Skripsi atau Resepsi

Skripsi atau Resepsi
57 - Terancam Gagal Lamaran


__ADS_3

Adrian meletakkan dua cangkir teh ke meja ruang tamunya, hari ini malam senin, malam yang paling gak suiteable buat kencan. Karena malam ini dia harus menyiapkan materi presentasi dan besok jadwal mengajar nya full dari pagi, yang berarti dia butuh tidur cukup malam ini. Dan kalau saja, Kayana dan sejuta akal bulusnya berencana menginap lagi malam ini, fix sih dia cuti sakit saja besok dan meminta Fita untuk mengisi kelasnya, atau dia undur saja kelasnya sekalian, untung nya dia sudah jadi dosen, suka-suka dia mau kelas nya kapan.


Malam ini dia menyeduh chamomile tea, karena sang pacar yang akhir-akhir ini berlagak ingin hidup sehat dan sebisa mungkin mengonsumsi produk berbahan herbal. Sebenarnya dia pribadi nggak begitu menyukai teh, dia lebih suka kopi dan baru mulai menyetok berbagai macam produk teh akhir-akhir ini karena pacarnya yang memang nggak bisa minum kopi.


Adrian menopang dagu, menoleh pada Kayana yang malam ini kelihatan seperti ABG dengan cropped sweater, skinny jeans dan rambut sebahu nya yang dicepol tinggi. Entah sejak kapan pacarnya ini mulai berani mengenakan baju yang kelihatan udel nya tersebut, untung nya cuma kelihatan udelnya kalau ini cewek angkat tangan, kalau lagi enggak sih udel nya masih ketutupan. 


Nggak cuma wangi,kalau dilihat dari dekat, jelas sang pacar berdandan dulu sebelum pergi ke sini. Biar tampil cakep maksimal didepan calon suami. Riasannya cukup natural, hanya liptint berwarna pink dan sedikit perona pipi. 


She looks really cute.


Ah, perasaan age gap mereka gak jauh-jauh amat cuma 4 tahun. Tapi kalau melihat tampilan Kayana yang seperti abg begini, sudah pasti dia kelihatan seperti pedofil. 


Sesekali Kayana menggaruk lehernya yang tidak gatal, tampak kebingungan saat mempelajari materi dihadapan nya. Rambut nya yang tadi dicepol rapi kini sudah mulai keluar satu persatu dari ikatan nya.


"Apaan sih mas, dari tadi lirik-lirik mulu. Bantuin belajar kek." rengek Kayana.


"Imut banget pacar mas." ucap Adrian tampak gemas kemudian mencubit pipi Kayana.


"Aw..kenapa mas? kita jadi kelihatan kayak bapak sama anak ya?" tanya Kayana bercanda.


Namun Adrian jadi baper sendiri, kalau dilihat-lihat penampilan nya memang jauh tampak lebih dewasa dibandingkan Kayana, apalagi dengan brewok nya sekarang. Tipis sih, tapi cukup membuat dia tampak lebih dewasa dari semestinya. Tapi kalau dicukur kesannya malah lawak, wajah nya yang sudah terbiasa berjambang semenjak lulus sma itu tiba-tiba dibabat habis, yang ada orang-orang nanti pada nggak kenal. Yang lebih parah, pacarnya ikutan nggak kenal!


"Katanya mau ngajarin aku, giliran aku nya udah disini malah sibuk main hp." protes Kayana.


"Baca dulu sayang, nanti mas jelasin. Kalau langsung di jelasin sekarang, ntar kamu banyak bingung nya." sahut Adrian kalem plus sabar. Dia harus maklum, pacarnya ini sudah h-2 sidang, kalau agak rewel sedikit dia bakalan tutup mata tutup telinga. 


Adrian terperanjat saat tiba-tiba Kayana mencubit pinggangnya. Pedes banget, asli! Dia sampai meringis saking sakit nya, emang dia salah apa lagi sih?


