Skripsi atau Resepsi

Skripsi atau Resepsi
60 - Alhamdulilah, sah! [END]


__ADS_3

6 Bulan Kemudian.


"Morning, princess."


Kayana merasakan kasurnya bergerak, namun dia masih enggan membuka mata. Sebenarnya Kayana sudah sempat bangun beberapa saat yang lalu untuk mematikan alarm tentunya. Karena dirasa masih terlalu pagi untuk bangun dihari weekend seperti ini, tapi tidak terlalu lelap sampai tidak menyadari kehadiran sang ibu di kamarnya.


Tak lama kemudian, terdengar suara tirai kamarnya terbuka dan langsung saja cahaya matahari masuk dan menembus kamarnya melalui celah jendela.


"Kay." Ibunya memanggil lagi, lalu menggoyangkan lengan Kayana pelan.


"Heh, bangun. Udah jam berapa ini? ntar MUA nya keburu dateng loh." omel ibunya lagi.


"Emang sekarang udah jam berapa sih? orang lagi libur juga." sahut Kayana menggumam.


"Heh, ini anak. Kamu nikah loh hari ini."


Otomatis mata Kayana terbelalak kaget.


Oh, ****!


Seriusan dia ketiduran, di hari berbahagia nya?


Akibat kafein kemarin, dia benar-benar terjaga semalaman. Ini akal-akalan dari duo sahabatnya yang mengajaknya mengadakan bridal shower ala-ala dan menyadari bahwa alkohol haram alhasil mereka pesta kopi dalgona. Enak kaga, pegel iya!


Pada dasarnya mereka nggak ada yang berbakat untuk buat kopi, ujung-ujung nya juga pesan delivery. Tapi kampretnya Kayana lupa bahwa dia sangat amat tidak toleran dengan kafein. Alhasil dia baru bisa terlelap menjelang pagi.


Kayana melongo sebentar dikasur. Jujur dia masih linglung, memang nya harus bangun sepagi ini ya?


Masih jam enam lewat lima belas menit, sedangkan akad jam sebelas siang. Ini orang pada ngapain sih, kok buru-buru amat!


"Buruan mandi sana, Kay. MUA kamu datang jam berapa?"


Omel ibu nya lagi, tak lama kemudian tante nya ikut masuk kedalam kamar. Kayana baru tersadar bahwa keluarga nya dari Padang sudah datang sejak dua hari yang lalu alhasil rumahnya jadi ruameee pol dan sekarang mereka bertiga sedang menginap di hotel tempat akad dilaksanakan.


"Bentar lagi deh, Ma. Masih ngantuk banget, MUA nya datang jam delapan. Acaranya juga masih lama." rengek Kayana.


Ibunya cuma menghela nafas, sedangkan tante nya sudah geleng-geleng kepala.


"Gapapa, biarin aja." ujar tante Kayana, membela nya.


Baru beberapa menit terlelap tahu-tahu sudah jam setengah delapan. Kali ini ibunya tidak segan-segan menarik paksa Kayana untuk masuk ke kamar mandi.


Sesampainya dikamar mandi, Kayana menangis tersedu-sedu saking campur aduk perasaan nya. Dia merasa sedih bahagia terharu, entahlah semuanya bercampur menjadi satu.


Dia bahkan belum sempat menelfon Adrian sejak semalam, karena handphone nya disita paksa agar dia lekas tidur.


Selesai mandi, Kayana langsung menelfon duo sahabatnya, minta ditemani. Begitu temannya datang, otomatis Kayana semakin mewek.


"Heh, kenapa ini manten kok nangis." ucap Lisa dengan nada khawatir. Bagas ikutan mengambil kursi disebelah Kayana, kemudian mengusap bahu wanita tersebut menenangkan.


"Kenapa? maag lo kambuh lagi?"


Kayana menggeleng, sambil mengeringkan rambutnya dengan dryer.


"Ih, yaudah kenapa nangis. Kan lagi hari bahagia juga.."


"Makan gih.." ujar Bagas, kemudian membuka kan kotak styrofoam berisi bubur ayam.


Meskipun bisa dibilang tidak nafsu makan, namun Kayana cukup sadar kalau nanti sudah tidak ada kesempatan untuk makan lagi alhasil dia terpaksa mengunyah makanan yang ada didalam mulutnya.


"Mau gue telfonin Adrian?" tawar Bagas.


"Jangan..."


"Biasa itu, kalau sebelum nikah bawaan nya gampang stress. Manatau si bapak bisa menenangkan hati lo yang lagi gelisah gini. Saling menguatkan gitu lho." ujar Lisa menenangkan sembari memijat pelan bahu Kayana.


