
"Tegang banget duduknya Kay, ntar sakit pinggang loh." ucap Anne, humble. Beliau meletakkan beberapa toples cemilan dihadapan mereka.
Datang berkunjung kerumah gebetan tentunya bukan hal yang baru bagi Kayana. Tapi datang dan disambut sebagai calon menantu, tentunya baru pertama kali bagi Kayana.
Rasanya tuh dia kudu bener-bener menjaga sikap. Padahal pacarannya cuma boongan, tapi deg-degan nya jadi beneran. Kan repot.
"Gimana kabarnya, Kay?Sehat?"
Kayana menangguk, sembari melafalkan doa-doa agar Adrian segera menyusul dan dapat menyelamatkannya. Dia nggak kebayang kalau nanti sewaktu di introgasi ini itu, dan logika nya nggak jalan untuk menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh ibu Adrian,bisa berabe.
Kayana mengubah posisi duduknya menjadi sedikit bersandar, agar kesannya lebih santuy dan nggak semakin dicurigai. Karena yang namanya ibu-ibu radarnya itu selalu kuat, suara tukang sayur lewat di ujung komplek aja bisa sadar. Apalagi cuma ngadepin manusia yang nggak jago bohong kayak dia, ya cetek lah!
"Mami sekeluarga juga sehat-sehat kan?"
"Alhamdulilah sehat."
"Yuk...diminum tehnya, ntar keburu dingin." tawar Anne.
"Iyaa mi..." jawab Kayana kikuk.
Menyadari obrolan yang cukup canggung diantara mereka, ibu Adrian tersenyum kecil.
"Kenapa? takut ketahuan ya sama mami, kalau kalian pura-pura pacaran."
Jelas saja Kayana langsung tersedak. "Maaf..maaf. Engga gitu, mi." sahut Kayana kelewat cepat.
Dibilang juga apa, yang namanya harapan itu nggak melulu sesuai dengan kenyataan. Kalau kata pepatah, sepandai-pandainya menyimpan bangkai. Lama-lama baunya akan tercium jua.
Tapi serius deh, ini tuh kecepetan! Bohongnya juga belum sampe sejam yang lalu.
"Kelihatan banget ya, mi?" tanya Kayana setelah meredakan batuknya.
"Banget lah, kalian berdua tuh nggak ada natural-naturalnya. Yang satu panikan, yang satu nggak paham kode, ya kacau lah. Chemistry nya nggak dapet." jawab Anne sembari geleng-geleng.
"Kurang briefing nih mi, heheh." sahut Kayana memaksakan tawanya.
Oh, Tuhan.
Dimanakah Adrian berada?
Kayana menoleh ke kanan-kiri, mencari-cari wujud sang Dosen. Dan Ibu Adrian menyadari kegelisahannya itu.
"Gapapa kok sayang. Sebenarnya Ian sudah bilang kok sama mami kalau kalian cuma temenan. Dari tadi dia memang sengaja usil ke kamu." sahut Anne sembari tertawa kecil.
Kedua mata Kayana melebar tanpa sadar.
Jadi dari tadi dia yang dikibulin?
Kampret!
Sia-sia rasanya dia menyusun skenario serapih mungkin, seharusnya dia pesimis saja dari awal. Nggak perlu effort sampe segitunya!
"Dia sering usil ya ke kamu?" tanya Anne.
"Bangett mi!!" Lagi-lagi Kayana menjawab kelewat cepat.
Seriusan, kalau nggak ingat itu orang dosen pembimbingnya dikampus. Sudah Kayana lempar pake kursi. Resenya itu loh! Minta ampun!
"Lagian kalian berdua juga aneh. Sudah sama-sama kenal, sama-sama cocok. Kenapa nggak pacaran aja sih?"
Kayana cuma tersenyum kecut didalam hati, diajakin pacaran juga nggak pernah. Cuma dikode-kode doang. Bahkan dia juga sempat ditolak, dulu. Yakali dia harus mengejar lagi?
"Hehehe...sebenarnya. Adrian nggak begitu suka sama aku Mi. We might be look like in a good term,now. Tapi dulu kami sering berantem." ucap Kayana.
