
Kayana terbangun dengan perasaan riang. Ah-dia sebenarnya nggak berencana modus sampai segitu nya. Dia murni ketiduran,jadinya dihitung nggak disengaja dong! Meskipun dari awal dia memang berniat untuk menginap disini.
Kayana mengendus-endus wangi Adrian yang memanjakan hidung, ini cowok mau mandi pakai sabun cuci piring pun bakalan tetap wangi bagi Kayana. Nama nya juga sudah terlanjur bucin, segala hal tampak baik dimata nya.
Kayana sangat menyukai bagaimana Adrian terasa sangat pas dipelukannya, belum lagi lengan kokoh pria tersebut yang selalu merengkuhnya dan mengelus lembut punggung nya. Rasa-rasa nya Kayana pengen cepat-cepat dihalalin, tapi ya nggak bisa. Masih banyak step yang harus mereka lalui, lagipula ini permintaan Kayana supaya mereka tunangan dulu saja. Setidaknya Kayana ingin menyelesaikan pendidikan nya terlebih dulu, dari pada dia terlanjur menikah terus kedepannya bakalan dihujat massa. Masa istri dosen paling jenius, kuliah nya malah nggak lulus-lulus! kan bisa berabe.
Singkatnya dia masih belum siap kena hujat, Adrian ini superior. Karir nya bagus, masa depan juga tertata, berbeda jauh dengan Kayana yang masih mengejar gelar sarjana. Ibaratnya Kayana ini baru saja menetas, dia masih ingin merasakan dunia kerja, menerima gaji pertama ataupun sekedar jalan-jalan keluar kota bersama sahabatnya, dia masih ingin merasakan semua itu.
Setidaknya saat menikah nanti, Kayana nggak ingin ada penyesalan kenapa dulu dia nggak mencoba ini itu? Lagian juga nggak lama kok, setelah lamaran dia ingin magang dulu di perusahaan kosmetik seperti yang Kayana idam-idamkan. Cuma 6 bulan, Kayana yakin Adrian pasti memaklumi keputusannya tersebut.
Saat melek, Kayana langsung keki sendiri. Ternyata yang memeluknya sedari tadi bukan Adrian, melainkan bantal yang sengaja pria itu letakkan dikedua sisi tubuhnya, pantas saja rasanya nyaman serasa dipeluk!
Saat bangkit duduk, Kayana mengecek jam di atas nakas. Sekarang sudah pukul sepuluh lewat, kalau begini gimana cara nya dia menjadi istri yang berbakti! Sekali nya molor di tempat Adrian malah bangun siang, tapi gimana nggak bangun siang coba. Tidurnya sambil di elus-elus begitu, ya nyenyak dong!
Saat keluar dari kamar, ruang tamu sudah kelihatan kosong. Barangkali pria tersebut sudah berangkat kerja,seingatnya Adrian ada jadwal mengajar pagi ini.
Saat berjalan ke arah dapur, sudah terhidang nasi goreng dan segelas jus jeruk diatas meja. Saat Kayana menyentuh pinggiran piring nya ternyata sudah tidak hangat lagi, pasti pria tersebut memasak nya pagi-pagi sekali.
Selesai makan, Kayana beranjak menuju kamar mandi. Ingin gosok gigi dan cuci muka dulu, mandinya nanti saja. Dia masih mager, pagi-pagi begini kesentuh air pastinya dingin banget, bisa aja sih dia hidupin water heater. Tapi kesannya kayak kurang ajar banget nggak tuh seenak perut mengotak-atik rumah orang?
"Astaga!"
Kayana buru-buru menutup pintu kamar mandi, kemudian mengintip sedikit. Memastikan penglihatannya nggak salah.
"Bilang dong mas, kalau lagi ganti baju!" hardik Kayana tanpa sadar.
"Yaampun, justru kamu yang bikin mas kaget. Main nyelonong masuk begitu, pastiin dulu ada orang apa enggak."
Adrian balas mengomel dari balik pintu, membuat Kayana segera menutup rapat pintu. Takut semakin di omelin.
"Siapa suruh pintu nya nggak dikunci!"
Salah Adrian juga sih, dia sudah terbiasa hidup melajang sampe nggak sadar kalau dirumah nya sekarang sudah ada dua orang. Dia dan sang pacar.
