Skripsi atau Resepsi

Skripsi atau Resepsi
36 - Godaan Berat!


__ADS_3

"Masih belum kelar,Kay?"


Kayana mendesah malas,mengalihkan pandangan nya dari pc lalu menatap datar pada Adrian yang cengar-cengir dihadapannya.


Untuk kesekian kalinya Adrian bertanya hal yang sama pada Kayana,seperti kaset rusak pertanyaan nya di ulang-ulang terus. Tatapan nya tampak menghakimi,seolah-olah Kayana tidak becus mengerjakan tugas nya.


Tolong ya,teruntuk bapak Adrian yang terhormat. Gimana caranya Kayana bisa menyelesaikan tugasnya,kalau perkata perkalimat perparagraf selalu dinyinyirin! Ya nggak bakalan fokus lah.


"Tulisan nya dibold Kay, kalau yang itu rata kanan. Penjelasan nya singkat saja yang penting intinya dapet" titah Adrian sambil menunjuk-nunjuk layar pc nya,layaknya boss dan Kayana adalah kacung setia yang menuruti apapun maunya.


Jujur Kayana ingin protes dan mengomel sedari tadi, tapi mengingat deadline nya yang sudah mepet Kayana tidak ingin berdebat dan buang-buang tenaga. Mana ia belum sempat makan siang tadi,laper banget sekarang.


"Udah?" Tanya Kayana jutek sambil mengarahkan layar laptopnya ke arah Adrian,percuma punya orang dalam tapi gabisa diajak nepotisme. Ada tugas tu dibantuin kek,dikasih tau referensi nya dari mana saja.Bukan malah dinyinyirin!


Adrian tampak fokus menatap pada layar pc,kacamata tampak nangkring dihidung nya. Usia tetap gak bisa berbohong rupanya ckck,penglihatan pria tersebut sudah mulai buruk.


"Kenapa?ganteng?" Tanya Adrian pede saat menangkap basah Kayana yang sedang menatapnya terang-terangan.


"Gak ah..biasa aja" Kayana memutar bola matanya malas,pura-pura tak tertarik. Padahal didalam hati ia sudah ketar-ketir,Adrian pakai kacamata itu sama seperti martabak manis ditambah topping extra.Gak dikasih saja sudah enak,apalagi kalau dikasih!


"Hmmm..masih ada yang kurang..." komentar Adrian sembari menyenderkan punggung nya pada kursi,jarinya mengetuk-ngetuk meja.


Memang ya,manusia disebelah nya ini tidak ada puasnya. Kriteria nya untuk kata sempurna terlalu tinggi,kecuali untuk urusan pacar. Pasalnya Kayana yang kelas menengah ini secara mengejutkan bisa menarik perhatiannya.


Fokus Kayana jadi buyar saat Adrian meletakkan salah satu tangannya pada sandaran kursi Kayana,bukan masalah posisinya tapi otot-otot lengan pria tersebut terlihat jelas seolah menggoda Kayana untuk khilaf.


"Ngucap Kay,istighfar" batin nya dalam hati, berada dalam jarak sedekat ini jelas tidak aman untuk jantung nya.Kayana menggeser duduknya sedikit, sok alim.


Sekarang sudah menunjukkan pukul tujuh malam, tugas nya masih jauh dari kata selesai. Karena dari tadi selalu mendapat koreksi dari Adrian alhasil tugas nya stuck di situ-situ saja,baru saja dikerjakan disuruh ulang. Kalau terlalu perfeksionis gimana mau cepat selesai!padahal deadline nya tinggal dua jam lagi.


"Boleh gak pak,bapak ubah settingan di portal nya jadi empat jam lagi. Otak saya mumet,perut saya laper,keduanya sudah gak bisa di ajak kompromi" keluh Kayana mencoba bernegosiasi,meskipun tau usulannya bakalan ditolak setidaknya ia berusaha.


"Gak bisa" sahut Adrian tegas,tuh kan! Dibilang juga apa,pria ini gabisa diajak kompromi.


Lagian salah Adrian sendiri tugas Kayana gak kelar-kelar dari tadi,saat ia mencoba serius malah diajakin ngobrol lah,main uno lah,ditanyain bagusnya beli kain sarung motif kotak atau bulat-bulat.Gak ada habis nya pokoknya! Dan saat deadline nya sudah mepet begini,masih sempat-sempatnya di nyinyirin!


"Kamu sih,kalau dari tadi serius pasti tugasnya sudah siap" sahut Adrian enteng dan malah menyalahkannya,kawan-kawan! Plis deh,Kayana jadi gedeg maksimal kalau begini.


