
"Seriusan bang?"
Wafi tampak heboh sampai-sampai suara nya menggema diseantero warung bakso. Alhasil semua mata tertuju pada mereka, Kayana cuma meringis menahan malu.
Sejak 30 menit yang lalu Kayana sudah kehilangan selera untuk menyantap bakso nya,terlebih-lebih ini manusia dua biji hebohnya minta ampun, harus banget nih di warung bakso ngerumpi nya?Plis lah,dunia gak hanya milik mereka berdua.
Adrian cuma balas tertawa. "Gilak sih,war banget gue supaya dapet itu item. Lo malah enak-enakan pake joki,gak adil nih!" protes Wafi, mereka tengah membahas seputar otomotif intinya, entah itu ban,klakson,spion atau apapun itu Kayana gak mau peduli.
Kepala nya sakit sebelah, nyaris migrain karena terlalu cemas tadi. Tapi manusia yang membuatnya cemas setengah mampus malah sedang asyik cekikan disebelahnya,kayak gak punya dosa padahal Kayana sampai naik asam lambung tadi.
Kalau dua orang ini mau kencan,plis lah minimal Kayana diantar pulang dulu kek. Punya pacar tapi gak ada peka-peka nya,Kayana pun sampe dianggurin. Masa iya dia kalah prioritas sama Wafi?
"Bentar ya,Ra" ucap Wafi disela-sela tawa nya. Kayana cuma tersenyum tipis, pengen marah tapi gak sanggup,kehabisan energi.
Seriusan deh,dia pengen nangis saking capeknya. Capek lahir bathin!
Pengen nelungkup dimeja tapi takut dicap lebay, mendadak kepala nya terasa pusing dan pandangan nya sedikit berkunang-kunang. Apa jangan-jangan dia kena anemia?
Ah,paling karena beberapa hari ini dia kurang tidur,belum lagi makan siang nya hari ini bakso. Gak sehat! Tubuhnya pasti kurang nutrisi.
Badan nya terasa hangat,dan mata nya juga berat. Pengen senderan tapi ini kursi gak punya sandaran,bahkan sandaran nya sendiri pun gak ada peduli-peduli nya.
Saat sedang asyik melamun tiba-tiba kepala nya sudah namplok dibahu Adrian,Kayana terperanjat seketika. Seriusan dia ga sadar!
Karena salah tingkah, Kayana buru-buru menegakkan tubuhnya dan pura-pura sibuk mengambil minum dari teko. Saat melirik kedepan,dilihatnya Wafi sudah tidak berada ditempat,entah ke wc atau ke kutub utara sekalipun juga gak papa deh. Beneran!
"Lagi capek ya?" Adrian bertanya lembut kemudian mengarahkan kepala Kayana agar kembali bersandar dibahu nya. Tangan Kayana yang berada dibawah meja juga digenggam hangat,mau gak mau dia langsung tersipu. Gini kek,dari tadi! Kalau begini kan demam nya langsung sembuh.
Kayana yang senang diberikan perhatian langsung mengangguk manja,sifat bucin nya langsung kumat.
"Kok bisa disini bareng Wafi, kalian akrab banget emang pas SMA?" Adrian bertanya dengan nada santai,namun jantung Kayana sudah bertalu-talu,tubuhnya panas dingin,mental nya jelas belum siap.
"Ehm,lumayan..." Kayana melemparkan pandangan nya ke arah lain,ciri khas nya kalau sedang gugup dan Adrian langsung menyadari gelagat tersebut.
"Kan beda tingkat,kok bisa akrab?" Tanya Adrian penuh selidik.
"Akrab dong,kan aku social butterfly sama siapa aja kenal." Jawab Kayana berkilah.
"Bukannya kamu introvert?"
"Introvert bukan berarti gak boleh punya temen mas!" sahut Kayana pura-pura tersinggung, agar tampak meyakinkan dia juga mengerucutkan bibirnya supaya kelihatan kesal.
"Wafi temennya Bagas juga kok,kami saling kenal dan akrab juga."
"Tapi kamu kok gak pernah kelihatan ditongkrongan mereka?" Tanya Adrian heran,skakmat.
"Emang mas mau kalau aku deket sama cowok lain?" Kayana berusaha memutar-mutar pertanyaan.