"Aku tuh nggak paham mas! ntar kalau gabisa jawab gimana?" seru Kayana tampak frustasi, rambutnya yang tadi dicepol rapi sekarang tampak awut-awutan. Seriusan Adrian pengen ketawa, tapi prihatin juga. Sidang komprehensif itu memang yang paling susah, mau belajar seminggu suntuk pun rasanya gak bakalan cukup apalagi ini cewek tipikal mahasiswa yang belajar nya gak serius-serius amat, lebih sibuk bucin dan ketika h-2 begini baru panik sendiri. Mana sempat, keburu telat!


"Yaudah sini, ayuk mas ajarin." ujar Adrian sabar, dari pada Kayana ngambek lagi, dia lagi gak ada energi untuk membujuk-bujuk pacarnya malam ini. Agenda mereka malam ini cuma belajar, thats it.


Kayana ikut duduk disebelah Adrian, kemudian menyesap chamomile tea-nya dengan elegan, sembari menyemili cookies gluten-free dari toples dihadapannya. Lagak nya sudah seperti ratu inggris sewaktu icip-icip makanan, sok imut.


Selesai ngemil, tiba-tiba Kayana beringsut pindah ke pangkuan nya, membuat Adrian yang sedang fokus membaca materi di tab nya kontan melotot.


Lah? Ini mau belajar, atau memamah biak?


"Duduk di sofa aja sayang." ringis Adrian.


"Gamau..sofa nya keras." rengek Kayana.


Halah, alasan!


Kalau sofa ini betulan keras, seharusnya ini cewek kemarin-kemarin nggak sampai ketiduran kalau sudah namplok disofa nya, bilang aja modus!


"Mas jadi susah ngajarin nya kalau kamu nempel-nempel begini, jadi nggak fokus." keluh Adrian.


"Mau nya duduk disini." sungut Kayana.


Seriusan deh kalau ini cewek bukan pacarnya sudah pasti Adrian tendang ke laut, tapi jangan deng perempuan ini sebentar lagi akan menjadi aset berharga nya, harus disayang-sayang.


Seriusan kali ini pacarnya nggak cocok lagi kalau dipuji imut, memang imut sih tapi tahu kan badan Kayana rada bongsor. Kalau Kayana duduk dipangkuan nya dalam jangka waktu yang lama, syukur-syukur besok kaki nya  bisa dipakai jalan.


"Jangan gerak-gerak." titah Adrian, saat Kayana grasak-grusuk dipangkuan nya.


"Emang kenapa kalau aku gerak-gerak?" tanya Kayana makin songong.


Astagfirullah!


Adrian cuma menghela nafas pelan, malas menyahut. Tapi dia diam saja, tidak menolak saat Kayana merangkul mesra pinggang nya sehingga mau nggak mau jarak mereka semakin dekat.


"Coba jelasin terapi adjuvan itu apa?" 


Adrian mulai serius bertanya, terserah lah ini cewek mau duduk dipangkuan nya, mau jungkir balik ataupun mau kayang sekalian. Adrian nggak mau ambil pusing, dia sudah terlalu lelah malam ini.  


"Terapi tambahan yang diberikan setelah terapi utama." jawab Kayana lancar.


"Hmm..oke, kalau terapi paliatif apa? kuratif? rehabilitatif? Apa beda nya sama promotif? apakah promotif juga termasuk aspek dalam terapi?" 


Adrian mulai merundung Kayana dengan pertanyaan, dan suprisingly pacarnya ini bisa menjawab semua pertanyaan yang dia berikan dengan lancar. Sepertinya Kayana ini tipikal orang yang tiap ujian sekolah selalu bilang belum belajar,tapi sewaktu pengumuman. Nilai nya paling tinggi.


Setelah dirasa cukup banyak memberikan Kayana pertanyaan, Adrian mulai membaca-baca draft skripsi Kayana  sambil memikirkan kemungkinan pertanyaan-pertanyaan yang akan diberikan oleh dosen penguji.


"Mau ciuman nggak, mas?"


