Skripsi atau Resepsi

Skripsi atau Resepsi
Extrapart (3)


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Adrian sudah heboh. Bangun kesiangan plus alarm nya malah salah set. Siapa suruh sok-sokan pakai a.m p.m, disangka jam 7 pagi tau-taunya di set untuk jam 7 malam. 


Selesai berberes,bukannya pergi Adrian malah kembali naik ke kasur kemudian ndusel-ndusel diperut Kayana. Dia jadi tergoda untuk mencubit lengan sang suami, tapi nggak tega soalnya semalaman sang suami nyaris tidak tidur karena menemani Kayana yang kontraksi nya selalu hilang timbul.


Sebentar rasanya dia oke-oke saja, bahkan masih sempat ketawa-ketiwi sewaktu lihat video lucu diponselnya, lima menit kemudian bisa saja dia meringis kesakitan serasa mau melahirkan saat itu juga.  


Alhasil mereka sudah dua hari stay di rumah sakit, sang calon bapak juga suka panick attack saat Kayana mengeluh sakit. Jadinya dia lebih memilih memboyong sang istri ke sini, biar penanganan nya sat set, nggak kebayang seseram apa kalau tiba-tiba Kayana kontraksi dan mereka masih dirumah. Keburu asma nya kambuh, terus dia pingsan. Tapi jangan sampe deh!


"Mas, ntar telat loh." Kayana kembali mengingatkan sembari mengelus rambut Adrian.


"Kayaknya mas nggak usah masuk kerja dulu deh hari ini." ucap Adrian dengan mata yang sudah tidak bisa melek sempurna. 


"Aku nggak papa kok mas, ntar kalau ada apa-apa dari kantor ke sini kan juga deket." 


Dia nggak mengada-ada, jarak rumah sakit tempatnya dirawat dengan kantor Adrian memang sedekat itu. Nggak sampai lima menit.


"No...mas mau neminin kamu sama anak-anak." Adrian merengek dan semakin mendekap perut Kayana dengan erat.


"Gaboleh kayak gitu mas. Ntar kerjaannya-..."


"Sini deh. Mas mau peluk. Ngomel mulu sayangnya mas." Adrian ikutan ngedumel.


Kayana langsung tersipu tanpa bisa ditahan-tahan. Aih...kesannya mereka kayak pengantin baru terus. Padahal mah udah hampir jalan setahun. Tapi suaminya ini memang paling doyan bikin baper anak orang.


"Siniii....peluk." Pinta Adrian kini lebih manja.


"Nggak mau, mas belom mandi." rengek Kayana.


"Mas cuma belom mandi satu hari, sayang. Ganteng nya gabakalan hilang."


Bener juga.


Akhirnya dengan terpaksa Kayana beringsut mendekat. Pasrah saja saat tubuhnya dipeluk erat. Sebelah tangan Adrian ikut mengelus-elus perutnya yang tampak membuncit.


"Baby...jangan lama-lama ya diperut mami, ntar lahirnya yang gampang ya. Jangan bikin mami sakit." Adrian berdialog sendiri dengan sang calon anak sambil mengecup perut Kayana.


"Mas..katanya kemarin mau panggil abi umi." protes Kayana.


"Kita kan bukan orang arab, Kay." Adrian meringis, merasa nggak cocok sama sekali dengan panggilan abi.


Muka nya bisa saja rada-rada arab dikit, tapi dia mah arab KW. Kalau brewok nya dicukur abis tetap aja jadi mas-mas jawa.


"Oh, iyasih." Kayana mengangguk setuju.


Adrian menghela nafas lega.

__ADS_1


"Laper nggak mas?" Kayana balik bertanya, barangkali dengan memakan cemilan sang suami kembali bertenaga. 


"Nggak sayang, mas ngantuk." sahut Adrian lemas kemudian merebahkan diri di kasur.


Seriusan, dia jadi kasihan liat Adrian. Matanya sudah kayak nggak dipakai merem setahun,belum lagi rambutnya sudah mulai panjang dan nyaris melewati kerah baju. Biasa nya mana pernah sang suami membiarkan penampilannya sedikit kurang klimis begini? Tapi semenjak kehamilannya, Adrian jadi lebih memprioritaskan Kayana dan sang calon anak.


Yang biasanya sering lembur, sekarang kerjaan sudah mulai dibawa ke rumah semua. Kadang berangkat kerja juga doyan telat, sementang yang punya perusahaan jadinya bisa masuk kantor seenak jidat. Enak banget ya tapi, jadi sultan begini. Nggak perlu kerja keras, yang penting kerja cerdas.


Kalau kata sang suami, Daniel a.k.a partner bisnisnya itu sosok yang sangat bisa di andalkan, meskipun akhlak nya rada-rada gimana gitu, sering minta dikoreksi. Tapi urusan pekerjaan, pria itu nggak pernah neko-neko, sifatnya juga nggak bangsat-bangsat amat apalagi semenjak bertemu pawang nya, lebih adem, lebih sedikit kebapakan lah intinya.


Fyi, sekarang Adrian sudah mulai mengurangi jadwal mengajarnya, apalagi semenjak punya asisten dosen sang suami jadi sering menyalahgunakan wewenang. Hal yang satu ini nggak patut dicontoh sih, tapi kata nya dia sudah mengobrol dengan dekan perkara hal ini dan karena kampus nggak mau kehilangan sosok brilliant seperti Adrian, otomatis legowo dengan keputusan sang suami dan jadwal mengajarnya jadi dikurangi.


