
Kayana terbangun untuk kesekian kalinya sejak memejamkan mata,kalau tadi karena Snowy kucingnya yang kelewat manja itu sedang ndusel-ndusel dikakinya.
Kali ini karena gedoran dipintu kamarnya yang keras bukan main, langit-langit kamarnya serasa mau runtuh saking kerasnya ini orang menggedor pintu nya.
"Kak,bangun! tuh ada gofood dateng!" Suara kaivan mengagetkan nya hingga ke alam mimpi.
Sembari mengerjapkan mata nya yang terasa pedih, Kayana berjalan sempoyongan kemudian membuka kan pintu dan langsung disambut dengan muka menyebalkan adiknya yang sedang mengunyah bakwan,sambil sebelah tangannya menyodorkan plastik makanan. ****,plastik nya jadi berminyak semua.
Plis deh! Adiknya ini lebay abis. Padahal kan tinggal ditaro dimeja makan,toh nanti dia bakalan keluar kamar dan makan. Gak perlu sampai dibangunin juga dan mengganggu tidurnya!
Kayana meraba kepalanya yang terasa pening, dia baru bisa terlelap menjelang subuh. Saking cemas nya saat jadwal sidang nya keluar, dia sampai terkena insomnia.
Kayana melirik ke arah Janu yang sudah gepeng karena dia peluk semalaman, padahal jadwal sidang nya masih dua minggu lagi tapi rasa cemasnya sudah dimulai sejak kemarin malam.
Kayana sangat takut, semisalnya dia gagal ditahap ini- ah dia bahkan tidak bisa membayangkannya. Terlalu mengerikan,bahkan untuk sekedar di visualisasikan.
Padahal dia sudah berlatih untuk sidang seminar hasil kali ini, terhitung sudah tiga kali Adrian memberikan simulasi sidang pada nya. Tapi dia masih grogi, lama-lama dia bisa kambuh asam lambung kalau terus-terusan begini.
Adrian sampai memberikan nya lilin aromaterapi untuk meredakan kecemasan nya, rupanya lilin seharga dua ratus ribu itu lumayan manjur untuk mengembalikan moodnya.Buktinya sekarang dia sudah kembali senyam-senyum saat membaca pesan teks dari Adrian.
Adrian Pramudya
Good morning!
Adrian Pramudya
Calon istri nya mas, jangan lupa sarapan ya.
Adrian Pramudya
Ntar ambil gofood nya ya didepan,bubur ayam nya udah dijalan. Love you ♥
Aduh,ini pacarnya fix sih gemesin parah.
Kayana menarik selimut sampai menutupi kepalanya,kemudian berteriak tanpa suara saking gemas nya.
Kalau tau gini,seharusnya dia terima saja lamaran pria tersebut dari jauh-jauh hari. Toh,gak ada ruginya juga,yang ada dia malah semakin sejahtera.
Kayana Amira
Thank you,mas! Jangan lupa sarapan juga.
Kayana Amira
Love you too ♥
Setelah membalas pesan tersebut, Kayana melirik jam di nakas tempat tidurnya,dan kontan melotot. Jam 9 pagi! Dia nyaris melupakan janji nya untuk bimbingan bersama Pak Darto hari ini,pembimbing kedua nya yang super sibuk.
Kalau bulan ini di Indonesia,bulan depan bisa-bisa beliau sudah berada di luar negri. Kebetulan dosen nya tersebut merupakan guru besar disalah satu kampus di negara seberang, gak jauh sih. Tapi ya kali,demi bimbingan dia harus susulin dosen nya sampai ke negeri Jiran!
***
Kayana tiba dikampus dengan mata memerah karena kurang tidur, untung nya dia masih sempat berdandan tadi. Jadinya ini muka gak kucel-kucel amat.
Baru melangkah,mata nya sudah disambut dengan pemandangan yang membuatnya gondok sampai ke ubun-ubun. Di ujung koridor tampak Viona yang tengah duduk berdempet-dempetan dengan pacarnya. For God's sake, ini cewek mau pergi kekampus atau clubbing sih?! Rok nya memang harus sependek itu,atau ini cewek emang hobi pamer?!
