Skripsi atau Resepsi

Skripsi atau Resepsi
22 - Pepet Terus!


__ADS_3

"Yuk turun." ajak Adrian sambil melepas seatbelt nya.


Kayana menahan nafas, meskipun judulnya cuma 'pura-pura' pacaran. Tapi tetep aja groginya nggak 'boongan'. 


"Kamu grogi?" tanya Adrian.


Pake nanya!


Kayana cuma tersenyum tipis. Sudah nggak punya energi untuk nyolot. 


"Engga kok,pak."


Begitu menginjakkan kaki di rumah Adrian, Kayana sukses dibuat terkagum-kagum. Memang bukan rumor belaka kalau Adrian terlahir dari keluarga sendok emas,landsapce-nya sukses membuat Kayana ternganga. 


Pekarangan rumahnya super luas dengan pohon serta tanaman yang terawat.


Bukannya dia nggak tau ini manusia tajir sedari lahir, tapi dia nggak expect se-tajir ini. Rumahnya super megah! ngalah-ngalahin rumah pejabat, seriusan!


"Assalamualaikum mi." ujar Adrian,mengucapkan salam.


"Walaikumsalam." sahut suara seorang wanita dari dalam rumah.


"Loh Ian...kok gak ngabarin mami kalau mau datang kerumah?" tanya Ibunya kelihatan excited.


"Gapapa mi, mampir sebentar aja kok." Adrian refleks menggenggam tangan Kayana sambil mengajak Kayana masuk.


Tuh kan, ini cowok emang doyan ngeribetin perasaan orang!


"Sore tante.." sapa Kayana sopan lalu menyalami ibu Adrian.


"Sore! loh ini temennya Adrian yang waktu itu ketemu dibutik tante ya. Yaampun, cantik banget! Yuk masuk sayang." sambut ibu Adrian ramah, mempersilahkan Kayana masuk.


"Tante...ini ada kue titipan dari mama tadi." Kayana meletakkan bingkisan tersebut diatas meja.


"Oh iya...thank you dear. Titip salam sama mama kamu ya sayang. Aduh sampe repot-repot bawain kue segala,yuk duduk dulu. Tante buatin minum dulu." tawar Ibu Adrian.


"Eh-gausah repot-repot tante. Gapapa." tolak Kayana halus.


"Udah santai aja, duduk aja dulu. Anggep rumah sendiri,kalau mau keling-keliling juga monggo. Itu banyak foto Adrian dari jabang bayi sampe kuliah pun juga ada." ucap Ibu Adrian.


"Oh...iya kalau mau lihat-lihat kamar Adrian naik aja ke lantai atas, tapi pintu nya wajib dibuka ya. Mami gamau kalian kebablasan dan ngasih cucu dadakan." ucap ibunya jenaka. Sukses membuat Kayana tersipu seketika. 


"Mamih..." protes Adrian.


"Iyaa...iya bercanda kok. Sensitif amat!" Cibir ibunya lalu berjalan ke arah dapur dan otomatis Kayana langsung mengekor dari belakang.


"Biar aku bantu ya tan..." tawar Kayana sembari menggulung lengan baju nya.


"Eh,gausah...Ntar baju kamu kotor, kan kamu sebagai tamu disini. Yakali, tamu nya menjamu diri sendiri. Bukan tamu dong namanya." sahut ibunya jenaka.


"Okee deh tante. Makasih tante." sahut Kayana sopan lalu berjalan kembali ke ruang tamu.


"Yuk,kita keliling rumah saya." ajak Adrian lalu menarik tangan Kayana agar mengikutinya.


Duh, ini cowok dari tadi doyan banget megang-megang tangan anak gadis orang! 


Kayana mau risih, tapi nggak jadi karena sayangnya ini orang ganteng pake banget ketolong wajahnya. Alhasil dia pasrah ditarik kesana kemari, asal nggak langsung ditarik ke KUA mah dia hayuk.


