
Kayana menghempaskan diri ke kasur kemudian menghela nafas panjang, perasaan nya campur aduk.
Sambil memeluk janu erat-erat,Kayana menghela nafas lagi. Setelah menyampaikan maksud dan tujuan dari keluarga Adrian, ibu nya tampak antusias sekali. Terlalu antusias malah,kesannya seperti gak sabar Kayana cepat-cepat pergi dari rumah.
Kampret memang, dirumah ini cuma dia yang paling tidak disayang. Nasib menjadi anak kedua, kehadiran nya sering kali terlupakan.
Kayana berusaha memejamkan matanya, sebenarnya badan nya cukup lelah karena seharian kemarin bolak balik dari kampus lalu ke rumah Adrian lalu malam nya harus kabur lagi ke kost-an Lisa, setidaknya dia butuh bedrest selama dua hari berturut-turut untuk mengembalikan energinya.
Setelah tiga puluh menit memejamkan mata, dia tidak kunjung mengantuk. Pikirannya dipenuhi oleh lamaran,pernikahan atau apapun itu yang masih belum siap untuk Kayana hadapi. Rasanya seperti habis minum kopi, otak nya terus terjaga.
Jujur Kayana merasa galau, bukannya dia gak mau nikah tapi cuma belum siap, nikah itu hal yang sangat serius. Dia gak mau main-main sama ijab kabul, kalau gak amanah selain dosa nya yang besar, dia juga gak mau jadi janda di usia muda. Apalagi calon suami nya ini blesteran surga, gimana mau move on?!
Dia bukan tipekal cewek yang istriable, dia gak rajin bebersih rumah dan gak sejago itu juga masak. Selain wajahnya yang sedikit enak dipandang, dia merasa gak punya kelebihan lain yang bisa dibanggakan, sampai sekarang pun Kayana masih bingung sisi mana dari dirinya yang mampu membuat Adrian bertekuk lutut.
Dia belum siap untuk menikah muda tapi lebih tidak siap lagi kalau Adrian berpaling hati. Hiks!
For god sake- dia baru berusia 21 tahun, tentu saja masih labil. Dia mungkin gak sedewasa teman-teman nya yang memutuskan untuk nikah muda. Selain masih kekanakan, dia juga masih sering masukin hati tiap kali dibully. Tapi, kalau Adrian sampai mau memperistri Kayana yang jelas gak bisa ngapain-ngapain ini, fix sih itu cowok udah cinta mati.
Kayana semakin merana, kesempatan seperti ini gak akan datang dua kali. Apalagi yang mengajaknya menikah adalah Adrian Pramudya, cowok yang paling dikagumi dan digandrungi di seantero kampusnya. Baik mahasiswi maupun dosen muda berlomba-lomba untuk merebut hatinya, belum lagi banyak dosen senior yang ingin menjodohkan anaknya dengan Adrian.
Sosok Adrian sebagai menantu idaman gak bisa dipungkiri, selain berprestasi, latar belakang keluarganya juga gak main-main. Ayahnya, Rudy Pramudya merupakan aktivis kemanusiaan sekaligus pengusaha furniture sukses. Ibunya, Adriane Atmaja adalah designer terkenal yang harga sepotong baju dari butiknya cukup untuk dp motor. Belum lagi kakaknya, Ralina Pramudya, presenter kondang yang pamornya sudah gak perlu diragukan lagi. Ini cowok sudah pasti tambang emas, cewek gak waras macam apa yang menolak diseriusin sama Adrian.
Apakah lebih baik dia menikah saja? tapi bagaimana dengan nasib skripsi nya?
Hiks.
Kayana galau berat, tidak ada yang bisa dia lakukan. Mau menolak, dia juga gak bisa membayangkan kalau sewaktu-waktu Adrian berpaling darinya.
Ah,kalau tau begini mending dia pura-pura tidur lagi dimobil kalau perlu sampai pagi, dia butuh Adrian untuk dipeluk sekaligus menenangkan hatinya. Karena nyatanya memeluk Adrian lebih enak daripada memeluk Janu.
Setengah iseng, Kayana mendial nomor Adrian. Setelah di angkat, Kayana langsung mengalihkan nya ke panggilan video. Wajah pria tersebut langsung memenuhi layar ponsel, Adrian tengah duduk dimeja makan sambil menyantap sarapan nya.