Sambil menahan kesal,Kayana berjalan menuju koridor tersebut dengan langkah sedikit menghentak. Kebetulan sol sepatunya yang satu ini lumayan keras sehingga bunyi nya pasti cukup untuk memecah fokus Adrian yang sedang fokus memberikan bimbingan tersebut, kecuali jika pacarnya ini juga demen ditempelin cabe-cabean! Sampai gak sadar kalau Kayana berjalan didepan nya.
Belum sempat Kayana mencapai tempat mereka, rupanya Adrian sudah sadar duluan, pria tersebut buru-buru menjaga jarak dan meletakkan tas nya ditengah-tengah. Viona tampak sedikit cemberut dan sesekali mencoba menyingkirkan tas tersebut,namun Adrian cukup sigap dan menahan posisi tas tersebut sambil tetap menjelaskan materi yang sedang disampaikan nya.
Kayana lumayan ngakak saat melihat wajah tertekuk Viona,siapa suruh itu cewek nempel-nempel ke pacar-eh ralat ke calon suami orang!
Kayana yakin 100% ini cewek tidak mendengarkan sama sekali materi yang sedang disampaikan Adrian,paling-paling cuma masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Niat nya dari awal juga sudah salah! Hujan-hujan begini,orang sinting macam apa yang memakai baju tipis sekaligus pendek!
Adrian tersenyum tipis saat Kayana berjalan melewati nya, dan Kayana balas menduduk sopan. Meskipun didalam hati dia sudah pundung maksimal tapi saat melihat senyuman pria tersebut, kemarahan nya langsung luruh entah kemana.
Tapi memang sih,seharusnya Adrian gak berhak disalahkan dalam kondisi seperti ini.Dia gak salah apa-apa. Lagian sekarang baru jam berapa sih?Bisa-bisa nya itu cewek masih pagi sudah kegatelan!
Saat melirik jam dipergelangan tangannya, Kayana langsung pucat pasi dan kelimpungan menyadari bahwa dirinya sudah terlambat untuk menemui pak Darto. Tanpa babibu, dia langsung berlari-lari dikoridor tersebut.
Lima menit kemudian, Kayana sampai dipintu ruangan pak Darto dengan nafas tersengal-sengal. Dosen nya tersebut tampak sudah bersiap-siap untuk mengunci pintu ruangan nya, dan untung nya Kayana tiba tepat sesaat sebelum ruangan nya di kunci.
Kalau tidak,apes sudah nasibnya. Begitu banyak berkas yang harus dibubuhi tanda tangan oleh pembimbing kedua nya tersebut, karena terlalu sering diluar negri pihak akademik cukup maklum kalau saat pengumpulan berkas kemarin tidak terdapat tanda tangan dari dosen nya tersebut. Tapi sekarang,pak Darto sudah berada di Indonesia,kalau dia tetap tidak mendapatkan tanda tangan beliau,bisa-bisa sidang nya batal karena tidak terdapat bukti yang absah terkait persetujuan sidang nya.
"Pak!" panggil Kayana.
"Eh,Kayana." sahut pak Darto kaget,
"Saya pikir,gak jadi toh. " sindir pak Darto halus.
Kayana hanya tersenyum simpul menanggapi sindiran tersebut kemudian menyalami dosen nya sopan,biarlah hari ini dia tersenyum sampai gigi nya kering. Yang penting sidang nya gak batal!
***
Selesai menemui pak Darto,Kayana langsung duduk selonjoran digazebo kampusnya. Capek lahir bathin.
Padahal dia nggak disemprot apa-apa, tapi anehnya dia merasa energi nya terkuras sampai ke dalam-dalam. Mungkin karena beberapa hari ini,dia begitu sibuk perihal sidang dan segala ***** bengeknya,sampai-sampai energi nya tersedot habis. Rasa-rasanya dia butuh healing.
Adrian cukup sibuk hari ini,katanya ada jadwal mengajar sampai sore.Namun pria tersebut sudah mengirimi nya pesan dan menawarkan beberapa opsi,antara pulang diantar pacar atau pulang dengan taksi online. Tentu saja dia pilih pulang dengan pacarnya.
Tapi kelas pria tersebut baru akan berakhir sore nanti, yang berarti masih ada waktu sekitar 2-3 jam kedepan yang harus dia habiskannya seorang diri tanpa tahu harus melakukan apa.
"Rara." sapa Wafi yang entah muncul dari mana,tiba-tiba saja sudah duduk di sebelahnya.