Setelah menyadari bahwa kadar kegelisahannya nggak akan berkurang meskipun sudah disodori aromaterapi oleh teman-temannya, akhirnya Kayana setuju untuk menelfon sang calon suami.


Begitu panggilan tersambung, sesuai dengan dugaan Kayana. Wajah Adrian tampak tak kalah tegang. Pria itu sudah mengenakan pakaian lengkap, namun rambutnya masih belum terlalu ditata, sehingga masih sedikit berantakan.


"Mas.." panggil Kayana memelas begitu panggilan tersambung.


"Kamu masih bareng anak-anak?" tanya Adrian.


"Nggak, lah. Mereka udah pulang semalam, ini baru dateng lagi sekarang."


Kayana tertawa pelan, melihat komuk Adrian yang tak kalah miris. Perasaan ini cowok, waktu mengisi orasi ilmiah yang audiens nya mencapai ribuan muka nya nggak setegang ini. Wajar sih ya, momen sekali seumur hidup.


*Melihat muka Adrian saat ini, dia jadi nggak tega untuk mengeluh. Karena pressure* nya yang lebih besar itu Adrian, bakalan mengucap ijab kabul dihadapan orang-orang, sedangkan Kayana baru akan masuk ke ballroom setelah mereka di nyatakan sah.


"Kenapa ketawa?" tanya Adrian saat Kayana malah terkekeh geli.


"Jujur aku gelisah banget mas sekarang, keringet dingin. Tapi sewaktu ngelihat muka mas yang lebih tegang, aku jadi nggak tega buat ngeluh." ujar Kayana sembari tertawa kecil.


Adrian meringis.


Kalau kemarin-kemarin selalu Adrian yang menenangkan nya, kali ini mereka bertukar peran. Kasian juga calon suami nya, pastinya dia juga cemas plus gelisah tapi Kayana malah menambah beban pikirannya, harusnya mereka saling menguatkan.

__ADS_1


"Besok kita jalan-jalan ya mas."


"Iya..besok kita jalan-jalan."


"Pokoknya refreshing."


"Okay sayang, aman."


"Maunya ke bali."


"Tapi kata kamu mau honeymoon nya ke Lombok sayang, udah pesen resort juga."


"Oh iya, yaudah deh ke Lombok juga gapapa."


"Anything else, princess?"


"Nggak ada, mau nya ketemu mas sekarang. Hiks." Kayana menangis bucin, seolah lupa kalau diruangan ini ada dua orang sahabatnya yang sudah menjadi nyamuk.


"Sabar ya sayang, habis ini ketemu kok." sahut Adrian menenangkan.


"Kamu bareng Lisa doang? tumben suara Bagas nggak kedengeran."


Belum sempat Kayana menjawab, Bagas sudah menampakkan eksistensinya didepan kamera.


*"Hola mas, gue disini." seketika muka Bagas ikut memenuhi layar, Adrian auto* badmood.


"Heh, keluar lo sekarang! Enak banget curi start ngeliat bini gue, denger nggak lo?" sontak Adrian marah-marah.


Mereka auto meringis mendengar suara Adrian yang menggelegar, berasa suaranya keluar dari speaker handphone saking kencengnya.


"Sorry bang, gue disini selaku koordinator divisi transport merangkum perlengkapan. Kalau gue cabut sekarang, ntar bisa memar-memar ditonjok ini dua biduan."


"Gapeduli gue, enak banget lo nyelonong masuk ke kamar pengantin gue!"


Lisa buru-buru mendorong punggung Bagas untuk segera keluar dari kamar Kayana, sebelum terjadi perang dunia ke tiga empat atau bahkan lima.


Tak lama kemudian terdengar suara tantenya memanggil dari luar kamar, mengabarkan bahwa MUA nya sudah datang dan terpaksa mereka mengakhiri panggilan tersebut.


***


Adrian tidak tahu menahu bahwa dia juga kebagian untuk di rias MUA. Setelah merias ibunya, Ralina dan juga beberapa orang budhe nya. Tiba-tiba saja mbak Laras sudah berada dikamarnya dengan beberapa pouch make up.


Adrian tampak ngeri, takut mukanya disulap jadi kayak bencong. Ini hari pernikahannya, yakali dia jadi tampil cantik.


"Sini duduk." ujar Ralina mewanti-wanti.