Dengan emosi jiwa Kayana sengaja mengetik keras-keras,setiap toots yang ia tekan berbunyi dan pastinya akan membuat Adrian terganggu,tapi bodo amat lah! Memang itu tujuannya.


"Kenapa ngetik nya begitu?" Tanya Adrian tak peka,kening nya tampak berkerut.

__ADS_1


"Gapapa,biar cepat selesai!" Sahut Kayana datar,kepengennya sih ngegas tapi malas buang-buang energi.


Muka Adrian semakin tampak tak sabaran,berulang kali pria tersebut mengecek jam dipergelangan tangannya,sambil sesekali menatap layar pc Kayana.


"Butuh waktu berapa lama lagi sih?" Tanya Adrian dengan nada lelah,seolah-olah otaknya yang paling bekerja keras disini. Padahal yang terkuras energi nya Kayana,tapi lagaknya sudah seperti mahasiswa jenius yang mampu mengerjakan review 100 jurnal dalam satu malam! Songong banget.


"Kalau deadline nya dua jam lagi,ya berarti dua jam." Sahut Kayana datar. Wajahnya bete abis,macam ibu-ibu yang tupperware nya rusak digigit tikus.


Sebenarnya Kayana sedikit takut mengatakan hal barusan,kemudian ia menoleh ke samping dan sedikit takjub karena Adrian tidak ikut tersulut. Biasanya kalau dijutekin,pria ini akan bersikap sepuluh kali lebih menyebalkan.


"Yaudah..coba ambil referensi nya dari sini..." Adrian tampak mengalah dan mulai mengarahkan Kayana untuk mengerjakan tugasnya.


Kayana langsung bersemangat dan menyimak dengan antusias,kalau Adrian sudah turun tangan gasampe sepuluh menit juga bakalan kelar!


Yuhuuu!submit-submit tralala.


****


Leher Kayana terasa kaku,digerakkan kesana sini juga sakit.Rupanya ia ketiduran disofa,dalam posisi kurang nyaman.Yaitu posisi tengkurap dengan muka namplok disofa,dan parahnya Adrian tidak berinisiatif untuk setidaknya memberi bantal sebagai alas kepala. Dasar gak peka!


Jujurly energi nya ikut-ikutan terkuras sehabis mengerjakan tugas, padahal sebagian besar idenya dari Adrian, otak pria tersebut kelewat encer dan gak tanggung-tanggung daya tangkapnya juga secepat usain bolt. Mencari jurnal dengan keyword super sulit saja cuma butuh waktu satu menit,seolah-olah pria tersebut sudah hafal segala macam referensi yang ada diinternet.Sedangkan Kayana hanya duduk disebelahnya sebagai support system,menangguk-angguk sok paham padahal gak nyimak.


Saling melengkapi bukan?


Kemudian ia ndusel-ndusel ke lengan Adrian seperti anak kucing,parfum Adrian itu unik. Wangi nya lembut dan bisa bikin ngantuk,semacam aromaterapi tapi disemprot nya ke badan. Unik lah pokoknya!


"Mas ian.." panggil nya manja lalu menautkan tangannya pada lengan Adrian yang terbebas.


"Hmmm..udah bangun?" Tanya Adrian yang sedang fokus menatap layar pc,sekarang gilirannya yang sibuk mengoreksi tugas mahasiswa.


"Udah...mas laper" keluh Kayana manja.Kalau permintaan nya dituruti saja langsung manja,coba kalau tadi Adrian lepas tangan pasti Kayana sudah merajuk,mengamuk dan minta diantar pulang.


"Sebentar ya" kata Adrian lalu mengacak pelan rambut Kayana dengan sebelah tangannya yang terbebas.


"Hmmmm.." sahut Kayana penurut. Tumben.


"Makan kue dulu sana,buat ganjel perut" kata Adrian sembari menunjuk bolu medan yang tergeletak di atas meja,dan hebatnya Kayana makan tanpa protes,kayak kerasukan ibu peri. Biasanya kan misuh-misuh dulu sebelum dimakan.


Setelah beberapa lama,Adrian selesai mengoreksi tugas mahasiswa nya. Ada yang tugasnya bagus banget,ada yang cuma modal copy paste terus dikumpul. Sampai-sampai bookmark website nya pun lupa dihapus,ckck.


Kemudian Adrian menolehkan pandangan nya ke samping dan mendapati bahwa Kayana sudah ketiduran,lagi.Pantas saja kalem dari tadi,rupanya ketiduran.

