Skripsi atau Resepsi

Skripsi atau Resepsi
Extrapart (2)


__ADS_3

"Ih! Bau banget mas. Nggak mandi ya?" omel Kayana sewot begitu Adrian memasuki kamar.


Adrian langsung melotot, sehari-hari dia bisa mandi dua sampai tiga kali. Sejak kapan dia punya bau badan? Belum pernah ada yang bilang parfum Bvlgari nya bau kambing!


"Jauh-jauh ih, mas!" omel Kayana lalu menutupi hidung nya dengan sebelah tangan.


Adrian mengernyit bingung. Biasanya nggak mandi seharian pun istrinya juga adem ayem peluk-pelukan. Nggak pernah protes soal bau badan nya yang gadikasih mandi dari pagi, tumben banget hidung Kayana sensitif.


Akhirnya Adrian langsung menuju kamar mandi.


Tiga puluh menit kemudian, dia sudah kembali duduk di atas kasur. Setelah menggunakan hampir seluruh produk wewangian yang ada di kamar mandinya, barulah dia merasa pede lagi untuk dekat-dekat dengan sang istri.


"Gimana, udah wangi kan?" tanya Adrian songong, sambil menaik-turunkan alisnya.


"Lumayan." Kayana menyahut cuek karena sedang fokus menonton boyband korea favoritnya diponsel nya.


Adrian jadi gemas sendiri, ini cewek punya suami yang nggak kalah cakep dari artis korea, malah di anggurin!


"Mau martabak nggak, tadi mas bungkusin sewaktu pulang dari kampus." 


Begitu nama martabak disebut, Kayana langsung mengalihkan pandangan nya ke samping.


"Mau mas!" ucap Kayana kelihatan excited.


Asyeem!aseem!


Ingin rasanya dia marah karena sang istri kelihatan lebih bahagia saat ditawari makanan ketimbang melihat dirinya.


"Ih, bauu banget mas!" omel Kayana lagi begitu Adrian membawa martabak tersebut kedalam kamar.


"Hah, apaan yang bau? Mas udah mandi lho!" Adrian menatap Kayana bingung. Sejak kapan bau martabak bisa bikin istri nya mual? Biasanya dua loyang juga sanggup habisin sendiri.


"Martabak nya mas, bau nya nggak enak. Beli dimana sih?" keluh Kayana kemudian menutup mulutnya seolah ingin muntah.


Tak lama setelahnya, Kayana buru-buru menuju kamar mandi.


Lima menit kemudian, Kayana keluar dari kamar mandi dengan wajah yang tampak pucat.


Adrian menatap sang istri khawatir, pasalnya Kayana termasuk jarang sakit. Paling-paling cuma masuk angin, flu pun jarang. Melihat tampilan sang istri yang tampak pucat, otomatis Adrian merasa khawatir.


"Bawa keluar deh mas, bau nya bikin pengen muntah." pinta Kayana lemas.


Akhirnya Adrian membawa martabaknya keluar. Sembari berjalan menuju dapur, Adrian menimbang-nimbang.


Apa jangan-jangan istri nya hamil? Tapi cepet banget kalau iya, nikahnya juga baru dua minggu.


Akhirnya Adrian memutuskan untuk keluar sebentar menuju apotek terdekat.


Sekembalinya dari apotek, Adrian memberikan sebuah testpack pada Kayana.


Kayana menatapnya bingung. "Coba aja dulu, apapun hasilnya it's okay. There's nothing to worry about." Adrian  mengelus puncak kepala Kayana dengan sayang.


Sudah lima belas menit Kayana berada dikamar mandi, sementara Adrian menunggu di depan pintu kamar mandi.


"Mas.." panggil Kayana lirih lalu membuka pintu kamar mandi.


"Aku nggak berani lihat." ujarnya sambil terisak. Tangannya meremas baju Adrian.