Kayana langsung eneg sewaktu melihat piring Adrian, isinya sayur semua. Ini orang body nya sudah bagus, jaga makan begini buat apasih?
"Apaan tuh,sayur semua? sehat banget!" Komentar Kayana sewaktu panggilan tersambung.
"Biar sehat Kay, kamu juga harus sering-sering makan sayur. Mau saya pesenin catering diet ga?" Tawar Adrian yang langsung dibalas Kayana dengan gelengan.
"Kebiasaan.." sahut Adrian sambil tertawa geli.
"Mas.." Panggil Kayana memelas.
"Hmmm....."
"Kangen.." ujar Kayana dengan mata berair.
Adrian cuma tersenyum, kemudian lanjut memakan saladnya.
Setelah cukup lama mengenal Kayana, Adrian belajar satu hal. Kalau perempuan ini berlagak ingin menangis, gak perlu langsung diladeni. Seringkali itu tangisan buaya.
"Kok gak dibales sih mas, kan aku udah bilang kangen." gerutu Kayana pelan, kemudian menghapus sudut matanya dan ekspresinya kembali seperti semula. Tuh kan,dibilang juga apa.
"Iyaa..saya juga kangen sama kamu Kay." sahut Adrian kalem.
"Ih,jawabnya nggak ikhlas. Yaudah, aku tutup ya."
"Jangan ditutup." pinta Adrian, sambil membereskan sisa makanan nya kemudian pergi entah kemana. Tak lama kemudian pria tersebut kembali dengan tab ditangan nya dan duduk dikursi tadi.
"Mau yang mana?" tanya nya sambil menunjukkan gambar-gambar pakaian, perhiasan dan berbagai macam pernak-pernik.
"Hah?maksud nya mas?" tanya Kayana dengan kening berkerut.
"Saya mau nyiapin buat seserahan kamu, terus saya bingung kamu suka nya apa. Mami suruh nanyain merek pakaian favorit kamu, perhiasan yang kamu suka, sama make up kesukaan kamu juga sekalian."
Kayana sontak merasa bingung karena mendadak ditanya, alhasil dia cuma menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal.
Adrian cuma mengangguk paham, kemudian kembali fokus pada layar tab nya. "Saya pesen semua aja ya." ujarnya santai.
Kayana langsung ternganga. "Kenapa mas pesen semuanya!?" seru Kayana heboh.
Dia tahu kalau pria ini kebanyakan duit, tapi gak sampai segitu nya juga kalau pengen buang-buang duit. Mending duit nya ditabung buat masa depan, atau diinvestasi kan ke hal-hal lain yang lebih bermanfaat. Memang ini cowok setajir apa sih, sampe gak khawatir bakalan bangkrut?
"Saya bingung milihnya, kayaknya bakalan cocok semua kalau dipakai sama kamu." sahutnya enteng.
"Buang-buang duit mas.." ringis Kayana pelan.
"Enggak seberapa kok.." sahut Adrian kemudian menatap Kayana.
'Nggak seberapa mata mu,total nominal nya saja sampai tiga digit!' jerit Kayana dalam hati.
"Udah dipesen mas?"
"Udah.."
What the- ?
Ini cowok keluar duit ratusan juta kok tampang nya santai banget ya?
Ini baru lamaran loh, seharusnya gak perlu mewah-mewah banget. Kayana cuma perlu diikat dengan sepasang cincin kok, gak perlu tas hermes ataupun baju mewah yang harganya melebihi dp mobil itu!
Kayana mendadak speechless, seketika merasa dirinya berada pada kasta terendah dalam kehidupan sosial Adrian. Belanja online kalau tidak dapat gratis ongkir saja dia ogah, apalagi menghamburkan uang sebanyak itu demi membeli barang-barang yang bahkan gak bisa dia pakai seumur hidup karena bakalan rusak dimakan waktu.
Sungguh miris memang,pacaran beda kasta.
Kalau tidak ingat dia cinta mati sama ini cowok,mungkin Kayana sudah melambaikan bendera putih. Gak sanggup berpacaran dengan berlian seperti Adrian.
__ADS_1
"Bisa di batalin gak mas?kita pilih satu-satu dulu. Kamu impulsif banget beli barang sebanyak itu. Aku bakalan pilih beberapa barang yang aku suka dan sekiranya aku butuhkan aja mas, kalau lebih dari itu aku gak mau terima." ujar Kayana tegas.
