
Astagfirullah...
Baru memejam selama dua menit, sudah terdengar suara tangisan bayi lagi. Kali ini Adrian nggak tahu, apakah tangisan tersebut suara Putri atau Putra. Anak-anaknya memang belum dikasih nama, tapi agar lebih memudahkan Adrian memberi panggilan Putri dan Putra. Baru umur seminggu juga sih. Kata ibunya gaperlu buru-buru, yang penting dicari dulu namanya yang pas dihati.
Kalau giliran menangis, anak-anaknya memang doyan adu suara plus adu kekuatan. Saking kuatnya para bayi mereka, sekalinya nangis nggak kira-kira. Box bayi mereka sampai harus dimepetkan ke dinding, kalau nggak pagi-pagi bisa saja box bayi mereka sudah bergeser 5-10 cm dari tempat asalnya.
Adrian masih tetap memejamkan matanya, mengantuk berat, pasalnya belum sampai 15 menit lalu dia baru saja mengganti popok mereka yang ternyata cuma prank semata, alias gaada apa-apa plus bersih.
Rasanya dia tuh pengen kesal, tapi nggak bisa. Karena wajah anaknya tuh pada gemes amat, mana muka mereka berdua mirip dia lagi. Sang istri sempat mencak-mencak, karena susah-susah mengandung selama 9 bulan yang mendominasi DNA mereka cuma bapaknya doang, wajah Kayana rada-rada nggak kebagian, cuma dibagian mata nya saja yang tampak mirip. Selebihnya, fotokopi Adrian semua mulai dari alis, hidung, bibir. Tapi nggak papa deh, untungnya dia cakep. Jadinya sang istri tetap legowo.
Kali ini suara tangisan terdengar lebih keras dari sebelumnya, Kayana yang barangkali juga baru merem nggak sampai sejam sudah terbangun lagi. Adrian yang merasa nggak tega langsung bangkit, namun Kayana menahan lengannya.
"Gapapa mas, tidur aja...Besok kerja kan?" ucap Kayana sambil menyusui anak mereka.
"Kenapa nggak dikasih sufor aja sayang? Kalau malem doang, gapapa deh kayaknya. Mas nggak tega ngelihat kamu kebangun terus tiap malem." ucap Adrian setengah merengek.
Kayana cuma menggeleng. "Gapapa mas, kasian kalau mereka dikasih Sufor. Aku udah dikasih rezeki sama tuhan buat punya asi yang banyak. Nggak sedikit ibu diluaran sana yang masih kesulitan untuk menyusui anaknya mas."
"Besok kita beli breast pump ya, jadi kalau anak-anak kebangun malem-malem begini. Mas tinggal angetin doang, terus kamu bisa istirahat." ucap Adrian sambil mengelus punggung sang istri.
"Thank you, mas." Kayana menyandarkan punggungnya didada Adrian.
Nggak sampai 10 menit, anak-anaknya sudah kembali tertidur pulas. Memang ya, kalau sudah ditangan ibu nya, yang namanya bayik tuh langsung anteng. Berasa nggak habis nangis kejer lima menit yang lalu. Kesannya kayak langsung tenang aja gitu, terus ketiduran.
Perasaan tangannya sudah lebih lemah lembut dibanding tangan hand model sekalipun. Tapi tetep saja anak-anaknya paling anteng kalau sudah dipelukan sang istri.
Kayana kembali merebahkan diri dikasur setelah anak-anak mereka tertidur pulas. Adrian ikut-ikutan memeluk Kayana. Duh, dia tuh kangen banget cuddling sama bini nya, tapi ini bayik kayak rada-rada nggak rela melihat Adrian bermesraan dengan ibu mereka, tampangnya pada songong abis tiap kali Adrian memeluk Kayana.
Tapi itukan juga sifat Adrian sendiri, mana betah dia melihat istri nya dipeluk orang lain. Ternyata sifat tersebut juga menurun ke anaknya, pepatah bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya itu memang benar. Sifat nya langsung turun ke anak-anaknya.