"Enggak sih."
"Makanya,mending aku spending time nya bareng mas."
"Memang kamu gak mau temenan sama orang lain?Sayang banget,kamu masih muda tapi jarang bergaul." Adrian memberi nasihat.
"Enggak,aku kan introvert." Adrian langsung mesem,kehabisan kata-kata.
Kayana memang ahli nya perihal membalikkan kata-kata,otaknya sangat cerdik .Perlu diberi standing applause sih bakatnya yang satu ini.
Lima menit kemudian Wafi baru kembali ke meja mereka,wajahnya tampak sedikit panik.
"Gue balik duluan gapapa ya bang?Minta tolong anterin Kayana sekalian. Kak sheza mau lahiran,dirumah sakit cuma berdua doang bareng mami,suami nya masih otw rumah sakit. Mami panikan kalau cuma sendirian di RS. " ucap Wafi terburu-buru.
"Maaf ya Kay gue gabisa nganter elo ke Paul's, lagi urgent banget." Ucap Wafi tampak menyesal,Kayana balas mengangguk.
"Gapapa Feng, hati-hati ya dijalan. Jangan ngebut" Wafi balas mengangguk kemudian buru-buru meninggalkan warung bakso tersebut.
"Panik banget ya muka nya" Komentar Kayana.
"Paniknya beda Kay.Sewaktu Ralina mau lahiran,saya sampe lemes sebadan-badan."
"Oh gitu..soalnya aku gak tahu mas. Belum pernah ada keluarga dekat yang mau lahiran gitu, sepupu aku juga kebanyakan cowo semua dan masih lajang. Jadi gak tahu aja rasanya."
"Gapapa kok,santai aja. Kalau nanti kamu mau lahiran anak kita,saya pasti bakalan berani kok." sahut Adrian sambil tersenyum simpul.
Kayana langsung speechless.
Hah?Gimana maksudnya?
***
"Mas, ngantuk!" Keluh Kayana sembari menyenderkan kepala nya dibahu Adrian,modus.
"Yaudah tidur aja." sahut Adrian yang tetap fokus mengendarai mobil.
"Ntar saya bangunin kalau udah nyampe." ucap Adrian sambil mengelus kepala Kayana yang bersandar dibahu nya.
"Belum mau pulang." Kayana memelas,Adrian langsung luluh.
"Yaudah..mau kemana?" Tanya Adrian lembut,kemudian tangannya menggenggam sebelah tangan Kayana.
"Ke apartemen Mas yuk." Kayana berujar antusias,sontak Adrian langsung khawatir dan cemas.
Dia hapal betul Kayana ini tukang modus,bukan nya dia sok suci tapi sudah beberapa kali dia nyaris diserang oleh pacarnya ini.
"Apartemen saya lagi berantakan,besok-besok deh." Kilah Adrian berusaha mencari alasan.
"oh..Yaudah deh..kita ke hotel aja yuk." Ajak Kayana.
Adrian langsung tercekat.
****,ini cewek beneran deh gak ada takut-takutnya.
__ADS_1
"Mau ngapain dihotel?" Tanya Adrian dengan nada ngeri.
"Mau tidur mas..kan apartemen mas gabisa di pake. Yaudah,kita tidur dihotel aja." Sahut Kayana enteng.
"Hah?" Respon Adrian kaget,langsung speechless.
Kayana ini memang polos,pura-pura bodoh,atau memang bodoh beneran?
"Jangan..gaboleh!" Tolak Adrian tegas.
"Terus tidur nya dimana?" Respon Kayana pura-pura sedih.
"Dirumah kamu lah!"
"Ah!jauh..lagi gak ada orang juga dirumah. Aku takut.." elak Kayana seperempat bohong.
"Dimobil aja kalau gitu. Saya tungguin sampai bangun." bujuk Adrian.
"Pegel mas!" protes Kayana sambil memelas.
"Aku beberapa hari ini gabisa tidur loh mas,pusing banget. Capek juga, mas gak kasian sama aku?" Kayana pura-pura sedih.
Saat melihat kearah wanita tersebut, wajahnya memang sudah tidak bisa dibilang segar. Kantong mata yang tercetak dibawah mata nya menjelaskan secara gamblang kalau ini cewek pasti kurang tidur. Belum lagi bibirnya pucet kayak orang tipes, kalau begini dia mana tega.