Langkah Kayana terhenti begitu melihat dinding yang penuh dengan foto-foto keluarga Adrian. Rupanya sang ibu nggak bohong sewaktu bilang ada foto Adrian sedari jabang bayi. Karena memang beneran ada foto usg nya.


Dari foto-foto yang terpajang, bisa disimpulkan kalau ini orang banyak prestasi sedari kecil. Mulai dari foto saat menang lomba renang,lomba piano,cerdas cermat,olimpiade kimia, fisika ,matematika,dan yang terakhir lomba karate.


Ini orang bukan cuma paket komplit, tapi semacam toserba. But in a good way, bisa-bisanya dia menang di semua lomba. Seharusnya dari pendaftaran, panitia nggak perlu repot-repot untuk menyuruh Adrian berkompetisi. Ini orang sudah auto menang. 


"Bapak bisa karate?" Tanya Kayana sedikit shock.


"Bisa dong." Adrian menjawab dengan nada bangga, bahkan hidung nya sampai kembang kempis padahal nggak dipuji. 


Kayana menatap sangsi. "Nggak nyogok kan ini? masa iya bapak menangin lomba karate?" 


"Kamu nggak percaya?" respon Adrian tersinggung.


"Saya gamungkin dong pamerin otot-otot saya,aurat soalnya." 


Kayana ternganga.


Nggak ada yang minta, plis!


"Wah bapak pas kecil imut-imut ya pak, gemesin. Pas udah gede...-" ucapan Kayana terpotong.


"Amit-amit?" respon Adrian judes.


"Saya nggak bilang loh pak." jawab Kayana sambil terkekeh.


"Saya jadi iri deh..." ucap Kayana tiba-tiba sedih, matanya tampak sedikit berair.


"Orang-orang pada punya foto keluarga, dari mereka kecil sampe mereka growns up. Keluarga saya gapernah  mentingin foto keluarga, kedua orang tua saya super sibuk jadi kami jarang banget bisa liburan keluarga. Dirumah saya pun, cuma ada foto waktu terakhir kami liburan sekeluarga ke bali 5 tahun lalu, sewaktu ayah saya masih hidup."  ucap Kayana dengan mata yang semakin berkaca-kaca.


Adrian merangkul bahu Kayana menenangkan, membiarkan wanita tersebut mengeluarkan isi hatinya.  

__ADS_1


 "Waktu itu saya juga sebel banget tiap beliau suruh saya berpose dispot-spot wisata tertentu. I'm a teenager back than, I find it very annoying to keep taking photos everywhere we go. Saya mikirnya lebay banget dimana-mana harus foto. Sekarang saya baru sadar kalau ternyata memori itu sangat berharga dan kalau ada fotonya begini bisa ada kenang-kenangan. Karena kita nggak pernah tau,bisa jadi itu momen terakhir mereka untuk bisa berkumpul bersama kita. Setelah ayah saya ga ada,kami semakin malas untuk ambil foto keluarga." 


Merasakan rangkulan hangat dibahu nya, mau nggak mau Kayana merasa semakin mewek dan air matanya mengalir begitu saja.


"Next time,we could take a lot of photos if you want to." kata Adrian menenangkan, sembari meremas sebelah tangan Kayana yang bebas.


"Halah...memang nya kita keluarga?" cibir Kayana, sembari menyeka air matanya.


"We could be." jawab Adrian ambigu,sembari mengedipkan sebelah matanya jahil.


"Jangan ngaco deh pak." sahut Kayana sebal.


"Tuh kan..kamu nya saja yang takut."  Adrian mengendikkan bahunya.


"Mau lanjut keliling lagi?" tawar Adrian setelah merasa Kayana cukup tenang.


"Boleh...." jawab Kayana,lalu mereka kembali berjalan menuju ruang keluarga.


