Skripsi atau Resepsi

Skripsi atau Resepsi
Extrapart (5)


__ADS_3

Sepertinya jadi calon bapak siaga nggak segampang itu. Pertama, dibutuhkan kesiapan mental yang benar-benar matang. Kedua, jangan ikut-ikutan panik!


Tadi malam Kayana sempat panik dan nyaris menangis saat menggendong kedua anak mereka kedalam kamar. Perempuan itu nyaris mengendarai ford mustang nya seorang diri, untungnya Adrian langsung mencegat tangannya dan meminta Kayana untuk rileks sejenak.


Gila nggak tuh bini nya sewaktu panik?


Masih dasteran, nggak inget pake sendal segala macam langsung implusif ngambil kunci mobil dan membuka garasi mobil mereka. Padahal kedua anaknya masih digendong tapi tetap sigap membuka pagar yang nggak bisa dibilang ringan itu.


"Mas..demam nya nggak turun-turun." ucap Kayana langsung terduduk disofa rumah mereka, mata nya mulai memerah.


Adrian berusaha untuk tetap tenang. Berusaha nggak ikutan panik, karena sebenarnya dia orang yang jauh lebih panikan dibanding sang istri. Kalau mereka berdua sama-sama panik, kan nggak lucu.


Saat menempelkan punggung tangan nya ke dahi sang anak. Ternyata benar saja, demam mereka masih belum turun. Kemarin yang demam duluan yang cewek, pas malam nya yang cowok ikut-ikutan demam. Memang ya, katanya anak kembar itu memang lebih dekat secara naluriah.


"Mas...kayaknya harus dibawa ke IGD." ucap Kayana dengan wajah panik dan langsung menangis saat anaknya mulai rewel, lagi.


Akhirnya mereka langsung tancap gas ke Rumah Sakit terdekat, kebetulan sepupunya sedang berjaga disana. Setelah di cek suhu dan tanda-tanda vital lainnya, kesimpulannya cuma satu. Ini duo bayik cuma mau numbuh gigi, makanya rewel dan wajar juga kalau sampai demam.


Adrian langsung lega dan mengucap syukur. Wajah sang istri yang sedari tadi tampak pucat pasi, juga ikutan lega. Inilah pentingnya edukasi sebelum menjadi calon bapak dan ibu. Sebelumnya mereka mana tahu, kalau anak bayi mau numbuh gigi bisa sampai demam.


"Panik ku masih belum hilang mas." celetuk Kayana begitu sampai dirumah.


"Rileks Kay, nggak perlu panik." ucap Adrian sembari mengusap punggung sang istri, sebelah tangannya menggenggam tagan sang istri erat.


"Tarik nafas...hembuskan." Adrian memberikan instruksi.


"Mas, jangan kayak orang mau lahiran gitu lah. Kok aku disuruh tarik buang nafas segala." ujar Kayana, protes.


Adrian langsung melongo.


"Ya itu caranya biar rileks..." sahut Adrian bingung.


"Maksud ku, kasih kata-kata penyemangat gitu loh, mas." Kayana memberi request.


Otak nya mendadak blank, bisa gitu ya? orang yang lagi panik request ini itu.


"Oke...yang semangat ya sayang. Nggak perlu khawatir, kamu pasti bisa." ujar Adrian klise. Template khas orang-orang yang sewaktu dengerin orang lain curhat cuma modal kepo doang dan nggak bisa ngasih solusi.


"Kok ngasih ucapannya kayak nggak niat gitu sih, mas?" ujar Kayana, lagi-lagi protes.


Ya Gusti.


Terus dia harus apa? menyewa Mario Teguh dan motivator lainnya biar ini bini nya bisa tenang dan selalu berpositif thinking di masa depan?


"Tidur deh sayang, tidur. Kayaknya kamu kurang istirahat, ntar kalau anak-anak bangun biar aku yang urusin." ucap Adrian memberi solusi.


"Oh...iya kali ya." Kayana manggut-manggut kemudian memeluk guling dan tidur membelakangi Adrian.