Kayana menoleh sekilas,dan mendapati bahwa mantan nya tersebut membawa backpack serta beberapa buku di genggamannya.
"Kenapa,Ra?Kok kayaknya kecapekan banget." Tanya Wafi.
"Gapapa bang,hehe" sahut Kayana,gak enak hati mendiamkan pria tersebut terus-terusan. Takut mantan nya baper,belum lagi kemarin dia habis menjuteki Wafi.
__ADS_1
"Baru kelar kelas bang?" Tanya Kayana berbasa-basi,biar gak canggung-canggung amat.
"Seharusnya iya,tapi kelas nya batal."
Kayana hanya ber-oh ria,dan kemudian hening. Padahal dulu mereka setiap mengobrol gak pernah kehabisan topik,tapi karena hubungan mereka yang sudah terlanjur runyam,kesannya mereka kayak baru kenal kemarin sore.
"Kapan sidang nya,Ra?"
Kayana menoleh. "Minggu depan bang."
"Wah,congrats ya!" ucap Wafi humble,kemudian memberikan dua kotak plain yogurt kesukaan Kayana.
Perasaan Wafi paling ogah kalau sudah menyangkut produk makanan yang berbahan dasar yogurt,katanya susu basi kok dikonsumsi? ini cowok juga selalu meledeknya setiap kali mereka pergi ke minimarket dan keranjang Kayana dipenuhi dengan produk susu basi tersebut.
Gak mungkin kan orang yang sangat tidak suka sesuatu,tiba-tiba jadi menyukai sesuatu tersebut? atau jangan-jangan mantannya ini tipe orang yang harus melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan dirinya dulu agar cepat move on.
Gak tahu deh,pusing!
"Pengumuman lulus nya masih belum loh haha. Thanks,btw" sahut Kayana kemudian memakan plain yogurt tersebut,omong-omong ini cowok well-preapared juga ya ketemu Kayana sampai dibawain yogurt segala.
"Mau?" Tawar Wafi sambil menggenggam tumbler berlogo starbucks yang Kayana yakini berisi kopi karena wanginya langsung tercium sampai kesini.
"Eh..sorry bang, gue gak suka kopi." tolak Kayana halus.
"I know." sahut Wafi setelah menenggak kopi,kemudian menyimpan tumbler nya.
"Masih sama ya,Ra. Lo masih belum berubah." ujar Wafi ambigu,dan Kayana cuma balas tersenyum kikuk. Gak tahu bagaimana menanggapinya.
Kalau dilihat dari gerak-geriknya ini cowok jelas belum move on, dia gak mau berucap sembarangan yang membuat cowok ini semakin sulit move on nanti nya.
"Maksud gue,lo masih tetap gak suka kopi. Maaf kalau ucapan gue ambigu" Wafi buru-buru mengklarifikasi saat menyadari keterdiaman Kayana.
"Gue juga masih sama kok,gak suka plain yogurt." jawab Wafi yang membuat Kayana semakin bingung untuk menanggapinya.
Yang pertama,dia gak bertanya.
Yang kedua,dia harus jawab apa woy?
Plis deh,dia cuma ingin bersantai,gak ada niat untuk flashback dan mengenang masa lalu.
"Kok muka lo pucet gitu Ra,sakit?" Tanya Wafi khawatir dan tangan nya tanpa permisi langsung menyentuh dahi Kayana.
Merasa tak nyaman,Kayana langsung menjauhkan wajahnya. "Ups,sorry" ucap Wafi saat menyadari penolakan Kayana.
"Enggak kok bang,karena begadang aja...hahah."
"Sorry ya,gue impulsif banget.Maaf kalau elo jadi gak nyaman."
"That's okay."
Wafi mengulurkan tangannya ke depan. "Masih ingat gelang ini ga,Ra?"
"Wah,gokil. Masih lo simpen,bang?" tanya Kayana takjub.
"Masih sering gue pake.Punya elo masih ada ga,Ra?" Wafi bertanya. Kayana langsung menggeleng.
"Udah lupa taro dimana." sahut nya sambil mengangkat bahu.
Wafi mengangguk maklum,wajar kalau perempuan dihadapannya ini lupa. Jangankan gelang,letak kacamata yang selalu bertengger di hidung nya pun sering dia tanyakan.
"Abis ini mau ke mana?" tanya Wafi sembari membereskan barang-barang nya.