"Udah nih" seru Adrian kemudian menarik gagang pintu, wajah Kayana sampai tertekuk karena menahan malu.
Seekstrim-ekstrim nya dia melihat pria tanpa pakaian, paling cuma Kiran atau adiknya yang hobi memakai boxer sebatas lutut. Untuk pemandangan lebih lanjut, mata nya ini masih tergolong suci!
"Mas nggak sampe bugil loh Kay, masih pakai celana." ujar Adrian tidak enak hati karena menimbulkan sedikit kehebohan pagi ini.
"Tapi itu brief boxer mas, berasa ngelihat mas nggak pakai apa-apa saking minimalis nya itu celana." sahut Kayana ngilu.
Adrian beranjak menuju walk in closet kemudian menarik salah satu kemeja nya dari sana dan menghampiri Kayana.
"Biasa nya kamu ngelihat mas nggak pakai baju juga demen."
"Tapi ini beda mas, itu atasan! Kalau bawahan minimal halalin aku dulu lah!"
Adrian langsung terbahak, sedikit kasihan sama pacarnya tapi mau bagaimana lagi sesuatu yang sudah terjadi mana bisa di redo kembali.
"Ntar pulang kerja, mas beli boxer yang panjang deh."
Adrian cuma mesem, sekarang saja dia diminta berpakaian yang sopan. Coba kalau ini cewek sudah kambuh ganas nya, yang ada dia malah digrepe-***** meskipun nggak sampai kesana. Tapi sudah termasuk sexual harrasment kali!
"Kok mas belum berangkat kerja?" tanya Kayana pada pria yang kini tengah mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.
"Kelas pagi nya batal, di undur jadi jam 2 siang."
"Loh,kok?" sahut Kayana aneh.
"Mas ketiduran hehe..."
Tumben, seorang Adrian yang bangun nya selalu paling pagi tiba-tiba kesiangan.
"Emangnya nggak ngidupin alarm?"
"Nggak, takut kamu nya kebangun terus nggak nyenyak tidurnya."
Kayana langsung bersemu, ini cowok emang paling bisa bikin anak orang baper.
"Gapapa kali, aku juga pengen sesekali bangun pagi mas." ucap Kayana kemudian beralih memeluk Adrian.
__ADS_1
Adrian balas mengelus-elus rambut Kayana yang sedikit berantakan "Biasanya mas selalu kebangun sebelum alarm bunyi."
"Karena ada kamu kali, jadinya tidur nyenyak."
Kayana langsung blushing. Padahal ini gombalan no effort, tapi tetap saja dia tersipu. Semenjak mengenal Adrian hatinya memang receh abis, dikit-dikit kesengsem. Pake pelet apa sih ini cowok?
"Mandi sana, abis itu pulang. Biar mas anter."
Kayana mendongakkan wajah, kemudian menatap Adrian cemberut.
"Aku masih shock loh ini, udah disuruh pulang aja."
Adrian meringis, kemudian mengecup puncak kepala Kayana.
"Siapa bilang boleh cium-cium. Mana ada bapak yang nyium anak gadisnya kayak begini?" ujar Kayana membalikkan kata-kata Adrian semalam. ****! Adrian lupa kalau Kayana tipe cewek pendendam.
"Mana ada kita bapak anak, kamu itu calon istrinya mas." ujar Adrian sedikit ngambek kemudian memeluk pinggang Kayana sambil mencubit gemas perutnya yang sedikit gembul.
"Aahaha..ah udah mas. Lepas, nanti aku cegukan." Kayana tertawa geli namun Adrian malah semakin mengeratkan pelukannya kemudian menciumi belakang kepala Kayana.
Kalau tanpa heels, wanita ini auto setinggi dada nya. Mungil banget, apalagi gembul begini apa nggak gemas dia. Senyum Adrian langsung mengembang, nggak sabar pengen menyambut bulan depan alias lamaran!
***
"Kemeja nya perlu di setrika lagi, nggak?" teriak Kiran dari arah ruang tamu, saking lebay nya ini cowok sudah heboh pagi-pagi buta.
Menyiapkan sarapan, menyetrika baju. Heboh banget pokoknya kayak orang mau lahiran, yang akan sidang hari ini saja masih sempat rebahan sambil streaming oppa korea.
