Skripsi atau Resepsi

Skripsi atau Resepsi
54 - Gara-gara Seblak


__ADS_3

Seharian ini, Adrian menemani Kayana yang katanya ingin cari bahan baju untuk wisuda. Padahal Adrian sudah menawarkan baju dari butik ibunya, tapi Kayana menolak. Katanya terlalu mewah, dia tidak ingin saat wisuda nanti pakaian nya heboh sendiri. Kayana ingin tampil biasa-biasa saja, menurutnya sudah cukup baju untuk lamaran saja yang di akomodasi oleh ibu mertua nya, kalau baju wisuda mah beda urusan lagi.


Dan saat ini setelah puas berkeliling seharian, perempuan itu mengeluh lapar tapi saat diajak makan dine-in, ngotot minta take away. Ntah apa alasannya, Adrian pasrah saja. Gak mampu menebak isi pikiran wanita serta kerumitannya.


"Aku yang nyetir,ya." ujar Kayana percaya diri.


Adrian terpaksa mengiyakan saja, walaupun sebenarnya dia agak ketar-ketir juga melepas tesla nya begitu saja.


Bukannya takut kegores, but..you know cewek kan? mostly spesies cewek kalau bawa mobil hebohnya minta ampun. Timbang mau belok aja mikir-mikirnya kayak mau dilamar pangeran malaysia, tujuh hari tujuh malam.


Dan saat ini Kayana sedang memperbaiki sandaran bangku nya, yang sudah di adjust sekitar sepuluh kali itu. Seatbelt pun sudah dilepas pasang sebanyak tiga kali. Sebentar lagi Adrian mungkin habis stok kesabaran dan mengambil alih kemudi.


Tapi, dia gak tega. Melihat wajah semringah calon istrinya saat diizinkan berkendara. Semenjak menggores pajero kesayangan abangnya yang sampai baret depan belakang itu, Kayana gak diizinkan lagi bawa mobil. Kiran trauma berat, apalagi tagihan mobil tersebut seharga motor baru. Syukur-syukur ditanggung asuransi, coba gak ada asuransinya. Pasti Kayana gak bakalan dinafkahi lagi.


"Udah belom mas?" tanya Kayana antusias setelah Adrian mengubah pengaturan mobilnya ke self-driving.


"Udah.." belum sampai dua detik Adrian mengiyakan, dia langsung kocolongan.


Ini cewek level keberanian nya memang diatas rata-rata, tanpa menunggu instruksi dari Adrian, Kayana sudah lebih dulu tancap gas ke jalan raya. Padahal ini mobil fiturnya banyak, gak bisa sembarangan dibawa tapi ini cewek memang gak ada takut-takutnya.


"Makan seblak yuk, mas" ajak Kayana.


"Memang bisa ditake out?" tanya Adrian heran.


"Bisa."


"Bukannya berkuah gitu ya, gimana cara makan nya?"


"Makan nya di tempat mas aja." ujar Kayana santai.


Adrian sontak langsung pucat pasi. Dia trauma membawa perempuan ini ke apartementnya, takut disosor. Apalagi ini cewek kalau sudah di apartement nya kayak gak tau adab, suka seenaknya. Walaupun apartement pacar sendiri tapi seharusnya Kayana nggak boleh lupa kalau pacarnya ini juga cowok tulen, dan normal.


Semoga kali ini mereka beneran cuma makan seblak.


Dan akhirnya, mereka memesan dua bungkus seblak, satu bungkus baso aci dan dua bungkus batagor. Adrian sudah gak terlalu kaget dengan porsi makan pacarnya ini, belum lagi kalau sedang haid bisa ngabisin tiga bakul nasi.


Sesampainya diapartemen, Kayana langsung berjalan menuju dapur dan menyalin makanan tersebut ke dalam piring bersih.


"Makan nya di depan tv aja ya mas, biar bisa sambil nonton." titah Kayana selayaknya tuan rumah


Setelah puas menggonta ganti channel televisi, akhirnya Kayana memilih channel edukasi,sok-sok ingin menambah ilmu pengetahuan. Timbang baca buku pelajaran saja, ini cewek sudah kesulitan menahan diri untuk menguap.


Setelah piring di tata sedemikian rupa,wanita tersebut langsung makan dengan lahap. Kalau sewaktu awal pacaran makan nya masih anggun karena masih jaga image, sekarang sudah cuek bebek yang penting perut terisi.


"Kok gak dimakan, gak suka?"


Sejujurnya Adrian baru pertama kali mencicipi makanan-makanan ini, kecuali batagor tentunya yang sering nangkring di depan sekolah.


Dia takut gak sesuai selera, apalagi seblak yang dipesan Kayana level pedas mampus. Sebenarnya dia gak kuat-kuat amat makan makanan pedas.


