengek minta morning kiss cuma dikasih kecupan dikening. Kayana sedikit mencak-mencak karena pengen nya ditempat lain, tapi gak papalah dari pada nggak dapat sama sekali. Bakalan lebih galau lagi.


Sewaktu Adrian pergi barulah apartement ini terasa hampa, mewah tapi kosong banget. Pantesan itu cowok ngebet banget memperistri Kayana, ternyata tinggal melajang itu emang gaenak. Sudah capek-capek kerja banting tulang, sampe rumah gak ada yang menanti, yang ada malah masak sendiri, makan sendiri, minum sendiri. Gak ada yang mijitin pula, apa gak tambah capek?


Karena pada dasarnya Kayana ini gak bisa duduk manis plus diam, akhirnya dia memutuskan untuk berjalan-jalan sekaligus melihat-lihat pernak pernik ataupun perabotan untuk mengisi apartement ini. Tapi kan dia gak bawa kendaraan, yaudah lah. Naik taksi aja.


Kayana Amira


Mas, aku pergi keluar sebentar ya. Mau jalan-jalan.


Adrian Pramudya


Naik apa?


Kayana Amira


Naik taksi mas


Adrian Pramudya


Gak usah,pakai mobil mas aja, kuncinya ada di dalam kamar. Plat nya XXXX.


Duh, pacarnya ini memang super peka.


Sesampainya diparkiran Kayana dibuat ternganga, gak menyangka bahwa ternyata mobil yang dimaksud pria tersebut adalah maserati keluaran terbaru, platnya saja masih berwarna putih. Ini sih pajero Kiran gak ada apa-apanya kalau dibandingkan sama ini, beda kelas. Kalau sampai kegores jual ginjalnya pun belum tentu bisa nombok biaya reparasi.


Dia terbiasa membawa mobil sebangsa jazz, yaris, ayla, agya. Bukannya dia bilang bahwa mobil-mobil tersebut murah, bahkan dengan kondisi belum bekerja seperti ini membeli salah satu mobil tersebut dia juga gak mampu. Tapi disuruh bawa mobil yang perbandingan harganya bisa membeli 10 mobil dengan merek yang dia sebutkan tadi, tentu saja dia keringat dingin. Gak terbiasa jadi orang tajir, alhasil dia mules sendiri.


Mending naik taksi deh!


Akhirnya seharian ini Kayana cuci mata untuk melihat-lihat perabotan rumah, mulai dari IKEA, Ace Hardware, Informa, sampai ke toko calon papa mertua Angkasa Furniture pun dia sambangi.


Sok-sokan melihat pernak pernik dan perabotan cantik, padahal belom ada duitnya. Alhasil dia cuma beli beberapa benda murah meriah seperti keset kaki, cermin kamar mandi, tempat sabun, celemek dapur, rak bumbu-bumbu, lampu belajar, dll intinya yang estetik semua biar rumah pacarnya ini gak sepi-sepi amat. Gak lupa dia juga membeli sikat gigi couple, dan hair dryer juga sekalian. Sehabis mandi tadi dia kesulitan untuk mengeringkan rambutnya, karena benda sakral tersebut nggak ada.


Sesampainya diapartemen, pak supir cuma membantu Kayana membawa barang-barang tersebut sebatas lobby. Alhasil Kayana jadi riweh sendiri, kanan kiri penuh dengan tentengan. Belum lagi dia sedikit kalap saat berbelanja bahan makanan tadi, melihat isi kulkas sang pacar yang nyaris kosong melompong Kayana jadi gemas sendiri.


Saat berhasil mencapai lift, Kayana kesulitan lagi menekan tombol liftnya.


"Lantai berapa mbak?" tanya seorang pria, ramah, ganteng dengan wajah sedikit ke bulean. Kalau yang ini baru bule asli, gak kayak Bagas yang ngebet banget dibilang bule padahal darah nya 100 persen pribumi. Tapi bisa dibilang blasteran juga deng, soalnya masih kental wajah asia nya.


Kayana sempat ingin terpana, tapi gak jadi karena ingat pacarnya jauh lebih ganteng meskipun mas-mas dihadapannya ini gak kalah ganteng.


"Lantai 35 mas, thank you." sahut Kayana sembari tersenyum manis.


"Iya mas, mas kenal sama pacar saya?" Kayana ikutan kaget, pasalnya dia gak kenal dengan satupun teman Adrian kecuali teman semasa kuliahnya.


"Saya Daniel, teman nya Adrian." Ujar pria tersebut mengenalkan diri.


Daniel?


Ah,Kayana baru ingat. Pasti pria ini partner bisnis kosmetik milik Adrian, pacarnya sempat bercerita kalau membangun bisnis itu berdua dengan teman nya. Enak ya jadi Adrian, circle nya ganteng-ganteng semua.


"Oh,salam kenal mas. Aku Kayana."


