
Draga memiliki kebiasaan yang sangat ketat setiap hari. Dia bangun tepat pukul 5.00 pagi, mandi selama tepat 20 menit, sarapan tepat pukul 5.45 dan dengan durasi tak kurang dan tak lebih selama 20 menit. Begitu seterusnya rutinitas yang dia jalani sehari-hari seperti tanpa ada rasa bosan.
"Pagi Pak Draga..." dengan senyum genit para wanita di perusahaan tempatnya bekerja menyapa setiap pagi walau diacuhkan oleh nya, mereka seperti tak ada hentinya mencoba untuk mencuri perhatian manager Produksi itu.
"Laporan hasil produksi kemarin bawa keruangan saya." Draga meminta assisten nya untuk membawakan laporan rutin setiap pagi hari.
"Ini laporan nya Pak, dan ini Surat Pengunduran diri saya." Draga langsung menatap assisten nya yang sudah menemaninya selama tiga tahun terakhir itu.
"Kenapa? apa aku terlalu kejam? atau pekerjaan nya terlalu berat?"
"Bukan itu semua Pak, tapi saya akan menikah jadi saya hanya ingin dirumah mengurus rumah tangga." jelas sang assisten dengan senyum ramah.
"Baiklah, aku juga tidak bisa memaksa, namun kau harus tunggu assisten pengganti mu siap, jadi jika sudah ada pengganti mu kau yang akan melatih dia kurang dari satu bulan dan dia harus sudah mengerti tugasnya, baru kau bisa meninggalkan pekerjaan mu." Assisten itu menyetujuinya dan pamit kembali ke tempat.
Rutinitas Draga seperti biasa, jam 1 tepat dia sudah tiba di divisi produksi untuk mengecek progres dan kinerja karyawan dan teknisi. setelah itu kembali ke ruangannya untuk mereview hal apa saja yang kurang di bagian produksi. Asistennya dengan setia mendampingi dan menyediakan segala hal yang dibutuhkan Draga sebagai manajer produksi.
Seperti halnya hari ini yang akan di adakan meeting oleh jajaran Direksi, Draga harus ikut serta karna menyangkut Proyek baru yang akan dia garap bulan depan.
Meeting selesai, Draga kembali ke ruangannya dengan wajah masam, namun dia tetap fokus bekerja hingga jam pulang tiba.
Karna penat akhirnya dia memutuskan untuk singgah di Cafe sekedar meminum minuman dingin. Setelah dia memesan dan mencari-cari tempat duduk, saat menemukan meja kosong dengan dua kursi Draga bergegas menuju meja itu, duduk dengan nyaman sambil menyesap Es kopi latte yang baru saja dia beli.
"Maaf Kak, aku ingin bersembunyi sebentar disini boleh yah? please... help me ya?"
Draga hanya acuh tak acuh membiarkan gadis itu duduk di seberang nya sambil pura-pura membaca majalah.
Di luar cafe tampak orang-orang berpakaian rapi mengedarkan pandangan mereka tepat didepan cafe tempat Draga singgah. Karena panik gadis itu kemudian bersembunyi di bawah meja, hal itu membuat Draga sungguh tidak nyaman, namun dia pun tidak bisa menghindari situasi.
"Mereka sudah pergi."
Setelah beberapa menit Draga memperhatikan orang-orang itu naik kedalam mobil dan pergi.
"Apa kau yakin?"
Gadis itu mencoba memastikan
"Ya."
Draga menjawab singkat sambil meminum es kopi latte nya.
"Hah... Syukur lah..."
Gadis itu berusaha keluar dari bawah meja namun naas kepalanya terantup sisi meja dan membuat es kopi latte di atasnya tumpah ke pakaian Draga.
__ADS_1
"Astaga! ini kah balasan mu setelah menolong ku?" Draga yang penderita OCD sangat kesal dan segera pergi dari cafe itu untuk pulang kerumah membersihkan diri.
"Kakak! maafkan aku! aku sungguh tidak sengaja...!"
Gadis itu terus berteriak sambil mengejar Draga yang berjalan sangat cepat menuju mobilnya.
