
Suasana romantis nan damai melingkupi dua sejoli itu, Arthem dan Yara menikmati kopi mereka di temani terang nya rembulan di area taman coffee shop itu. Tanpa terasa sudah pukul 8 malam, mau tak mau Yara dan Arthem pun kembali ke rumah sakit.
Saat tiba di rumah sakit, Yara merasa ada yang aneh dengan dua orang yang ada di dalam ruang rawat itu. Dhandeli dan Draga tampak memberikan tatapan mata menelisik dan tajam ke arah Yara dan Arthem, membuat Yara salah tingkah namun Arthem masih bersikap biasa saja.
"Selama dua jam lebih berada di cafe namun tak satupun dari kalian membawakan makanan, keterlaluan." Dhandeli protes kepada sepasang kekasih itu.
"Kalian juga benar-benar tidak peduli pada kami sama sekali, padahal baru saja ada tamu tak diundang." Draga menatap kearah Yara dengan penuh arti dan dimengerti oleh Yara.
"Mau apa dia kesini? Aku dan ayah merahasiakan kejadian ini, dari mana dia bisa tahu?" Yara mengerutkan dahi berfikir sejenak dan kemudian dia melempar pandangan kepada Draga, dan sepertinya Draga pun mengerti apa yang ada dalam pikiran Yara.
"Kita harus berhati-hati mulai sekarang termasuk Dhandeli dan Arthem." Yara menatap Arthem dengan penuh arti.
"Ada apa? apa ada hubungannya dengan penusukan bocah tengik itu?" Arthem melirik ke arah Draga dan dibalas dengan tatapan membunuh olehnya.
"Itu sepertinya sangat jelas, pertama tentang kejadian penusukan ini, aku sudah menutup dan membersihkan semuanya agar tak tercium pihak luar termasuk polisi, kedua, kejadian ini yang tahu hanya kita dan ayahku, Dokter pun sudah aku pastikan tidak boleh memberitahukan tentang ini, bahkan nama mu saja sudah aku rahasiakan, dan ketiga, untuk apa dia kesini kalau bukan memastikan kondisi mu." Yara menjelaskan analisa dari sudut pandangnya.
"Nona, untung kau menolaknya." Celetuk Arthem.
"Apa maksudnya?" Yara dan Draga kompak bertanya dan menatap bergantian ke arah Dhandeli dan Arthem.
"Yunan itu... aku... aku sempat dijodohkan dengannya namun dia langsung mengatakan tidak setuju dan begitupun dengan aku." Kedua orang itu terdiam sambil tetap menatap Dhandeli.
"Jadi yang dimaksud alasan konyol oleh Yunan adalah?" Draga menunggu jawaban Dhandeli.
"A-aku bilang padanya bahwa aku ingin menemukan orang yang mencintai ku apa adanya tanpa memandang siapa aku." Dhan berbicara dengan nada datar dan sedikit sendu membuat ketiga manusia didepannya terenyuh sesaat.
"Kalau begitu, kau harus memperbaiki sikap dan perkataan mu itu, jangan gunakan kata atau kalimat yang terlalu vulgar." Draga menasihati dengan santai namun hasilnya, dia malah mendapat tatapan membunuh dari dua orang yang sedang berdiri bersisian.
"Perbaiki sikap?" Yara bertanya dengan sorot mata menyelidik.
"Kata dan kalimat vulgar?" Arthem ikut maju bertanya dengan aura menuntut.
__ADS_1
Draga gelagapan saat di tatap oleh dua orang di hadapannya.
"Apa maksud tatapan kalian itu? maksud, maksudku bukan seperti yang kalian pikirkan, astaga... otak kalian itu terlalu dewasa." Draga menjadi gugup luar biasa dan akhirnya milih berbaring dan menarik selimut.
"Dhan, memang apa yang kau katakan pada Draga sampai dia berfikir seperti itu?" Yara beralih menata Dhandeli.
"Aku berbicara masalah ciuman pertama." Dhandeli menjawab dengan sedikit ragu dan canggung.
"Apa?!" Seru Yara dan Arthem.
"Apa salah berbicara seperti itu? itu juga karna dia menuduhku play girl jadi aku tak sadar mengungkapkan bahwa aku belum pernah berciuman, Menyebalkan!" Dhandeli merajuk dan duduk di sudut sofa bed.
"Sebenarnya ada lagi wanita yang lebih memalukan." Draga berbicara dari dalam selimut.