Fyi, kehidupan pernikahan itu nggak melulu seindah itu. Sewaktu awal menikah, setiap malam mereka tidurnya memang selalu peluk-pelukan. Tapi makin kesini, Kayana sering protes kalau badan Adrian itu nggak empuk dan nggak se pelukable itu untuk jangka lama, badan nya keras karena isinya otot semua.


Bangun-bangun bukannya segar, badan nya malah pegal-pegal. Belum lagi ketiban lengan Adrian yang berat membuat Kayana nyaris selalu terbangun dalam kondisi gerah. Alhasil sang istri lebih memilih untuk memeluk guling ketimbang sang suami yang jelas-jelas ada disampingnya.


***


Adrian merebahkan diri di kasur sambil memijat pelipis.


Asli, capek banget.


Ternyata mengurus anak kembar sendirian nggak segampang itu, berasa ototnya lepas semua dari badan. Anak-anaknya sudah mulai aktif merangkak kesana sini, kalau dulu Adrian doyan mengkoleksi mobil-mobilan hotwheels dan di sengaja di pajang disana sini, sekarang sudah enggak lagi. Dia parnoan anak-anaknya menelan itu mobil, karena anaknya memang doyan makan benda-benda apapun yang ada dilantai.


Semisalnya mpasi, anaknya makan lebih lahap saat makanan nya tumpah di meja ketimbang disajikan dipiring. Aneh memang, tapi sampai kapanpun dia nggak bakalan bisa memahami pola pikir bayi.


Ngomong juga baru bisaa 'mamm, maa' gatau deh itu manggil bini nya apa minta makan, kedengaran nya sama dan ajaibnya yang bisa memahami semua kosa kata ambigu itu cuma sang istri, dia cuma kebagian ngangong doang.


Adrian jadi salut dengan sang istri,mengurus anak, mengurus rumah plus mengurus diri nya yang mendadak suka manja dan suka minta dikelonin tiap malam. Tapi seriusan deh, rasanya kalau nggak dipeluk sang istri dia bisa insomnia saking nggak biasa nya.


"Capek, mas?" tanya Kayana yang baru kelar mandi.


"Enggak kok." sahut Adrian pake bohong.


"Mau dipijitin nggak?"


Dengan senyum mengembang, Adrian langsung balik badan. Menyodorkan punggung nya yang pegal-pegal pada sang istri. Tangan Kayana mulai mengurut pelan dari belakang leher lalu menuju ke punggung.


Lama-kelamaan pijatan tangan sang istri mulai berubah menjadi usapan, Adrian langsung antisipatif. Hapal betul dengan gelagat sang istri yang doyan minta aneh-aneh dan kabar baiknya sekarang nyaris tengah malam a.k.a nyari apapun susah jam segini. Meskipun jakarta dan sekitarnya gapernah tidur, tapi untuk beberapa hal yang rasanya nggak mungkin aja tersedia malam-malam, kan bisa repot jadinya.


"Kayanya aku kepengen lontong sayur deh mas." celetuk Kayana sedikit memelas.


Tuh kan, kebiasaan.


"Based on research, ibu menyusui masih bisa ngidam loh mas." terang Kayana sok yakin.


"Kalau tiap hari begitu namanya bukan ngidam, tapi emang doyan Kay." sahut Adrian enteng.


Bibir sang istri tampak mengerucut.


"Mas gasuka ya kalau aku makin gendut? jadinya aku gadibolehin makan malam-malam begini?" respon sang istri mulai suudzon.


Adrian segera beristigfar dalam hati. Perempuan dan ketidakpercayaan diri mereka itu selalu sepaket. Mau diyakinkan berapa kali pun, ujung-ujungnya bakalan insecure lagi.


"Yaudah deh, gajadi."


Shi-!


Istrinya mulai ngambek dan menghentikan gerakan tangannya seketika.


Sebenarnya ngambekan memang sifat alami Kayana. Tapi biasanya, sang istri nggak se-ngambekan ini. Kalau sampai sang istri mode senggol bacok seperti malam ini, pasti ada pemicu nya. Entah itu komentar tetangga, kerabat, atau siapapun itu Adrian berjanji akan memplester mulut mereka satu persatu.


