Skripsi atau Resepsi

Skripsi atau Resepsi
Extrapart (1)


__ADS_3

Adrian merebahkan badan nya di kasur, setelah makan malam dengan keluarga. Mereka langsung menuju salah satu president suite di hotel tersebut yang memang sudah termasuk dalam packaging wedding mereka.


Setelah berdebat perkara siapa yang mandi duluan, akhirnya Adrian pilih mengalah. Istrinya sudah mengeluhkan rambutnya yang lengket akibat kebanyakan spray saat memakai suntiang tadi, serta make up yang sudah tidak nyaman lagi di wajahnya. 


Padahal kan bisa mandi berdua, biar lebih gampang dan efisien. Namun sang istri menolak, katanya lebih nyaman mandi sendiri dan belum terbiasa mandi berdua. Biasanya Kayana yang ganas, kok sekarang kesannya malah kayak dia yang mesum. Eits, mesum ke istri sendiri gapapa kali, udah sah!


Capek juga ternyata berdiri seharian, belum lagi rata-rata tamu membawa +1 mereka, dari total 1000 orang tamu undangan, mungkin yang hadir diacara mereka tadi nyaris 2000 orang saking mereka berdua nggak dikasih duduk.


Tapi rasa lelahnya terbayarkan terutama saat melihat sang istri yang tidak henti-hentinya mengembangkan senyuman. Nominal setara tabungan seumur hidup yang dikeluarkan nya mendadak seperti nggak ada apa-apanya saat melihat senyuman Kayana sepanjang acara tadi. 


"Senyam-senyum mulu mas." tegur Kayana saat keluar dari kamar mandi, setelah menghabiskan nyaris satu jam dikamar mandi. Akhirnya wanita tersebut selesai juga, Kayana yang hanya mengenakan dress tidur satin setengah paha tampak malu-malu kucing berdiri dihadapannya.


Dengan rambut yang masih basah terbalut handuk, wanita tersebut berjalan menuju meja rias untuk melakukan rangkaian night skincare routine nya. Sedangkan Adrian masih terpaku diposisi semula, terpesona dengan kecantikan sang istri tercinta.


"Mandi sana, mas!" titah Kayana.


Adrian yang tersadar, langsung melangkah menuju kamar mandi dan mandi dengan cepat.


Setengah jam kemudian, dia sudah duduk kembali di kasur. Kayana yang duduk disebelahnya sedang mengeringkan rambut dengan hair dryer. Wanita tersebut tampak kesulitan karena kabel hair dryer yang lumayan pendek sedangkan posisi colokan lebih dekat ke tempat Adrian duduk.


"Mau dibantu?" tawar Adrian.


Kayana menangguk malu, kemudian menyerahkan hair dryer nya tanpa berani menatap wajah Adrian. Seriusan deh! ini kenapa istrinya mendadak pemalu begini, kesannya jadi kayak beda orang.


Dia nggak salah nikahin anak orang kan?


Adrian mengeringkan rambut Kayana dengan telaten.


Dari belakang sini, dia menyadari bahwa ternyata dress yang dikenakan istrinya berpotongan cukup rendah. Cukup memberikan insight bagi Adrian untuk melihat hal yang tersembunyi dibaliknya, namun buru-buru pria tersebut mengalihkan pandangannya. Takut membuat sang istri tidak nyaman.


Adrian tanpa sadar menelan ludahnya, karena posisi mereka seintim ini. Walaupun dulu saat pacaran, mereka juga nggak lurus-lurus amat tapi tentunya tidak sampai se intim ini. Adrian sampai terpana saat melihat kulit yang halus serta lekukan-lekukan indah tersebut dalam jarak sedekat ini, belum lagi aroma essential oil yang menguar dari tubuh Kayana sukses membuatnya mabuk kepayang.


"Apasih mas, lihat-lihat mulu!" Kayana salah tingkah, rupanya wanita tersebut balik menatapnya dari cermin di hadapan mereka. 


"Lah, emangnya nggak boleh lihatin istri sendiri?" balas Adrian tertawa. Adrian jadi cringe sendiri dengan perubahan suaranya, memang gitu ya pengantin baru kalau ngomong suaranya auto di lembut-lembutin.


"Akhirnya official ya, Kay." goda Adrian, sembari menatap sang istri lembut.


Kayana balas menatapnya dengan wajah merah padam. "Ih, malu mas..." Kayana menggumam lalu menyembunyikan wajahnya malu di dada Adrian.


"Sayang, rambutnya belum kering ini." Adrian tertawa kecil sembari menyentuh pelan bahu sang istri.