Sedangkan Adrian sudah terpojok, ingin rasanya menoyor kepala Ralina tapi nggak enak karena ada suami nya. Alhasil Adrian pasrah dan terpaksa duduk, setelah ini kalau mukanya beneran jadi kayak bencong dia kabur sebentar lah kekamar mandi sambil bawa micellar water. Masa dihari kawinan sekali seumur hidup, dia tampil malu-maluin!


"Gimana mbak?" tanya Adrian pada Ralina yang sedang riweh mengepang rambut Keira, anaknya.


Ralina cuma memutar bola mata, malas menanggapi kepercayaan diri adiknya yang memang sudah tingkat dewa. Dari tadi nanya nya itu terus, kayak kaset rusak!


"Tauk gue, ngaca aja sendiri."


"Hmm..." gumam Adrian,kemudian kembali menatap pantulan diri nya didepan cermin. Adrian tampak takjub, terutama saat melihat pria tampan dengan jas putih gading yang sedang balik menatapnya.


"Uncle ganteng nggak, Kei?" tanya Adrian lagi, pada Keira yang tengah asyik main tablet.


"Ganteng banget, mirip spiderman."


Lah, spiderman kan pakai topeng. Berarti dia nggak ganteng gitu?


"Cincin nya mana? ntar jangan sampe pas akad lo kelimpungan. Tanya-tanya gue, jangan bikin malu." Ralina mengingatkan sembari membereskan barang-barangnya dan bersiap keluar.


"Ambilin." tunjuk Adrian pada nightstand disebelahnya.


"Heh, sableng. Bener-bener lu ye, cincin seharga dua M, diletakkin sembarangan."


"Sableng, apaan mi?" tanya Keira polos, Ralina langsung menutup bibirnya saat tersadar ada anaknya juga diruangan.


"It's nothing honey, that's just a bad word."


"So, mommy saying a bad word to uncle?"


"No..no. Thats not what I meant."


"Ha, mommy you're a bad girl! Apologize to uncle ian, now!" sungut Keira dengan pipi memerah, lagaknya sudah seperti ibu-ibu yang mengomeli anaknya.


Adrian cuma tertawa bangga, melihat keponakan nya yang termasuk pintar untuk seusia nya ini. Memang nggak kaleng-kaleng, hasil didikannya ini boss!


"Maafin gue ya."


Setelah memastikan sang ibu meminta maaf secara tulus, barulah bocah tersebut fokus kepada tab dihadapannya.


Tak lama kemudian ibunya muncul dan langsung melerai pertengkaran receh mereka. Sang ibu cuma geleng-geleng kepala melihat kedua anaknya yang masih kerap meributkan hal-hal sepele.


"Cepetan turun, kita langsung ke ballroom."

__ADS_1


"Sekarang banget,mih? baru jam sepuluh."


"Pala mu, baru jam sepuluh. Calon pengantin harusnya sudah prepare dua jam sebelum akad. Jangan sampai acara kamu ngaret, jangan bikin malu."


Ralina langsung tertawa puas, sedangkan Adrian mendengus kesal.


Mereka masuk kedalam ballroom hotel bersama dengan iring-iringan keluarganya yang datang membawa kotak seserahan yang sudah dihias sedemikian rupa.


Sesampainya di meja, Adrian langsung berhadapan dengan Kiran yang duduk bersebelahan dengan Bapak Penghulu dan juga ayahnya sendiri serta Paman Kayana yang hadir sebagai saksi.


Adrian menelan ludah, sedikit gugup.


Dalam hati dia berdoa agar acara hari ini dapat berjalan dengan lancar, lalu tibalah momen dimana Adrian mengucapkan kalimat sakral tersebut.


Sembari menyambut uluran tangan Kiran yang menatapnya lekat-lekat, Adrian berhasil mengucapkan kalimat tersebut dalam satu tarikan nafas.


"Sah.." ucap para hadirin.


Adrian langsung bernafas lega, cemasnya hilang seketika. Setelah doa yang dipimpin oleh Bapak penghulu selesai.


MC mulai mengarahkan seluruh penjuru ruangan untuk menoleh ke pintu ballroom.


Kayana ada disana. Berjalan diapit oleh mama dan tante nya. Dengan balutan kebaya putih gading serta Suntiang berwarna perak yaitu hiasan kepala yang dikenakan oleh perempuan minangkabau saat menikah.


Adrian hampir tidak mengenalinya saking cantiknya Kayana.


Seriusan, bidadari dihadapannya ini sekarang jadi miliknya?


"Hai mas.." sapa Kayana begitu duduk disebelahnya.


Adrian tersenyum senang.


"You look gorgeous and beautiful as always." puji Adrian.