"Saya nggak lapar-lapar banget, kamu aja yang makan."


"Dih, cobain dulu." sungut Kayana kemudian menyuapkan seblak tersebut.


Baru satu suap, Adrian sudah terbatuk-batuk. Ini seblak memang cocok dibilang pedas mampus,saking pedasnya gak layak di konsumsi manusia. Alhasil, dia cuma bisa nyomot batagor untuk mengisi perut karena baso aci itupun pedesnya udah gangotak.


Selesai makan, mereka berdua merapikan bekas makanan lalu mencuci piring. Duh, kalau kayak gini Adrian suka mesem-mesem sendiri .Hatinya jadi berbunga-bunga karena kesannya mereka kayak pengantin baru yang sedang berbagi tugas beberes rumah.


Selama mencuci piring, gak terhitung sudah berapa kali Kayana menjatuhkan piring-piring nya , untung saja piring nya bahan wheat straw semua, coba kalau bahan kaca. Sudah pasti lebih banyak yang pecah dari pada yang bersih.


Selesai mencuci tangan, Adrian merebahkan punggung nya disofa. Kayana sedang asyik menonton channel korea dan mengagumi ketampanan oppa-oppa. Gak sopan banget gak sih? disamping nya ada pacar sendiri yang gak kalah ganteng dari oppa korea dan nyata pula, bisa disentuh-sentuh bisa diuyel-uyel. Gak perlu halu!


"Mas, aku numpang mandi. Boleh gak?" tanya Kayana sambil kipas-kipas badan. Wajar sih, karena makan pedas tadi ini cewek sudah banjir keringat.


"Boleh, mau saya pinjemin baju?" tawar Adrian.

__ADS_1


"Boleh deh."


Tak lama kemudian, Adrian kembali keruang tamu dengan membawa set piyama kakak nya,untung nya ada. Dulu, saat awal-awal tinggal sendiri, keluarga nya sering berkunjung kesini alhasil baju kakaknya pun banyak yang tertinggal disini.


Dia gak kebayang sih gimana jedag-jedug hatinya nanti kalau Kayana mengenakan bajunya, lebih baik memakai baju Ralina saja biar pikiran nya gak kemana-mana.


"Aku mau mandi, ikut?" tanya Kayana sambil mengalungkan tangan nya ke leher Adrian.


Adrian langsung melotot, tuh kan. Dia gak bisa gak suudzon sama pacarnya ini. Belum apa-apa dia udah dibelai, padahal Adrian ini mental nya gak sekuat baja, dia lebih cocok kalau diibaratkan dengan porselen ditoko-toko. Gak boleh asal pegang kalau gak mau ambyar!


"Dosa Kay!" omel Adrian seraya melepaskan tangan Kayana dari leher nya, namun cewek ini memang dari sono nya hobi nyosor. Bukannya beranjak, dia malah duduk dipangkuan Adrian. Detak jantung Adrian sudah dibuat kacau saat perempuan itu malah mendekatkan wajahnya ke leher Adrian.


Adrian mencubit gemas pipi Kayana karena ini cewek gak mau melepas kan pelukannya sama sekali. Nempel abis, kayak kukang.


Tanpa disangka-sangka dan tanpa pertanda, Kayana menjatuhkan satu kecupan dibibir Adrian yang langsung disambut baik oleh pria tersebut. Tuh kan,salah sendiri. Membangunkan kingkong yang sedang tertidur.


Yang awalnya cuma kecupan, berubah intens sedikit. Adrian ikutan merinding saat tangan Kayana sudah mulai menjalar kemana-mana, dia pun gak sadar kalau tangan biadabnya ini sudah menyingkap baju Kayana keatas menampakkan area perut yang sedikit berlemak, tapi gemoy abis.


Saat dirasa kehabisan napas. Kayana akhirnya mengulurkan tangan untuk meremas bagian depan baju yang dikenakan Adrian.


"Sorry." Adrian tampak meringis saat melihat baju Kayana yang awut-awutan. Damn- dia betulan nggak bisa menahan diri,masalahnya bibir Kayana beneran bikin candu.


Selagi berusaha mengatur napas, Adrian memandang Kayana dengan perasaan campur aduk. Senang, takjub, namun merasa bersalah juga. Ini cewek tiap mau dihalalin, ngomongnya nanti-nanti mulu tapi didiemin dikit langsung nyosor. Argh!


"Mau lagi?" tanya Kayana seolah nggak kapok.


"No, jangan lagi Kay." sahut Adrian dengan nada ngeri, kemudian menarik Kayana dalam dekapannya.