Jelas Anne tampak kaget, keningnya tampak berkerut dalam. Setahunya itu anak sudah cinta mati sama Kayana. Bucin nya nggak main-main, dikit-dikit bahas Kayana. Dugaan nya cuma dua, anaknya ini cupu abis dan nggak jago deketin anak gadis orang atau Kayana termasuk spesies manusia kurang peka dan nggak sadar kalau selama ini dikejar-kejar sama Adrian.
Kasihan banget anaknya, kalau iya,
"Sebenarnya pas zaman maba aku itu termasuk dalam list orang yang kurang disenangi Adrian mi. Mungkin karena Adrian tipe orang yang sedikit perfeksionis, dia jadi sedikit kewalahan menghadapi aku yang lumayan bebal dan sering kabur-kaburan setiap ada acara kepanitiaan."
"Tapi takdir nggak ada yang tau kan mi. Tau-tau Adrian malah jadi dosen pembimbing aku sekarang." ucap Kayana sembari tertawa kecil.
"Kay, mami nggak tahu ada cerita apa dibalik hubungan kalian dulu. I'm not the one to judge, juga. Lebih tua belum tentu lebih bener." ucap Anne sembari menggenggam tangan Kayana.
"Tapi sebagai ibu, mami tahu betul kalau Adrian nggak pernah membenci kamu. Kalaupun dia memang nggak suka sama kamu, nggak mungkin kamu jadi orang pertama yang dia cari sewaktu mami desak dia buat nyari pacar. Buktinya, dia malah muluk-muluk cerita sama mami sewaktu kamu nggak membalas pesannya."
"Kay, Adrian itu nggak pernah pacaran. Seumur-umur juga baru kali ini dia deketin perempuan. Kamu harap maklum ya Kay, bisa jadi dia kelihatan kaku dan nggak bisa menyampaikan perasaan nya secara gamblang ke kamu. Dia masih perlu banyak belajar, terutama dalam hal menyampaikan perasaan nya sama orang yang dia suka."
Kayana...nggak bisa berkata-kata.
Rasanya seperti ada biji duren yang nyangkut di kerongkongan Kayana.
Ibunya Adrian serius nggak,sih? Atau Kayana aja yang kepedean dalam mengartikan semua ucapannya?
"But...I don't deserve him, mi. Aku banyak kurang nya mi. Selama ini aku selalu ngerepotin Adrian dan dia selalu kebagian untuk menyelesaikan semua kekacauan yang aku buat. Mungkin Adrian jaga jarak sama aku, karena dia nggak mau aku ngerasa bersalah dan semakin terbebani. Tapi sebenarnya, malah aku yang membebani Adrian mi." ucap Kayana dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
"Yaampun sayang, kamu jangan berpikir kayak gitu. Don't you ever think less of yourself. Of course, you deserve it. Adrian nggak mungkin memperlakukan kamu sebaik itu, bahkan sampai ngejar-ngejar kamu kalau dia ngerasa kamu membebani dia selama ini. Kamu itu berharga buat dia. He treasures you so much, Kay." ucap Anne sambil menatap Kayana lembut.
"Kamu tahu Kay? Adrian itu anak yang cukup pendiam dulunya, mami nggak tahu apakah waktu sekolah dia pernah dirundung atau semacamnya karena dia nggak pernah mau cerita. Mungkin di usia segitu, dia sudah paham situasi karena mami dan papi selalu sibuk,dia jadi nggak ingin merepotkan."
"Dia terpaksa jadi dewasa sebelum waktunya. Salah mami juga karena dulu terlalu egois mengejar karir sehingga Adrian tumbuh tanpa perhatian yang cukup dari kedua orang tuanya. Mami pikir, selama kami mencukupi kebutuhan Adrian dan Ralina secara finansial mereka bakalan senang-senang saja. Berbeda dengan Ralina yang berani speak up tentang kekesalannya setiap kali mami harus keluar negri untuk belajar design ataupun perihal papi yang selalu dinas keluar kota dan jarang dirumah. Adrian cuma diam,he ate his food,doing his chores, belajar seperti biasanya. Adrian itu cukup pendiam sebenarnya, kalau dia mau cerita bakan sampai cerewet sama kamu. Berarti kamu orang yang spesial bagi dia."
__ADS_1
Kedua mata Kayana ikut berair saat mendengarkan cerita Anne. Selama ini dia sangka Adrian adalah orang yang sombong dan suka semena-mena terhadap orang lain. Ah, look at him. Dia cuma nggak tahu bagaimana cara menunjukkan perasaan nya dengan benar.