"Gapapa, nanti kering sendiri." Kayana masih menyembunyikan wajahnya di dada Adrian.


Akhirnya Adrian mencabut colokan tersebut, dan meletakkan hair dryer di atas nightstand.


"Mas." panggil Kayana dari balik dadanya.


"Malam ini, kita nggak ngapain-ngapain kan?"


Adrian langsung tertawa, jadi ini yang dari tadi dicemaskan oleh istri nya?


"Enggak sayang, kalau kamu belum siap. It's okay kok, mas tungguin. Take your time." ujar Adrian lembut.


Akhirnya Kayana berani mengangkat wajahnya, matanya tampak berkaca-kaca karena terharu. "Thank you,mas."


Adrian langsung memeluk gemas wanita dihadapannya.


"Ayok tidur." ajak Adrian.


Mereka berbaring berhadap-hadapan. Kayana bergerak mendekat kemudian memeluk pinggang Adrian, sedangkan Adrian mengelus sayang rambut sang istri. 


"Kenapa?" tanya Adrian saat Kayana tak kunjung terlelap, padahal dia sudah menjadi sosok suami yang baik hati malam ini.


"I'm sorry." cicit Kayana kemudian menatapnya.


"Kenapa?"

__ADS_1


"It's our first time, tapi aku masih belum siap mas. Mas jangan marah sama aku ya." Kayana menatapnya dengan tampang memelas.


"I told you, it's okay. Mas nggak nikahin kamu buat itu sayang, mau kamu siap nya besok, minggu depan, ataupun tahun depan mas nggak peduli. I just want to make you happy, thats it."


Kayana langsung terisak didalam pelukannya, Adrian merengkuh punggungnya lebih erat kemudian mengelus rambutnya sayang.


"Udah ya nangisnya, malam ini tidur dulu." bujuk Adrian, Kayana cuma mengangguk kemudian balas memeluknya.


"Mas."


"Hmmm...."


"Boleh cium nggak?" tanya Kayana, Adrian langsung melotot.


Tuh kan, dia nggak bisa yakin seratus persen sama istrinya ini. Katanya tadi nggak mau ngapain-ngapain.


Belum sempat Adrian menjawab, Kayana sudah memagut bibirnya lembut. Mau tak mau Adrian ikut terbawa suasana dan balas mengecup bibir atas dan bawah sang istri dengan lembut kemudian memberikan kecupan kecil untuk menyudahi ciuman mereka.


Kayana memandanginya dengan wajah merasa bersalah. "Maaf ya mas."


Adrian tersenyum maklum kemudian mengecup dahi sang istri dengan sayang.


"Selamat malam pertama, mas." kemudian menenggelamkan wajah di dadanya.


Adrian cuma tersenyum kecut.


Ini sih nggak dihitung!


***


"Selamat datang di Katamaran hotel and resort Lombok." sapa resepsionis begitu menyambut kedatangan mereka. Mereka dipasangkan kalung bunga serta diberikan mocktail sebagai welcome drink nya.


Tak lama kemudian seorang bellboy datang dan membawa tas-tas serta koper mereka. Saking nggak sabarannya pasangan pengantin ini,baru kemarin selesai resepsi paginya sudah langsung terbang ke lombok.


Setelah drama bangun kesiangan dan nyaris ditinggalin pesawat, akhirnya mereka sampai juga di lombok. Destinasi honeymoon yang dipilih oleh Kayana sebagai hadiah pernikahannya, punya mertua tajir previllege nya nggak main-main. Alih-alih menyewa satu kamar, mereka di sewakan satu resort. 


Hadiah yang diterima nya cukup unik dan beragam, versi low budget-nya ada yang memberinya centong sayur.  Versi hedonnya, ada yang menghadiahkan mereka sepasang jam Rolex couple. Kayana bahkan nggak mau repot-repot mengecek harganya, takut mules duluan saking sadar betapa tidak mampunya dia membeli itu semua.


Setiba nya mereka disana langsung disambut oleh concierge hotel yang menjelaskan fasilitas-fasilitas yang terdapat disana, Kayana cuma menangguk sok paham. Karena pria tersebut menjelaskan dalam bahasa indonesia namun dengan logat daerahnya yang masih kental, sehingga beberapa kosa kata lumayan sulit untuk dipahami. Tapi yasudahlah, suaminya pintar. Dia pasrahkan saja pada suaminya.