"Yaudah deh..ke apartemen saya aja." sahut Adrian pasrah,dia cuma bisa berdoa didalam hati semoga kedepan nasib nya baik-baik saja.
Sepuluh menit kemudian mereka sudah sampai didepan pintu apartemen Adrian, setelah pria tersebut menekan passcode Kayana langsung berhambur kedalam.
Sesampainya didekat sofa,perempuan itu langsung namplok disana. Sepertinya benar-benar kecapekan,bukan modus seperti yang Adrian sangka kan. Buktinya belum sampai lima menit perempuan itu berbaring sudah terdengar dengkuran halus.
Sepatu nya pun sampai lupa dilepas,padahal Adrian baru saja mengepel seluruh lantai ini tadi pagi,karena helper yang biasa membantu nya sedang izin pulang kampung. Alhasil beberapa hari ini,kehidupannya benar-benar seperti pria lajang pada umumnya.
Makan sendiri,minum sendiri,nyuci baju sendiri.
Ngenes sih,tapi mau gimana lagi. Kayana belum siap kalau diajak berumah tangga,jadinya dia cuma bisa merana sambil membayangkan suatu saat nanti suara wanita tersebut atau bahkan anak-anak mereka nanti akan memenuhi suasana dirumahnya yang terasa hampa ini.
Disini ada 6 kamar,mungkin beberapa diantara nya akan dia renovasi menyesuaikan kesukaan Kayana, ataupun anak-anak mereka nanti. Membayangkan nya saja sudah membuat Adrian senyam-senyum sendiri. Tapi dia tidak mau terlalu terburu-buru,takut Kayana merasa bosan apabila dia terlalu mendesak. Perempuan ini masih muda,mimpi nya pasti besar, sayang kalau Adrian malah hadir sebagai penghalang,bukan penguatnya.
Tapi kalau boleh egois, dia ingin perempuan ini selalu berada disisi nya,gak ingin dia bagi dengan siapa pun, cukup berada dirumah dan seluruh kebutuhan nya akan Adrian penuhi,baik secara materil maupun moril, kasih sayang pun sudah pasti akan dia berikan sebesar-besarnya.
Kayan tertidur cukup nyenyak, untung nya gak sampai ileran. Kalau sedang tidur begini,wajahnya jadi imut. Bulu matanya panjang dengan alis yang tebal, raut wajah yang biasanya selalu ekspresif sekarang tampak sedikit jinak. Sesekali bulu mata dihadapan nya ini bergerak-gerak entah karena mimpi buruk atau apapun itu. Namun,yang jelas Kayana tampak gelisah. Setelah mengelus kepala Kayana beberapa kali,barulah perempuan itu berangsur tenang.
Memandangi wajah Kayana dengan jarak sedekat ini,tentu saja Adrian jadi candu sekaligus takut khilaf. Alhasil dia langsung beranjak kemudian menghidupkan pendingin ruangan di kamar nya. Setelah memastikan suhu dikamar nya cukup sejuk, Adrian kembali ke ruang tamu lalu memindahkan Kayana kekamar nya,agar perempuan tersebut dapat tidur lebih nyaman.
Saat meletakkan tubuh Kayana ke tempat tidur,Adrian sedikit tercekat karena jarak wajah mereka yang terlalu dekat. Belum lagi wangi parfum Kayana yang lembut,semakin mendorong nya untuk berbuat khilaf. Keimanan nya benar-benar sedang di uji saat ini, cuma berduaan,di kamar pula. Ini sih setan gak cuma berbisik ditelinga nya,tapi sudah kondangan.
Takut diri nya kelepasan,Adrian buru-buru meletakkan tubuh Kayana dikasur kemudian menyelimuti nya sampai leher.
Seriusan,ini cewek memang hobi bikin susah!
Adrian langsung beranjak menuju kulkas kemudian mengambil air dingin dan meneguk nya langsung dari botol, fix sih otak nya perlu disteril biar imajinasi nya gak menjalar kemana-mana.
Untung pacaran nya sama Adrian,kalau sama orang lain..
