Standard Effect

Standard Effect
Sakit


__ADS_3

Draga berbicara tanpa menatap Dhandeli, hanya berkutat dengan dokumen didepannya.


"Apa Pak?"


Dhandeli berbalik dan mencoba memastikan apa yang tadi Draga minta.


"Asal kau tahu setiap perusahaan punya aturan tersendiri, PT GE mengedepankan kenyamanan karyawannya agar dapat bekerja dengan efisien dan efektif, dan itu akan tercipta tanpa ada gangguan dari luar."


Draga menghentikan kegiatannya mengecek dokumen dan beralih menatap Dhandeli yang ternganga tak percaya.


"Baik pak saya akan selalu menjaga ketenangan, ketentraman dan kedamaian Bapak, eh maksud saya lingkungan kerja."


Dhandeli sangat terpaksa menuruti kemauan atasannya itu, namun dalam hatinya berkata 'Tidak akan pernah, kita lihat saja nanti hahaha' dengan senyum terpaksa Dhan pamit untuk kembali kemeja kerjanya.


Saat kembali ke meja kerjanya wajah Dhan sungguh tidak enak dilihat.


"Kau baik-baik saja Dhan?"


Asisten senior yang sedari tadi memperhatikan Dhan yang sepertinya penuh dengan emosi akhirnya mencoba menanyakan kondisi Dhan.


"Aku baik-baik saja kak, hanya... apa memang tindakan ku membawa Draker mengganggu suasana lingkungan kerja kita?"


Dhan terlihat sangat frustasi.


"Draker?"


Seniornya kebingungan dengan apa yang dia maksud dan bicarakan.


"Oh, maafkan aku Kak, Draker itu nama motor kesayangan ku hehe..."


Dhan tersenyum dengan sangat canggung.


Seniornya hanya tersenyum menggelengkan kepalanya menatap gadis muda di depannya itu, baru kemudian melanjutkan hal apa saja yang harus Dhan pelajari, seniornya juga memberitahukan beberapa kebiasaan Draga pada Dhan setiap harinya.


Dhan membaca tentang semua hal yang baru saja di berikan asisten seniornya itu. Ada satu hal yang membuatnya bingung, jam kerja Draga berbeda sendiri dengan karyawan yang lainnya. Draga libur sebanyak tiga hari, Jumat, Sabtu dan Minggu, dalam data itu pun di terangkan bahwa Draga rela gajinya dikurangi demi bekerja selama empat hari dalam seminggu.


"Memangnya Pak Draga ada acara apa di hari Jum'at setiap minggunya? sehingga dia sampai rela di potong gajinya."


Dhan bertanya pada seniornya.


"Itu privasinya, jadi tidak ada yang tahu."


Akhirnya mereka berdua pun kembali bekerja dengan suasana yang cukup nyaman hingga tak terasa sudah tiba waktunya jam makan siang.


"Dhan kau akan makan dimana?"


Tanya senior itu pada Dhan.


"Aku akan makan dengan seseorang kak."


"Oh begitu, baiklah kalau begitu, hanya saja ingat datang kembali kekantor 10 menit sebelumnya yah..."

__ADS_1


Sang senior mengingatkan waktu masuk untuk para asisten yaitu pukul 12.50.


"Iya kak, aku mengingatnya, selamat makan siang..."


Dhan memberikan senyum terbaiknya saat sang senior melambaikan tangannya.


Seniornya itu pun berlalu pergi, sedangkan Dhan masih sibuk chatting dengan seseorang lewat ponselnya hingga tidak menyadari Draga lewat dihadapannya. Kejadian yang tak terduga pun terjadi, Dhan menabrak dada bidang Draga hingga terhuyung kebelakang dan hampir terjatuh jika saja tidak ada meja di sana.


Bugh!


"Maafkan saya pak, maafkan saya, saya tidak sengaja."


Dhan meminta maaf secara spontan.


"Jika kau selalu ceroboh seperti ini, entah apa yang akan terjadi pada masa depan mu."


Dengan tatapan dingin dan kesal Draga kembali ke ruangannya, sepuluh menit kemudian, Draga keluar dengan kemeja yang baru.


Dhan terperangah menatap pria dihadapannya itu dengan penuh ketakjuban dan rasa heran. Hanya karena tertabrak oleh Dhan, Draga sampai-sampai harus mengganti kemeja kerjanya yang tidak bernoda sama sekali, dengan kesal Draga membanting pintu dan berlalu pergi tak menghiraukannya.


Suara ringtone handphone Dhan pun berbunyi, tertera nama Arthem di sana, Dhan pun menjawab telpon itu sambil berlari keluar kantor.


Arthem rupanya sudah menunggu Dhan di halaman kantor dengan tenang dan gaya yang cool, keren bak model sehingga menjadi pusat perhatian karyawan yang lain.


"Pria itu tampan sekali..."