"Udah..udah cukup ini mah. kalau di setrika lagi nanti permukaannya malah jadi licin kayak belut." ucap Kayana yang masih asyik scrolling ponsel yang rasanya ingin Kiran lempar keluar jendela.
"Oke cepet ganti baju, sarapan. Abis itu berangkat." putus Kiran lalu menyiapkan beberapa keperluan Kayana.
Padahal baru pulang dinas, dan mata nya belum dipakai merem dua hari ini. Tapi demi adik tersayang nya, dia rela bangun pagi, menyetrika baju, membelikan sarapan. Kurang baik apalagi dia sama adiknya?
"Bang, nggak suka bubur ayam." Kayana tampak memelas sembari memandangi kotak styrofoam dihadapannya.
Memang adiknya yang satu ini nggak ada sopan-sopan nya,padahal sudah dinafkahi.
"Makan apa yang ada aja, gausah banyak tingkah." dumel Kiran setelah mengisi botol minum Kayana dan menyiapkan camilan untuk dimakan adiknya itu selama dikampus.
Selesai mengeringkan rambut dan memoles muka nya sedikit, Kayana langsung mengenakan sepatu dan menjinjing tas beserta bekal buatan Kiran.
"Kay berangkat dulu mah." ujar Kayana sambil meraih tangan Ratna kemudian mencium punggung tangan ibunya.
"Pamit ye..doain gue jangan lupa dek." ujar Kayana pada Kayvan yang sedang asyik main games di sofa.
Kayvan cuma mesem. "Gausah sok manis, deh." sahut Kayvan cuek.
Kayana cuma mengurut dada, pengen marah tapi nggak bisa. Habisnya sifat mereka mirip, berasal dari pabrik yang sama tentu saja banyak kemiripan baik yang disengaja maupun tidak. Salah satu nya yang ini, produk terbaik dari rumah produksi mereka cuma Kiran, penyayang plus perhatian. Selebihnya, dia dan Kayvan cuma dapat ampasnya, sifat-sifat yang buruk mereka serap semua.
Untung nya sang ibu cukup peka kemudian mencubit lengan adiknya, otomatis Kayvan langsung mengaduh.
Plis deh, kali ini adiknya lebay abis. Dia kan anak kesayangan, mana mungkin cubitan nya keras.
"Mampus lo!" ucap Kayana melalui gerakan mulutnya.
Kayvan cuma mendengus, dahlah biarin aja. Capek dia punya adik nyebelin macam Kayvan, pengen di give away tapi dia masih butuh karena terkadang adiknya ini mau disuruh-suruh. Kalau Kiran sibuk, siapa lagi yang bisa dia suruh-suruh kalau bukan Kayvan? Jadinya dia harus tahan hati dan tahan emosi.
Lagipula ini hari baik, bawaan nya harus postive vibes. Jangan sampai mood nya rusak hanya karena manusia minus akhlak seperti adiknya. Lagipula sifat adiknya itu sudah tidak bisa dirubah, sudah cetakan pabrik.
***
Tepat satu jam sebelum sidang dimulai, Kayana sukses dibuat pusing dan mual.
Kali ini pusing beneran, bukan lebay ataupun mengada-ada seperti biasanya.
Pagi ini,pak Darto selaku pembimbing kedua nya mendadak tak bisa dihubungi. Padahal sewaktu Kayana konfirmasi kemarin, beliau sudah mengiyakan perihal kehadiran nya pada sidang Kayana hari ini.
Kayana langsung terduduk lemas saat lagi-lagi suara operator yang menjawab panggilan nya. Fix sih, kalau dalam 50 menit kedepan pembimbing nya itu masih belum memberikan kejelasan, bisa-bisa sidang nya diundur. Syukur-syukur kalau diundurnya tetap hari ini, cuma beda jam. Kalau diundurnya jadi besok atau besok besoknya lagi? Keburu teman-teman nya lulus semua!
Kayana serasa mau pingsan, dada nya terasa sesak karena lagi-lagi kemampuan nya untuk mengatur nafas mendadak kacau balau saat melihat jam dipergelangan tangan nya yang menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh menit.
__ADS_1
H-30 menit sidang.