"Lagi pms, Kay?" Adrian bertanya, berusaha terdengar seadem dan sekalem mungkin.


Kayana ini memang love language nya words of affirmation. Butuh disayang, dan dibujuk-bujuk biar cepat luluh.


"Berat badan ku nggak gampang turun mas, aku capek. Malu juga badan ku gembrot begini." ucap Kayana mulai terisak.


"Tapi perutku laper banget juga, aku diet dikit asi ku malah nggak keluar. Kasian anak-anak." ucap Kayana dengan tangisan nya yang mulai pecah.


Oh, come on! siapa sih manusia menyebalkan yang menyebabkan istrinya insecure seperti ini.


"Kay, mas udah bilang hal ini berulang kali dan bakalan terus mas bilang sampai kamu bosen. I love you no matter what, mau kamu gendutan, kurusan, mas sama sekali nggak peduli. Mas jatuh cinta sama kamu, sama diri kamu. Mas jatuh cinta dengan sosok istri yang kuat dan tegar seperti kamu, kamu sudah sangat cantik di mata mas. That's enough, apapun omongan orang nggak usah didengerin. Memang siapa sih yang berani ngata-ngatain kamu, biar mas tonjok sekalian sampai gigi nya rontok."


"Aku habis nonton film mas, terus suami nya gasuka karena istrinya makin gendutan sehabis melahirkan. Aku takut mas juga begitu, soalnya tiap kali aku ajak beli makanan malam-malam begini, mas selalu sebel." ucap Kayana sembari terisak.


Adrian istigfar lagi.


Ya Rabb.


Kadang-kadang, dia suka speechless dengan isi pikiran wanita. Kompleks nya nggak kira-kira, selain nggak bisa ditebak, dia nggak bisa memahami sama sekali. dan lagi-lagi, kok bisa sih kepikiran sampai sana?


"Beliin ya, mas?" ucap Kayana dengan nada memelas.


Akhirnya Adrian terpaksa bangkit, mengambil kunci mobil beserta dompet. Takut ibu negara semakin ngambek, dan salah salah sedikit dia bisa terancam tidur diluar.


30 menit kemudian Adrian sampai dirumah, dan menemukan sang istri sudah tertidur pulas dikasur. Akhirnya dia terpaksa menyimpan makanan tersebut dikulkas, agar bisa dipanaskan besok pagi. Jaga-jaga kalau istrinya masih ngidam.


***

__ADS_1


Adrian nggak ingat kapan ketiduran, tapi saat terbangun badan nya terasa kram akibat tergencet ditembok. Untungnya ini kasur mepet ke tembok, nggak kebayang senikmat apa kalau sampai badannya terjatuh lagi kebawah. Sudah pernah kejadian soalnya.


Sang istri memang sedikit teritorial perihal kasur, buktinya digeser sedikit Kayana langsung mepet lagi ke arahnya. Adrian melirik sedikit ke arah baby monitor yang terletak di nakas, tampak kedua anaknya sudah tertidur pulas dikamar mereka. Sengaja tidurnya dipisah, katanya sleep train itu memang perlu dilatih sejak kecil.


Kayana tampak tertidur pulas, perlahan Adrian mengulurkan tangannya mengelus rambut Kayana. "Kalau tidur gini bawaan nya kalem, kan enak dilihatnya."


Selama beberapa saat, tangan Adrian mengusap belakang kepala sang istri, sebelum kemudian bergeser mendekat dan memeluk erat tubuh Kayana. Wangi shampoo Kayana terendus, wangi yang sama dengan miliknya. Pasti Kayana males ngerefill shampoo sampai-sampai shampoo miliknya dicomot.


Dengan sayang, Adrian mencium kening sang istri. Mendadak merasa melankolis lagi, soalnya dapetin Kayana tuh nggak gampang. Banyak tantangannya, tapi dengan sampainya mereka dititik ini, dimana dia sudah berkeluarga dan memiliki momongan dari wanita yang dicintai nya. Semua perjuangan nya berasa nggak ada apa-apa nya alias terbayarkan.