Kayana bingung,mau jawab jujur takutnya Adrian belum menceritakan apa-apa ke sepupu nya ini. Tapi kalau bohong,ya gak baik juga.
"Belum tahu." jawab Kayana,cari aman. Berdoa supaya gak semakin ditanya yang aneh-aneh.
Tapi bukannya bungkam,tatapan Wafi tampak semakin penasaran. "Ehm...ke Paul kali hehe,ambil pesenan nyokap." Kayana berucap asal.
"Oh..mama masih suka sama bakery itu ya?"
Kayana hanya tersenyum simpul, nyaris menyerah didalam hati. Padahal niatnya hanya ingin mengalihkan pembicaraan tapi lagi-lagi dia mengucapkan hal-hal yang mengingatkan mereka pada masa lalu.
"Bawa kendaraan sendiri?" tanya Wafi.
"Enggak,naik taksi online tadi."
"Yaudah yuk,sekalian.." ajak Wafi.
"Eh,gausah deh bang. Gue masih lama." tolak Kayana cepat,cuma duduk berdua sepuluh menit doang canggung nya minta ampun. Apa kabar kalau mereka ke Paul yang jaraknya tiga puluh menit dari sini. Bisa-bisa Kayana mules dijalan.
"Gapapa kok,gue tungguin." ucap Wafi masih kukuh.
Duh,ini mantan kok gak ada kapok nya ya? Apa dia lupa kalau Kayana pernah menyakiti nya sedemikian rupa, kejam dan brutal. Bahkan dunia nya nyaris jungkir balik saat itu.
Kayana jadi merasa bersalah,pria dihadapannya ini terlalu positif thinking, terlalu baik dan naif. Ini cowok ibarat porselen,cantik,bagus, tapi mudah rapuh.
Kalau dia sekuat baja,harusnya sudah move on dari kapan tahun. Tapi buktinya semua kenangan mereka,masih disimpan nya rapat-rapat. Sedangkan Kayana sudah putar haluan dan menemukan porselen yang baru,yang lebih menarik dan cantik. Terdengar kejam,namun dunia memang berputar sekejam itu.
Memangnya apasih yang Wafi harapkan dari hubungan mereka? Mereka sama-sama masih labil saat itu, bagi siapapun kenangan akan cinta pertama tentu gak akan bertahan lama. Apalagi ini cinta monyet,cuma seperempat serius.
Kecuali prinsip pria ini, satu wanita untuk selama nya.Gawat deh.
Apa Kayana tampak seperti tipe wanita yang suka memberi harapan?Perasaan enggak deh,dia hanya bersikap ramah tapi gak sampai tebar pesona. Dia cuma menjawab pertanyaan wafi seperlu nya, bahkan dia jarang melontarkan pertanyaan balik supaya pria itu sadar bahwa Kayana ingin mengakhiri percakapan itu secepatnya.
"Gimana,Ra?" ulang Wafi lagi.
"Yaudah deh.." sahut Kayana yang akhirnya pasrah.
Kayana gak punya alasan lagi buat menolak,rasa nya seperti berada ditepi jurang lalu terus didesak sampai ke pinggir, mana bisa dia mengelak.
__ADS_1
***
"Kok pake jaket bang?" Tanya Kayana bingung saat Wafi melapisi tubuhnya dengan jaket.
"Gapapa, hari lagi hujan. Gue gak kuat pake ac." jawab Wafi sambil menarik persneling untuk menjalankan mobilnya.
"Yaudah si,matiin aja" sahut Kayana enteng.
Wafi hanya tersenyum tipis. "Gapapa,ntar elo kepanasan Ra. Tiap naik mobil ac nya selalu paling dingin kan?."
Tuh,kan. Di ingetin lagi,bisa gak sih kosa kata yang keluar dari mulutnya ini gak usah yang mengingatkan akan masa lalu.
"Sekarang udah engga ko." jawab Kayana kemudian menaikkan suhu AC nya.
"Nomor tiga udah cukup kok."
"Itu masih dingin,btw." sahut Wafi ngakak.
Ya mendingan dong,dia turunin satu nomor. Ketimbang nomer 4 dan bensin nya cepat habis? lebih hemat daya kan.
Dia juga gak mau menanggung resiko ini cowok pilek sesampai nya dirumah,selain menyakiti hatinya Kayana juga turut andil menyakiti fisiknya.Gak dulu deh,bisa-bisa dosanya ke sang mantan terlalu banyak nanti.