"Ya! diam kau!" Yara beralih menatap Draga yang terbaring dengan selimut membungkus hingga ke kepala.
Arthem yang tidak mengerti dengan apa yang dua orang itu tiba-tiba bahas hanya mengerutkan dahinya sambil menatap mereka bergantian.
"Apa yang dia maksud Yara?" Wajah Arthem tampak muram dengan tatapan dingin ke arah Yara.
"Nanti aku ceritakan, pria bodoh ini hanya asal bicara, lagi pula aku sedang mabuk waktu itu, sehingga kata-kata ku jadi tak jelas." Yara memaksakan senyumnya dengan sangat canggung, membuat Arthem semakin curiga.
"Ayo kita pulang Art, besok aku harus bekerja." Dhandeli tanpa pamit dengan Yara dan Draga langsung melangkah keluar ruangan dengan wajah murung.
"Kau hutang penjelasan, Yara." Arthem sepertinya sangat penasaran dengan ucapan yang dilontarkan Draga tadi, terlebih lagi itu tentang Yara.
Arthem pun bergegas menyusul Dhan yang sudah berjalan cukup jauh menuju ke tempat parkir.
"Dasar kau! Draga... bagaimana cara ku menjelaskan bahwa itu hanya bualan?" Yara memijit keningnya frustasi namun Draga tersenyum penuh kemenangan.
***
__ADS_1
Di rumah Yunan, dia sedang melakukan beberapa pekerjaan kantornya di kamar. Kegiatannya terhenti saat seseorang mengetuk pintu dan orang itu memang sudah dia nantikan sejak tadi.
"Bagaimana situasinya?" Yunan bertanya masih dengan mengecek beberapa dokumen yang ada di mejanya.
"Yara sudah kembali ke rumah sakit setelah minum di coffee shop dan Tuan Sein sepertinya sudah mulai bertindak, ada beberapa aset yang mulai bergeser dan berpindah tangan secara fiktif." Jelas sang informan.
"Lalu mengenai Draga apa sudah ada hasilnya?" Yunan mengalihkan tatapannya ke arah informan itu untuk mengetahui dengan lebih jelas apa yang akan informan itu sampaikan.
"Draga pernah mengalami kecelakaan sekitar 15 tahun lalu, dia mengalami hilang ingatan permanen, dan orang tuanya adalah seorang bangsawan yang tewas saat kejadian kecelakaan itu."
Jawaban sang informan cukup membuat Yunan puas untuk saat ini, dia pun meminta sang informan terus mengawasi dan menyelidiki setiap gerak-gerik dan masa lalu Draga.
"Semua, sedikit demi sedikit akan terkuak, sayang, kau tidak mengingat apapun, membuat semuanya jadi tidak menantang dan kurang menyenangkan." Yunan berbicara sendiri sambil menata sebuah bingkai foto.
***
Di ruang rawat Draga, Yara tampak bolak balik tidak karuan membuat Draga pusing dan tak bisa beristirahat karena gerakan Yara terdengar jelas di telinganya.
"Ya, kau tahu aku OCD, tapi kenapa kau melakukan itu, bergerak terus menerus, ke sana kemari, membuatku sangat sangat sangat tidak nyaman." Draga akhirnya bangun dari tidur yang gagalnya.
"Aku cemas, akan terjadi hal besar, untuk saat ini ayah sudah bergerak perlahan, namun tentang nyawamu di tambah Dhandeli, ini akan semakin menjadi rumit." Yara akhirnya duduk di sofa bed dan meneguk sebotol air mineral.
"Dia juga sepertinya sedang menyelidiki ku, aku rasa penyamaran ku akan segera terbongkar." Draga menghela nafas panjang dan memejamkan matanya dalam kecemasan yang luar biasa.
"Apa kau menyukai gadis itu?" Yara bertanya mengenai perasaan Draga pada Dhandeli.
"Aku rasa begitu, karena hanya dia gadis yang dapat ku sentuh tanpa rasa cemas dan jijik, dia istimewa di mataku." Draga jujur dengan perasaanya pada Dhandeli, membuat Yara menghembuskan nafas kasar.
"Berarti pekerjaan ku bertambah, begitupun gaji ku bukan?" Yara tersenyum penuh arti ke arah Draga.
"Arthem sungguh kasihan bertemu wanita martialistis dan mengerikan seperti mu." Draga mencibir Yara, membuatnya mendapat satu buah bantal sofa mendarat tepat di wajahnya.
__ADS_1