"Hey, it's okay. Kita lihat sama-sama ya? apapun hasilnya nggak masalah. I still love you, and I always do. "


Adrian menuju kamar mandi, kemudian mengambil test pack tersebut. Matanya terbelalak kaget begitu melihat dua garis merah dengan jarak yang berdekatan.


Begitu keluar dari kamar mandi, Adrian langsung meraih pinggang Kayana dan mengecup keningnya sayang. "Selamat, kamu jadi calon ibu."


Perasaan bahagia membuncah didalam hatinya.


Sang istri balas menatapnya tak percaya. Tangannya langsung memeluk Adrian dan menangis.


"A-aku hamil, mas?" tanya Kayana masih belum percaya.


"Iya, sayang. Aku jadi papa, kamu jadi mama."


Mata nya ikut berkaca-kaca, baru kali ini dia merasakan perasaan bahagia yang rasanya sampai ingin menangis saking terharu nya.


"Mas, gimana kalau aku nggak bisa jadi ibu yang baik." Kayana menangis kencang.


Adrian membelai punggung sang istri lembut. "Sayang, kamu nggak akan sendirian. Mas akan selalu disamping kamu, mas udah janji sama keluarga kamu dan sama tuhan. Kita sama-sama belajar jadi orang tua ya."


Kayana mendongakkan kepala nya dan melihat wajah sang suami yang tampak bahagia. "Janji?"


Adrian balas tersenyum. "Janji." sahut Adrian tulus, lalu menangkup kepala sang istri dan mencium bibirnya lembut.


***


Usia kandungan Kayana sudah memasuki minggu ke enam. Perutnya masih belum terlalu besar, namun sudah tampak sedikit membuncit.


Sambil melahap puding coklat dihadapannya, Kayana mengelus-elus perutnya. Dia merasa cukup aneh dengan diri nya sendiri, yang terus menerus merasa lapar dan  kembung secara bersamaan. Paham nggak sih, rasanya kayak laperr banget dan sewaktu makan dua tiga suap rasanya sudah begah duluan. 


Selama hamil, dia cuma doyan yang manis-manis. Selain makanan yang mengandung banyak glukosa, dia langsung mual begitu mencium nya. Alhasil menu makannya tiap hari cuma ayam saus kecap, ayam saus madu, pokoknya yang manis-manis.


Pernah sesekali Kayana nekat mencoba makan makanan yang sedikit asin atau pedas, alhasil lebih banyak yang dimuntahkan dari pada yang masuk ke dalam perut.


Semenjak hamil, ada banyak hal yang berubah dalam kehidupannya. Mulai dari Adrian yang semakin overprotective dan tidak membolehkan Kayana lagi untuk menyetir sendirian, sehingga kemanapun dia pergi Kayana harus selalu ditemani sang suami.


Adrian juga sudah mulai mempersiapkan rumah baru untuk mereka begitu Kayana melahirkan.


Katanya dia nggak mau sang anak tumbuh dilingkungan apartement yang nyaris nggak ada kehidupan sosial nya. Kalau tinggal diperumahan, otomatis akan ada teman seusia nya sehingga sang anak dapat bersosialisasi.


Saking well-prepared nya Adrian sampai membeli banyak buku mengenai parenting dan kehamilan, nyaris dua lusin buku sudah terpajang dikamar mereka. Kamar yang selama ini sengaja Kayana jauhkan dari hal-hal yang berbau pelajaran terpaksa disulap menjadi perpusatakaan kecil karena pak suami.


Seriusan, saking overprotective nya calon bapak ini dia sampai nggak dibolehkan sendirian dirumah. Sejak dua minggu yang lalu sudah ada art yang menemani nya dari pagi sampai sore menjelang Adrian pulang kerja.


Kalau minggu-minggu sebelumnya dia selalu dititipkan dirumah sang ibu, dirumah mertua nya, ataupun di kontrakan Lisa. Tapi akhir-akhir ini dia merasa muak, kayak nggak ada destinasi lain dan rasanya nggak enak juga tiap hari ngeriwehin anggota keluarga nya.