"Gak boleh remeh gitu dong bang,suhu dipermukaan bumi naik satu derajat saja hewan dikutub utara terancam punah." jawab Kayana pura-pura sewot.
Tawa Wafi langsung pecah. "Valid sih ini,argumen lo."
"Kaki lo masih sakit,Ra?" celetuk Wafi tiba-tiba.
****!ini cowok emang hobinya mengungkit masa lalu.
Gak usah diingetin kek!
"Gapapa,cuma keseleo dikit."
Wafi tertawa geli. "Lucu banget sih lo Ra, tiap kaget langsung jatuh gitu. Nggak pernah berubah dari dulu."
Untung nya Wafi tidak sampai menyinggung ke bagian 'itu'. Dia gak tau mau taro muka dimana kalau diserang tiba-tiba,gak kebayang sih,kalau tiba-tiba ditanya. "Kenapa peluk-pelukan sama abang gue,Ra?"
Selain gak appropriate, dia juga gak mau disangka mendekati abang nya demi nilai bagus. ****,kenapa kesannya dia kayak jadi cabe-cabean ya. Walaupun berusaha positif thinking,setidaknya pemikiran semacam itu pasti melintas dibenak siapapun yang melihatnya bukan?
"Tauk ah." sahut Kyana pura-pura ngambek.
"Ngebakso yuk." ajak Wafi,mengalihkan pembicaraan.
Kayana menggeleng, "Gak dulu deh, lagi diet." Bohong besar,padahal tadi pagi dia mukbang bubur ayam.
"Sesekali doang,Ra." bujuk Wafi.
"Yaudah deh.." sahut Kayana yang lagi-lagi pasrah,rasanya juga percuma menolak.
Pastinya ini cowok bakalan kukuh kan?
***
"Disini banget bang?" Tanya Kayana seraya melepaskan seatbelt.
Setelah sepuluh menit berkendara,mereka sampai di salah satu warung bakso langganan mereka dulu,biasanya tiap pulang sekolah mereka selalu kesini. Setelah itu beli tahu brontak atau cakwe terus lanjut ke tempat les.
Tuh kan!mau gak mau dia jadi ikutan nostalgia.
"Tempat biasa kan?" Wafi menyahut santai,membuat Kayana tercengang seketika.
Ini cowok emang seniat ini ya mengajaknya wisata masa lalu?
Setelah turun,Wafi langsung memesan makanan tanpa bertanya pada Kayana.
Buset,ini cowok pd banget sumpah!
Bisa jadi Kayana ganti selera kan,gak hobi bakso lagi tapi suka nya mie ayam,atau pangsit rebus?
"Eh,mbak sama mas nya. Udah lama gak keliatan,udah nikah ya sekarang?" Tanya pak de saat menghidangkan pesanan mereka.
"Doain aja ya,pak de." sahut Wafi besar hati, Kayana langsung tersedak seketika.
Cringe banget,gasih?
"Aamiin.." sahut pak de,kemudian mengangguk sopan dan kembali ke tempatnya.
"Gak nyangka ya,ini warung masih buka." Ujar Kayana sambil menatap ke sekitar warung,suasana disini masih sama tapi ada tambahan lain, kalau dulu cuma sedia bakso porsian sekarang sudah ada pilihan menu all you can eat. Semacam shabu-shabu khas jepang tapi dengan kearifan lokal karena menu nya bakso-baksoan.Keren juga sih inovasi nya.
"Masih,lah. Gue udah lama tau pengen kesini."
"Terus kenapa gak langsung kesini?" tanya Kayana penasaran.
Wafi tersenyum tipis. "Nungguin elo."
Kayana langsung mingkem, kayaknya otak Wafi perlu di reset ulang supaya gak melulu mengingat masa lalu.
"Maafin gue, ya."
"Hmm?" sorot mata Kayana tampak bingung.
"Kelihatan nya elo gak nyaman banget bareng gue,dari tadi."
Kayana cuma tersenyum simpul,gak mengiyakan tapi juga gak menyangkal. Syukurlah,kalau pria tersebut menyadari isi hatinya.
"Btw,itu mobil nya bang Ian bukan sih?"
Kayana menoleh ke arah yang dimaksud,dan langsung pucat pasi.
__ADS_1
Mampus!