"Btw, aku ngantuk banget mas, tapi gerah." ujarnya sambil ndusel-ndusel dileher Adrian, kayak kucing. Tapi sayangnya yang terbangun malah singa.


Sembari menelan ludah, Adrian berusaha melepaskan pelukan Kayana. Takut menumpuk dosa, apalagi hubungan mereka belum halal. Nanti malah mendatangkan hal-hal yang nggak baik.


"Mas, kok kayak ada yang ganjel ya?" tanya Kayana dengan wajah heran.


Holy Fuc-


***


Bau buah-buahan langsung menguar ke seluruh penjuru ruangan, membuat Adrian jadi ingin memeluk dan menghirup wangi nya kalau gak ingat mereka belum muhrim. Ah,lama-lama dia jadi cowok munafik juga, muka doang yang ke arab-araban tapi alim juga kagak. Di sosor dikit dia juga gak nolak.


Tapi seperti biasanya, tanpa diminta-minta Kayana itu sangat peka. Sehingga lebih dulu mendatangi nya sebelum Adrian sempat menjauhkan diri.


"Maaf ya mas, tapi tadi muka mas lucu banget..hahah" ujar Kayana menahan tawa sambil mengelus-elus pipi sang pacar, yang keburu ngambek tadi.


Sewaktu Adrian panik setengah mampus tadi dia secara gak sadar mendorong Kayana sampai terjungkal. Untung dorong nya kesamping, jadinya ketemu sofa juga. Kalau kebelakang, mungkin sudah gantian Kayana yang ngambek saat ini.


Pada awalnya,dia sudah berpikiran yang tidak-tidak dan setelah Kayana menyingkir ternyata ada remot yang numpang nangkring di pahanya.


Karena posisi duduk perempuan tersebut yang lumayan heboh alhasil posisi remotnya juga bikin salah paham, lagian dia gak sebrengsek itu juga kali. Dia sudah berjanji didalam hati sekaligus pada abang iparnya, akan menjaga Kayana. Jadinya dia betulan takut, kalau beneran kejadian.


Adrian menghela nafas berat, berdoa diberi banyak kesabaran dan semoga dia juga gak tergoda dengan penampilan Kayana.


Sebetulnya piyama yang dikenakan Kayana cukup sopan, dan gak ada seksi-seksinya juga sewaktu dikenakan Ralina ataupun mbak Yasmin yang suka ngekost dadakan di apartmentnya.


Tapi karena perempuan tersebut sedikit curvy, jadinya bagian-bagian yang biasanya gak kelihatan jadi tampak lebih menonjol dari biasanya, bahkan bagian dada nya juga kelihatan sempit. ****!


"Ini baju zaman kapan,deh? sempit banget." dumel Kayana.


"Nggak sih,mungkin akunya aja yang gendut." ujar Kayana mulai insecure.


"Nggak ah, nggak gendut. Chubby gini kamu malah lucu, gemesin. Saya suka." puji Adrian, dia tidak suka melihat Kayana yang merasa insecure terhadap hal-hal sepele.


Karena tidak bisa menahan diri setelah melihat wajah cemberut Kayana, akhirnya Adrian memeluk pinggang nya gemas. Mau gak mau Kayana ikutan luluh, dia kan demen dipeluk-peluk.


"Mas, coba deh ngomong nya gak pake 'saya' lagi. Masa udah pacaran, udah mau tunangan juga ngomong nya masih formal banget." ujar Kayana sedikit cemberut, pasalnya mereka pacaran sudah lumayan lama walaupun belum nyampe satu tahun. Tapi panggilan Adrian masih belum berubah juga, masa sama pacar sendiri ngomong nya pake 'saya'.

__ADS_1


"Tapi saya gak biasa."


"Tuh kan,saya lagi."


Lagi-lagi Kayana mulai ngambek. Capek juga dia lama lama, tapi emang kapan sih Kayana nggak pernah ngambek?


Dari hari pertama mereka pacaran, cewek itu sudah hobi ngambek. Perihal skripsi, perihal makanan, perihal cuaca, perihal ojek online datangnya lama, perihal jatuhnya ekonomi indonesia, perihal apapun itu. Memang dari sononya ini cewek doyan mengeluh, tapi mau gimana lagi. Dia sudah terlanjur sayang.


"Oke, mas bakalan coba."


****! dia cringe sendiri setelah memanggil diri sendiri dengan kata 'mas'. Terus pake apalagi dong, aku? saya? aing? Apaan woy!


"Barusan Kiran nelfon, katanya mamah sama Kaivan mau pergi acara keluarga di magelang. Terus Kiran juga lagi dinas diluar kota, gimana dong mas? masa aku sendirian dirumah. Takut huhu." rengek Kayana.