Meskipun mertua nya menyambut senang kedatangan Kayana, tapi dia nya jadi nggak enak. Karena setiap dihidangkan makanan Kayana nyaris selalu menolak. Bukannya dia nggak menghargai mertua nya, tapi perutnya ini nggak bisa dipaksakan. Bayi nya sama keras kepala nya dengan Kayana, kalau dia iseng sedikit besoknya langsung muntah-muntah.


"Sayang..." panggil Adrian begitu membuka pintu kamar.


Tuh,kan! Perutnya mulai bereaksi.


"Kenapa?mual lagi?" tanya Adrian khawatir.


Kayana mengangguk lesu. Kayaknya calon anak nya ini punya dendam kesumat sama ayah nya sendiri. Semacam nggak rela kalau sang ayah dekat-dekat dengan ibunya. Jangan bilang kalau dia juga sama overprotective nya dengan Adrian?


"Baby, jangan bikin mama kamu mual-mual lagi ya. Ntar papa beliin bakso deh."


"Apaan! murah banget." protes Kayana.


"Yaudah deh, pizza."

__ADS_1


"Mual nya udah ilang mas." ucap Kayana sembari terkekeh.


Adrian cuma tersenyum, hafal betul dengan akal-akalan istri nya.


Tiba-tiba saja perutnya terasa bergejolak, Kayana refleks menutupi mulutnya dan berjalan menuju kamar mandi.


Adrian dengan sigap memegangi rambut Kayana, dan lagi-lagi tidak ada yang keluar selain angin. Selesai membersihkan diri Kayana langsung terkulai lemas dikasur, Adrian mengurut tengkuk sang istri dan mengoleskan minyak angin.


"Kepala aku pusing banget mas." Kayana sedikit terisak, masih belum terbiasa dengan perubahan drastis yang di alami tubuhnya.


"Perut ku juga nggak enak, nggak bisa makan apa-apa. Bawaan nya laper terus, tapi mual terus juga."


Adrian mengelus kepala sang istri dengan sayang, memberikan waktu kepada Kayana untuk menyampaikan keluh kesahnya.


"I know, nggak papa. Mas ada disini kok, ntar kita carii yaa kamu bisa nya makan apa."


"Mas, beliin rujak." pinta Kayana mendadak.


Adrian langsung melotot, jam berapa sih sekarang? memang nya masih ada yang jualan rujak.


"Besok ya.." bujuknya penuh kasih, kepala sang istri dibelai dengan sayang. Berharap bahwa curahan kasih sayang nya ini bisa menunda keinginan sang istri untuk ngidam rujak malam-malam.


Mata Kayana mulai berkaca-kaca, bibirnya mencebik kebawah.


"Mau nya sekarang. Katanya terserah aku mau makan apa, ntar di cariin."


"Bukan aku yang mau mas, tapi anak kamu yang minta."  Kayana mulai merengek.


Adrian menghela nafas, akhir-akhir ini sang istri memang sulit sekali makan. Apa yang masuk pasti keluar lagi, dia jadi nggak tega menolak keinginan Kayana.


"Yaudah tunggu sebentar ya, kamu dirumah aja. Mas cuma sebentar kok keluar, mbak ras kan juga dirumah."


"Nggak mau, aku mau ikut!" sanggah Kayana keras kepala.


Akhirnya Adrian pilih mengalah, takut calon anaknya mengamuk lagi kalau permintaan nya tidak dikabulkan.


***


"Susah ya, nyari rujak." celetuk Kayana saat mobil sudah berputar-putar selama kurang lebih setengah jam.


Alhamdulilah, sadar.


"Iya, memang susah sayang. Apalagi tiap malam senin kamu suka request cakwe jam 3 pagi. Mana ada yang buka."


Muka kayana langsung berubah masam.