Wanita tak jauh dari Arthem bergumam dengan suara yang kencang, bahkan bukan itu saja, ada dua orang wanita yang menghampiri Arthem secara terang-terangan meminta berkenalan dan nomor handphone Arthem.


Dengan senyum dipaksakan Dhan kemudian menyeret Arthem ke sebuah restoran terdekat tanpa tahu Arthem sedang menertawakannya.


"Berhenti tertawa bodoh seperti itu Art! karena waktu makan ku hanya tersisa 15 menit."


Arthem pun berhenti dan memesankan makanan cepat saji sesuai permintaan Dhan yang tengah merajuk.


"Apa kau sudah bisa menyantap junk food tanpa masalah lambung?"


Arthem memastikan kondisi Dhan yang sebenarnya tidak bisa makan-makanan siap saji atau yang menggunakan tepung protein tinggi.


"Jika ingin mandiri, kita harus berani mencoba."


Dengan senyum percaya diri Dhan menyantap fried chicken dan burger yang dia pesan dengan lahap sedangkan Arthem hanya menghela nafas dalam-dalam.


Setelah selesai menyantap makan siangnya Arthem mengantar Dhan kembali kekantor dan kembali ketempat dimana dia bisa mengawasi Dhan.


Dhan pun mengikuti jadwal kegiatan Draga yang rutin setiap selesai makan siang dia akan berkeliling ke area divisi produksi untuk mengecek baik progres berjalan, alat penunjang dan aset lainya.


Setelah selesai berkeliling Draga, Dhan dan seniornya kembali ke ruangan dan membuat evaluasi dari hasil peninjauan mereka.


Namun hal yang tidak diduga terjadi, Dhan beberapa kali muntah-muntah dan bolak balik ke toilet sehingga raut wajah Dhan sangat pucat dan terlihat lesu dengan buliran keringat dingin mengalir deras dan membasahi dahinya.


"Kau baik-baik saja Dhan? kau kelihatan pucat dan lemas, apa kau sakit?"

__ADS_1


asisten senior itu sangat khawatir sehingga dia menelpon Draga untuk meminta izin agar Dhan dibawa ke klinik kantor.


"Pak, Dhan... Dhan semenjak dari divisi produksi mengalami mual dan muntah-muntah, wajahnya sungguh pucat, saya takut dia keracunan pak."


Sang senior pun menejelaskan kondisi Dhan yang sudah mulai lemah.


Tanpa diduga jawaban Draga sungguh mengesalkan, membuat asisten senior itu kesal.


"Dia anak manja yang belum terbiasa bekerja, jadi biarkan saja dia dulu."


Draga menutup teleponnya dengan dingin dan kembali melanjutkan pekerjaan yang menumpuk.


"Dhan apa yang bisa aku bantu?"


Tanya sang senior.


"Tolong hubungi Arthem, ini ponsel ku kak, Arthem, tolong izinkan dia masuk kesini."


Setelah menyerahkan handphone Dhandeli pingsan dengan posisi kepala diatas meja, seniornya pun langsung menelpon Arthem.


"Dengan Arthem?"


Senior itu menyapa dengan nada panik membuat Arthem langsung mengerti situasi yang terjadi dan kesimpulan dari kepanikan teman kantor Dhandeli.


"Aku mengerti, sekarang tolong berikan aku izin masuk, aku akan segera datang menjemputnya."


Arthem langsung menutup telponnya dan berlari kedalam kantor tepatnya ke area resepsionis, resepsionis itu pun memberikan tag visitor pada Arthem dengan segera karena sebelumnya sudah mendapatkan konfirmasi telpon dari senior Dhan, dan tanpa banyak kata Arthem bergegas masuk ke ruangan Dhan, mengabaikan semua mata yang terpesona pada ketampanannya.


Draga sebenarnya memperhatikan dari dalam ruangannya dia melihat kepanikan dari wajah asistennya, dan juga kejanggalan dari meja Dhandeli yang hanya terlihat sebuah monitor tanpa ada bayangan Dhan di baliknya.


Draga pun keluar dari ruang kerjanya untuk memastikan situasi yang sebenarnya terjadi. dan betapa terkejutnya dia melihat Dhan yang sudah tak sadarkan diri dengan kepala tergeletak dia atas meja kerja.


"Kalau situasinya seserius ini kenapa kau tidak bilang padaku!"


Draga terlihat panik dan emosi.


"Saya sudah melaporkan pada bapak, tapi bapak bilang 'Dhan anak manja yang baru bekerja jadi biarkan saja dulu' lalu saya minta bantuan lain."


Dari pintu tiba-tiba muncul seseorang dengan aura membunuh yang kuat.


"Anak manja yang baru bekerja?"


Arthem melangkah masuk dengan tatapan lurus ke arah Draga.


"Jadi biarkan saja dulu?"


Arthem memangkas jaraknya dengan Draga sehingga hanya sejangkauan tangannya.


happy reading


don't forget for 👍💙

__ADS_1


__ADS_2