Standard Effect

Standard Effect
Kakak Adik


__ADS_3

"Oh, oh, oh! memang kau tau?"


Arthem seketika sedikit jengkel, dengan senyum yang penuh makna dari Sam.


"Aku pergi, jaga Nona, awas kau kalau dia lecet sedikit saja!"


Arthem mengancam Sam dengan masih raut wajah yang salah tingkah.


"Baik Bos... Semoga malam mu menyenangkan."


Sam tersenyum menyebalkan sambil menggerakkan kedua alisnya keatas kebawah membuat Arthem ingin sekali memukulnya.


Yara sudah menunggu Arthem di lobby Rumah Sakit. Dia terlihat cantik dengan hotpants, kaos longgar berwarna peach dan long outer cream.


"Malam nona."


Arthem berdiri tepat didepan Yara yang tengah asik mendengarkan musik.


"Oh, kau sudah turun? maaf aku sedang mendengarkan musik jadi aku tidak menyadari kedatangan mu."


Saat Yara hendak berdiri, Arthem menahannya hingga terduduk kembali, kemudian dia berlutut didepan Yara sambil menatap wajah Yara dengan intens.


"Berapa usia mu?"


Arthem bertanya sambil tersenyum manis.


"Hanya kurang beberapa bulan darimu."


Yara menjawab sambil mengerutkan dahi, heran dengan pertanyaan konyol Arthem.


"Baiklah, sepertinya aku harus mengganti pakaian ku."


Yara terdiam dengan masih menatap wajah Arthem.


"Kenapa?"


"Apa kau mau disepanjang jalan di bicarakan oleh orang lain karena berkencan dengan seorang paman?"


Yara memberikan ekspresi mencibir ke arah Arthem yang sedang tersenyum jahil.


"Baiklah paman, aku ingin menjenguk adikmu."


Yara beranjak dari duduknya dan hendak melangkah mendahului Arthem, Namun Arthem menahan langkah kakinya dengan meraih tangan Yara.


"Dia sudah tidur."


Arthem berbohong pada Yara agar Yara tidak bertemu dengan Dhan.


Yara melihat jam tangannya dan mengangguk setuju karena memang sudah pukul 20.00 malam, sudah bukan lagi jam besuk.


"Yara, apa kau membawa mobil?"


"Tentu."


"Berikan aku tumpangan, karena aku tidak membawa mobil."


"Kau yang menyetir."


"Oke."


Mereka berdua pun berangkat dengan menggunakan mobil Yara.


Mobil Yara melaju membelah jalanan kota, dan ternyata dari belakang diam-diam sebuah mobil sedan hitam mengikuti. Arthem menyadarinya namun dia tidak akan bertindak sebelum dia tahu apa yang mereka ingin lakukan.


Arthem memberhentikan mobilnya di sebuah restoran romantis tepi danau kota. Kemudian mereka memesan beberapa menu makan malam dengan penutup jus buah.


Saat mereka sedang menyantap makan malam romantis, tiba-tiba seorang pria tampan datang menghampiri meja mereka.


"Aku berkunjung ke rumahmu namun kau tidak ada, apa kalian berkencan?"


"Kau?"


"Kakak?"


Arthem dan Yara kompak menyuarakan panggilan untuk Yunan yang tiba-tiba saja muncul.

__ADS_1


"Dia kakak mu?"


Arthem bertanya dengan ekspresi serius.


"Iya, dia Kakak angkat ku."


Yara menjelaskan singkat karena Yunan sudah menggenggam tangan Yara hendak membawanya pergi namun Arthem juga melakukan hal yang sama dan itu membuat tubuh Yara terbentang.


"Dia pergi bersamaku dan karena kami sudah membuat janji untuk jalan bersama, jadi... kakak, bisakah kau lepaskan adik mu malam ini, aku pastikan mengantarnya pulang dengan utuh."


Arthem menggunakan nada persuasif, membuat Yunan mengetatkan gerahamnya.


"Aku tunggu di rumah satu jam lagi."


Yunan dengan enggan melepaskan Yara dan berbalik pergi.


"Kakak mu terlihat aneh."


Arthem mengambil kesimpulan.


"Aku tahu, tapi aku tidak pernah menganggap dia lebih dari kakak, aku juga sangat menghormatinya, dia seperti ayah bagi ku."


Yara menceritakan bahwa dia sebenarnya sudah tahu bahwa kakaknya memiliki rasa romantis untuk dirinya.


"Pantas dia dulu menolak Dhan."


Gumam Arthem yang didengar oleh Yara.


"Maksud mu apa Art?"


Yara penasaran dengan apa yang baru saja Arthem ungkapkan.


"Kau ingat gadis yang membuatmu marah waktu di toilet restoran, beberapa hari lalu?"


Yara mengangguk.


"Dhan dan kakak mu itu di pertemukan dalam sebuah kencan buta, namun kakak mu itu langsung menolak Dhan dengan kasar, tapi kebetulan juga Dhan tidak ingin dijodohkan, akhirnya mereka sepakat menolak."


Cerita Arthem hanya di tanggapi dengan anggukan kecil dari Yara.