"Kok, kesannya kayak ngeluh gitu ya."  Kayana tampak tersinggung.


"Nggak jadi deh, mas. Aku mau nasi ayam hainan aja." Kayana tiba-tiba mengganti request makanan nya.


"Eh...Itu, tuh didepan rujak." tunjuk Adrian pada penjual rujak yang tumben masih buka malam ini.


"Nggak mau!" tolak Kayana.


"Kenapa?"


"Kepala tukang rujak nya nggak botak, aku mau nya yang botak."


Adrian langsung tercengang.


Ya tuhan, semesta alam beserta isinya.Bisa nggak ngidam istrinya ini nggak usah yang random-random begini. Dimana coba dia bisa nemuin tukang rujak yang kepala nya plontos. Yakali dia nyuruh tukang rujak nya cukuran dulu, sebelum jualan rujak. Memang nya mereka kenal? kan enggak.


"Yaudah, dimana emang?" sahut Adrian, sabar.


"Gofood aja mas."


"Kan kita udah diluar sayang, langsung ke tempatnya aja."


"Nggak mau mas, aku bosen lama-lama dimobil. Mas juga aneh, ngapain malem-malem ngajak aku keluar."


Loh, yang tadi minta ikut siapa?


Adrian auto memijit kepala nya yang mendadak pusing.


Kayana sewaktu nggak hamil aja banyak minta, apalagi sewaktu hamil. Request-nya suka aneh-aneh bin ajaib, dia nggak habis pikir bagaimana pola pikir istri nya ini sehingga menemukan keinginan random seperti itu.


Sesampainya dirumah, Kayana sudah menenteng beragam makanan manis. Mulai dari kue, cookies coklat pokoknya yang manis-manis dia beli semua.


"Sayang, kurangin makan yang manis-manis ya." kata Adrian mengingatkan.


Pasalnya, ibu hamil juga butuh protein dan nutrisi lainnya, terlalu banyak mengkonsumsi makanan manis selama kehamilan juga tidak baik.


"Iyaaa..."


Adrian cuma menggeleng, dia yakin bahwa ucapannya tidak akan didengarkan oleh sang istri.


"Nasi ayam hainan nya nggak jadi?" tanya Adrian sembari membuka aplikasi pesan antar di ponselnya.


"Hmmm...nggak jadi deh. Ini aja cukup." sahut Kayana mendadak baik hati.


"Mas...perut aku udah mulai buncit tau." ucap Kayana excited sambil mengusap pelan perutnya.


Kayana menyibakkan bajunya ke atas. "Lucu nggak?"


"Banget." puji Adrian lalu mengecup kening Kayana.


"Sebentar lagi, baju aku mungkin nggak bakalan muat. Badan aku bakalan tambah gendut, ntar mas beliin aku baju ya."


"Iya sayang.."


"Kalau nanti morning sickness aku makin parah, mas jangan keganggu ya?"


"Iyaaa...."


"Setiap ada jadwal periksa ke dokter kandungan, mas temenin aku ya."


"Iyaaa..."


"Kalau nanti kaki aku suka pegel, mas bantu pijit ya.."


"Iyaa..."


"Ih, mas! kok gitu sih?" Kayana mendadak ngambek.


"Kok dari tadi iya-iya mulu, kesannya omongan ku kayak nggak didengerin."


"Sayang, semua yang kamu bilang itu sudah kewajiban mas. Mas nggak mungkin bakalan lupa." sahut Adrian tenang.


Kayana tersenyum senang, sepertinya calon bapak satu ini benar-benar sudah siap secara mental untuk punya anak. Padahal anak didalam perutnya sedang ingin cari ribut dengan sang ayah, tapi lihatlah betapa sabarnya Adrian menanggapi semua ocehannya.