Sesampainya diruang keluarga,Kayana langsung menjerit heboh, khodam nya nyaris keluar saat melihat seekor kucing gemuk tampak tertidur dengan lelap.


Sebagai pecinta kucing, mana bisa dia santuy melihat makhluk tuhan nan super gemas ini!


"Lucu bangettt." ujar Kayana gemas, tangan nya langsung menoel-noel kucing yang berada dihadapannya.


Kayana nyaris menangis saking gemesnya sama hewan berkaki empat yang berada dihadapannya.


Tak lama kemudian, datang lagi seekor kucing berwarna oranye ke arah kaki Kayana.


"Huaaaa! kucing oren, kamu pasti kang barbar yak! pasti kamu ketua geng nya! misi pak bos!" ucap Kayana mulai berdialog dengan kucing dihadapannya.


Adrian cuma geleng-geleng kepala saat melihat Kayana mulai kehilangan akalnya. 


Oke,sebagai catatan kedepannya. Saat Kayana berkunjung kerumah Adrian,sebaiknya makhluk tuhan nan imut ini dimasukkan kedalam kandangnya saja. Kucing ini seenaknya merebut perhatian Kayana, Adrian merasa sedikit cemburu.



"Pak...ini foto mereka?kok ada tiga? Mana satu lagi?" Tanya Kayana.


"Itu..lagi pup dipasir." tunjuk Adrian ke sudut ruangan.


"Yaampun lucu semuaa aaa." seru Kayana gemas.


"Namanya siapa-siapa saja pak?"


"Bubu,lulu,milo. Bubu yang oranye,lulu yang bulunya putih, milo yang abu-abu." jelas Adrian.


"Haloo bubu,lulu, milo." ujar Kayana sambil mengelus bulu ketiga kucing tersebut bergantian dan matanya menangkap foto menggemaskan lainnya yang sedang terpajang di dinding.


"Itu memang photoshoot actually. Mami saya ngehire fotografer buat ngambil foto mereka secara khusus. Meanwhile, foto saya dan ralina cuma diambil pake kamera handphone jadul." ujar Adrian tak terima.


"Di anak tirikan ya pak..hahah.." respon Kayana sembari tertawa.


Adrian tersenyum lega saat melihat raut wajah Kayana yang tampak bahagia saat bermain bersama tiga ekor anabul dihadapannya. Setelah membiarkan Kayana untuk bermain selama beberapa menit, Adrian memutuskan untuk mengajak Kayana kembali keruang tamu. Takut ini cewek lupa kalau dia nggak satu spesies sama anabul dihadapannya. 


"Yuk Kay, kita balik dulu keruang tamu. Ibu saya sudah nungguin pasti." ajak Adrian.


"Eh...iya,bentar pak. Saya pamit dulu sama mereka. Byebye trilplets sayang,next time kita main lagi ya." Ujar Kayan riang sambil mengelus bulu mereka.


"Yuk...yuk." 


Kayana masih tampak tak rela berpisah dengan tiga anabul menggemaskan dihadapannya.


"Gausah panggil sayang-sayang ke mereka. Mending manggil sayangnya ke saya,kan lebih berfaedah." komentar Adrian saat mereka berjalan menuju ruang tamu.


"Loh?" respon Kayana nggak santuy.


"Mending saya manggil sayang ke mereka lah, dari pada ke bapak."


"Jangan gitu, sayang." Respon Adrian sembari mencubit gemas pipi Kayana.


Kayana auto tersipu dan kesal secara bersamaan.


Ini orang memang doyan nyari kesempatan!


"Apaan sih pak!" respon Kayana-sok marah. Padahal dia berusaha menenangkan jantungnya yang deg-degan banget. Ah, kalau begini dia takut kena gejala hipertensi kayak kemarin. Ini cowok memang nggak aman untuk jantungnya.


"Eh...sudah balik." ucap Ibu Adrian sesampainya mereka diruang tamu.