Ah,dia bahkan gak bisa membayangkan. Intinya ini cewek jangan sampai molor disembarangan tempat,bisa bahaya!
***
Adrian terbangun saat merasakan lengan nya pegal sebelah, saat menoleh kesamping ternyata Kayana sudah memeluknya erat dan kaki perempuan tersebut bahkan sudah mendekapnya erat seolah-olah tubuhnya guling.
Adrian mengerjabkan mata sebentar, kemudian merem lagi. Matanya masih perih, barangkali dia baru tidur sejam atau dua jam. Badannya pegal-pegal semua.
Gimana enggak, sofa yang cuma sebiji ini ditempati dua orang sekaligus. Belum lagi ini cewek egois, tangan dan kaki nya ke mana-mana. Belum sampai satu menit Adrian terbangun dari tidurnya, sudah dua kali tubuh nya kena senggol. Belum lagi sebagian tubuhnya ditimpa oleh Kayana, wajar saja kalau badan nya sakit-sakit semua.
Saat menoleh kesamping tampak ponsel Kayana tergeletak begitu saja ditengah-tengah sofa. Adrian tebak ini cewek pasti langsung pura-pura tidur sewaktu tau Adrian terbangun. Ponselnya masih menampilkan laman browsing artis korea, nafasnya yang berusaha di atur se natural mungkin itu sayang nya gak bisa membohongi Adrian,dia gak segampang itu dikibulin.
"Bangun Kay, saya tau kamu pura-pura tidur" ucap Adrian sambil menepuk pelan bahu Kayana, namun wanita tersebut masih bergeming.
Setelah sekian lama menepuki bahu Kayana, Adrian masih belum putus asa. Pria tersebut beralih menggelitiki pinggang Kayana sehingga mau tidak mau perempuan tersebut bangun dari tidur pura-pura nya.
Kayana terduduk dengan muka kusut.
"Masih pengen cuddle.." Kayana memelas.
"cuddle..cuddle... belum muhrim!" sahut Adrian garang.
"Enak banget ya kamu tidurnya diatas badan orang, badan saya sampe pegel sebelah" omel Adrian.
Kayana masih merem melek,sok-sokan mengumpulkan nyawa. Padahal dari tadi cuma pura-pura tidur.
Bukannya bangkit dari tubuh Adrian, wanita tersebut malah semakin ndusel-ndusel ke leher nya. Adrian langsung menahan napas dengan darah berdesir. Lama-lama dia harus jaga jarak minimal 5 meter dari ini cewek, takut di apa-apain.
Adrian lanjut mengomeli. "Geser Kay, badan saya pegel semua."
Kayana cuma mendengus. "sepuluh menit lagi!"
"Gak ah, kamu berat!" sahut Adrian sambil menggeser bahu Kayana, takut mereka berdua khilaf kalau terus-terusan nempel begitu. Se umur-umur dia belum pernah di peluk cewek, dan saat bersama Kayana dia harus rutin membaca doa agar kewarasan nya tetap terjaga.
Kayana refleks mencubit pinggang Adrian,lantaran pria tersebut mengucapkan kata-kata keramat seenaknya.
Adrian cuma tertawa "Engga sayang, kamu nggak berat." ucap Adrian kemudian mencubit hidung Kayana gemas.
Kayana pura-pura ngambek, sifat bucin nya otomatis kambuh sewaktu di panggil sayang.
Adrian cuma tertawa kecil kemudian menyibakkan anak rambut yang menutupi wajah Kayana.
Muka perempuan tersebut sampai bergaris-garis mengikuti lipatan pakaian yang Adrian kenakan. Seriusan muka nya lucu abis, Adrian pengen ketawa lepas tapi takut pacar nya ngambek lagi.
"Jelek banget muka nya bangun tidur, nih berminyak." ujar Adrian menggoda nya.
Bibir Kayana cuma mengerucut karena kesal.
__ADS_1
"Bohong banget, muka aku gak berminyak." sungutnya kesal.
Adrian cuma menahan tawa, tuh kan muka pacar nya ini lucu kalau lagi ngambek.
Kayana sesekali tampak mencuri pandang ke arah leher Adrian, membuat pria tersebut mengikuti arah pandang nya dan sontak terkaget saat melihat dua kancing teratas pakaian nya terbuka.