__ADS_1


"Maaf ya kalau aku banyak berubah, suka mendadak minta ini, minta itu. Suka ngerepotin mas, maaf juga karena badan aku gampang capek jadinya tiap hari mas harus bikin sarapan sendiri, bikin kopi sendiri. Aku minta maaf." ujar Kayana dengan mata berkaca-kaca.


Adrian meraih pinggang Kayana kemudian mendudukkan sang istri di atas pangkuan nya. "Mas nggak nikahin kamu buat itu sayang, kamu nggak perlu minta maaf untuk apapun. Sudah kewajiban mas juga buat nyenengin istri, buat ngerawat istri. Nggak pernah sekalipun mas ngerasa keberatan sama kamu, Kay. You're my wife after all, of course I will do anything in my power to make you happy."


Kayana tersenyum manis lalu meraih tengkuk Adrian dan mencium bibirnya dengan lembut.


"Thank you, mas."


***


7 bulan kemudian.


Kayana sedang sibuk melahap cookies saat teman-teman nya datang ke rumah. Hari ini mereka sedang mengadakan baby shower ala-ala. Judulnya saja baby shower, yang diundang juga bisa dihitung pakai jari. Nggak sampai sepuluh orang.


Tapi Kayana tampak antusias, dan sang suami pun mendukung keinginan sang istri dengan mendekorasi halaman belakang rumah mereka menjadi penuh dengan balon-balon serta bunga-bunga. Nggak suami nya juga sih yang mendekorasi, mereka pake jasa EO. 


"Itu apaan isinya?anak?" Bagas bertanya bodoh, saking polos dan nggak pernah punya teman seumuran yang nikah duluan. Dia jadi kehabisan ide pertanyaan.


Iyasih, diantara circle pertemanan nya. Kayana yang paling cepat nikah. Temen-temen seumurannya mah, kerja dulu, ngejar karier dulu. Tapi ya nggak papa, setiap orang timing hidupnya beda-beda, kebetulan timing idupnya sedikit ngebut dibandingkan teman-teman seusia nya.


"Ya nggak mungkin balon, dong! yang mulia Bagas." Lisa yang tampak geram di sebelahnya langsung mengomel.


"Ini baby shower ide siapa sih?"sungut Bagas, keki. Masa cowok macho kayak dia disuruh pakai kemeja bunga-bunga karena bumil dihadapannya ini ngidam berat melihat Bagas cosplay jadi bencong!


"Kabulin permintaan anak gue dong gas, lo nggak kasihan kalau lahir nanti baby gue ngences. Jahat ah lo!"


"Bodo amat, minta ke bapaknya sono." protes Bagas.


Sedangkan Adrian cuma cekikikan, merasa puas sekaligus lega karena akhirnya nggak jadi target sasaran ke randoman sang istri kali ini.


"Lo ngasih gue macbook kek minimal bang, harga diri gue terinjak-injak ini."


"Amann..." Adrian mengacungkan jempolnya.


"Heh, kok gitu sih mas. Aku yang dihamilin kok nggak dikasih apa-apa." sahut Kayana protes.


Teman-teman nya langsung terbahak.


"Kan mas udah tanggung jawab sayang."


"Nanti ya, kita bicarain dikamar." Adrian mengecup pelipis Kayana singkat.


Kayana tersipu malu.


"Idihh, bucin." protes Lisa julid.


"Udah-udah! Nggak boleh ada drama telenovela siang ini, bisa merusak pemandangan. Polusi mata!"


"Yee, yang punya acara siapa?" sahut Kayana sewot.


"Tuan rumah yang baik nggak akan bikin tamu nya sakit mata!" Bagas tersenyum sinis dipojokan, masih keki karena dipaksa pakai baju bunga-bunga.


"Inget gass, macbook baru." bisik Lisa mengingatkan.


"Oh,iya." sahut Bagas kemudian tersenyum sok manis.


"Gausah banyak-banyak makan kue nya, ntar abis!" omel Kayana saat Lisa mengambil 3 buah pancake sekaligus.