"Mas..." tiba-tiba sang istri bersura.


"Hmmm..." Adrian hanya balas menggumam.


"Gerah tau." Kayana tampak cemberut dengan mata yang masih terpejam.


Halah, sewaktu mereka pacaran saja. Dia di peluk-peluk,di kekep-kekep terus macam pindang ikan. Giliran sekarang aja, ngeluh gerah.


Adrian mengabaikan ucapan sang istri dan semakin mengeratkan pelukannya.


"Ish." Kayana mulai ngambek dan membuka kedua mata nya. Begitu membuka matanya, wajahnya langsung dihujani ciuman oleh Adrian.


Mulai dari kening, hidung, kedua matanya dan ketika sampai di bibir, Adrian memberikan ciuman lembut dan manis. Alhasil sang istri langsung luluh, memang dia tuh sudah jagonya dalam hal meluluhkan hati sang istri.


"Ish baru jam lima, padahal pengen bangun kesiangan!" gerutu Kayana kesal saat melihat jam dari nakas.


Adrian geleng-geleng kepala, sedikit takjub dengan pemikiran sang istri.


"Katanya mau solat berjamaah, ini juga sudah kelewat azan subuhnya, nduk!"


"Oh iya..." Kayana langsung bangkit dari kasur dan lekas mengambil wudhu.


Selesai solat dan mendoakan yang baik-baik agar rumah tangga mereka semakin berkah. Kayana mulai asyik di dapur, dan mempersiapkan mpasi untuk anak-anaknya.


Sedangkan Adrian kebagian tugas mondar mandir membersihkan rumah, memvakum lantai biar nggak berdebu, mengganti bohlam yang sempat putus kemarin, menyirami tanaman, pokoknya kesibukan bapak-bapak saat weekend pada umumnya.


Tak lama kemudian, bel rumah mereka berbunyi. Adrian yang tidak menaruh firasat buruk sebelumnya langsung membuka daun pintu rumah nya lebar-lebar. Wajah pertama yang dia lihat adalah wajah teteh-teteh bandung dengan rambut highlight berwarna neon dan mas-mas jawa dengan muka bantalnya yang Adrian tebak belum sampe satu jam yang lalu bangunnya.


"Kayana!!!!"


Lisa berteriak histeris dari pagar depan.


Adrian buru-buru menutup pintu rumahnya.


"Ada tamu, mas?" suara Kayana dari arah dapur.


"Nggak ada."


"Masa sih? rasanya kayak ada yang manggil aku tadi."


"Perasaan kamu aja, kali." sahut Adrian berusaha kalem. Padahal kelihatan banget bohongnya, tapi Kayana memang rada gampang dikibulin. Jadinya percaya-percaya saja dan kembali berjalan ke arah dapur.


Bisa nggak sih, dia dibiarkan menjalani hari minggu nya dengan tentram dan damai. Minggu kemarin rumahnya sudah di intervensi oleh selusin bapak-bapak, sabtu kemarin eyang serta budhe nya dari kampung datang dan bertamu sampai malam. Dia tuh nggak tega melihat sang istri, sudah capek ngurus anak, ngurus rumah, ditambah lagi kerabat-kerabat mereka yang nggak terhitung jumlahnya dan doyan bertamu.


Padahal Adrian sudah menyarankan sang istri untuk pesan catering saja, biar gampang dan nggak repot masak. But Kayana has always been a soft person. She welcomed their guest wholeheartedly and felt happy about that.


"Aku seneng banyak orang yang datang kesini mas, doa-doa mereka juga jadi berkah buat kita. Capek yang aku rasain cuma sebentar kok, memang lagi masa nya saja. Kita nikmatin aja ya mas."


Istrinya itu memang terlalu baik.


Nggak lama kemudian terdengar suara pagar rumah mereka dibuka dan pintu rumahnya mulai di ketuk heboh. Adrian pura-pura ga dengar dan membesarkan volume televisi nya.


Namun sayangnya, sang istri langsung sadar dan segera membuka kan pintu.