Halah, pasti ini akal bulus Kayana lagi. Gak lagi-lagi dia tertipu sama ini cewek.


"Nginep di tempat Lisa aja." ujar Adrian santai, kemudian mematikan tv nya yang sedari tadi hidup, tapi gak ditonton.


"Lisa pulang kampung mas.." jawab Kayana dengan suara lirih. Berusaha tampak hopeless ,meskipun Adrian tau ini cewek emang modus abis, tapi mau gak mau Adrian luluh juga melihat tatapan Kayana yang tampak sendu.


Adrian paling gak tahan melihatnya, rasa-rasanya dia mau menghalal kan ini cewek sekarang juga biar bisa dia peluk-peluk sesuka hati. Gemesin banget woy!


"Yaudah deh, nginep disini aja." ujar Adrian pasrah, nggak tega melihat tampang memelas Kayana yang dibuat sesedih mungkin itu.


Bismillah deh.


***


Demi alam semesta dan seluruh isinya Adrian bersumpah gak akan makan seblak lagi,apalagi yang level pedas mampus! ini sudah kelima kalinya dia bolak balik kamar mandi.


Dia paling gak suka kalau sudah di ancam-ancam kampret macam "Kalau mas gak mau makan ini, berarti mas gak sayang sama aku."


Bullsh*t!


Sejak kapan tolak ukur perasaan itu dari makan seblak. Sableng emang ini cewek! Pengen dia marahin abis-abisan tapi gak rela, karena ternyata mereka mulesnya berdua. Jadinya dia gak ngenes-ngenes amat.


Lebih dari setengah jam Adrian duduk di atas toilet, saking capeknya bolak balik ke WC, akhirnya dia memilih untuk nangkring di toilet, agar saat sakit perut nya tak tertahankan dia tinggal menuntaskan kewajiban.


Setelah dirasa perutnya gak akan sakit lagi, dia menekan tombol flush kemudian membersihkan diri. Sumpah- rasanya dia ingin menangis karena ternyata usus nya bisa se receh ini, cuma makan seblak yang gak sampe dua suap itu dia jadi bolak-balik ke kamar mandi. Untungnya gak sampe cepirit!


Untung saja mereka berdua sama-sama jurusan kesehatan, jadi sudah tau tolongan pertama sewaktu mules mendadak begini. Setelah meminum obat, mereka pun kembali ambruk dikursi.


Seriusan deh kakinya sudah lemas kayak jelly, meskipun sudah meminum oralit yang dibuat ala kadarnya tadi, tenaga Adrian masih belum pulih kembali. Begitu juga dengan Kayana, yang dari tadi sudah bolak balik ke kamar mandi, tapi cuma dua kali sih. Mungkin karena perut ini cewek sudah adaptasi sama makanan pedas jadinya gak mules-mules amat.


Adrian melirik Kayana yang duduk disamping nya, dahinya terlihat berkeringat, tangannya juga memeluk perutnya dengan posisi setengah meringkuk.


"Kenapa Kay, perut kamu sakit?" tanya Adrian, panik.


"Bukan, pengen sendawa tapi gabisa." ujar Kayana sembari menahan isak tangis. Tuh kan,pasti asam lambung nya kumat lagi! tapi Adrian memilih diam, takutnya kalau dibilangin malah jadi sugesti.


"Masuk angin kali. " ucap Adrian setengah prihatin tapi pengen ngakak juga. Sekarang Kayana malah kelihatan seperti ibu-ibu mau melahirkan.


"Gausah ketawa.." rengek Kayana.


"Mau minum air anget?" tawar Adrian dan Kayana pun mengangguk.


Adrian segera beranjak ke dapur, kemudian mengambil air hangat dari dispenser. Saat kembali ke ruang tamu, kondisi Kayana sudah lebih memprihatinkan, ini cewek betulan kayak ibu-ibu yang sedang kontraksi. Mukanya pucat, keringat mengucur dari kedua pelipisnya. Adrian ikutan cemas.


Akhirnya dia pun berinisiatif mengoleskan minyak angin ke pundak dan ke leher Kayana, kemudian menuangkan minyak angin tersebut ke telapak tangan Kayana untuk dioleskan ke perut.


Setelah beberapa saat mengurut pundak serta leher Kayana, akhirnya perempuan tersebut sendawa. Dia berasa jadi tukang pijit profesional. Sudah sepatut nya dia mendapat bayaran dengan nominal besar.


"Udah enakan?" tanya Adrian sembari mengurut pelan punggung Kayana.


Kayana mengangguk.

__ADS_1


Nggak lama kemudian, perempuan tersebut tertidur dipelukannya, Adrian membantunya naik ke kasur kemudian memijat punggung Kayana sampai dia ikut terlelap.


__ADS_2