Adrian langsung terduduk "Kamu gak apa-apain saya kan?" tanya Adrian ngeri, sambil menjaga jarak pria tersebut menarik bantal sofa disebelahnya untuk menutupi bagian tubuhnya yang terekspos. Walaupun bukan aurat, dia memang gak hobi pamer sana-sini.
Seriusan dia paling takut sama cewek modelan Kayana, tampang nya polos tapi hobi nya nyosor duluan. Dia jadi takut guyonan ibu nya soal Adrian junior benar-benar terjadi.
"Enggak loh mas, seriusan!" sahut Kayana, namun matanya tetap melirik ke arah leher pria tersebut yang merah-merah.
"Terus kenapa kancing baju saya dibuka-buka? Pasti kamu ngelakuin hal yang aneh-aneh kan?" Adrian masih sanksi.
"Mau nya sih begitu." Kayana berujar santai.
"Kay!" Adrian meringis, ini cewek otak nya perlu disterilisasi.
"Yaelaah, tadi mas keringetan terus aku elapin. Tuh tisu nya masih disana. Kancing nya aku buka supaya gak kepanasan." respon Kayana sok tersinggung.
"Beneran?" Adrian mulai sedikit percaya, karena saat terbangun tadi tubuhnya memang gerah luar biasa karena tidur berdua di sofa yang sempit.
"Iyaaa..." sahut Kayana pura-pura lelah.
"Oke deh kalau gitu" sahut Adrian yang masih seperempat percaya.
Pria tersebut langsung beranjak dari sofa dan menuju kamar mandi "Saya mandi dulu ya, abis itu saya antar pulang."
"Iyaa mas..bawel banget, buruan mandi atau mau aku mandiin?" tanya Kayana jenaka sambil mengerlingkan sebelah matanya.
Adrian langsung menatapnya kesal.
"Kebetulan aku juga pengen mandi mas, mandi bareng aja yuk!" ujar Kayana masih menggodanya.
Adrian kemudian menghampiri Kayana dan mencubit pipi wanita tersebut gemas.
"Ngaco kamu!"
Tak lama kemudian terdengar suara teriakan dari dalam kamar mandi.
"Kayana...kamu apain leher saya!!"
Tawa Kayana langsung pecah.
***
Adrian terduduk lemas di kamar, serius ini cewek serem abis! Leher nya merah-merah semua, kayak digigit vampir. Eh bukan,lebih tepat nya kayak di patuk bebek! orang rabun sekali pun tau ini bekas apa.
Gila! ini cewek belajar dari mana sih. Sampai se nekat ini, dia tahu kalau Kayana sedikit gila..tapi sekarang ini cewek sudah mencapai tahap sinting karena memberinya tanda ditempat-tempat yang mudah terlihat? Dia harus pakai apa untuk menutupi ini semua? pakai mukena?
Adrian nyaris berteriak frustasi saking kesal nya. Disebelah nya Kayana cuma modal ketawa, gak memberi solusi atas perbuatan nya sendiri. Nggak sopan banget ini cewek berbuat tidak senonoh pada dosen sendiri? termasuk sexual harrasmet sih ini.
Seriusan ini cewek harus dinikahin secepatnya, takut visi misi ibunya soal menabung sebelum menikah betulan tercapai. Belum lagi hobi nya nyosor disetiap kesempatan. Adrian takut kalau dirinya sampai ikutan khilaf.
Kayana bersuara. "Udahlah mas, jangan ngambek lagi. Ntar telat loh!" komentarnya sok peduli kemudian menghampiri Adrian yang mondar-mandir di kamar sambil mengeluarkan pouch make up nya.
"Sini aku tutupin." ujar Kayana yang sedikit gak tega melihat tampang frustasi pacarnya.
Adrian menoleh dengan tampang masam. "Kamu yang bikin saya telat." gerutu Adrian saat lehernya dipoles sedemikian rupa oleh Kayana.
"Udah gak keliatan kan?" Kayana tersenyum puas sambil menyimpan pouch make up nya.
Adrian cuma menatapnya kesal sambil mengenakan turtleneck yang nyaris tidak pernah lagi disentuhnya semenjak pindah ke indonesia. Meskipun sudah berusaha ditutupi, tidak ada jaminan itu make up tahan nya berapa lama apalagi dia orang nya gampang keringetan.