****
Pagi-pagi sekali, bell rumah mereka sudah berbunyi.
Jelas, Adrian melotot. Orang macam apa sih, weekdays begini malah bertamu ke rumah orang pagi-pagi, nggak sopan banget!
"Mas, ada orang itu diluar."
"Nggak ada, sayang. Perasaan kamu doang, tetangga kali."
__ADS_1
"Nggak mungkin mas, suara bell nya berasa disebelah kuping ku."
"Tetangga itu, yang." sahut Adrian masih malas.
Tapi makin lama, tamu didepan rumah mereka semakin ngotot menekan bell pintu. Untung saja kamar bayi mereka sangaja dibuat sedikit kedap suara, kalau enggak alamat gagal dia bermesraan pagi ini dengan sang istri.
Akhirnya Adrian beranjak dari kasur, karena sang istri sudah mulai mendorong-dorong punggungnya sekaligus mengomeli Adrian untuk segera mematikan lampu didepan biar lebih hemat listrik. Kayana seringkali mengomel perihal lampu teras mereka yang terlalu terang benderang, kesannya nggak cuma menerangi rumah mereka saja, tapi menerangi komplek mereka juga sekalian. Tapi dia keburu males mengganti,nggak ada waktu dan hitung-hitung sedekah buat satpam yang patroli tiap malam biar nggak gelap-gelap amat.
"Anjrit, siapa yang ngundang kalian kesini?" Adrian langsung sangsi begitu membuka pintu dan melihat sekompi bapak-bapak sudah berdiri didepan rumahnya. Dia nyaris terserang hipertensi.
"Nggak boleh berkata kasar gitu pak Haji, kalau sudah punya anak gitu harus berucap yang baik-baik. Pamali!" Daniel sok-sokan berkhotbah.
"Tamu nya boleh dipersilahkan masuk dulu nggak, cape loh ini megang kado nya disangka seringan kapas." omel Mario yang tangannya sudah mulai kesemutan.
Mau nggak mau dan dengan terpaksa Adrian membentangkan daun pintu rumahnnya lebar-lebar. Ingin menolak tamu, tapi takut nggak berkah dan di doain yang enggak-enggak.
"Mau teh satu ya pak haji, atau kopi boleh deh satu yang less sugar tapi. Soalnya gue lagi diet." Gerald mulai menjajah area kitchen-nya dan mengambil coffee capsule kemudian berjalan menuju coffee maker.
"Lo nggak kesepian apa pak Haji. Rumah segede gaban ini cuma bareng bini sama anak-anak." komentar Sean sambil memandangi sekeliling rumah Adrian.
"Siapa juga yang kesepian?!" Adrian merespon dengan hidung kempas kempis.
"Baru bangun, babe?" tanya Daniel centil, nyali nya memang sudah didasar jurang dari dulu. Berani amat, manggil bini orang dengan panggilan sayang.
Kayana cuma tertawa, sedangkan Adrian sudah berwajah masam.
Lagian bapak-bapak satu ini ada-ada saja, masih aja pencemburu berat. Padahal hak milik dirinya mah sudah punya Adrian, sudah dititipin anak juga sekalian. Yakali dia bakalan tergoda.
"Wah banyak banget kadonya." ucap Kayana kaget, rumahnya berasa toserba, dari ujung ke ujung isinya kado semua.
Teman-teman Adrian cuma cengengesan, habisnya saat belanja tadi mereka meminjam nama Adrian biar dikasih gratis. Pak Haji mah tajir melintir, gaperlu khawatir harta nya bakalan habis. Duit nya berkurang hasil dari beli-beli barang ini juga mungkin gabakalan sadar saking banyak angka nol nya itu di atm.
"Pada mau makan nggak?" tawar Kayana.