"Gaboleh kikir gitu, suami lo sultan keleus. Ntar anak lo ileran, baru tau rasa!" Lisa balik mengolok-oloknya.


Kayana langsung keki.


"Mas..masa aku di bully." adu Kayana manja pada sang suami.


Adrian cuma geleng-geleng kepala, sudah kenyang dengan tontonan didepan nya. Memang sudah culture mereka dari dulu saling bully, saling mengolok-olok tapi aslinya saling sayang.


"Assalamualaikum pak Haji."


Daniel datang bersama Mario, Gerald dan Sean dibelakang nya.


"Siapa yang ngundang lo pada?" tanya Adrian sinis, perasaan dia nggak pernah mengundang teman-teman kampret nya kesini.


"Nyonya besar dong boss, situ kan suka lupa sama temen sendiri." sindir Daniel.


Yang disindir cuma bungkam, malas menanggapi. Katanya sewaktu istri hamil harus baik-baik sama semua orang, ntar anaknya bisa mirip sama orang yang nggak dia suka dan Adrian nggak mau mengalami mimpi buruk semacam itu.


"Pak Haji, lo nggak merasa berdosa gitu? kawin sama abg? bener-bener lo ya, nggak ada akhlak." Daniel geleng-geleng kepala.


"Tauk ih, masa mahasiswi sendiri di kawinin. Dosen macam apa." Gerald ikut mengompori.


"Jangan gitu lah guys, btw bagi info dukun dong pak Haji. Jangan mau sukses sendiri." Mario ikut-ikutan nggak berakhlak.


Adrian malas menanggapi. Teman-teman nya memang jahanam semua. Kalau ditanggapi yang ada kesabaran nya makin menipis.


Setelah itu, acara baby shower pun dimulai.


Daniel yang ditunjuk sebagai MC tentu nya heboh abis, acara dimulai dari kata sambutan oleh calon ibu dan bapak yang sedang berbahagia. Kemudian dilanjutkan dengan games ringan yang bumil friendly seperti tebak kata, tebak gambar, sambung kata, dan lainnya.


Dipenghujung acara, akan di adakan gender reveal dari calon bayi mereka. Mereka berdua sih legowo, apapun jenis kelamin nya mereka terima-terima saja.


"Satu...duaa...tigaa.."


Saat balon ditangan Kayana diletuskan muncul kertas-kertas kecil berwarna biru, dan saat balon ditangan Adrian diletuskan muncul kertas-kertas kecil berwarna pink.


Kening Kayana mengernyit heran. "Salah kasih balon?"


"Selamat untuk calon bapak ibu, you had twins!"


"Mas!" ucap Kayana dengan mata berkaca-kaca.


"Jahat banget sih, kok aku nggak dikasih tau!" Kayana memukul lengan Adrian kesal.


"Suprise sayang.." Adrian meringis sambil mengusap-usap lengannya.


Kayana pengen marah tapi nggak jadi, habisnya sang suami jago banget menyembunyikan perihal ini. Sementang dokternya sepupu sendiri, dia sukses dikibulin selama 9 bulan!


Adrian memberikan kotak kecil berisi kalung dengan liontin yang indah berbentuk hati, didalam nya juga terdapat sebuah kertas kecil.


Kayana menatap Adrian dengan mata berkaca-kaca, rasa haru langsung memenuhi dada nya.


'A wonderful wife like you beautifies my world in amazing ways. You made me a better person, and our child will make me the best! With you by my side, my world was beautiful, and with our baby in it, it would be glorious! Thank you for everything. I love you so much.'


Rasa bahagia membuncah di hati nya. Tangannya refleks memeluk Adrian erat.


"Thank you for participating in my life, Kay. Thank you for making me a father." bisik Adrian lembut.


Kayana tersenyum mendengarnya. "I Love you, mas."


"Then I love you more." balas Adrian kemudin mengecup bibir Kayana lembut.

__ADS_1


__ADS_2