Kayana mendadak bertanya, membuat Adrian yang sedang serius membaca draft skripsi ditangan nya langsung tegang sekaligus menelan ludah karena posisi mereka saat ini memang pewe abis.


"Sekarang banget,Kay?" tanya Adrian dengan nada horror.

__ADS_1


Kayana balas mengangguk.


"You ask for it."


Kayana bersorak didalam hati kemudian turut mengalungkan lengan nya dileher Adrian.


Adrian mencium bibir Kayana lembut, menyesap lembut kedua bibir Kayana beberapa kali sebelum akhirnya menjauhkan kepala nya dari hadapan Kayana.


"Apaan, bentar banget. Nggak berasa!" protes Kayana.


Belum sempat Adrian mencerna, Kayana sudah mempererat rengkuhan di lehernya kemudian mencium bibirnya.


Adrian terpaku untuk beberapa saat.


Kayana mencium nya sedikit intens kali ini, dia terpaksa menopang tubuh dengan kedua lengan nya supaya tubuh Kayana tidak jatuh menimpanya.


Setelah beberapa menit, Kayana melepas tautan bibirnya dengan nafas tersengal.


Sedangkan Adrian sudah cengo,otaknya mendadak diserang malware sehingga perlu di restore ulang.


Dia nggak kenak stroke kan? kok mendadak gabisa bergerak gini.


"Sorry mas,keblablasan." cengir Kayana kemudian mengusap bibir Adrian pelan, sewaktu tersadar pria tersebut buru-buru mengambil nafas. 


Gila, paru-paru nya serasa mau pecah karena nggak sadar kalau sudah menahan nafas sedari tadi.


"Kay.." ujar Adrian sedikit takjub, ini cewek emang tukang nyosor sejati.


Nggak, dia nggak marah.


Lagian siapa juga sih yang marah dicium pacar sendiri? yang ada malah senang plus berbunga-bunga.


Sebenarnya disini siapa sih yang seharusnya menjaga diri? bukannya Kayana ya?


Perasaan dia terus yang di apa-apain. Cuma perkara cowok gabisa bunting aja, kalau bisa mungkin dia sudah berbadan dua.


"Mau lagi?" tanya Kayana cengengesan.


"Katanya kayak bapak sama anak, mana ada anak gadis nyium bapak sendiri sampe begini?" tunjuk Adrian pada bibirnya yang sedikit membengkak.


Kayana auto malu sendiri, lalu mencubit pinggang Adrian kesal.


"Dari pada lehernya aku buat merah-merah lagi..." ancam Kayana kemudian mendekatkan wajahnya, memangkas jarak diantara mereka.


"Duh,jangan deh sayang." sahut Adrian mendadak mules, meskipun dia juga demen tapi mereka ini cuma berduaan di apartement, kalau dia ikut tergoda bisa bahaya! Yakali Adrian junior dibuatnya diatas sofa, udah sempit bekas iler pula!


Meskipun setting suasana saat ini sudah lumayan mendukung, dia nggak mau mereka berdua keblablasan sampai berakhir menjadi delapan belas plus apalagi dua satu plus.


Satu lagi, dia juga nggak mau anaknya nanti hasil keblablasan!


"Btw mas, tadi pas kita ciuman... berasa deg-degan gitu nggak mas?" tanya Kayana dari balik pelukan nya.


"Ya jelas deg-degan lah." sahut Adrian malu, aduh memang ya adik nya Kiran yang satu ini paling jago melontarkan pertanyaan yang bikin orang mabuk kepayang.


"Hmmm..." Kayana cuma balas bergumam, dan semakin mengeratkan dekapannya ke pinggang Adrian.


"Kenapa?" 


"Nggak papa, aku takut cuma aku sendiri yang suka, tapi mas nya enggak. Semacam takut cinta bertepuk sebelah tangan." 


Adrian cuma geleng-geleng kepala, ya kali dia lamar anak orang kalau nggak cinta. Lagian pacarnya ini perempuan paling imut sedunia, nggak mungkin dia nggak suka.