Teriakan histeris Lisa langsung menggema begitu Kayana membuka kan pintu.


"Gilak, kangen banget gue sama lo." ujar Lisa seraya memeluk Kayana erat.


Kayana pasrah saja dipeluk-peluk.


"Gilak ya, gue tau rumah lo segede gaban. Tapi masa sih, suara gue gak kedengeran ampe sini."


"Gue sibuk didapur dari tadi, emang dari kapan nyampe nya?" tanya Kayana heran.


"Belum ada sepuluh menit sih."


"Tuh, tuh! Tersangka utama, laki lo. Ada tamu, malah ga dibukain pintu." Lisa menunjuk-nunjuk Adrian yang duduk di sofa.


"Hoalah, kalian. Kirain siapa." Sahut Adrian tanpa rasa bersalah.


Hidung Lisa auto kembang kempis.


"Aaak! gue mau ketemu ponakan gue. Kangen banget gue sama Nathan, sama Nala." ujar Lisa excited.


"Hussh...anak-anaknya masih pada tidur. Jangan dibangunin dulu."


"Tega lo! Gue sampe bela-belain ambil flight subuh biar ketemu para ponakan gue!"


"Ntar kalau mereka pada tantrum, lu mau ngurusin?" Respon Kayana sewot. Lisa hanya terkekeh, sebenarnya dia nggak begitu doyan main sama anak kecil. Tapi, duo ponakan nya tuh pada gemes amat. Rasanya dia juga pengen punya anak, tapi sayang belum ada calon bapaknya.


"Makanya gue bawa Bagas. Kalau mereka tantrum, gue sudah punya tamengnya." Lisa tersenyum bangga.


Dan benar saja, begitu membuka pintu kamar tidur, kuping Lisa langsung disambut suara tangisan bayi.


"Ini bed nya kenapa di iket, dah?" tanya Lisa heran.


"Kalau nggak diiket, ini benda bisa rotasi kemana-mana. Lo gatau segimana akitfnya ini duo bayik." sahut Kayana sambil membuka tirai kamar.


Setelah membawa anaknya keluar kamar, Kayana langsung menyuapi mereka dengan telaten. Nathan dan Nala makan dengan lahap.


"Huaaaa gemes amat!" ucap Lisa histeris melihat duo ponakannya makan dengan lahap.


"Kok bisa sih, mereka kalem banget makan nya." Bagas ikut berkomentar.


"Justru mereka kalemnya pas makan doang."


"Perasaan terakhir kali kesini mereka masih kecil amat, tiba-tiba sekarang sudah makan mpasi aja. Terharu deh gue." ujar Lisa mewek.


"Rasanya kayak melihat tumbuh kembang anak sendiri. Lo bikin anak lagi deh sana, biar Nathan sama Nala jadi anak gue aja." ujar Lisa enteng saat Kayana membereskan perlengkapan makan duo bayik.


"Si anjir, disangka gampang buat anak." sahut Kayana sebal sambil menaruh perlengkapan makan anaknya kedalam sterilizer box.


Begitu kembali dari ruang makan, Adrian sudah mondar-mandir di teras depan dengan dua bayi dalam gendongan. Kalau sudah dikelonin bapaknya, ini duo bayi emang lebih anteng. Nggak pakai drama tantrum-tantrum an.


Kalau dilihat dari wajahnya, duo bayi ini memang plek ketiplek mirip Adrian, gaperlu tes DNA. Mulai dari bentukan rambut, muka, semuanya mirip Adrian.


"Anak lo, mirip bapaknya banget ya. Nggak ada mirip-miripnya sama lu, Kay." komentar Lisa.


Kayana mengangguk tabah. Ini sudah bukan kesekian kali nya lagi, mungkin sudah ke 99 kali atau bahkan ke-seratus kali nya orang-orang berkomentar mengenai betapa mirip anaknya dengan sang suami. Dia cuma kebagian mengandung mereka selama sembilan bulan, begitu lahir muka anaknya mirip bapaknya semua.


"Ya gapapa, bapaknya cakep." sahut Kayana tetap bangga.