Kayana meletakkan belanjaan nya kemudian menyalami tangan Daniel. Selama berada diatas lift tentu saja Kayana canggung, tapi sepertinya Daniel tipe orang yang cukup humble. Buktinya dari tadi gak berhenti bercerita, mulai dari hubungan nya dengan Adrian, tentang pekerjaannya, tentang gosip terbaru komplek apartemen ini. Padahal Kayana gak bertanya, agaknya Daniel ini tipe orang yang sedikit oversharing. Kok bisa ya berteman sama Adrian, nemu dimana sih pacarnya teman modelan begini.


"Terus sewaktu awal bangun bisnis dulu...saya sama Ian lumayan struggle karena harus nyari loan kesana sini buat ekspansi. It's a good thing tho, artinya bisnis kami berkembang..." Daniel masih lanjut bercerita dan Kayana cuma balas tersenyum tipis tanda menghormati. Kayana bukannya pendengar yang tidak baik. Tapi ini cowok ngomongnya gak pakai rem, gak ngasih waktu pula buat Kayana menanggapi. Ini cowok mending buka podcast ajalah! Nanti Kayana tinggal denger di spotify.


Perasaan lantai 35 gak sejauh ini deh. Tapi kenapa ya perasaan dari tadi gak nyampe-nyampe juga?


Kayana bolak-balik mengganti tumpuan kaki, menunggu-nunggu kapan lift ini akan sampai di lantai 35. Saat mengalihkan pandangan nya pada tombol-tombol di pintu lift barulah Kayana tersadar. Sableng emang ini cowok! tombolnya aja gak ditekan, gimana mau jalan!


Setengah kesal, Kayana pun menekan tombol lift tersebut. "Eh, sorry kayaknya saya lupa." ujar Daniel dengan tampang tidak merasa bersalahnya. Kalau bisa Kayana ingin minta refund waktu yang sudah dia habiskan untuk mendengar ocehan Daniel tadi, zaman sekarang tuh gak semuanya bisa gratis. Termasuk waktu yang Kayana habiskan tadi!


Sesampainya diapartemen, Kayana langsung memijat pelipis. Energinya ikutan terkuras setelah mendengar ocehan Daniel tadi, ganteng doang, tapi nyinyir nya minta ampun. Sebelas dua belas sih sama Adrian sebenarnya, pantesan mereka sahabat.


Tapi dia masih tahan dengan ocehan pacarnya, karena cinta sih. Kalau sama Daniel kan dia gak cinta, makanya puyeng.


Setelah menata belanjaan, Kayana langsung berjalan menuju dapur dan memasak ria.


Selesai memasak, seluruh makanan sudah terhidang sempurna diatas meja. Ayam lada hitam, capcay sayur, telur balado dan masakan homes food lainnya. Kalau begini sih, dia sudah bisa dicap sebagai calon istri idaman. Cakep, jago masak lagi.


***


Bau makanan langsung tercium begitu Adrian membuka pintu apartement nya.


Diatas meja, semuanya sudah terhidang. Bahkan sampai ada kerupuk kemplang kesukaan nya juga, bisa ditebak kalau Kayana sudah susah payah menyiapkan ini semua.


Apartement nya juga sedikit berubah, tiba-tiba banyak ornamen baru yang rasa-rasanya gak pernah dia pesan. Sudah pasti kerjaan Kayana juga, dugaan Adrian langsung terbukti begitu melihat tumpukan kardus serta kantong-kantong besar di sebelah rak sepatu.


Saat melangkah ke dalam kamar, tidak ada suara yang terdengar selain suara televisi yang menyala dan ternyata Kayana sudah tertidur pulas diatas sofa.


Dengan hati-hati, Adrian menutup pintu perlahan agar tidak menimbulkan suara. Tas nya pun diletakkan pelan-pelan, agar tak membangunkan Kayana.


Perempuan tersebut masih mengenakan pakaian nya tadi malam, yang mungkin sudah selesai dicucinya tadi pagi. Seriusan, dia berasa jadi pacar yang jahat, masa pacarnya di biarin pake baju yang sama dua hari berturut-turut,cuma dicuci pake mesin cuci, gak disetrika pula karena masih kelihatan lecek. Kesannya dia kayak gak mampu beliin baju aja.


Adrian menyibakkan anak rambut dari wajah Kayana agar tidurnya tidak terganggu, bahkan wanita tersebut belum menghapus sisa make upnya. Kasihan sekali pacarnya, pasti sudah menunggu lama.

__ADS_1


Tiba-tiba sepasang mata dihadapannya terbuka secara perlahan, sambil mengerjab-ngerjabkan matanya untuk menyesuaikan dengan cahaya, Kayana meregangkan tubuhnya.


Adrian refleks mengelus-elus kepala Kayana agar tertidur kembali, namun wanita yang paling dia cintai dimuka bumi ini menolak untuk tertidur kembali.


"Baru pulang, mas?" tanya Kayana dengan nada sayu.


Adrian mengangguk.


"Kok lama banget?" Kayana langsung manyun.


Adrian cuma meringis, dirinya langsung disergap rasa bersalah.


"Maaf ya, tadi keblabasan nongkrong sama anak-anak."