"Ada-ada aja kamu Kay, mana mungkin mas sampe lamar kamu kalau nggak sayang. Kalau mas nggak serius, nggak mungkin kita sampai sejauh ini." sahut Adrian kemudian mengelus kepala Kayana lembut.


"Maaf ya, mas jadi maksa kamu buat nikah di umur segini. Padahal kamu masih punya banyak waktu buat main-main sama temen kamu dulu. Kalau urusan karir dan mimpi-mimpi kamu kedepannya, mas nggak bakalan membatasi hal itu kok. Kamu tenang aja." Adrian kembali bersuara.


Kayana langsung mewek kemudian bercucuran air mata. "Dih, siapa yang kepaksa sih.. geer banget..a-aku juga mau kok." jawab Kayana sambil terisak.


Adrian tertawa pelan, lalu mengulurkan lengan untuk mendekap Kayana dan mengelus-elus punggung nya.


"Kok malah jadi nangis sih..."


"Mas duluan..." sungut Kayana sok imut.


Adrian yang kena protes cuma mesem, berusaha berlapang dada. Kalau cuma perkara mengalah demi menyenangkan hati sang pacar sih dia rela-rela aja, apa yang enggak coba buat Kayana.


"Udah..udah jangan nangis lagi. Lanjut belajar lagi ya." Adrian berusaha memecah suasana, masa Kayana jauh-jauh kesini cuma buat nangis-nangis doang, apalagi kalau nanti pacarnya ini pulang dalam keadaan mata sembab bisa-bisa dia dijadikan daging kurban sama calon abang ipar.


Amit-amit deh, dapet restu nya aja susah. Mesti nguras kolam ikan lele!

__ADS_1


***


Apa yang Adrian takutkan akhirnya terjadi juga, Kayana yang ditinggal sebentar untuk mengangkat telfon klien nya sudah terlanjur molor disofa.


Kali ini tidurnya beneran pules, melebihi anak bayi sesudah diberi ASI. Meskipun nggak sampe ngorok, tapi ini cewek bahu nya digoyang-goyangin heboh begini juga nggak bangun. 


Mau nya apa sih? baru jam 8 malam pula. Biasanya jam 12 baru bisa tidur. Itupun harus sambil video call mendengarkan suara ini cewek lagi bernafas, sekalinya panggilan dimatikan langsung terbangun dan mengamuk. 


Adrian mendadak pusing, kalau sekarang dia telfon Kiran sama saja seperti menggali kubur sendiri, dia bakalan diomelin plus di gebukin abang ipar wannabe. Selain itu, hubungan mereka kedepannya bakalan terancam tidak direstui, jangan sampai mereka batal nikah! Bahaya! DP Ballroom untuk lamaran juga sudah dia bayar separohnya, belum lagi katering dan seserahan dari keluarga nya juga sudah komplit semua. 


Kampret emang! 


Coba kalau mereka sudah halal, dia nggak perlu sampai pusing begini.


Nggak lama kemudian, ponsel Adrian berbunyi.


'Abang Ipar is calling'


Pucuk dicinta ulam pun tiba, calon abang ipar nya memang panjang umur. Adrian langsung mules maksimal sewaktu melihat caller ID tersebut. Rasanya dia ingin tenggelam dilautan samudra atau pura-pura gila sekalian.


"Assalamualaikum bang." ucap Adrian setelah panggilan tersambung, dia masih rada-rada kagok setiap berhadapan dengan calon abang ipar nya ini, biarpun restu sudah ditangan. Kiran itu masih suka judes, kayak nggak rela adiknya bakalan Adrian nikahi diusia muda.


"Walaikumsalam, lagi sibuk?" tanya Kiran tanpa berbasa-basi.


"Enggak bang." jawab nya sedikit gemetar plus gugup.


Kalem bray! Meskipun dia agak merasa bersalah karena sering diam-diam membawa sang pacar ke apartementnya. Tapi pada dasarnya dia nggak pernah memaksa Kayana, malah sebisa mungkin dia melarang Kayana untuk mengunjungi apartement nya.