"Sedari kecil Adrian selalu mempush dirinya untuk jadi yang terbaik. Dia ingin mendapatkan perhatian dari kami berdua, orang tua nya. Tapi lagi-lagi sewaktu tahu Adrian mengukir prestasi, kami cuma melimpahi Adrian dengan materi. Bukan mengapresiasi kerja kerasnya,ataupun memuji Adrian karena dia berhasil sampai di titik itu. "
"Jujur, mami senang karena Adrian anak yang berprestasi. Tapi mami juga khawatir karena dia nggak melalui masa kecil nya seperti kebanyakan anak pada umumnya."
Kayana kaget saat menyadari air matanya mengalir begitu saja. Padahal niat nya cuma ingin mendengarkan cerita Anne sepenuh hati, tapi mau nggak mau dia juga merasa sedih saat membayangkan Adrian kecil harus melewati itu semua.
"Mami harap kamu bisa memandang Ian dengan berbeda setelah ini. Sebagai orang tua, tentu mami berharap Adrian bisa berbahagia dengan orang yang dia sukai, tapi mami juga nggak mau memaksakan perasaan kamu. Mami cuma berharap kamu bisa membuka hati kamu untuk Ian. Dia memang nggak sebaik yang kamu pikirkan, tapi dia juga nggak seburuk yang kamu sangkakan. Kalaupun kalian nggak berakhir bersama, thats okay. He's already an adult, mami percaya Ian sudah cukup dewasa untuk mengatasi itu."
Anne menatap lembut sambil meremas pelan tangan Kayana.
"Aku usahakan ya mi." balas Kayana.
"Thank you dear...thank you." ucap Anne penuh haru lalu memeluk erat Kayana.
***
"Aman?" bisik Adrian sekembalinya Kayana dari taman bersama Anne.
Kayana tersenyum manis sembari mengangguk.
Adrian menghela nafas lega.
"Mamii...aku sama Kay balik dulu ya mi." pamit Adrian.
"Loh, kok buru-buru banget."
"Udah keburu sore mi, belum macet di jalan. Ntar Kayana pulang nya kemaleman." Adrian beralasan.
"Baru jam setengah lima sore, mami rasa nggak bakalan kemaleman deh. Lagi weekend juga. Orang-orang pada istirahat dirumah, jalanan nggak bakalan ramai kayak biasa."
"Aku ngikut mas Ian mi." komentar Kayana.
Kayana sih nggak masalah mau pulang jam berapa. Lagian bukan dia yang nyetir, dia cuma duduk manis dimobil. Kalau mau pulang sekarang hayuk, agak maleman juga hayuk. Lagipula Adrian sudah dapat restu penuh dari bu Ratna, mau pulang nya lusa juga nggak bakal ditanyain.
"Nggak sekalian makan malam disini aja sayang?"
Anne menatap kearah mereka penuh harap. Sedangkan Adrian sibuk mengode Kayana.
Ini dia harus nurutin camer-nya?atau calon suaminya? Eh!
Tapi seharusnya nurutin suami dulu nggak sih, baru nurutin mertua? bukan begitu hukumnya?
"Terserah mas Ian aja mi, aku ngikut." jawab Kayana berusaha cari aman.
"Mams...kapan-kapan yaa?" Bujuk Adrian.
Mendadak Adrian heran sendiri, ini dia sudah nggak di anggap anak apa gimana? bisa-bisanya anak sendiri nggak di prioritasin.
Setelah lima menit beradu mulut, tentu saja Anne menang telak. Sifat mereka boleh sama-sama keras kepala, tapi sebagai orang yang menurunkan sifat itu. Jelas Adrian kalah telak, argumen nya kurang kuat dan mudah dipatahkan oleh baginda ratu.
Karena nggak punya argumen lebih lanjut untuk melawan ibu negara, alhasil mereka terpaksa menuruti permintaan Anne.
Melihat Adrian yang sibuk kesana kemari menyiapkan makanan tentu Kayana merasa nggak enak hati, tapi dia nggak dibiarkan membantu sama sekali. Alhasil Kayana cuma bisa duduk manis dikursi sambil memperhatikan pergerakan Adrian yang telaten menyajikan makanan di meja.