"Iyaa tante...tadi sempat main bareng bubu,lulu,dan milo."


"Oh sudah ketemu sama anak-anak tante ya?" Tanya ibu Adrian,dan Kayana langsung mengangguk senang.


"Gemoy bangett kan." ucap mereka berbarengan, mendadak satu frekuensi karena kucing. 


"Tante seneng banget deh, Adrian akhirnya bawa kamu kerumah! Selama ini cuma cerita ke tante kalau Kayana  begini, Kayana begitu, tante ga puas. Pengennya ketemu langsung, dan makasih ya sudah mampir kesini, biasanya rumah ini sepi banget semenjak Ralina menikah dan anak laki-laki tante satu-satunya ini malah keasyikan kuliah kerja sampe lupa pulang." sindir ibu Adrian pada anaknya.


"Eh..belibet banget ngomong pake tante. Pake mami aja ya." ucap ibu Adrian memutuskan.


"Oke..mii." 

__ADS_1


"Katanya udah pacaran ya sekarang? udah berapa lama pacarannya?" tanya ibu Adrian, tiba-tiba.


Tuh kan, ini cowok suka kurang briefing. Doyan banget menginfokan sesuatu yang nggak sesuai skenario. Tadi katanya gapapa kalau bilang cuma temen, kalau tiba-tiba disidak begini. Dia terpaksa bohong dong?


Kayana seketika panik dan langsung menyenggol kaki Adrian yang duduk disebelahnya.


"Ehm...3 minggu mi...Iyah..udah ampir sebulan ini pacarannya. Iya kan sayang?" ucap Kayana berusaha bohong selancar mungkin, tapi sayangnya omongan yang keluar dari mulutnya malah belibet. Kan makin kelihatan bohongnya.


"Iya sayang." Adrian menyahut kalem, hidungnya langsung kembang kempis sewaktu dipanggil sayang. 


"Ohh...kapan mau lamaran?" tanya ibu Adrian tanpa aba-aba,membuat Kayana yang sedang menyeruput minuman dihadapannya langsung tersedak.


Refleks kakinya segera menginjak kaki Adrian dan sialnya pria disebelahnya ini malah mengaduh. Nggak paham kode!


Mau nggak mau Kayana acting menggenggam tangan Adrian. "Maaf sayang, kesenggol dikit."


Adrian malah tampak malu-malu, dan pipinya juga bersemu merah. 


Duh, dia nggak tanggung jawab deh ya kalau cowok disebelahnya ini baper.


"Tergantung Kayana sih mi,kalau dia mau cepat. Bulan depan juga bisa mi.." 


Ngawur!


Ini cowok kalau semisalnya di-hire buat acting drama. Sudah pasti di pecat sejak hari pertama syuting. Suka banget ngubah skenario sesuka hati!


"Hehehe..." Kayana cuma bisa tertawa canggung.


Haduh,ini sandiwaranya mau sampai berapa jam lagi ya? Kayana sudah ingin menyerah,dia nggak sanggup.


"Loh..kenapa kamu gamau Kay?" Ibu Adrian ganti bertanya kepada Kayana.


"Ehm...mau kelarin studi nya dulu mi, mau wisuda dulu. Yah gitu mi..heheh," jawab Kayana kikuk, dia beneran nggak jago bohong.


"Oh...iyasih bener. Soalnya kalau ngisi pas lagi skripsian itu kan gaenak." komentar Ibu Adrian menyetujui.


Kayana sudah merasa panas dingin di tempat duduknya, sedangkan tuan muda yang sudah menyeret nya ke masalah sebesar ini nggak merespon apapun! sok sibuk nyemilin kue di toples. Edan emang!


Berulang kali Kayana mencubit paha Adrian supaya pria itu segera  mengambil alih percakapan. Meskipun dia juga nggak lurus-lurus amat, dan terkadang sesekali juga bisa bohong, tapi rasanya dia nggak akan tega kalau membohongi orang tua sejauh ini. 