"Aku akan mengganti kerugian mu sungguh...!"
Gadis itu akhirnya sampai tepat di depan mobil Draga dan menghadangnya.
Draga yang mulai kesal dengan tingkah gadis itu pun menurunkan kaca mobilnya dan memandang gadis itu dingin.
"Apa lagi?"
"Aku akan membawa pakaian mu ke laundry."
"Lalu, selama pakaianku di laundry apa yang harus aku kenakan?"
Draga menatap gadis itu dengan intens, lalu menghela nafas panjang, sambil hendak melajukan mobilnya.
"Kakak, apa aku boleh menumpang mobilmu sampai Hotel Marilyn? aku harus mengambil barang ku, tapi dompetku tertinggal di sana, dan aku tidak punya uang, tolong aku sekali lagi ya?"
Gadis itu memelas dengan wajah yang sangat menyedihkan membuat Draga sedikit tergerak dan membuka pintu penumpangnya untuk gadis itu.
"Terima kasih kakak."
"Kau lari bertelanjang kaki?"
"Iya, aku panik saat di sergap oleh mereka jadi aku langsung lari tanpa memakai alas kaki, beruntung aku masih berpakaian."
Dengan senyum konyol gadis itu memberitahu alasannya.
"Kau bukan pencuri kan?"
Draga menatapnya curiga.
"Hey, apa aku terlihat membawa barang curian? uang saja aku tidak ada, lalu apa yang aku curi..."
Gadis itu sedikit tidak terima dengan tuduhan Draga, namun kemudian Draga meminta maaf dan melajukan mobilnya ke jalan raya.
Saat belum berapa jauh Draga menepikan mobilnya di sebuah toko dan meminta gadis itu untuk mengikutinya.
"Turun lah."
"Tidak aku disini saja, aku tidak akan kemana mana."
__ADS_1
"Turun, luka mu harus di obati dan kau juga harus memakai alas kaki."
"Tidak usah kak, aku baik-baik saja, tolong turunkan aku di hotel Marilyn saja, tidak usah merepotkan lagi."
"Kenakan jaket ku dan kacamata itu, agar tidak ada yang mengenali mu"
Gadis itu masih terlihat ragu dan takut namun akhirnya dia mau juga mengenakan jaket dan kacamata hitam milik Draga.
Mereka berdua masuk ke sebuah mini market Draga mencari beberapa obat oles, kapas dan plester, sedangkan gadis itu menunggu di kursi yang berjajar di dalam mini market itu.
Tanpa kata Draga berlutut dihadapan gadis itu, meraih kakinya, dan mulai membersihkan lukanya, setelah selesai tak lupa Draga memasang plaster di setiap luka yang ada kaki gadis itu.
"Kau diam?"
Gadis itu ternyata sedang melamun tak memperhatikan Draga.
" Maaf aku melamun."
"Tidak apa, aku sudah selesai mengobati luka mu, sekarang kau bisa kenakan sandal ini."
Yang di belikan Draga adalah sandal rumahan berlapis bulu berwarna pink manis dan ada telinga kelinci di atasnya.
"Wah sendal ini manis sekali, seperti untuk anak-anak."
Gadis itu berbicara sambil tersenyum memandangi sandal yang ia kenakan.
"Bukankah kau masih anak-anak?"
"Tidak, aku sudah 27 tahun."
"Biasanya yang suka kabur adalah anak-anak remaja yang sedang tantrum, itu yang aku tahu."
Draga mengungkapkan pendapatnya.
"Tidak seperti itu, aku hanya ingin bebas, itu saja."
Gadis itu meminum air mineral yang baru saja di berikan padanya oleh Draga.
"Apa kau terlibat praktek prostitusi?"
Draga kembali memasang wajah curiga. Namun dengan spontan gadis itu terbatuk menyemburkan air yang baru saja masuk ke dalam tenggorokan nya.
"Astaga, Aku masih perawan! kakak tuduhan mu itu sangat keterlaluan."
Gadis itu kesal dan tanpa sadar berteriak tentang dia yang masih perawan.
__ADS_1
Let's like love and comment