Adrian tampak cemberut.
"Gabisa Kay..-"
"Gausah bohong, pesen nya belum sampai lima menit yang lalu. Masih bisa refund." potong Kayana gemas.
Setelah menandai beberapa barang yang dia butuhkan,Kayana mengirimkan link pemesanan nya kepada Adrian.
"Cuma segini doang?" respon Adrian kaget.
Kayana balas mengangguk.
"Tambah lagi.." titah Adrian.
"Mas! empat juta dua ratus ribu itu udah banyak mas. Malah kalau bisa aku mau batalin beberapa barang karena kebanyakan."
"Saya gamau dicap pelit sama orang-orang, pokoknya tambah lagi."
Setelah berhasil memaksa Kayana untuk menuruti kemauan nya, akhirnya total belanja mereka mencapai 50 juta. For god sake-Nominal tersebut nggak pernah terbayangkan oleh Kayana untuk sekedar membeli barang dan pernak pernik perhiasan, timbang dia terlahir kaya tujuh turunan pasti bakalan mikir-mikir juga. Kesannya dia kelewatan tajir sampai belanja pernak pernik saja habis 50 juta.
Kayana merengut kesal, sedangkan Adrian tersenyum puas setelah berhasil memesan barang-barang tersebut. Seriusan deh, ini cowok beneran buang-buang duit. Kayana bukan tipe cewek yang setiap pergi keluar pakaian nya harus gonta-ganti. Kayana mendadak mules karena baru pertama kali belanja barang se-wah itu.
Sepertinya dia butuh beradaptasi kalau ingin menjadi istri konglomerat seperti Adrian, belum apa-apa dia sudah dibuat kaget melihat nominal uang yang dikeluarkan pria tersebut dalam satu kali transaksi. Belum lagi pria ini membeli barang puluhan juta kesannya tuh enteng banget, kayak beli gorengan!
"How was your day?" Tanya Adrian mengalihkan topik pembicaraan.
"I just missed you. a lot-" curhat Kayana.
"Nanti siang kan bakalan ketemu."
"Lama...sekarang baru jam sepuluh." rengek Kayana.
"it's only two hours Kay."
"It feels like forever to me." seru Kayana.
"you love me that much, aren't you?" goda Adrian.
Kayana langsung tersipu.
"Saya mau lanjut baca berita Kay, mau ditutup dulu telfon nya?" tanya Adrian sembari menyampirkan kacamata di hidung nya.
Tuh kan!- Kayana langsung panas dingin melihat ketampanan Adrian yang melebihi semestinya saat pria tersebut mengenakan kacamata.
"Nggak usah mas, lanjut baca aja."
"Terus kamu gapapa saya anggurin? ntar ngambek lagi loh."
"Bucin banget." sahut Adrian sembari tertawa kecil.
"Gak bakalan aku gangguin kok,mas lanjut baca aja." balas Kayana dan selanjutnya wanita tersebut beneran patuh dan hanya diam memperhatikan Adrian dalam diam.
Ah, jadi gini ya rasanya. Kalau berhasil mendapatkan seseorang yang sedari lama sudah di idam-idamkan.Dia berasa ketiban durian runtuh. Beruntung banget.
"Saya jadi nggak fokus Kay." Seru Adrian kembali mengalihkan pandangan nya pada layar ponsel.
"Mas bisa malu-malu juga ya?" goda Kayana sembari mengedipkan sebelah mata nya.
"Saya tutup pokoknya. Bentar lagi juga ketemu kok."
"Tapi aku lagi kangen." ujar Kayana memelas, Adrian otomatis luluh.
"Iyaa...gak saya tutup."
"Yeay.." seru Kayana senang dan benar saja gak lama setelah itu dia pun ketiduran.
Saat terbangun, Kayana mendapati ponselnya nyaris mati kehabisan baterai. Matanya yang semula nya sipit sontak melotot saat melihat pada layar ponsel.
Holy ****!
Tampilan di layar ponselnya seketika membuat Kayana ternganga. Adrian sedang tertidur, mengenakan selimut namun selimut nya sudah tersingkap sebatas pinggang. ****!