***


Sore menjelang petang, para tamunya sudah pulang. Anak-anak mereka sudah tertidur pulas. Finally, dia dan sang istri dibiarkan berdua.

__ADS_1


Adrian menopang dagu, menoleh sekali lagi ke sang istri yang malam ini mengenakan crop tee, dan loose pants berwarna cerah. Rambutnya terurai, dengan wajah terlihat segar sehabis mandi. Sesekali sang istri senyam senyum sendiri, fokus menonton drama korea kesukaannya.


Kalau nggak kenal, pasti nggak akan menyangka kalau perempuan disebelahnnya ini sudah beranak dua. Selain karena bini nya ini imut banget. Ditambah dengan postur tubuhnya yang memang lebih mungil dari Adrian, alhasil mereka sering disalah sangka sebagai bapak dan anak, om dan keponakan, dan yang paling sopan kakak dan adik.


Astaagaaa! Bodohnya Adrian karena baru mengejar-mengejar Kayana sewaktu dirinya kembali dari Aussie, coba dia lebih 'kekeuh' dulu. Minimal anak mereka sudah masuk TK sekarang.


Tapi tetap nggak make sense sih, dia nikahin Kayana umur segitu. Jatuhnya dia malah kayak om-om genit yang doyan macarin ABG. Padahal beda usia mereka cuma 4-5 tahun. Tapi kesannya, dia kayak sepuh amat karena punya istri imut begini.


"Apa sih mas? Dari tadi lirik-lirik mulu." sungut Kayana sambil mengemil kacang dari toples.


Rencana nya hari ini dia berencana nge-date dengan sang istri. Semenjak punya anak, Kayana nyaris tidak pernah meninggalkan rumah selain untuk jadwal imunisasi duo bayik. Alasannya, takut anak-anaknya kecapean apalagi sekarang musim pancaroba.


Padahal kalau mau, Adrian bisa saja menyewa jasa nanny untuk membantu mereka. Tapi Kayana tetap menolak, padahal sang suami nggak bakalan jatuh miskin hanya karena menyewa 1-2 orang nanny.


Tangan Adrian mulai bergerak nakal, karena pakaian nya yang juga cenderung kurang bahan alhasil tangan sang suami bebas meluncur kesana kemari. Kayana memasang wajah kecut.


"Katanya mau nonton? Giliran udah diputer filmnya, malah grasak grusuk kayak kucing mau lahiran."


Adrian melotot mendengar ucapan sang istri.


"Ya, kamu milihnya drama korea. Mas kan nggak suka." Adrian memandang layar TV sambil menghela nafas beberapa kali.


"Aku lagi males minum pil mas." sungut Kayana.


"Ya, it's okay..."


"It's okay...it's okay ndas mu!" ucap Kayana sedikit ngegas. Tapi tidak menolak ketika tangan Adrian mulai merangkul pinggang nya dan mendekap tubuhnya erat.


Tapi yang namanya wanita itu paling nggak bisa dipercaya ucapannya, lima menit kemudian tubuhnya sudah mulai dijarah oleh sang istri. Bahkan tayangan drama korea di tv sudah tidak dipedulikannya lagi.


"We shouldn't do it here. Nggak proper mas." ucap Kayana dengan nafas tersengal-sengal.


"Ini kan rumah kita, nggak bakalan ada yang liat." sahut Adrian santai.


"Ntar kalau ada tamu yang datang gimana?" ucap Kayana sedikit cemas.


"Fine."


Adrian menggendong sang istri kedalam kamar.


"Now, don't interrupt me anymore." ucap Adrian begitu meletakkan tubuh Kayana diatas kasur.


"I won't." sahut Kayana sambil mengerlingkan sebelah matanya.


***


"Mas...aku terakhir kali haid kapan ya?"


Nggak ada angin nggak ada hujan, tiba-tiba Kayana bertanya saat mereka sedang menyantap sarapan. Untungnya Adrian nggak sampai tersedak.


"Bulan lalu mungkin? yang waktu kamu malem-malem ngidam es pisang ijo." ujar Adrian mengangkat bahu.