Kayana cukup terkesima dengan resort yang mereka tempati. Karena berada ditepi pantai, anginnya cukup sejuk. Kolam berenang yang terdapat didepan kamar mereka juga luas, dengan nuansa kamar yang tropis. Nggak salah dia memilih destinasi liburan ke sini.


"Ini seriusan mas, kamar mandi nya kebuka. Nggak ada pintunya gini?" tanya Kayana shock.


Adrian ikutan kaget, karena sebenarnya dia nggak sempat research sebelum datang kesini. Dia menyerahkan sepenuhnya kepada sang ibu untuk memilih penginapan dan destinasi wisata mereka selama disini. Nggak disangka ibunya supportif juga.


Biasa sih, suite khusus honeymoon biasanya memang terbuka seperti ini. Apalagi konsep hotelnya tropis seperti ini, didalam kamar mandi juga terdapat jacuzzi yang langsung mengarah ke pantai. Tapi tenang, resort ini private abis. Nggak bakalan ada yang ngintip. Apalagi ibunya sudah menyewa satu resort ini.


"Jangan ngintip ya." ancam Kayana kekanakan.


Yaampun, kamar mandi tanpa sekat begini gimana mau nutupinnya.


"Kan udah sah, sayang." 


"Bukan, maksudnya kalau aku mau pup. Aku gamau mas lihat muka aku sewaktu ngeden." sungut Kayana.


Adrian langsung tertawa, dia nggak pernah mengerti pola pikir istrinya. Masa sampai sana harus banget di khawatirin?


"Kalau kamu mau pup, ntar bilang aja. Biar mas keluar dulu, okey?"


"Okey mas.."


"Mau berendam dulu nggak? kebetulan jacuzzi nya udah disiapin." tawar Adrian.


"Boleh.." Kayana menjawab sambil malu-malu kucing. 


Meskipun dia hobi nyosor duluan, sebenarnya dia nggak se pro itu kalau partnernya sudah mulai inisiatif duluan. Kalau dulu mereka masih hati-hati karena statusnya masih pacaran, sekarang Kayana jadi gugup setengah mampus karena batas itu sudah tidak ada dan bebas suaminya mau ngapain-ngapain juga boleh. 

__ADS_1


Tapi itu yang sebenarnya membuat Kayana takut, bukannya dia sok polos tapi her husband is something. Tampilannya fake nerd abis, kelihatan polos tapi sekalinya dipancing ternyata buas juga. Apalagi malam pertama mereka yang sempat tertunda, Kayana takut dibuat nggak bisa jalan sama suaminya.


Kayana berjalan menuju koper kemudian mengambil setelan swim suit hadiah pernikahannya, dia lupa siapa yang ngasih. Tapi swim suit yang satu ini lumayan berani juga, bagian punggung nya terbuka dan belahan dada nya juga cukup rendah.


Selesai berganti pakaian, Kayana berjalan menuju jacuzzi dimana Adrian sudah berendam duluan. Aroma essential oil langsung menguar dari jacuzzi tersebut. 


"Mas.." panggil Kayana, karena Adrian duduk sembari membelakangi nya.


Sewaktu Adrian berbalik badan. Kayana dapat menyadari tatapan sang suami langsung mengarah ke tubuhnya, wajah Adrian juga tampak merah padam. Jakun nya juga tampak naik turun secara alami. 


Kayana langsung masuk ke dalam jacuzzi dan duduk di pangkuan Adrian. Kayana nyaris tertawa saat melihat komuk suami nya yang grogi abis.


"Ehmm..." Adrian berdeham berusaha menghilangkan rasa groginya.


Untuk beberapa saat suasana hening, Kayana menyandarkan kepalanya di dada sang suami sambil memainkan air di sekitar mereka. Suhu air yang hangat berhasil menghilangkan rasa pegal dari tubuhnya, apalagi resepsi kemarin capeknya minta ampun plus pagi-pagi buta mereka sudah harus bangun dan pergi ke bandara. Bisa dibilang dia masih kurang tidur.


Karena suasana yang hangat plus sandaran nya pada dada Adrian terasa nyaman, mata Kayana terasa berat dan mengantuk. Sang suami pun tampaknya paham, dan membiarkan Kayana tertidur di dadanya.


Kayana terbangun saat hari menjelang sore, dia terbangun di atas kasur ayun yang berada di depan kamar mereka. Saat melirik kesamping, ternyata Adrian juga tengah tertidur dengan pulasnya. Kayana masih mengenakan swim suit nya tadi, hanya saja tubuhnya dibalut dengan selimut agar tidak kedinginan.