Ini dia boleh pingsan beneran nggak, seumur-umur baru kali ini dia merasa secemas ini. Dulu,sewaktu ujian lisan hafalan, meskipun banyak salahnya dia tetap percaya diri. Baru kali ini, bahu nya sampai turun. Saking putus asa nya.
Karena terlalu fokus dengan kecemasan nya, Kayana sampai tidak sadar kalau Adrian sudah berada diruangan, tahu-tahu pria tersebut sudah berdiri dihadapannya sambil menyodorkan tumblr berisi teh hangat.
"Mas." cicit Kayana dengan mata berkaca-kaca.
Tanpa sadar suaranya sampai bergetar, akumulasi dari perasaan gundah dan cemasnya sudah memuncak. Sehingga hanya dengan melihat pria tersebut dihadapannya mampu membuat Kayana berkaca-kaca.
"It's okay, masih tiga puluh menit lagi sayang. No need to worry." sahut Adrian menenangkan.
Kayana berjinjit sedikit kemudian memeluk leher Adrian erat. Adrian balas mengusap-usap punggung Kayana menenangkan.
"Minum dulu." ujar Adrian kemudian menyerahkan tumblr yang sudah dibuka tutupnya.
Setelah menyesap teh tersebut, barulah Kayana sedikit tenang.
"Aku takut banget mas, sidang nya batal."
"Sidang nya bakalan tetap jalan kok, gausah mikir yang aneh-aneh gitu." ujar Adrian sembari menggenggam hangat tangan Kayana.
Kayana melayangkan senyum tipis, kemudian memegangi tangan Adrian supaya tetap menggenggam tangan nya.
"Btw mas, thank you ya."
"Untuk?"
"For everything, kalau nggak ada mas. Aku nggak tau bakalan sekacau apa isi kepala ku. Makasih karena selalu sabar menghadapi aku yang overthinking nya kebangetan." ujar Kayana lirih.
"Aku sayang mas." ucap Kayana malu-malu, kemudian memajukan wajahnya dan mengecup singkat pipi Adrian sebagai tanda terimakasih.
"Kay.." respon Adrian shock.
"Udah nggak papa..nggak ada yang liat." kekeh Kayana pelan sembari merebahkan kepala dibahu sang pacar.
"Berani banget kamu.." respon Adrian sambil geleng-geleng kepala.
Sepersekian detik kemudian jantung Kayana nyaris copot saat mendengar pintu ruang sidang yang berderit terbuka.
Tuh kan, dibilangin juga apa.
Karma nya itu selalu dibayar kontan.
Saat mengalihkan pandangan nya ke arah pintu,otomatis mata Kayana terbelalak kaget saat melihat pak Darto sudah berdiri di daun pintu sembari memasang senyum tipis.
Kayana buru-buru menjauhkan diri dari Adrian dan balas tersenyum canggung. Seriusan dia serasa mau pingsan di tempat, timing nya itu loh! Harus banget gitu kegap-nya sewaktu lagi sender-senderan dibahu Adrian. Sama dosen sendiri pula! Nggak banget gitu lo.
"Pak.." sapa Adrian sembari tersenyum tipis.
"Nemenin calon istri sidang ya.." respon pak Darto humble sembari tertawa kecil.
"Iya pak...kebetulan saya pembimbing satu pak." sahut Adrian ramah.
Loh, kok..pak Darto bisa tau?
"Oh..iya ya. Kalau begini enak toh kamu sidang nya Kayana. Ditemani sama calon suami.." ujar Pak Darto.
"Hehe..iya pak." balas Kayana canggung.
"Semoga sidang hari ini lancar ya, biar kalian bisa cepet-cepet resepsi. Bulan depan kan lamaran nya?"
Hah?
"Iya pak..." sahut Adrian.
"Bagus..bagus. Hal-hal seperti ini memang baiknya disegerakan."
Kayana cuma ketawa karir supaya nggak kentara banget kagetnya. Sejak kapan orang-orang tau kalau bulan depan mereka lamaran?
Padahal belum sebar undangan tapi kok spoiler nya sudah sampai kemana-mana!
__ADS_1
Karena dosen penguji sudah mulai berdatangan, Kayana nggak sempat menanyakan perihal tersebut kepada Adrian.
Fix sih, habis ini pacarnya perlu diintrogasi, mulutnya itu loh! Ember banget!