Kayana mendekat ke arah Adrian dengan gelisah. Mengambil ponsel sang suami, dan membuka kalender menstruasi yang juga di-install di HP sang suami.


"Mas....aku telat bulan ini." ucap Kayana sedikit pucat.


Otaknya mendadak blank. Tapi Adrian segera tersadar. It's not like he impregnated someone's daughter out of consent, they were already married, for duck's sake.


"It's okay...tarik nafas dulu sayang." Adrian meraih tangan sang istri dan menggenggam nya. Membantu Kayana mengatur napas. "Kamu telat satu bulan, dua minggu. Tapi tenang dulu, nggak perlu panik. Biar mas beli testpack sekarang."


"Aku takut, Mas..." mata Kayana tampak memerah, nyaris menangis saking cemasnya.


"Anak-anak belum satu tahun, masa aku hamil lagi mas." tangis nya mulai pecah.


"Hey, relax. Babe, we need to figure it out first. Kita cek dulu ya." ucap Adrian menenangkan saat melihat kepanikan sang istri.


Adrian merengkuh punggung sang istri dan menepuk-nepuk pelan punggungnya.


"It's okay...I will always be on your side, no matter what happened. Take a deep breath, everything is gonna be alright." ujar Adrian menenangkan.


***


"Gimana sayang?" tanya Adrian begitu Kayana keluar dari kamar mandi.


Kayana keluar dengan banjir air mata. Seketika Adrian merasa deja vu.


Adrian menghampiri Kayana dengan cepat dan merengkuh sang istri dalam pelukannya begitu melihat dua garis pada testpack di genggaman tangan Kayana. Adrian membiarkan sang istri menangis hingga puas.


Kayana sudah berhenti menangis. Namun Adrian masih mendekap tubuhnya erat.


"Yeay...Nathan Nala punya adik baru." celetuk Adrian yang langsung dibalas pelototan oleh Kayana.


Selepas fase panik berlalu, mereka mulai memasuki fase pasrah. Sesungguhnya, cita-cita Kayana. Dua anak itu cukup.


Kalaupun berencana memberikan sikembar adik,tentunya tidak dalam jangka waktu dekat. Minimal 2-3 tahun lagi. Tapi mau gimana lagi, kalau sudah kebablasan begini, apa boleh buat?


"Semoga jangan kembar lagi, deh." ucap Kayana sambil melepas pelukannya.


"Kalau kembar juga gapapa."


"Ck." Kayana memukul pelan bahu sang suami, tak lama kemudian mereka tertawa hampir bersamaan.


"Pasti mas nggak bener nih make kondomnya!" Kayana menggerutu.


Adrian balas mencubit gemas pipi sang istri. "Kan kamu yang males minum pil nya, sayang."


"Mas kan tau, kalau aku gasuka minum obat." sungut Kayana sebal.


"Ya udah, berarti emang lagi kebablasan aja."


"Iyaa..." Tapi Adrian buru-buru meletakkan telunjuk didepan bibir sang istri. "Jangan gitu ngomongnya, Sayang. Ntar bayi nya dendam sama kita gara-gara dibilang 'kebablasan'."


"Ish, jangan nakut-nakutin gitu lah mas!"


"Beneran deh, bayi itu tau apa yang dirasakan sama ibu nya. Jangan sampai dia merasa nggak diinginkan."


"Emang kita nggak menginginkan? kan kita cuma protes dikit karena waktunya kurang tepat."


"Sama aja, sayang."


Selanjutnya sang istri menjatuhi Adrian dengan banyak pukulan-pukulan kecil sampai sang istri kewalahan.


"Duh, udah ah. Capek, laper." sungut Kayana.


Lagi-lagi mereka tertawa saat menyadari keadaan saat ini.


"Semoga kali ini, anaknya mirip aku." ucap Kayana sembari berjalan ke ruang tamu.


"Aamiin..." Adrian ikut mengaminkan.


"Jangan lupa besok daftarin ke obgyn!" ucap Kayana judes.


"Siap...bu boss!"


End

__ADS_1


__ADS_2