Kemudian MC mengarahkan kedua mempelai untuk bertukar cincin, usai bertukar cincin Adrian meletakkan tangannya di ubun-ubun Kayana kemudian merapalkan beberapa doa setelahnya dia mengecup pelan dahi Kayana.


Dan beberapa temannya langsung heboh begitu dia selesai mengecup dahi Kayana, wanita disebelahnya hanya tertunduk malu kemudian menggenggam hangat tangan Adrian.


Alhamdulilah, akhirnya sah juga!


***


Alunan musik yang indah menghiasi resepsi pada malam ini. Tak tanggung-tanggung penyanyi yang di undang pun cukup eksklusif mulai dari Raisa, Vina Panduwinata, Rossa serta beberapa penyanyi kondang ibu kota lainnya.


Memang beda cerita kalau yang menikah anak konglomerat, hiasan ballroom nya juga nggak main-main. Serasa berada di negeri dongeng, prasmanan nya juga padat merayap mulai dari ujung ke ujung. Kayana nggak bisa membayangkan berapa nominal yang dirogoh oleh keluarga Adrian untuk mengadakan resepsi semegah ini.


Dari total 1000 tamu undangan, perkiraan undangan dari pihak keluarganya hanya 100 orang, paling mentok 150 orang ditambah dengan beberapa temannya yang turut membawa pacar ataupun anggota keluarga lainnya.


Adrian tampak gagah dalam balutan tuxedo berwarna putihnya. Senyum selalu menghiasi wajah tampannya.


Kayana juga terlihat anggun dengan gaun pengantin dengan aksen bunga-bunga indah disekeliling nya, hasil design ibu mertua memang nggak perlu diragukan.


"Congratulations, pak Haji! Alhamdulilah akhirnya sah juga." sapa Daniel semringah begitu sampai dipelaminan, dibelakang nya sudah ada trio kwek-kwek yang ikut cengegesan.


Mario, Gerald dan Sean ikut menyalami nya dan memberi selamat.


"Mantep banget prasmanan nya pak haji, premium semua. Boleh dibungkus pulang nggak."


Kayana yang mendengar nya auto ngakak, kocak juga teman-teman nya Adrian. Jangan bilang cuma suami nya yang kaku, kayak kanebo kering.


"Isi amplop gue banyakin dikit kek, jangan numpang makan doang lo pada."


"Nggak boleh kikir gitu lah pak Haji, ntar rezeki nya mandet." gurau Daniel kemudian beranjak menyalami Kayana.


"Selamat ya bro! akhirnya pelet lo berhasil. Info dukun dong bro, jangan mau sukses sendiri." komentar Gerald setelah menyalaminya.


Setelahnya rombongan dosen, alumni kampus serta teman-teman nya yang lain mulai menaiki pelaminan untuk mengucapkan selamat.


Banyak teman-teman sejurusan nya yang kaget mendengar kabar mereka menikah, disangka mereka masih musuhan seperti dulu. Nggak heran sih, karena satu organisasi taunya hubungan mereka on a bad term. Eh tau-taunya malah nikah.


Kayana pikir acara resepsi akan lebih santai dibandingkan akad yang pastinya super tegang. Nyatanya hampir nyaris satu jam, Kayana nggak kunjung duduk. Betisnya cukup pegal, tapi semua itu terbayarkan saat melihat senyum bahagia orang-orang disekitarnya.


Kiran terlihat menyendiri di pojok ruangan, entah sudah berapa episode tadi tangisnya baru akan mereda. Matanya sudah berkaca-kaca setelah menikahkan Kayana tadi, Kayana ingin menyapa Kiran namun hal tersebut tidak memungkinkan.


Setelah MC menginfokan para hadirin bahwa booth foto yang telah dibuka, barulah Kayana sedikit bernafas lega. Tangan nya langsung mencomot air mineral yang sedari tadi sudah diletakkan WO disebelahnya.


"Capek?" tanya Adrian kemudian menyeka keringat dikening Kayana dengan tisu.


"Hmmm...physically yes. Tapi aku bahagia banget mas."


"Mas juga." jawab Adrian malu-malu.


"Nanti malam bakalan lebih capek lho." bisik Adrian sedikit nakal.


Kayana mendelik kemudian mencubit perut Adrian, sontak pria tersebut tertawa.


Kayana benar-benar bahagia hari ini. Ibunya serta sanak saudara nya terlihat bahagia, ayah nya di surga pastinya juga ikut bahagia.

__ADS_1


Kayana merasa bersyukur sekaligus beruntung mendapatkan pasangan seperti Adrian, dia bahagia bisa bersanding dengan pria yang tepat.


END


__ADS_2