Ini cowok sengaja atau memang lupa kalau Kayana ini cewek tulen? Jahat banget gak sih, masa tidur gak pakai baju? disangka Kayana gak normal apa?
Kayana ingin mencak-mencak sekaligus menangis, meratapi nasib.
Sejujurnya Kayana merasa sangat amat berdosa karena menikmati pemandangan yang gak semestinya dia lihat ini, tapi mata Kayana tidak bisa lepas dari layar ponselnya.
Seksi,ganteng ada didepan mata pula, dia berasa cewek mesum yang diam-diam memasang kamera tersembunyi di kamar pacarnya.
Saat Adrian merubah posisi tidurnya, selimut itu semakin tersingkap ke bawah. Kayana tanpa sadar membungkam mulutnya sendiri.
Gila sih!
Itu badan pake dipamer-pamerin segala, maksudnya apa coba? Mau menyiksa Kayana karena dia nggak bisa menyentuh perut kotak-kotak itu, atau bahu lebar tersebut secara langsung?
Kayana memanjatkan doa didalam hati sambil memejamkan mata, dia takut khilaf kalau berlama-lama melihat tubuh Adrian. Kalau nggak inget dosa dan ingat bahwa dia tipekal manusia yang karma nya selalu instan, sudah dia biarkan panggilan ini tersambung lebih lama. Tapi gak boleh! dia harus berubah, image nya didepan mertua gak boleh lebih buruk lagi dari ini!
Belum sempat Kayana menutup panggilan tersebut, tau-tau Adrian sudah terbangun duluan.
"Kay..." panggil Adrian dengan suara seraknya khas bangun tidur.
Sontak Kayana merinding sekujur badan. Fix sih mereka nikah cepat aja,gapapa.
__ADS_1
"hmm..." balas Kayana, pura-pura baru terbangun juga. Malu gak sih, kalau Adrian sampai sadar dengan wajah mupeng nya barusan?
"Loh, udah bangun?" tanya Adrian kaget sembari mengusap matanya.
Tuh kan! selimutnya jatuh lagi.
Dasar gak sopan! Masa iya dia sudah kenalan dulu dengan adik Adrian sebelum waktunya. Dia gak masalah sih,tapi kan...argh!
"Iyaaa mas.." sahut Kayana pelan.
'Lihat ke matanya Kay, ke mata!' sugesti Kayana pada diri sendiri.
"Kamu kenapa matanya melotot gitu, sakit mata?" Tanya Adrian penasaran lalu merubah posisinya menjadi duduk.
Holy fuc-
Kayana mengumpat didalam hati lalu menundukkan pandangannya, enggan melihat ke arah kamera.
"Ada apa sih,Kay?" tanya Adrian semakin penasaran.
"Gak papa mas.." sahut Kayana tergagap, gamungkin dong dia jujur kalau ngeliatin badan Adrian itu bikin doyan. Malu-maluin banget, mau ditaruh dimana muka nya coba?
Pria tersebut meregangkan badan nya ke kiri dan kanan. Mampus deh, itu selimut pasti melorot semua.
"Mas...gak pake celana?" tanya Kayana gugup sembari menutup mata.
"Ya ampun!" respon Adrian ngakak.
"Lihat nih, saya pake tau. Kamu pikir saya gak waras apa?" ujar Adrian kemudian menyingkap selimutnya dan benar saja, pria tersebut mengenakan celana pendek yang cukup sopan, bukan boxer malahan. Sialan, jadi ketahuan kan otak kotornya.
"Hehe.." Kayana cuma cengengesan plus malu lahir bathin.
"Siap-siap ya, 30 menit lagi saya sampai jemput" ucap Adrian dengan sisa tawanya.
"Oke mas..." ringis Kayana malu.
***
"Widihh, cantik banget." puji Ralina sewaktu Kayana keluar dari kamar ganti.
Seperti biasa, keluarga Adrian ini memang sedikit ekstra. Padahal cuma perkara fitting baju lamaran, seluruh keluarga nya turut berkumpul disini. Tak terkecuali Ralina, meskipun sedang hamil besar namun tidak menyurutkan semangat wanita tersebut untuk datang kesini.
"Gimana Ian?cakep banget kan pilihan gue" seru Ralina senang, kalau soal selera sudah pasti calon kakak ipar nya ini gak perlu diragukan lagi. Sering wara wiri di layar TV, sudah nggak heran lagi kalau tampilan Ralina selalu modis.