Wajah teman-temannya langsung semringah, efek belum beristri dan belum pernah dimasakin oleh siapapun mereka jadi terharu saat ini.
"Boleh deh." sahut Mario tak menolak.
Setelah menyiapkan makanan, Kayana ikut duduk disebelah Adrian.
__ADS_1
"Kalau nggak enak atau kurang garem bilang ya, Guys. Kemarin masaknya buru-buru, takut anak-anak kebangun."
"Enak kok." puji Adrian sambil tersenyum.
Kayana langsung tersipu.
Aihh....begini lah resiko dateng ke rumah pengantin muda dipagi hari, langsung disuguhi cengceman yang membuat geli dihati. Sekompi bapak-bapak dihadapan mereka auto merasa paling jomblo sedunia.
"Gue berasa makan di pagi sore, bini lo jago masak pak Haji!" Gerald mengacungkan kedua jempolnya.
Teman-teman Adrian yang lain ikut memuji masakannya, Kayana ikut tersenyum senang. Nggak tahu deh, antara emang enak atau teman-teman Adrian memang kelaperan. Seluruh lauk yang dihidangkan nya baik main course sampai lalapan beneran ludes semua.
Selesai makan, Adrian sudah nggak sabar ingin mengusir sekompi bapak-bapak yang sedang menjajah rumahnya. Pagi hari nya yang berharga jadi terganggu karena bapak-bapak nggak tahu diri yang doyan bertamu kerumah orang.
Asyeeem! Asyem!
"Pada mau pulang kapan?" tanya Adrian jutek.
Kayana yang sedang mengunyah rendangnya langsung tersedak. Wajahnya meringis lalu mencubiti lengan sang suami, tapi sepertinya bapak-bapak dihadapannya ini sudah kebal dengan ucapan tajam yang Adrian lontarkan. Mereka tidak beranjak sesenti pun dan belum menunjukkan tanda-tanda akan pulang dalam waktu dekat.
"Kita baliknya agak siangan aja ya? nanggung udah mau adzan." Gerald nyerocos dan langsung dipelototi oleh Adrian.
Adrian berdecih.Sejak kapan manusia dihadapannya ini taat beribadah? Baru juga jam sembilan pagi, masih tiga jam lagi adzan nya!
Biar nggak bete, Kayana langsung mengelus punggung sang suami agar lebih tenang. Seriusan dia berasa lagi babysitting tiga bocah karena suaminya yang doyan ngambekan.
Begitu twinnies dibawa keluar untuk berjemur, sekompi bapak-bapak tadi ikutan heboh saat melihat bayi kembar mereka yang memang terlihat menggemaskan. Sudah dimandikan, diberi ASI, tinggal berjemur sebentar untuk membangun imunitas tubuh mereka.
"Udah dikasih nama,belom?" tanya Sean yang sedari tadi cuma mingkem dipojokan. Soalnya dia rada rada takut deket sama anak bayi, takut bayik nya kebangun terus nangis kejer ngelihat tampang Sean yang rada-rada kriminal gitu.
"Masih nyari-nyari. Belum nemu yang pas." jawab Kayana sambil memindahkan anaknya ke stroller bayi.
Daniel yang kelihatan excited langsung menyeletuk. "Ntar pas gede anak kita dijodohin aja ya, pak Haji."
"Ogah." sahut Adrian refleks.
Dia nggak punya rencana untuk berbesanan dengan Daniel, selain males karena dari jaman orok ketemunya sama itu manusia doang. Masa iya, anak mereka ntar sampe dijodoh-jodohin segala? kesannya kayak nggak ada hal lain yang lebih berfaedah gitu loh!
Daniel tertawa malu-malu. "Gue nggak nyangka lo bakalan se excited itu juga. Seneng gue punya temen kayak elo, we share the same brain cells. Gaperlu capek-capek deh gue nyari menantu."
__ADS_1
Nyenyenyenye.