"Oh iya..itu ada kerupuk kemplang dari palembang, dibawain papi kamu. Bawain sekalian!" ucap Anne seolah tak kehabisan perintah.
"Kok dari tadi nggak dikeluarin sih mi?Kan aku suka!" protes Adrian dari belakang sambil membawa setoples kerupuk.
"Kalau mami keluarin, pasti kamu habisin semua!" Sewot Anne.
"Kan kodratnya makanan emang untuk dihabisin mi." respon Adrian sebal.
"Masih ngelawan kamu?" tanya Anne.
Tangannya sudah berancang-ancang mengambil sendal untuk menyumpal mulut Adrian.
Tuh kan, dibilang juga apa.
Ini cowok nggak dikampus, nggak dirumah sendiri. Nyinyirnya minta ampun.
"Eh..ampun miii." jawab Adrian memelas sembari bersembunyi dibalik punggung Kayana.
Kayana yang badannya sekecil cabe rawit dibandingkan dengan Adrian tentunya cuma bisa pasrah saat ditarik kesana kemari. Tapi mau nggak mau dia tertawa kecil melihat interaksi antara ibu dan anak tersebut, meskipun sesekali beradu argumen keluarga mereka tampak harmonis.
"Ini ada ayam pop, ayam gulai, ikan cabe,ayam bumbu, rendang ayam,rendang daging,ikan bakar, gulai tambusu, dendeng balado, ayam balado,peyek udang-" ucap Anne mengucapkan daftar menu nya tanpa henti.
Kayana cuma bisa melongo. Saking sibuknya menghentikan cekcok antara ibu dan anak dihadapannya. Kayana baru sadar kalau makanan yang dihidangkan oleh ibu Adrian sebanyak ini.
Lengkapnya ngalah-ngalahin rumah makan padang.
"Ini kebanyakan mi." cicit Kayana tak enak hati.
"It's okay sayang, mami nggak tau kamu sukanya apa. Jadinya mami pesanin semua. Kata Ian kamu orang padang kan?" Tanya Anne memastikan dan Kayana balas mengangguk.
Sejujurnya Kayana senang disambut seperti ini. Tapi jujurly, ini kebanyakan. Dia nggak disuruh merapel makannya untuk sebulan kedepan kan?
"Ambil sendiri-sendiri ya guys, mami udah kelaperan." ujar Anne lalu mengambil nasi dan beragam lauk pauk.
Melihat porsi makan Anne, Kayana jadi minder sendiri. Soalnya dia tuh anaknya 'nasi' banget. Nggak ketemu nasi, belum makan namanya. Melihat porsi nasi Anne yang nggak sampe tiga suap, Kayana auto meringis. Pantas saja tubuhnya tetap ramping di usia segini.
__ADS_1
Adrian tampak belum menyentuh makanan nya sama sekali dan masih terobsesi dengan kerupuk kemplang dihadapannya, Kayana tidak yakin entah itu kerupuk yang ke 7 atau ke 8 tapi dari tadi ini cowok nggak berhenti mengunyah.
Ini makan malam kan? Bukan acara 17 agustusan? Dia takut salah tempat.
"Nggak pake cabe pak?" tanya Kayana saat melihat piring Adrian putih bersih, lauknnya juga ayam kecap. Rasanya nggak afdol kalau makan nasi padang, tapi nggak pake cabai ataupun bumbu rendang yang pastinya authentic.
Rugi amat, ya gak sie?
"Engga..saya asam lambung-" sahut Adrian kalem.
"Halah..alasan. Dia nggak kuat makan cabe Kay,ketemu cabe dikit aja langsung mules-mules tiga hari. Cemen banget, makan pakai saos pedas juga baru kemarin bisanya." ucap Anne serta merta membuka aib sang anak.
"Oh, hahaha...pantesan ya mi. Sewaktu kami makan bakso, kuahnya mas Ian bening amat." Kayana ikut-ikutan membully Adrian.
"Kalau Ralina itu ratu cabe, ini anak nggak bisa nyentuh cabe sama sekali. Jadi tiap makan mami harus nyiapin dua jenis lauk yang berbeda." jelas Anne.
"Assalamualaikum.." sapa suara didepan pintu.
"Walaikumsalam, Pak Su." sahut Anne heboh lalu berjalan semangat untuk membuka pintu.