Adrian tersenyum manis kemudian berjalan menghampiri Kayana "You look beautiful, as ever" puji Adrian, kemudian mengecup punggung tangan Kayana. Belum sempat pria tersebut menarik Kayana dalam pelukannya Kiran sudah menghalangi nya terlebih dahulu. "Halalin dulu.." omel Kiran.
Adrian pun langsung kicep plus undur diri, takut restu nya dicabut.
Kayana mengalihkan pandangan nya pada Kiran yang kembali duduk di bangku, Kiran tampak tertunduk dan bahu abang nya tampak sedikit bergetar. Karena penasran, Kayana pun berjalan menghampiri dan ternyata pria tersebut sedang menahan tangis.
"Adek gue udah gede ya." ujar Kiran dengan suara bergetar. Matanya berair dan hidung nya memerah, persis anak kecil sewaktu kena pilek karena kebanyakan makan eskrim. Plis deh, abang nya ini lawak banget.
Kayana susah payah menahan tawa, biar gak merusak suasana. Seriusan, abangnya lebay abis. Padahal kan cuma lamaran.
Ah, mau gak mau Kayana ikutan mewek.
"Maaf ya bang, gue udah jadi adek yang gak berbudi luhur. Selalu nyusahin elo dan morotin duit gaji elo, karena gue, lo harus jadi jomblo menahun karena banting tulang nyari duit..terus..terus sekarang gue mau ngelangkahin elo juga. Hiks, gue minta maaf!" ujar Kayana sedikit terisak.
Seketika suasana berubah mengharu biru, ibunya juga ikutan menangis. Barangkali masih tidak menyangka bahwa anak gadisnya akan dipinang orang secepat ini.
"Baru fitting baju, ahelaaa lo lebay banget!" sungut Kayana namun masih tersedu-sedu.
"Sekarang doang ya nangisnya, pas gue nikah jangan nangis. Malu-maluin!" ujar Kayana kemudian mengusap air matanya.
Anne cuma tersenyum maklum, kemudian mengajak Kayana untuk mencoba baju berikutnya.
Kalau sebelumnya Kayana mengenakan kebaya brokat berwarna sage green sehingga tampilan nya tampak lebih dewasa dan anggun, kali ini Kayana mengenakan kebaya berwarna baby pink. Cantik sih, namun kesannya malah kayak ingin menghadiri acara wisuda sma, bukan lamaran. Adrian pasti bakalan dituduh pedofil karena memacari anak abg.
"Cantik Kay." Puji Anne dan ibunya berbarengan.
Adrian pun tampak terpana, mau gak mau Kayana sedikit tersipu. Perasaan dia gak cantik-cantik amat tapi seharian ini sudah berulang kali dia dipuji cantik apa jangan-jangan dia ditanami susuk tanpa sepengetahuan nya?
"Ah, yang ini cantik juga.. jadi bingung." Ralina tampak dilema.
"Kamu suka nya yang mana Kay?" Tanya Ralina meminta pendapat.
Kayana pun turut dilema, kemudian mengalihkan pandangan nya pada Adrian. Meminta pendapat.
"Saya lebih suka yang tadi, kalau pakai baju ini kamu kelihatan muda banget. Saya gak mau disangka om-om pedofil yang macarin anak abg." bisik Adrian pelan.
"Takut kelihatan tua ya mas?" kekeh Kayana ikut berbisik.
"Saya enggak tua ya.." sahut Adrian sangsi.
"Tapi udah ada uban nya tuh.." ujar Kayana jahil.
"Bohong kamu.." sungut Adrian tampak ngambek, Kayana cuma balas tertawa kemudian merangkul lengan Adrian manja.
"Kebaya sage green aja kak, mas Ian takut kelihatan tua kalau aku pakai kebaya ini" ucap Kayana sembari tertawa.
"Ups...gue baru sadar kalo elo udah bapak-bapak" tawa Ralina ikut pecah.
Adrian pun langsung ngambek, kesal karena di bully.
"Gapapa mas, emang udah bapak-bapak kok." ucap Kayana usil.
__ADS_1
"Iyakan, bapak Adrian?" goda Kayana sembari mengerlingkan matanya.