Dan parahnya, hari ini keluarga nya mengadakan acara syukuran kecil-kecilan atas kehamilan kedua kakaknya Ralina .Dia khawatir saja kalau dirumah nanti sampai ditanya-tanya, apalagi cuaca jakarta sedang panas-panas nya dan dia malah datang mengenakan turtleneck, kayak orang sinting.
Sepanjang jalan Adrian terus-terusan mengomeli Kayana hingga telinga wanita tersebut nyaris budek. Penyakit nyinyir nya langsung kambuh, ribut nya melebihi knalpot racing tapi memang salah Kayana sih. Dia mau ikutan protes tapi takut Adrian ngambek, bujuknya lebih susah.
"Kamu ikut!" titah Adrian sesampainya mereka di kediaman orang tua Adrian, otomatis Kayana langsung lemas sekujur badan. Ini Adrian tidak sedang mencari gara-gara kan? kalau sampai ketahuan keluarga nya sudah pasti mereka kena sidak ditempat. Seketika wajah Kayana pucat pasi, namun Adrian bodo amat kemudian menarik tangan Kayana keluar mobil.
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam." sahut suara dari dalam, ibu nya menyambut kedatangan mereka sambil membentangkan pintu rumahnya lebar-lebar, mempersilahkan masuk.
"Oh, Kayana juga ikut" respon ibu Adrian kelihatan excited.
"Iya mi..." Kayana cuma tersenyum kikuk, rasanya dia baru saja melakukan tindak kriminalitas dan langsung dihadapkan dengan pengadilan saat itu juga.
Kayana menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sebab hidupnya tidak ada petunjuk sama sekali. Kalau ini kondangan, sudah pasti ia dilimpahi dosa karena datang tanpa di undang. Meskipun keluarga Adrian menyambutnya hangat, tapi dia hanya merasa belum terlalu fit in dilingkungan ini. Masih banyak canggung nya, apalagi dia sedikit pemalu. Selebihnya malu-malu in.
Kalau acara syukuran kecil-kecilan ala keluarga konglomerat memang beda ya. Acara nya gak kecil sama sekali, sepanjang taman sampai gazebo dipasangi lampu kerlap kerlip. Prasmanan nya juga melebih-lebihi orang kondangan, lengkap semua lah intinya. Cuma kurang penyanyi dangdut.
Kayana sempat khawatir kehadiran nya membuat acara jadi canggung, tapi ternyata keluarga Adrian kocak juga. Absurd nya setengah mampus, Kayana memang jarang mengunjungi rumah orang lain tapi keluarga ini memang definisi keluarga cemara yang sesungguhnya.
Sepanjang acara Kayana takut terkena diabetes karena selalu memasang muka manis, menyapa orang disana-sini. Adrian sempat mengenalkan nya pada beberapa anggota keluarga nya yang lain, om tante sepupu. Sekarang semuanya telah mengenal Kayana.
Setelah acara usai, mereka semua berkumpul di ruang keluarga. Mumpung sedang berkumpul, ibu Adrian ingin mengajak Kayana untuk berbincang-bincang sebentar. Mengingat betapa sok sibuk nya anak bungsu nya ini, Anne jadi gemas dan kangen melihat keluarga nya berkumpul secara lengkap.
Karena sama-sama hobi memasak obrolan mereka jadi nyambung, Kayana bahkan membagikan resep rahasia rendang ala keluarga nya. Obrolan berjalan lancar sampai akhirnya keira berceletuk di tengah-tengah pembicaraan mereka. "Leher uncle ian kenapa merah-merah?" Keira bertanya polos saat menarik kerah baju Adrian ketika pria tersebut sedang menggendong nya.
Sontak Kayana pucat pasi.
Giovan langsung bergerak cepat dan menggendong keira keluar, takut terdampak badai amukan kedua mertua nya.
Ralina yang ikutan kepo langsung menghampiri Adrian dan melirik ke arah leher pria tersebut. Seketika mata nya langsung membulat.
"Mam...di leher ian ada bekas ******!" ujar Ralina heboh plus cepu.
Adrian langsung mati kutu.
Kayana langsung mules ditempat.
__ADS_1