Kayana memandangi wajah sang suami yang tampak tampan, bulu mata yang tampak lentik serta alis yang tebal membingkai wajahnya. Kayana mengelus pipi Adrian dan merasakan bahwa jambangnya yang kemarin dicukur rapi untuk acara resepsi mereka, kini sudah mulai tumbuh kembali.


Kayana serasa flashback saat masa mereka awal kuliah dulu, karena saat itu Adrian masih belum terlalu memanjangkan brewoknya. Mukanya masih baby face dan imut-imut, saat  mereka bertemu lagi dan pria tersebut sudah menjadi dosennya barulah Kayana terkejut dengan perubahan drastis sang suami. Adrian tampak jauh lebih dewasa, dan jauh lebih tampan dari semestinya.


Rasa suka yang sudah dia kubur dalam-dalam ternyata bersemi kembali, bisa dibilang Kayana tidak pernah menyangka bahwa pada akhirnya dia akan menjatuhkan pilihannya pada Adrian. Saking tidak akurnya mereka dulu, rasa-rasanya nggak mungkin kalau mereka sampai  berjodoh.


Tapi nggak ada yang tahu takdir, mau dihindari sebagaimana pun. Kalau sudah jodohnya, bakalan bersatu juga.


Adrian terbangun saat menyadari sang istri yang menatapnya penuh cinta.


"Sudah bangun?" tanya Adrian kemudian menarik Kayana kedalam pelukannya.


"Laper mas..." 


"Oiyaa, kita belum makan siang ya. Tadi langsung ketiduran sampai sore." ringis Adrian kemudian melepas pelukannya.


Selesai mandi dan bersiap-siap, mereka langsung turun ke resto, rupanya makanan sudah terhidang. Suasana nya dibuat sedikit remang-remang, dengan alunan musik yang lembut.


Jadi ceritanya ini candle light, sejujurnya mereka berdua nggak tahu kejutan apa saja yang disiapkan oleh ibunya. Adrian menyerahkan sepenuhnya pada sang ibu, karena soal itinerary ibunya nggak pernah ketinggalan jaman.


Apalagi ibunya doyan honeymoon, yang saking seringnya sudah nggak layak disebut honeymoon. Memangnya ada orang honeymoon sebulan sekali? Kayak kunjungan dinas.


Mereka disajikan six course meal yang semuanya enak-enak. Hidangan utama berupa Fillet Fish Meunierre langsung tandas begitu saja. Selanjutnya mereka dihidangkan dessert yaitu Banoffee pie.


Selesai makan, mereka langsung balik ke kamar. Meskipun energi mereka sudah cukup pulih karena tidur siang tadi, sepertinya pak suami sudah nggak sabar buat unboxing. Kelihatan banget gitu loh, buru-burunya.


Selesai minum, tanpa menunggu lambungnya longgaran dikit tangannya langsung ditarik begitu saja. Alasannya banyak nyamuk karena candle light dinner mereka kebetulan memang outdoor , tapi bohong banget kan ya.


Sewaktu camping mau di gigit semut api sekalian nggak pernah ngeluh tuh, tetap disuruh jalan. Giliran cuma digigit nyamuk yang cuma seekor dua ekor yang kemungkinan lagi hoki karena bisa bebas dari perangkap nyamuk disekitar mereka. Masa langsung ngeluh gitu aja?


"Mau langsung istirahat?" Kayana bertanya, sengaja menggoda suaminya.


"atau mau lembur malam ini?" goda Kayana.


"Memang kamu mau?" Adrian bertanya sok basa-basi padahal dari sononya sudah ngebet banget. Tadi malam dia cuma modal dzikir untuk menahan dirinya supaya nggak menerkam sang istri malam-malam.


"Mau lah,mas" sahut Kayana dengan wajah merah padam.


Adrian langsung bangkit dari sofa kemudian menarik Kayana menuju tempat tidur mereka. 


"Kalau masih takut, masih bisa kita tunda buat besok-besok." ujar Adrian penuh pengertian sambil memegang dagu sang istri.


Kayana menggeleng, kemudian memagut bibirnya. "I'm more than ready mas, selama ini mas sudah sabar banget sama aku. Ngeyakinin aku yang selalu ragu-ragu buat sampai ke titik ini, dan ketika kita sudah sah aku jadi orang paling jahat sedunia kalau sampai ngebuat mas nunggu lagi."  Kayana menatapnya dengan mata berkaca-kaca


"I'm sorry if I make it rough" ucap Adrian kemudian mengecup dahi istrinya.


"No problem, I like it rough." sahut Kayana sambil tersenyum nakal.

__ADS_1


[END]


__ADS_2