__ADS_1


"Kay..." panggil Adrian lembut. "Bangun yuk,pulang..sudah jam sembilan malam"


Setelah beberapa tepukan,akhirnya Kayana terbangun,mata nya tampak membuka menutup masih ngantuk berat sepertinya.


"Hmmm?" Kayana cuma bergumam,dan masih bergelung dengan nyaman disebelahnya.Tampaknya wanita tersebut kelelahan, Adrian jadi kasian.


"Nggak mau pulang?sudah jam sembilan malam loh" tanya Adrian pelan sambil mengelus rambut Kayana yang terurai.


Kayana menggeleng,dan malah semakin nempel-nempel pada Adrian,bahkan ia menjatuhkan kepalanya dipaha Adrian untuk mencari posisi yang nyaman sambil memeluk bantal sofa.


Waduh,siaga 1!


"Yakin mau tidur disini?" Tanya Adrian sekali lagi,masalahnya diapartemen ini Adrian cuma tinggal sendiri.Gak enak juga kan kalau dilihat orang.


"Yaudah saya tidur di tempat teman saya saja ya,deket kok di unit bawah" kata Adrian lalu memindahkan kepala Kayana ke atas bantal dan bangkit dari sofa.


Namun, tanpa diduga Kayana malah menarik lengannya cukup kuat sehingga Adrian terjatuh kembali ke sofa dan nyaris menimpa tubuh Kayana jika ia tidak sigap menahan tubuhnya.


"Jangan..takut sendiri.." kata Kayana putus-putus,ngigau sepertinya. Kemudian wanita tersebut memeluk nya erat seperti guling.


"Gaboleh Kay,belum muhrim" ucap Adrian menelan ludahnya susah payah,otaknya sedang merapalkan hafalan juz amma berusaha mempertahan kan keimanan nya,bisa-bisanya Kayana anteng banget tidur ditempat orang. Untung saja Adrian pria baik-baik dan lurus,coba kalau imannya kayak kerupuk pasti bakalan terjadi hal yang iya-iya.


Kayana ini betulan ketiduran apa gimana? Masa dia santai banget dempet-dempet ke Adrian begini, tangannya tanpa beban memeluk pinggang Adrian erat lalu kakinya dililitkan sebelah ke kaki Adrian persis kayak kukang.


"Gapapa...mau peluk" jawab Kayana dengan nada sayu-sayu,membuat Adrian semakin menguatkan hapalan ayat-ayatnya.


"Janu..biasanya elo empuk. Kok sekarang padet banget ya" Kayana masih meracau,tangannya mulai seliweran ditubuh Adrian,***** sana sini mulai dari dada lalu turun ke lengannya kemudian ke perut sixpacknya.Oke,gak boleh dilanjutkan lagi,Adrian langsung siaga 45 karena menyadari hal ini mulai tidak sehat.


Dengan sigap ia langsung menyingkir dan melepaskan pelukan Kayana dari pinggang nya. Kemudian ia langsung menyelipkan bantal yang ukurannya lumayan besar disamping Kayana agar wanita tersebut tidak terbangun,tak lupa ia juga meletakkan beberapa bantal lainnya,sengaja ditimpuk dikanan kiri supaya Kayana tetap merasa nyaman seperti dipeluk.


Barulah Adrian bisa bernafas lega saat Kayana sudah kembali terlelap, sujud syukur sekali rasanya berhasil bebas dari cobaan super berat barusan.


Kemudian Adrian beranjak dan berjalan menuju kamarnya, mengambil selimut bersih dari lemari lalu menyelimuti tubuh Kayana sampai ke leher.


Ternyata wanita tersebut sudah benar-benar tertidur pulas,tipikal yang bisa tidur dimana saja,deru nafas nya terdengar halus menandakan bahwa ia sudah tenggelam di alam mimpinya.


Selanjutnya yang dihadapi Adrian adalah dilema,mau ditinggal sendiri takut Kayana terbangun tengah malam dan kebingungan mencari nya. Tapi kalau tetap disini Adrian juga meragukan kekuatan imannya.


Tentu saja Kayana sangat menarik secara fisik,tubuhnya cukup proporsional meskipun kelebihan sedikit dibagian perut dan wajah nya imut-imut apalagi kalau sedang merajuk. Semuka-muka sampai memerah kayak tomat.


Adrian menghela nafas berat,kemudian mengambil selembar kertas lalu menuliskan beberapa pesan didalam nya.

__ADS_1


Setelah memastikan kondisi nya aman serta kondusif,Adrian beranjak menuju pintu apartemen dan menutupnya pelan supaya tidak membangun kan Kayana.


Kurang baik apalagi coba Adrian jadi pacar?!


__ADS_2