Kayana langsung panik, bertemu dengan ibu Adrian saja dia sudah grogi mampus. Apalagi bertemu dengan ayahnya Adrian? bisa pingsan ditempat dia.
Menyadari sorot mata Kayana yang tampak panik, Adrian memberikan tatapan yang meneduhkan.
"It's Okay,papa saya humble kok orangnya." ucap Adrian menenangkan,membuat Kayana bernafas sedikit lega.
"Wah...lagi ada syukuran hari ini? lauknya banyak banget." komentar Rudy, Ayah Adrian.
"Biasa pi...sifat mubazir mami kambuh." balas Adrian mengompori.
"Bakalan habis loh ya! Mubazir mata mu!" Sewot Anne.
"Oh..iyaa Pi. Kenalin ini Kayana, calon menantu kita Pi." ucap Anne jenaka.
"Loh, iya?" respon Rudy, humble.
"Hahaha...bercanda kok om. Kenalin, aku Kayana om." sapa Kayana ramah.
"Oh..iya. Saya Rudy, kebetulan saya ditakdirkan jadi papa nya Adrian."
"Kok kesannya,kayak nggak ikhlas gitu ya." sungut Adrian kesal.
"Sans bro!" Gurau ayahnya lalu duduk disamping Anne dan mengambil beberapa lauk pauk.
"Loh...Katanya diet,kok makannya karbo semua." celetuk Rudy tiba-tiba membuat Kayana tersedak seketika karena merasa terpanggil.
"Besok-besok aja dietnya Pi.. Gasin, mami sudah olahraga kok kemarin, aman ini." ucap Anne sambil meneruskan kegiatan makannya.
"Loh..kok ada kerupuk kemplang?" Suara Rudy terdengar kaget.
"Lah..kata mami ini oleh-oleh papi yang bawa." timpal Rudy.
"Eh...iyasih papi yang bawa. Tapi kok nggak pernah dikeluarin, mi?"
"Sengaja diumpetin, buat calon mantu mami tersayang. Soalnya kalian berdua maniak kerupuk."
"Tapi kerupuk ini punya hak untuk dimakan, Mi. Nggak baik diumpetin terus, nanti kerupuknya malah merasa nggak diinginkan. Mami nggak mikir kalau tindakan mami itu jahat banget, dan sangat tidak berperike-kerupuk-an?" Adrian jadi bersemangat karena merasa punya back-up yang satu frekuensi.
Kayana cuma tertawa, seriusan ini keluarga absurd abis. Perihal kerupuk saja, sampe bawa hak-hak asasi segala.
Anne cuma misuh-misuh dan mengabaikan pertanyaan anak serta suaminya. Itu dua manusia kalau sudah digabung memang nggak ada obatnya, ngoceh terus!
"Duh...sayangnya Ralina lagi liburan ke lombok, jadinya kita cuma bisa makan berempat. Tapi gapapa guys,yang penting tuh moment nya." ucap Anne bersemangat.
"Nggak nambah lagi Kay?biasanya kamu makannya banyak loh tiap sama saya." bisik Adrian disebelah Kayana yang langsung dibalas Kayana dengan pelototan sebal.
"Udah kenyang pak." sahut Kayana pake bohong.
Yakali dia makan seenak perutnya dirumah orang? Malu dong!
"Masa?" respon Adrian sambil tertawa kecil, sengaja menggoda Kayana.
Karena kesal, Kayana mencubit kecil lengan Adrian.
"Aww.." refleks Adrian,membuat kedua orang dihadapan mereka mengalihkan pandangan ke arah Adrian.
"Kenapa Ian?" Tanya mereka dengan alis mengerut.
"Dicubit-" ucapan Adrian langsung terpotong saat Kayana melayangkan cubitan pedas keduanya.
"Cubit?" Suara Anne beran.
"Lidah aku ke cubit mi, terong balado nya pedes banget." ucap Adrian berkilah.
"Oh" Respon Anne santai lalu mereka kembali melanjutkan makan seperti biasa.
"KDRT kamu ke saya Kay" Bisik Adrian sambil meringis pedih.
"Kita nggak suami istri loh ya." sahut Kayana mengklarifikasi.
"Soon to be." respon Adrian jahil sembari mengedipkan sebelah matanya, membuat Kayana jadi keki sendiri.
__ADS_1