Rasanya semakin dia berbohong, rasa bersalahnya semakin menumpuk. Dia berharap Adrian segera mengambil alih percakapan kali ini.


Adrian hanya balas menatap Kayana bingung.


"What?" tanya Adrian dengan gerakan mulutnya.


"Bantuin saya." bisik Kayana pelan.


"Loh..saya kan ga nyuruh kamu bohong tadi. Selametin diri sendiri lah." balas Adrian tertawa, membuat Kayana langsung mencubit pedas lengan Adrian, tapi malah tangannya yang kesakitan karena ini cowok badannya otot semua. Sewaktu dicubit nggak ada lembek-lembeknya, malah berasa nyubit tembok!


"Terus kamu kapan wisudanya Kay?" Tanya Ibu Adrian.


"Tergantung kapan dosen pembimbing ACC skripsinya mi,alhamdulilah sudah bab akhir kok. Tapi digantung mulu nih skripsinya mi." keluh Kayana sambil terang-terangan menatap Adrian.


Kalau sedari tadi dia dibiarkan sendirian ditepi jurang, maka sekalian saja dia lempar ini cowok ke jurangnya.


Saat melihat kesempatan untuk membalas dendam terbuka lebar.Tentu saja Kayana mengerahkan segala amunisi terbaiknya.


"Loh...Ian..kamu gimana sih! Skripsinya Kayana mau sampai kapan kamu revisi terus?cepet acc!" titah Ibu negara.


"Kamu nggak usah sok perfeksionis lah.Cepetan ACC skripsinya biar kalian bisa cepet lamaran,kamu mau jadi bujang lapuk kalau nikahnya semakin lama?" Omel Ibunya.


Checkmate.


Adrian langsung kicep dan nggak sanggup membalas perkataan ibunya.


'Rasain tuh' cibir Kayana dengan gerakan bibirnya sembari tersenyum puas saat melihat wajah Adrian yang semakin tertekuk saat diomeli ibunya. 


"Yuk sini Kay,biarin aja ini anak jadi bujang lapuk. Kamu ikut mami saja dulu ke taman bunga,kita ngeteh cantik. kamu suka ngeteh ga?" Tanya ibu Adrian


"Suka kok mii.." jawab Kayana sopan.


"Ikutt..." pinta Adrian sembaari memelas pada ibunya.


"Gausah ikut-ikutan! Main sana sama bubu,lulu,milo. Ladies only ini!" Sembur ibu Adrian marah,Kayana pun hanya tersenyum melihat interaksi mereka.


"Kamu bareng mami aja yuk,kita ngobrol bareng. Adrian biarin saja disini, udah gede juga. Manja amat pake ditemenin segala."


Kayana auto ngakak.


Perasaan nya malah bahagia saat melihat pak dosen dibully dan tidak berdaya menghadapi ibunya sendiri. Dibilang juga apa, roda itu berputar kawan!


Selepas tertawa, Kayana langsung pucat pasi.


Ngeteh bareng maksudnya dia ngobrol cuma berdua gitu, kan? Waduh,dia belum siap diintrogasi plus ditanya ini itu. Selain briefing nya yang kurang, kemampuan improvisasinya juga nggak bagus-bagus amat. Dia nggak bisa 'mengada-adakan' sesuatu yang sebenarnya memang nggak ada.


Kayana mengode Adrian dengan sorot matanya supaya Adrian ikut serta.


Namun sorot mata Adrian tampak menyiratkan permintaan maaf karena dia tidak bisa membantu Kayana dalam hal ini. Titah dari ibu negara sifatnya mutlak, keputusan ibunya sudah pasti tidak bisa diganggu gugat.

__ADS_1


'Maaf' ucap Adrian dengan gerakan mulutnya dan Kayana pun hanya tersenyum pasrah.


Ini nasib Kayana,aman kan?


__ADS_2