Meskipun rata-rata penduduk ibu kota itu suka bodo amat dengan urusan orang lain, beda lagi kalau semisalnya yang memergoki mereka itu orang-orang yang mereka kenal, bisa jelek nama nya nanti. Terutama Kayana selaku pihak perempuan pasti akan lebih dirugikan.


Omongan tetangga itu kadang lebih kejam, mulutnya itu loh nggak pernah dikasih filter, kayak nggak pernah dipake dzikir.


"Oh....apa kabar?" tanya Kiran sedikit friendly, Adrian sedikit menaruh curiga. Kiran ini sifatnya sebelas dua belas sama Kayana, kalau mendadak baik pasti ada apa-apa. Tapi yang nama nya suudzon itu tetep nggak baik. Dia tetap harus baik prasangka.


"Alhamdulilah baik bang, abang kabar nya gimana?sehat?"


"Alhamdulilah, sehat."


Setelah itu hening, selesai berbasa-basi suasana nya langsung canggung abis. Adrian benar-benar nggak tau mau berucap apa. Mendadak stok kosa kata dikepala nya hilang semua, ibarat komputer, main drive nya sudah di reset duluan. Alhasil dia cuma drive kosong tanpa file sama sekali, kapasitas nya 0 kb saat ini. 


"Lamaran nya jadi kan bulan depan?" tanya Kiran dengan nada serius. Adrian langsung deg-degan.


"Inshallah jadi bang." sahut Adrian mantap.


"Inshallah orang mana dulu?" 


"Hah?" respon Adrian bingung.


"Canda bossku" balas Kiran ngakak, tapi nggak lucu. Rumor bapak-bapak satu ini memang garing abis.


Masa becandaan nya malah bikin anak orang pucat pasi gini, kampret emang!


"Mau dikasih restu apa enggak?" Kiran nanya bego, lagi.


Alhasil Adrian keki berat, kalau nggak ingat ini cowok diseberang merupakan calon abang ipar, sudah dia reject panggilan nya dari tadi. 


"Mau bang." respon Adrian tanpa sadar mengangguk, padahal nggak ada yang lihatin.


"Mas...?" suara Kayana yang baru terbangun.


Seluruh bulu kuduk Adrian langsung merinding, sembari mengalihkan pandangan nya pada Kayana yang memandang Adrian dengan tatapan polos.


Adrian meletakkan jari telunjuk didepan bibir, kemudian menunjukkan caller ID nya pada Kayana. Sontak wanita tersebut langsung menutup mulut saking shock nya, mendadak diserang panick attack.


"Suara sape tuh?" tanya suara diseberang telfon.


"Hah, nggak ada suara siapa-siapa bang." sahut Adrian kikuk, jantung nya sudah mulai bertalu-talu. Kalau ketahuan alamat gagal sudah lamaran, restu yang sudah ditangan bisa dicabut begitu saja. Bisa ambyar pokoknya!


"Oh...iya ya." suara Kiran masih terdengar ragu.


"Suara hantu kali ya, lo tinggal sendiri?" Kiran bertanya lagi.


"Iyaa bang."


Adrian langsung berkeringat dingin, seriusan dia paling nggak bisa bohong.


"Gue yakin banget denger suara cewek, alus banget tapi. Kayak bisik, tapi lo bukan bencong kan. Santai aja udah, jangan sampe takut gitu." ujar Kiran.


"Iya bang, aman bang." sahut Adrian cepat.

__ADS_1


Kiran pun akhirnya melanjutkan obrolan seperti biasa, Adrian langsung bernafas lega. Demi keong emas, keong racun bahkan keong ajaib, Adrian sudah tidak tahu lagi harus bagaimana dan berkata apa kalau sampai ketahuan Kayana sedang berada di apartement nya.


Kalau memang sampai kejadian, mampus aja udah!


__ADS_2