"Ayahnya memperkerjakan ku sebagai bodyguardnya, dan karena orang tuanya juga sudah menganggap ku sebagai anaknya jdi aku menganggap Dhan sebagai Adikku."


"Jadi itu sebabnya kau selalu bersama gadis itu, lalu kenapa Dhan tiba-tiba jatuh sakit? apa mungkin sebenarnya dia menyukai Yunan saat pandangan pertama?"


Tatapan bersemangat Yara membuat Arthem gemas dan dia mengelus pipinya lembut.


"Bukan seperti itu, dia alergi tepung dan protein, saat di kantor dia jatuh pingsan namun sepupumu itu bukannya menolong malah membiarkannya tergeletak di meja kerja, buat kesal saja."


Yara hanya ber-oh saat Arthem menceritakan kejadian yang membuatnya memukul Draga.


"Jadi penyebabnya adalah justru adikku yang bodoh itu."


Yara akhirnya mengerti kenapa Arthem memukul Draga.


"Ayo ku antar pulang, nanti kakak mu itu bisa membunuhku jika aku tidak tepat waktu mengantarmu pulang."


Arthem menggandeng Yara dan membawanya ke mobil untuk kemudian mengantarnya pulang.


"Aku pulang ketempat Draga Art."


"Apa?"


Arthem terkejut dan merasa sangat tidak setuju dengan apa yang dia dengar.


"Iya ketempat Draga, aku bertugas untuk menjaga bayi besar yang dingin itu, jika tidak ibuku akan marah."


"Tidak bisa, aku antar kau pulang kerumah mu."


"Draga itu memiliki OCD, jadi aku harap kau bisa memakluminya, ibu ku khawatir jika suatu hari nanti dia tidak bisa memiliki pendamping, karena dia sangat anti sosial dan selalu menyendiri, dan parahnya lagi, dia selalu mengerjakan segala sesuatu dengan memberikan perlakuan yang berlebihan."


Jelas Yara.


"Kenapa tidak menyewa asisten rumah tangga?"


Arthem bertanya dengan nada enggan sambil terus melajukan mobilnya.

__ADS_1


"Kami sudah lelah, mencari puluhan asisten rumah tangga, yang ujung-ujungnya hanya bekerja satu atau dua hari, bahkan dua jam."


Yara menghela nafas panjang, seperti frustasi jika memikirkan Draga.


"Dimana orang tuanya Draga?"


Arthem mulai penasaran dengan latar belakang Draga.


"Tewas di kecelakaan Helikopter saat dia berusia belasan tahun."


Yara menjawab dengan nada pelan.


Kesunyian membentang di pertengahan jalan menuju rumah Draga, hingga tanpa terasa mobil Yara sudah terparkir cantik di halaman rumah Draga.


"Maafkan aku, kita sudah sampai."


Saat tiba di halaman rumah Draga handphone Yara berbunyi.


"Astaga, pria yang merepotkan."


Keluhan Yara terdengar oleh Arthem yang langsung menahan Yara yang hendak keluar dari mobil.


"Ada apa?"


Yara tidak menjawab, malah serius mengetik sesuatu di handphonenya.


"Tolong bantu aku untuk membeli sebuah pintu sesuai dengan data yang aku kirim, aku tunggu hasilnya besok siang, bye..."


Yara pun pergi meninggalkan Arthem didalam mobilnya.


"Ya! Yara!"


Yara menoleh dan langsung reflek menangkap benda yang dilempar Arthem.


"Kau akan pulang berjalan kaki?"


Ternyata Arthem melemparkan kunci mobil Yara.


"Iya."


Arthem menjawab dengan pasti.


"Bawa saja mobilku."


"Tidak perlu."


"Ya! Arthem!"


Arthem melenggang menyebrangi jalan dan masuk kerumah tempat Dhan dan dia tinggal. Arthem tersenyum dan masuk kedalam rumahnya.


"Pria dimana mana apa semuanya aneh, kenapa dia tidak langsung bilang saja kalau dia adalah tetangga baruku."


Yara masuk kedalam dan merebahkan tubuhnya di kamar.


***


Di rumah ibu Yara, Yunan tengah menunggunya di ruang tamu dengan gelisah sambil terus melirik kearah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 11 malam.


"Sebaiknya kau istirahat nak, Yara pasti di rumah Draga."


Sang ibu menghampirinya dengan membawakan susu hangat.


"Aku baru pulang dari luar negeri, apa dia tidak merindukanku Bu?"


Yunan sedikit kesal namun dia tidak mau ibunya khawatir.


"Ibu barusan mendapat telpon dari Yara kalau dia tidur di rumah Draga, karena besok setelah pulang kerja Draga ada jadwal konseling dengan psikiater kenalan Yara."


Ibu Yara akhirnya menjelaskan kenapa Yara tidur di rumah Draga dan juga meminta agar Yunan tidak usah menunggu adiknya itu.


Setelah menghabiskan susu buatan ibunya Yunan pun pergi ke kamarnya untuk beristirahat, karena perjalanan jauh beberapa hari lalu dia belum sempat berisi dan pulang ke rumah.


"Draga... sungguh merepotkan."


Gumam Yunan.

__ADS_1


Mohon dukungannya


Thanks....


__ADS_2