Kayana langsung cemberut. "Kok hp mas nggak bisa dihubungin?"


"Habis batre sayang."


"Tuh kan..." mata Kayana mulai berkaca-kaca, sebelum pacarnya ngambek kejauhan, Adrian langsung menarik Kayana dalam pelukan. Pacarnya ini harus disayang-sayang, biar ngambeknya bisa dipending dulu.


Karena masih kesal, Kayana pun mencubit perut Adrian yang sialnya sekeras batu mau cubit lengan juga sama kerasnya. Jadilah Kayana pundung sendiri.


"Aw.." ringis Kayana.


Padahal yang mencubit Kayana sendiri, tapi yang jarinya sakit juga dia sendiri.


"Cubit dipipi aja sayang." Adrian sedikit prihatin plus menahan tawa, kasian banget pacarnya. Bahkan mau ngambek pun gak direstui sama semesta.


"Gak jadi deh..aku gajadi marah." putus Kayana.


Adrian tertawa, kemudian mengelus pelan punggung Kayana. "Bagus dong, nggak usah marah-marah. Nanti cepet tua."


Kayana cuma mendengus.


"Emang nongkrong nya dimana sih? dimars? lama amat pulang nya." dumel Kayana yang energinya sudah pulih kembali.


"Deket kok...ngopi bentar tadi sama anak-anak."


"Udah makan?"


"Belum, ini laper banget. Mau makan." ujar Adrian, bohong seratus satu persen. Tadi mereka memesan pizza Limo. Semoga saja setelah ini dia gak muntah-muntah karena kekenyangan.


"Mandi dulu sana, mas. Bau asem."


Adrian langsung shock, seumur-umur mau gak mandi dua hari pun dia tetap wangi. Belum pernah dia dikatain bau asem, baru kali ini.


Refleks Adrian mencium bau bajunya, memastikan badan nya memang berbau atau tidak.


"Becanda doang mas, haha." Kayana tertawa kecil.


Adrian langsung mencubit pipi Kayana.


"Usil banget sih.."


Kayana cuma tersenyum manis.


Alhamdulilah,moodnya sudah membaik kembali.


"Sana mandi dulu mas, atau mau aku mandiin?" goda Kayana. Adrian langsung merinding, meskipun sudah tau dengan tabiat Kayana yang memang hobi flirting, tetap saja dia gak terbiasa.


"Kalau kamu yang mandiin, nanti jadinya bukan cuma mandi doang."


"Terus jadinya ngapain?" tanya Kayana, sok polos.


Tuh kan, mulai ngaco lagi otaknya.


Kalau ada jasa laundry isi kepala, Adrian dengan sukarela ingin mencuci bersih isi kepala Kayana biar pikirannya kembali ke jalan yang lurus.


Karena malas berdebat melawan otak kancil Kayana yang gak ada habisnya. Akhirnya Adrian mengalah dan berjalan menuju kamar mandi.


Belum juga selesai mengisi bathub dengan air hangat, Kayana sudah main nyelonong masuk kedalam.


****! dia lupa mengunci pintu.


"Wangi banget mas." komentar Kayana kemudian mengambil botol essential oil yang berada ditangannya.


"ih, jadi kepengen mandi juga." rengek Kayana kemudian memeluk Adrian dari belakang. Plis deh, ini cewek jangan sampai macam-macam. Kamar mandi sudah jelas jadi sarang nya setan, belum lagi godaan yang muncul dalam bentuk Kayana, dia gak yakin bakalan tahan.


"Nggak sekalian kita mandi bareng aja mas?" tanya Kayana lagi dengan suara menggoda. Dan tiba-tiba saja tangan perempuan tersebut membuka kancing kemeja nya satu-persatu kemudian meraba-raba perutnya.


Adrian langsung menegang.


Rasanya dia ingin memaki-maki Kayana didalam hati, karena hobi sekali menguji imannya.


Di pikir kulitnya ini gak peka sama sentuhan?di pegang-pegang begitu dikira gak berasa?


Susah payah Adrian menelan ludah, kemudian mengomeli Kayana. "Awas kalau tangan kamu kemana-mana." suara nya yang keluar gak ada tegas-tegasnya sama sekali, lebih ke mencicit sih karena rasanya dia mendadak bisu dan membeku.


"Emang kenapa, kalau kemana-mana?" Kayana mulai ngakak.


Ingin sekali rasanya Adrian menceburkan perempuan ini ke dalam air, biar sadar sesadar-sadarnya. Fix sih, ini cewek mungkin masih kebawa sama alam mimpi, jadinya hobi ngelantur!


Dengan segenap keberanian, Adrian pun melepas paksa kedua tangan Kayana yang melingkari perutnya kemudian mendorong perempuan tersebut keluar kamar mandi. Sebelum hal-hal yang gak diinginkan terjadi. Kalau sudah halal sih, dia gas. Masalahya mereka belum muhrim, dosa besar!

__ADS_1


****!


Kayaknya malam ini dia gak jadi madi air hangat, butuhnya air dingin.


__ADS_2