"Mas..." panggil Kayana dengan suara pelan.


Adrian yang memang belum tertidur lelap, jadi melek lagi.


"Kenapa?"


"Kayaknya aku mau lahiran, deh." tunjuk Kayana santai pada bajunya yang sudah basah dengan air ketuban.


Adrian terbelalak kaget dan langsung pingsan saat itu juga.


***


Adrian merasakan lengannya digoncang, nggak kuat-kuat amat sih tapi cukup untuk membangunkannya.


Tadi dia lagi ngapain ya?


Apa emang lagi tidur aja?


Seketika kesadarannya kembali. Oh, iya! istrinya mau melahirkan.


"Kay...Kayana." ucapnya seketika panik.


"Kayana udah di OK." sahut Kiran.


Abang iparnya sedang duduk dibangku seberang, sebelah tangannya masuk ke saku. Tampang nya dibuat sok-sok cool, tapi kalau dilihat dari dekat pasti terlihat jelas bahwa wajahnya pucat pasi. Lebih pucat dari sang calon bapak.


"Lahirannya caesar?" Adrian bangkit dengan mendadak, tapi Kiran menahan bahu nya.


"Gausah grasak-grusuk gitulah. Baring dulu, baru sadar juga." ucap Kiran sedikit mengomel.


Adrian kembali merebahkan diri, asli kepala nya puyeng beneran. Seumur-umur baru kali ini dia merasakan pingsan, biasanya mau sepanik apapun dia orang yang cenderung tenang. Tapi tadi rasa paniknya bukan main, apalagi saat melihat baju Kayana yang sudah basah oleh air ketuban. Kesadarannya langsung hilang saat itu juga.


"Kemungkinan caesar, soalnya sudah pecah ketuban. Kalau lahiran normal resikonya besar." Jelas Kiran dengan sorot mata yang tampak sedih.

__ADS_1


Adrian mendadak cemas, dan hanya bisa berdoa untuk kelancaran proses melahirkan sang istri.


Kira-kira sepuluh menit kemudian, Adrian bangkit dari kasur.


"Bang, gue mau ke OK, nemenin Kayana." ucap Adrian.


"Lo yakin, sudah kuat?" tanya Kiran.


"Kuat bang, gue harus nemenin Kayana disana. I had no idea, apa yang Kayana rasain sekarang. Gue nggak mau Kayana ngelaluin semuanya sendirian." 


Kiran cuma menangguk kemudian mengantar Adrian ke ruang operasi, setelah melakukan proses sterilisasi dan mengenakan baju OK. Adrian dipersilahkan masuk.


Hatinya mencelos seketika saat melihat Kayana sedang menangis sambil menutupi wajahnya. Rasa bersalah langsung menyergapnya saat itu juga. Merasa gagal jadi sosok suami yang siaga, masa saat istrinya sedang berjuang melahirkan anak mereka bisa-bisa nya dia pingsan.


"Kay..."


Kayana langsung membuka wajahnya.


"Loh, mas udah nggak papa?" tanya Kayana kaget. 


Adrian semakin merasa bersalah saat Kayana malah mengkhawatirkan keadaan nya, padahal kondisi sang istri yang paling penting saat ini.


"Mas gapapa, Sayang. Kamu gimana? gapapa? ada yang sakit?" tanya Adrian lembut sembari mengelus kepala sang istri.


"Sekarang sudah nggak sakit mas, sewaktu mau dibius tadi sakit karena punggung aku disuntik, kalau sekarang udah nggak berasa apa-apa."


"It's okay, I'm here for you. Maaf ya, mas telat."


"There's no need to sorry, mas. Aku seneng mas sudah memberanikan diri buat kesini, aku malah takut kalau mas pingsan lagi. Mas beneran nggak papa? aku gapapa kok sendiri."


Mata nya langsung memerah begitu mendengar ucapan Kayana, air mata nya langsung mengalir begitu saja.


"Kamu ngomong apasih, gamungkin mas biarin kamu sendirian disini." ucap Adrian dengan suara serak kemudian mengecup kening sang istri.


Selama operasi berlangsung, mereka tidak henti-henti nya berdoa.  Adrian merasa waktu berlalu sangat lama selama diruang operasi tersebut.  Tak lama kemudian, terdengar suara tangisan bayi.


"Selamat pak, ini anak pertama nya laki-laki pak. Anggota tubuhnya lengkap, jari tangan dan kaki nya juga lengkap." ucap suster kemudian meletakkan bayi mereka di dada Kayana. 


Setelah mengecup sang anak, suster mengambil kembali bayi mereka untuk dibersihkan. Tak lama kemudian, terdengar suara tangisan bayi lagi.


"ini anak keduanya perempuan ya pak. Anggota tubuhnya juga lengkap, jari tangan dan kaki nya juga lengkap." 


Adrian menangis bahagia kemudian mengecep kening Kayana berkali-kali.


"Makasih banyak, Kay." 

__ADS_1


Kayana ikut menangis seraya mengangguk bahagia. "Terimakasih juga, mas."


__ADS_2